Bukan Traveler

Traveling sometime, Backpacker often.


5 Komentar

Mendaki Gn. Lawu Tanpa Persiapan

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, seringnya saya ke Jogja salah satunya adalah ingin mendaki Merapi, tapi tak kunjung terlaksana. Hari itu juga demikian, โ€œMerapi batuk lagi,โ€ kata teman saya yang mau ditebengi. Alhasil rencana nebeng rombongan teman ke Merapi pun dibatalkan, untuk menggantinya saya coba hubungi rombongan yang akan ke Sumbing, tapi karena jadwalnya yang kurang pas saya pun tidak jadi ikut ke Sumbing.

Rencana mendaki gunung batal semua, tapi tiket kereta sudah dibeli mau gak mau saya berangkat juga ke Jogja bareng Ajeng. Karena gak ada niatan naik gunung, persiapan saya pun tidak semaksimal biasanya. Saat itu yang saya pikirkan hanya membawa SB kalaukalau kami harus menginap di luar rumah, meskipun kemungkinan besar tidak akan terjadi karena Ajeng punya kolega di Jogja. Hehe..

Kamis pagi ada acara di kantor jadi barang bawaan masih saya tinggal di rumah, tapi sudah packing seadanya sebelum berangkat. Karena waktu pulang mepet sama jadwal kereta akhirnya saya tidak sempat pulang lagi ke rumah, packing baju tetap seadanya ditambah beberapa barang yang saya titip ke kakak untuk dimasukan ke ransel, kemudian dikirim oleh tukang ojek langganan.

Agak tergesa seperti biasanya tapi berhasil! Kurang beberapa menit saja kami pasti terlambat.

Meskipun saya dan Ajeng sudah pasrah gak mendaki gunung, tapi tetep saja galau dan tetep usaha menyamakan waktu bareng teman-teman yang ke Sumbing, yang ujung-ujungnya tetep gak bisa. Hahaha..tetep

Dipikirpikir kalo tiga hari kami habiskan hanya berkeliling Jogja, sungguh membosankan. Malam itu saya coba hubungi teman blog, dulu sempat saling berkomen untuk naik gunung bareng. Saya kirim pesan lewat komen di blog dan twitter yang berlanjut ke sms, akhirnya kami sepakat untuk sama-sama mendaki Gn. Lawu melalui jalur Cemoro Sewu. Karena belum pernah bertemu jadi anggaplah ini sebagai kopdar pertama kami. Agak gegabah, tapi saya punya keyakinan kuat dia orang baik. Semoga. ๐Ÿ˜€

Hari pertama di Jogja kami habiskan dengan jalan-jalan kota, baru keesokan harinya sesuai jadwal free teman blog saya itu maka kami berangkan ke Solo untuk mendaki Lawu. Sabtu siang kami bertemu di stasiun Lempuyangan. Awalnya saya pikir dia asli Jogja, ternyata orang Garut. Ah -__-โ€œ

IMG_1889

@stasiun Solo Balapan

Perjalanan menuju Magetan diiringi hujan deras, sempat terpikir untuk membatalkan pendakian, tapi teman baru saya itu bilang โ€œBiasanya di atas malah gak hujanโ€. Baiklah untuk saat itu saya mengiyakan, tapi jika sampai ke pos pendakian tetap hujan berarti mestikung (semesta menikung). Ternyata sampai pos pendakian hujan sudah reda. Kami istirahat sejenak di sana, makan (lebih tepatnya dikasih makan :D), repacking, dan sholat maghrib.

Pendakian kami mulai selepas maghrib, sebenarnya saya menghindari pendakian malam, tapi banyak sekali yang mendaki malam itu. Toh kalo gak malam ini kapan lagi? Jalurnya agak basah setelah diguyur hujan siang hingga sore tadi. Dari basecamp hingga Pos 1 jalannya masih bersahabat, cukup landai. Normalnya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Pos 1 ini. Dari Pos 1 ke Pos 2 jaraknya ternyata cukup panjang, memakan waktu hampir 3 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata keong perjam..heheh..

IMG_1892.JPG

Cuma bisa lihat bulan.

Jalur menuju Pos 2 ini mulai tak berbonus dan bebatuan, lumayan lah bikin pegel. Terlebih saya tidak pakai sepatu atau sanda yang seharusnya. Ya tak seharusnya karena packingan seadanya itu saya lupa memasukan sepatu maupun sandal gunung ke daftar bawaan, alhasil cuma pakai sandal yang saya bawa ke kantor. Heuu..

Di Pos 2 ini ada shelter yang bisa dijadikan tempat istrirahat, awalnya kami mau ngecamp di sini saja terlebih melihat kondisi Ajeng yang sudah capek berat. Tapi shelter penuh dan tidak memungkinkan mendirikan tenda di sana. Teman baru saya meyakinkan kami kalo Pos 3 sudah dekat dan kami buka tenda di sana saja. Perjalanan pun kami lanjutkan ke Pos 3, tapi yaa..ternyata lumayan juga, waktu normal saja butuh 60 menit untuk sampai ke sana, dengan kondisi kami yang banyak berhenti sepertinya sampai 2 jam baru buka tenda di Pos 3.

Sudah larut tidak ada foto-foto apapun, tidak ada kegiatan lain selain makan malam (lagi), kami pastikan alarm berbunyi jam 3 nanti, kemudian tidur lelap.

====

Dan kemudian kami terbangun..โ€Yaah..jam 4!โ€ seru teman baru saya. โ€œYah…udah, sholat subuh aja,โ€ kata saya nyantai. Karena sejak awal pendakian ini diniatkan santai, jadi kami tidak merasa gusar gak dapet sunrise di puncak. Toh nyampe puncak juga untung-untungan, di timeline saya pokoknya sebelum dzuhur kita harus udah turun. Bukan apa-apa, biar pas sama jadwal kereta pulang aja.

Abis sholat, ngopi-ngopi, sarapan, baru lah beranjak jalan sekitar jam 5 pagi. Santai banget, bener-bener jadi penikmat jalur. Oh ya dari Pos 3 menuju Pos 4 bisa ditempuh dengan waktu 60-90 menit, tapi bergantung kecepatan masing-masing juga.

IMG_1897

Pemandangan selama perjalanan ke Pos 4

Jam 6.30 kami sudah sampai di Pos 4, menimang-nimang mau lanjut atau tidak. Setelah sekian lama berfikir sambil selfie..*bisa ya..hahha..akhirnya kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan hingga puncak. Iya sih tinggal dikit lagi, iya sih cuma satu pos lagi, tapi terlalu beresiko ketinggalan kereta.

Mungkin sekitar jam 7.30, kami mulai menyusuri jalur batuan tadi menuju Pos 3 tempat kami ngecamp. Sampe Pos 3 repacking, kemudian turun. Karena kemarin naik dalam keadaan gelap saya hampir tak mengenali jalan yang kami lalui, Alhamdulillah jalurnya jelas dan gak banyak, bahkan hampir gak ada persimpangan. Karena terang benderang, jalur batuan yang dilalui berasa banget ke kaki, terlebih saya ga pakai sepatu atau sandal yang memadai. Heuu..salah sendiri sih.

Jam 11 sampai juga kami di basecamp, istirahat sejenak, bersih-bersih, trus nunggu angkot dan makan baso pinggir jalan sambil elus-elus kaki. Ah..bersyukur banget liburan kali itu bisa main ke gunung meskipun bener-bener tanpa persiapan yang matang, Alhamdulillah selama perjalanan kami baik-baik saja, sampai rumah dengan selamat. Semoga kelak bisa main ke sana lagi dan lihat sunrise dari puncak. Eh..ke Merapi aja deh..

Iklan


3 Komentar

Dari Satonda Ke Kenawa

Setelah semalaman bergelap gelapan di tepi pantai Satonda (lanjutan Hotel Berjuta Bintang, Satonda), pagi itu kami ingin menikmati sunrise yang indah. Sayangnya penampakan sunrise berada di belahan Satonda yang lain.

Kesibukan pagi hari hampir sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja kami tidak kedinginan seperti di gunung. Sarapan dan mencari spot bagus untuk foto.

Di Satonda ini ada danau air asin yang konon katanya asinnya lebih asin dari air lautnya sendiri. Nah, danau itu akan terlihat indah klo dilihat dari atas bukit yang mengelilinginya.

IMG_3194

Danau Satonda dok. Ilham

Para tuan sudah lari duluan sebelum matahari naik, sedang kami gak akan menyianyiakan sarapan demi mengejar foto. Tetep ya, makan itu nomor 1..Setelah cukup sarapan kami berempat mencoba menaiki bukit itu. Tapi sepertinya keputusan sarapan dulu juga kurang tepat hari itu, kekenyangan jadi alasan untuk gak lanjut naik sampai puncak, alasan lain kapal sudah merapat siap menjemput.

CAM01630

Danau Satonda. dok. siriusbintang

Akhirnya foto-foto di tepi danau pun sudah memuaskan kami, setelah itu repacking dan kembali ke Calabai.

Depan Satonda

Foto wajib sebelum beranjak ke tempat lain.

Sampai Calabai menjelang siang, kami langsung memburu bis menuju Sumbawa. Perjalanan seperti semula dengan bis bermuatan segala. Sampai di persimpangan Dompu, Bima, dan arah menuju Sumbawa satu teman turun dan melanjutkan petualangannya di NTT. Sampai Sumbawa dua orang lainnya juga pulang lebih dulu karena tiket pesawat mereka berbeda dengan kami. Sedangkan kami ber7 turun di Poto Tano dan melanjutkan liburan ke pulau kosong tak bertuan, Kenawa.

Sunrise

Kondisinya hampir sama dengan Satonda, kosong. Bedanya di sini hanya ada saung-saung pinggir pantai bukan penginapan seperti Satonda. Rasanya tetap sama, berasa pulau hanya milik kami ber7..heheh..Karena ada saung yang cukup besar dan bisa dijadikan dua ruangan, tenda pun tetap tergulung rapih. Dua ruangan itu bagian dalam untuk perempuan dan bagian luar untuk laki-laki.

10386783_738213806200253_4179354044888089330_n

Kenawa, nun jauh di sana Rinjai. dok. Jati

Setelah pagi saya baru tahu penampakan Kenawa aslinya. Pulau kecil dengan bukit kecil di bagian ujung, selebihnya hampatan savana yang mulai mengering. Pantainya berpasir putih, airnya biru jernih,lumayan buat sekedar renang. Kalo yang mau snorkeling juga bisa, sekitar 5-10 meter dari tepi pantaiย  airnya lebih dalam dan karangnya lebih bagus, setidaknya masih hiduplah.

10304705_10202241889225047_8004943671719244445_n

Berenang-renang sebelum nyebrang ke Lombok. dok. Mak Geboy

Beberapa bulan lalu saya kembali ke Kenawa, keadaannya sudah jauh berbeda. Sekarang saung yang kami tinggali dijadikan warung,beberapa saung lain juga, dan sudah ada penerangan berupa genset. Sedang dibangun dermaga baru untuk perahu-perahu yang merapat ke sana. Saya sih berharap banget semoga toiletnya diperbaiki juga..heheh.. Udah sih gitu aja..gak ada drama gak ada sandiwara..lebih tenang dan datar kali ini.

IMG_0170_2

Dari kiri ke kanan, toilet, saung tempat kami menginap, semacam tempat makan. Foto ini diambil bulan September lalu.


3 Komentar

Hotel Berjuta Bintang, Satonda

milkywayPerjalanan ke Moyo bukan akhir dari destinasi overland Tambora kami, ada sekitar dua pulau lagi yang kami kunjungi, yang terdekat dari Moyo tentu saja Satonda.

Sebenarnya lebih dekat dari Calabai, lalu kenapa kami ke Moyo dulu? alasannya simple, karena gak mau nginep di Moyo.:D

Sampai dermaga Moyo sesaat selepas maghrib, pemandangan langitnya tidak kalah menakjubkan dari siang hari. Meskipun mataharinya sudah turun, sisa-sisa semburat jingganya masih menghias langit sore itu.Tapi ya, namanya senja sejatinya menghantarkan kita kepada kegelapan.

Sesaat kemudian kami sudah naik perahu menuju Satonda, kali ini hanya ada bintang gemintang, gemuruh ombak, dan sesekali cipratan air laut nan asin itu mengenai wajah kami. Kami ber 10 berselimut terpal untuk melindungi badan dari cipratan air dari samping kapal. Awalnya ngobrol kesana kemari, lama-lama senyap, terlelap tidur hingga sang kapten berseru bahwa kami sudah sampai di Satonda.

Kami bersorak sorai karena akhirnya sampai juga #lebay ..Saat itu saya merasa ada yang aneh, katanya sudah sampai tapi sejauh mata memandang cuma tampak kegelapan. Gak ada terang-terang lampu dari daratan dan eiiittss…sudah sampai kok bawahnya masih aer??

Usut punya usut ternyata malam itu air laut sedang surut, alhasil kami harus turun sekitar 10 meter sebelum dermaga karena kapal tidak bisa lebih dekat lagi. Klo maksa bisa rusak, ya kapalnya ya terumbu karangnya. huuff..baju yang sudah kering trus harus basah-basahan lagi itu rasanya…sebel banget karena gak ada baju lagi :((

Tampaknya ini akan jadi perjalanan penuh drama (lagi) buat kami.Sepuluh meter, deket sih klo jalan biasa. Tapi kan ini laut sodara-sodara..waktu itu yang ada dipikiran saya cuma pengen cepet nyampe dan tidur. Bedahalnya dengan teman saya, di malah berfikir “gimana klo ada ular laut, gimana klo tiba-tiba air pasang, gimana klo gini, klo gitu..” sampai akhirnya memutuskan untuk diam di kapal..hahah..lucu klo ingat kejadian itu. Tapi walau bagaimana pun kami harus tetap turun dan berjalan ke daratan, gak mungkin diem di kapal wong si bapak kaptennya mau balik ke Calabai.

Pertama-tama tuantuan dulu yang turun, ada yang bawain tas, ada yang nganterin sampai tepian, lalu balik lagi buat jemput yang lain. Ada yang sibuk angkutin tas dan barang dari kapal ke daratan, dan ada juga yang sibuk motret langit..Ah..rupa-rupa pokoknya..lalu kamu ngapain Nin? bantu kasih penerangan doong..masa motret :p

Di planning yang sudah dibuat sebelumnya, kami akan menginap di cottage, tidur di kasur empuk, bisa mandi, ngecas hp, dan makan enak.

Nyataaannyaaahh…kami sampai daratan yang gelap, tak ada penerangan sama sekali dan tak ada orang satupun, setidaknya itu yang ada dibenak saya pertama kali. Kemudian salah seorang teman bilang “tadi ada embak-embak sebelum kita turun kapal”..dalam hati “duuuh..cerita horor apalagi ini.” Kami pun hanya diam mendengarnya, sampai salah satu teman bilang “kayaknya penunggu disini, yuk cari..” setengah ngantuk saya berasa di acara realityshow dengan tag line “jika ga kuat, lambaikan tangan ke kemera” :v

Aniway tak berapa lama ternyata si embak-embak yang dimaksud beneran ada..hufft..dia penjaga cottage, cuma berdua aja sama bosnya katanya..edun daah..beranian. Kami tanya kamar buat nginep, ditunjukanlah kamar yang dalemnya ga representatif, selain itu mati lampu pula, kehabisan bahan bakar katanya. Yo wiiss..mending nenda aja di tepi pantai. Kemudian si embak pun menghilang dalam kegelapan..hahah..masuk ke ruangannya lagi..

Tengah malam, kami ber 10 di pulau tak berpenghuni, gelap, dan dalam keadaan basah. Apalagi yang jadi pelengkap derita selain suara teriakan horor dari dalam perut? aah..kami lapaaar sodara-sodara..

Gak nunggu lama langsung bagi tugas, dirikan tenda dan masak-masak. Karena banyak bale-bale di tepi pantai, kami putuskan hanya 1 tenda yang didirikan khusus buat nonanona saja. Selesai makan malam yang enak banget itu, kami ramai-ramai bermain di pantai, berasa pulau pribadi.

Setelah puas motret milkyway, saya dan dua teman lainnya tiduran di bangku sambil memandang langit dengan jutaan bintang diiringi suara debur ombak yang terdengar merdu, dan lagu sherina yang agak sumbang..hahah..oh ya..bukan hanya bintang yang membuat saya terpana, tapi juga plankton yang bersinar saat terbawa ombak ke tepi pantai. Malam itu Satonda keren banget pokoknya.

Malam semakin larut dan bintang semakin banyak, mata saya sudah mulai ngantuk tapi terlalu malas beranjak ke tenda. Akhirnya terlelap di bawah berjuta bintang. Tapi tak bertahan lama, karena yang lain juga sudah mulai ngantuk akhirnya saya ngungsi ke tenda. Walau cuma tidur di tenda kami berasa di hotel berjuta bintang. Puas bangeeeet..gak nyasel walaupun awalnya dateng ke sini kayak pengungsi kebanjiran..hahah..

Bersambung…

*karena malam jadi minim foto


9 Komentar

Overland Tambora 2014 #4 End

29 Mei

CAM01592

PeEr berikutnya setelah sampai puncak adalah turun gunung dengan sabar. Ya saya katakan sabar, karena banyak diantara pendaki yang turun tergesa-gesa dan tidak konsen akhirnya berujung duka. *duka kamana ๐Ÿ˜€

Saya sebenarnya termasuk orang yang klo turun bisa lebih cepat dari naik dan susah ngerem, soalnya klo jalan pelan lutut akan terasa sakit. Tapi bukan berarti saya orang yang ga sabaran yaaa..catet :p

Dibeberapa kesempatan sebenernya saya juga bisa sangat lambat saat turun. Nah saat di Tambora ini tanpa sadar saat naik dan turun saya selalu di depan, pas naik alasannya pengen cepet istirahat sih sebenernya. Klo turun? hihihi..ada cerita menarik saat turun dari Tambora.

Jadi gini, kelompok kami datang paling awal dan turun paling akhir karena gila foto semua. Pas jam 8 lebih teman saya tiba-tiba bilang “gas racunnya mulai naik tuh” siapa coba yang bisa kalem aja lihat asap membumbung keluar dari kawah Tambora dan denger kata “racun”? siapa lagi klo bukan teman-teman ajaib saya..ahahah..ya beberapa diantara kami sudah mulai teriak-teriak ayo turun-turun, termasuk saya sih. Tapi sebagian bilang “bentar-bentar gw belum foto disana” ish..

Karena sudah ada yang mulai jalan turun akhirnya saya ikuti. Treknya berpasir jadi jalannya pasti akan lebih cepat. Gak sadar tiba-tiba udah jauh dari rombongan lain, cuma ber 3 aja di depan. Kami tunggu yang lain sambil foto-foto..ahahah… Setelah semua tampak a.k.a udah jalan turun gak ada yang di puncak kami lanjutkan jalan agak pelan.

Sekitar jam 10 kami sampai di tempat mata air pos 5. Kemarin saya sempat menyesal gak ikut ambil air pas teman-teman pamer foto bagus di sini. Ahh..akhirnya saya ke sini juga dengan pencahayaan yang lebih baik karena masih pagi. Viewnya keren berada disana mengingatkan saya pada film twilight. Berharap ada Edward Cullen di atas pohon pinus lagi ngeliatin..ahah..lebaaayy..

Saya suka berada disana, suasananya adem dan jalan-jalan dibatu-batunya tanpa alas kaki berasa dipijit enak banget. Tapi kami harus bergegas, turun dari sini udah gak ada istirahat lama lagi. Lokasi air ini ada di bawah pos 5, jadi menuju pos 5 naik lagi dikit.

Di Pos 5 ini lahย  “tragedi” dimulai..hahah.. kami bersiap pulang, semua sibuk dengan packing, masak, dan ngoceh. Candaan itu emang menyenangkan bikin suasana ramai dan gak capek, tapi klo udah berlebih bisa bikin orang naik pitam. Camkan itu anak muda! :))

Saya dan seorang teman sebenarnya sedang tidak ada di lokasi saat prahara itu terjadi, sebut saja kami berada di lokasi yang aman. ๐Ÿ˜€ Tiba-tiba seorang teman memanggil dan mendekat ke arah kami, dikira punya urusan yang sama ternyata ada acara nangis dan sedikit marah. Singkat cerita kami kembali ke rombongan, suasana jadi berbeda, lebih tenang. hihihi..

Imbasnya adalah saat turun jalanan jadi serasa tak bersahabat. Tidak ada obrolan hangat, tidak ada candaan lucu, tidak ada makanan..ahahah..itu yang paling penting. Saya lapar nyonyah tuaan.. Awalnya komposisi jalan seperti ini (dari depan kebelakang) 2-4-6, saya berada di grup ke dua, lalu di pos 4 satu orang maju jadi hanya ber 3 di tengah. Jarak antara satu grup dan lainnya berjauhan. Sedih sebenernya, humm..mulutmu harimau mu itu beneran yaa..padahal gak ada harimau di sini.

Cuaca tampak mendukung suasana perjalanan kami, di pos 4 mulai hujan deras dan terpaksa harus memakai jas hujan. Sampai pos 3 kami istirahat sejenak sambil nunggu teman saya sholat, saya makan oatmeal yang sudah diseduh di pos 5 tadi lalu minum obat mag..heuheu..jaga-jaga.

Tak berapa lam kemudian yang lain sampai di pos 3, saya tidak berniat melanjutkan perjalanan tanpa mereka sebenernya, terlebih di belakang ada 2 orang yang sakit, tapi keadaan menuntut untuk tetap jalan di depan bersama teman lain. Orang yang sakit akan lebih banyak diperhatikan temen-teman lain, tapi orang sehat dan dalam kondisi marah jika tidak ditemani dia bisa berbuat ceroboh dan menyakiti dirinya sendiri.

CAM01595*langit cerah saat kami turun dari puncak

Dari pos 3 menuju pos 2 kami ber 4 jalan seperti mahasiswa dikejar deadline, ngebuuuut gak berhenti-berhenti. Sampai pos 2 baru lah istirahat sejenak dan satu teman memutuskan untuk tidak lanjut membersamai kami. Akhirnya ber 3 kami lanjutkan berjalan dengan kecepatan yang gak berubah.

Sampai pos 1 sudah senja, kami bertemu rombongan dari Sumbawa Besar, seperti asalnya rombongan ini pun jumlahnya besar, 10 orang ditemani porter 11 orang. Kami istirahat sebentar di sini, sambil ngobrol dengan mereka dan tanya-tanya jalan, iya tanya jalan karena kami hanya ber 3, 2 wanita dan 1 laki-laki tanpa porter. Katanya dari pos 1 ini sekitar 1 jam lagi menuju pos pendakian Rimba. Selain itu mereka juga bilang teman kami sekitar 500 meter di depan. Ah sepertinya maghrib sudah bisa sampai di luar, pikir kami.

Nyatanya…

Setelah tanya porter yang kami temui di jalan, dan dia bilang lurus saja, kamipun mengikuti pertunjuknya, sampai pada persimpangan..eaah..bingung daah, kami tetap lurus tapi ada pos terbuat dari bambu-bambu, kami sangat yakin pas pergi gak ada pos ini. Berdasarkan kesepakatan kami mundur lagi dan ambil jalan lain. Jalan yang tentu ada jejak kaki manusianya.

Setelah lama berjalan jalur yang kami lalui berasa sama semua, semak-semaknya makin kesini makin tinggi, perasaan waktu masuk gak seperti ini. Pohon beringin yang harusnya dilalui juga tak kunjung kami temui. Terus berjalan, makin lama makin cepat karena kaki yang sakit udah gak kerasa lagi, saking pengen cepet nyampe. Cahaya matahari mulai redup, semburatnya pun sudah mulai hilang. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, sudah mulai sadar klo kami nyasar tapi gak ada yang mau bilang. Saya masih optimis karena masih lihat jejak kaki, walaupun ntah sepatu pendaki atau warga.

Klo dikasih judul ini namanya panik dalam diam. Sebagian besar permukaan langit waktu itu sudah mulai gelap, saya minta teman-teman keluarin senter tapi gak usah semua dinyalain, khawatirnya gak nemu jalan dan kehabisan batre, gak lucu gelap-gelapan di hutan. Saya tau diantara kami tidak ada yang bawa tenda, tapi saya juga gak berfikir kami akan ngecamp di tengah jalan sempit gini. Tanpa bicara pun saya bisa merasakan kekhawatiran yang lain, pokoknya cari jalan keluar secepatnya. Aura menjelang malam emang gak menyenangkan ya.

Sampai di km berapa ntahlah, kami menemukan pipa air, “Alhamdulillah..” kompakan kami ucap syukur, dari sini pasti udah gak jauh pikir saya, “Ada 2 pipa bocor pas kita naik, iya kan Nin?” tanya seorang teman. “Iya,” jawab saya sambil menghitung desis pipa bocor. Dan ternyata kami melewati lebih banyak pipa bocor dari sebelumnya. Sudah nyata adanya klo kami memang nyasar.

CAM01582*Langit mendung dan turun hujan saat kami turun dari pos 5

Suara-suara khas hutan mulai agak sering terdengar, langkah kami pun tidak mau melemah karenanya. Pokoknya jalan terus, jalan. Akhirnya bertepatan dengan hilang totalnya semburat cahaya di langit, kami sampai di perkebunan kopi. “Ini kebon kopi, dari sini gak jauh,” teman saya teriak semangat. “Tapi kok kebun kopinya banyak ya? waktu naik kan cuma beberapa,” kata saya. Kami lanjut lagi jalan dan memang tidak terlalu jauh dari sana gerbang hutan. Sambil agak berlari kami keluar dari kawasan itu. Dimanapun itu yang penting kami sudah keluar dari hutan. Jreeeng..kami keluar lewat pos portal.. hahah..ini pos pendakian yang sudah jarang dipakai, dan berada di kabupaten Bima.

Walaupun nyasar jauh, kami sudah tenang karena ada di luar hutan dan ada pos yang bisa dipake istrahat. Tapi disini masih ada kejutan lain.Ntah kenapa firasat saya agak kurang enak pas duduk di pos itu, “selonjoran aah,” kata saya sambil menaikan kaki ke atas pos diikuti teman saya yang lain. Satunya masih cari signal dan coba nelpon kasih kabar ke basecamp. Tiba-tiba gak lama setelah kaki saya naik ada suara babi yang cukup kencang, yakin banget itu babi deket tempat kami. Sontak kami semua kaget saya dan satu teman teriak ada babi, naik, ada babi, babi. Teman yang satunya sambil nelpon ikut teriak babi..babi.. Sumpah waktu itu terasa horor banget, klo sekarang malah jadi hal paling lucu saat perjalanan.

Niat awal nelpon basecamp sebenarnya mau tanya jalan, tapi gara-gara babi tadi kami putuskan untuk minta dijemput ojek saja. Sambil nunggu ojek kami gak banyak ngobrol, saya nelpon rumah nanyain kabar, yang lain nelpon teman, dan kerabatnya. Abis itu baru ngobrolin temen-temen lain yang sepertinya udah nyampe basecamp karena gak nyasar. Mungkin mereka udah mandi udah makan. Ah..kemana-mana deh.

10419486_791689970850343_1935536296017671661_n*Jalur rapat seperti ini jadi lebih menakutkan pas turun

Ojek baru dateng satu jam kemudian, dan taraaa..kami ber tiga dengan keril besar dijemput 2 ojek, satu motor trail dan tanpa lampu depan. Ahahah..bener-bener daah. Gak mungkin satu orang nunggu di sini, gak akan ada yang mau juga keles. Saya dan teman di ojek yang sama, dan yang cowok pake motor yang ga ada lampunya.

Ngobrol-ngobrol dengan mamang ojek ini lah kami jadi tau klo wilayah ini sudah masuk Bima, dan banyak babi hutannya. heuu.. Di tenagh perjalanan ada satu ojek lagi dateng, akhrinya saya pindah. Usut punya usut ternyata yang nyasar bukan hanya kami bertiga. Menurut penuturan tukang ojek ini ada orang Jakarta yang barusan minta dijemput di desa sana, lebih jauh dari pos. Saya bilang yang dari Jakarta cuma kami aja bang. “Ngga tadi ada 3 laki-laki minta dijemput di desa,”ย  Haaa??? jadi jejak kaki itu punya mereka..hahah..seketika itu juga saya tertawa terbahak-bahak. Mungkin si mamang ojek pikir saya kesurupan..hahah..Mungkin juga ini jahat tapi saya lega mendengar kelompok pertama yang nggcir itu tersesat juga..wkwkwk..

Sampai basecamp hal yang pertama kami lakukan adalah tertawa didepan 3 teman kami lainnya dan bilang “kalian nyasar juga yaaa?” ahahah..kedudulan luar biasa. Satu orang menjawab, “kami sengaja kok cari alternatif jalan lain,” satu lagi ketawa-ketawa, satunya lagi “Udah Nina, mandi sono, trus makan..” tidak mau terintimidasi. :v

Saya masih mikirin yang 6 orang lainnya walaupun sedikit lega karena mereka ditemani 2 orang porter dan sedikit kemungkinan bisa nyasar seperti kami. Kata Bang Ipul, penjaga basecamp ojek udah standby depan hutan untuk jemput mereka.

Sekitar jam 9 malam 6 orang lainnya sampai di basecamp, bapak TL tampak tergesa-gesa turun dari motor, “kalian kemana aja? kita ber 6 motor ada 12 dan katanya belum ada satupun yang keluar,” …”Nyasaaar..” dan tawa pun kembali menggema..

Ternyata persoalan nyasar ini menjadi sesuatu yang mencairkan suasana tidak mengenakan diantara kami tadi siang. Tapi bukan berarti harus nyasar dulu baru cair yaa. Oh ya cerita dari 6 orang lainnya gak kalah seru. Ada yang mencium bau kentang rebus, ada yang merasa kakinya ditarik, ada yang lihat kodok terus ikutan loncat, ada yang nyium bau melati juga..ah macem-macem deh pokoknya…

Dan akhirnya malam Jumat penuh bintang itu kami tutup penuh syukur bisa kembali dengan selamat dan tentu sambil menertawakan kebodohan yang kami perbuat. Kebodohan yang mungkin tidak akan kami alami jika tetap kompak, naik bareng-bareng turun pun bareng.

 

Overland Tambora Done!

๐Ÿ˜‰

CAM01588


17 Komentar

Perjalanan Ke Mahameru #4 (end)

25 Agustus 2012
Subuh hari di Ranu Kumbolo sangat dingin hingga terasa menusuk sampai ke tulang, saya coba membetulkan sleeping bag, barang kali terbuka, bergeser lebih dekat dengan teman saya, tapi tetap tidak meredakan rasa dingin itu.
Rasanya enggan keluar tenda kalau saja tidak ada teriakan sunrise dari luar. Saya keluar tenda segera, sambil membawa kamera. Pemandangan yang semalam tidak saya hiraukan dan pagi ini saya terheran-heran karenanya, Ranu Kumbolo tampak seperti perkampungan, dikelilingi tenda dan orang-orang berjaket tebal. Saat saya keluar tenda, hari masih cukup gelap, matahari belum muncul, namun orang-orang sudah berjejer di tepi danau yang sedikit membeku. Lapisan es tipis itu juga menyelimuti tenda kami, dan kini saya tahu apa yang menyebabkan udara dalam tenda begitu dingin.

Ice on the tent

Satu lagi keajaiban yang ditawarkan danau terindah yang pernah saya datangi ini. Saya melihat pemandangan yang sama seperti lukisan atau gambar yang sering dibuat oleh kita sewaktu kecil. Sang surya terbit di tengah dua gunung, memancarkan sinarnya yang keemasan dan lapisan es tipis di permukan Ranu Kumbolo memberikan efek “wow” saat terkena sinar matahari yang baru saja muncul.Ajaib, dan ini nyata ada di Indonesia.

Sunrise at Ranu Kumbolo [On Explore]

Setelah puas menikmati mentari pagi, kami sarapan dan membersihkan wajah dengan air Ranu Kumbolo yang tadi sempat membeku, kemudian packing dan melanjutkan perjalanan kembali ke Ranu Pane. Satu hal yang tidak boleh ditinggalkan di Ranu Kumbolo, sampah. Kami harus memastikan semua sampah dari sisa makanan yang kami bawa harus kami kemas dan bawa kembali ke Ranu Pane untuk dibuang pada tempatnya.

Sampai di Ranu Pane sekitar pukul 15.00 wib, hari itu desa kecil ini sangat ramai pengunjung, belakanagn kami tahu, di sini sedang diselenggarakan acara tahunan para pendaki yang biasanya dilaksanakan pada 17 Agustus. Karena banyaknya pengunjung kami harus memastikan mendapatkan tempat untuk menginap malam ini, karena untuk mendirikan tenda di luar sangat tidak direkomendasikan, terlebih ada kegiatan semacam ini.

26 Agustus 2012
Hari ini kami harus meninggalkan tempat seindah Ranu Pane dan segala keajaiban alam menuju Mahameru. Kembali ke Jakarta dan Bandung seperti kembali ke dunia nyata, dunia yang harus kami jalani dengan penuh perjuangan tentunya, yang pasti hari-hari kami di sini tidak akan pernah terlupakan, keajaiban yang diciptakan oleh yang Maha Pencipta, bukan tanpa sengaja menumbuhkan persahabatan yang indah, seindah menemukan Ranu Kumbolo.

Rangerwe come from another space

27 Agustus 2012
Welcome to Bandung, welcome to the real world!

 

Foto-foto ada di sini

Jalur pendakian
Ranu Pane – Watu Rejeng – Ranu Kumbolo – Oro-oro Ombo โ€“ Cemoro Kandang โ€“ Jambangan โ€“ Sumbermani โ€“ Kali Mati โ€“ Arcopodo โ€“ Cemoro Tunggal – Mahameru

Transportasi menuju Mahameru versi saya
1. Day trans Bandung-Jakarta : Rp80.000,-
2. Matarmaja ekonomi Jakarta-Malang : Rp50.000,-
3. Angkot Stasiun Malang-Pasar Tumpang : Rp15.000,-
4. Jeep dari Tumpang-Ranu Pane : Rp30.000,-
5. Registrasi : Rp7.000,-
6. Truk dari Ranu Pane-Tumpang : Rp30.000,-
7. Angkot Tumpang-Stasiun Malang : Rp15.000,-
8. Kereta Matarmaja AC Malang-Jakarta : Rp210.000,-
9. Kopaja AC Senen-St. Gambir : Rp5.000,-
10. Argo Parahyangan eksekutif Jakarta-Bandung : Rp90.000,-

Harga makan di Ranu Pane
1. Nasi soto : Rp6.000,-
2. Nasi rawon :Rp6.000,-
3. Baso Malang Pendaki : Rp5.000,-
4. Nasi+tempe+telur : Rp4.000,-
5. Teh panas : Rp2.000,-


8 Komentar

Malingping, Bayah, Sawarna (coret)

Liburan panjang minggu lalu tidak mungkin disia-siakan begitu saja olehku, 4 hari tanpa urusan kantor rasanya hahay banget. ๐Ÿ˜€

Tujuan awal menghabiskan liburan kali ini sebenarnya ke wilayah Jawa Timur, tapi karena terlalu banyak pertimbangan ujung-ujungnya masih di bagian barat Pulau Jawa, tepatnya ke Provinsi Banten.

Perjalanan panjang dimulai dari Bandung menuju Rangkasbitung melalui Serang. Rangkas bukan tujuan utama, hanya tempat singgah karena di sana ada rumah saudara dan sekalian tanya-tanya tentang transportasi menuju lokasi yang dituju.
Pergi dari Bandung sekitar pukul 07.00 dan sampai di Rangkasbitung pukul 13.00 wib. Jalannya cukup bagus, jadi tidak terlalu capek.

Maksud hati hanya singgah dan minta petunjuk jalan, eh malah diantar sampai tujuan. Bibiku bilang, “sekalian liburan bareng,” iya bareng dengan ibu-ibu komplek yang “rame”. Selain alasan itu katanya juga, transportasi umum menuju Malingping dan Bayah agak sulit. Baiklah, sebagai ponakan yang baik aku menurut saja, lumayan juga gak keluar ongkos..xixixi..

Ternyata perjalanan menuju pantai cukup jauh, sampai 3 jam, tapi jalannya memang bagus, salut deh untuk Pemprov Baten. Pelabuhan pertama kami adalah Pulau Manuk, Pantai Bayah. Pantainya bersih, banyak batu karangnya, bisa jalan-jalan di atas batu karang yang terjal, tapi harus hati-hati klo nyemplung ke air, banyak bulu babi, bisa gatal-gatal nanti.

Bayah Beach

Di Bayah, aku, Maya, Hilda, dan Nia sepupuku, berembuk membuat makar..hahaha..untuk melanjutkan perjalanan ke Sawarna, karena awalnya ibu-ibu geng rame tidak setuju, katanya “jauuuhh..capek..sama aja pantai..laut-laut juga..” kebayang kan ibu-ibu. Semua alibi kami keluarkan, dari mulai kasian aku jauh-jauh dari Bandung, pantai di sana lebih bagus, dan jarak dari Bayah hanya 30 menit akhirnya paman, bibi, dan geng ramenya luluh juga, dengan sedikit ocehan tentu..hahah.

The Rocks

Hanya dua orang dari rombongan itu yang pernah ke Sawarna, Hilda dan satu anggota geng rame. Ditunjuklah Hilda sebagai petunjuk jalan. Bayangan keindahan pantai Sawarna sudah di depan mata deh pokoknya, tapi kok gak sampai-sampai ya, padahal sudah lebih dari 30 menit. Kami baru tersadar setelah melihat gapura “Selamat Datang di Kabupaten Sukabumi”

Wadaaaaaaaaaaaaaw..nyasaaaaar..
Semua mata memandang ke satu arah, Hilda, dan tentu geng rame makin rame. “Dulu jalan sini kok.” *alibi dan kemudian berbisik, “..waktu itu pulangnya lewat sini, dan malem.”..hadeeuuuh..-___-”

Alih-alih makan siang di tepi pantai, malah di depan warung di terminal yang sudah tidak dipakai lagi..heuheuheu..
Karena sudah ada kejadian ini, geng rame tidak menerima alasan apapun untuk melanjutkan perjalanan ke Sawarna, pupus lah sudah harapan melihat pantai keren itu. Akhirnya kami kembali ke arah menuju Malingping, berhenti di setiap pantai yang punya view bagus, dan kembali ke Rangkasbitung.

View from the top

Barulah hari Sabtu aku dan Maya kembali ke Bandung melalui Serang. Ada cerita juga di kota kecil ini.
Next post! ๐Ÿ˜€