The 'Rok' Mountaineer

Travelling sometime, Backpacker often


5 Komentar

Mendaki Gn. Lawu Tanpa Persiapan

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, seringnya saya ke Jogja salah satunya adalah ingin mendaki Merapi, tapi tak kunjung terlaksana. Hari itu juga demikian, “Merapi batuk lagi,” kata teman saya yang mau ditebengi. Alhasil rencana nebeng rombongan teman ke Merapi pun dibatalkan, untuk menggantinya saya coba hubungi rombongan yang akan ke Sumbing, tapi karena jadwalnya yang kurang pas saya pun tidak jadi ikut ke Sumbing.

Rencana mendaki gunung batal semua, tapi tiket kereta sudah dibeli mau gak mau saya berangkat juga ke Jogja bareng Ajeng. Karena gak ada niatan naik gunung, persiapan saya pun tidak semaksimal biasanya. Saat itu yang saya pikirkan hanya membawa SB kalaukalau kami harus menginap di luar rumah, meskipun kemungkinan besar tidak akan terjadi karena Ajeng punya kolega di Jogja. Hehe..

Kamis pagi ada acara di kantor jadi barang bawaan masih saya tinggal di rumah, tapi sudah packing seadanya sebelum berangkat. Karena waktu pulang mepet sama jadwal kereta akhirnya saya tidak sempat pulang lagi ke rumah, packing baju tetap seadanya ditambah beberapa barang yang saya titip ke kakak untuk dimasukan ke ransel, kemudian dikirim oleh tukang ojek langganan.

Agak tergesa seperti biasanya tapi berhasil! Kurang beberapa menit saja kami pasti terlambat.

Meskipun saya dan Ajeng sudah pasrah gak mendaki gunung, tapi tetep saja galau dan tetep usaha menyamakan waktu bareng teman-teman yang ke Sumbing, yang ujung-ujungnya tetep gak bisa. Hahaha..tetep

Dipikirpikir kalo tiga hari kami habiskan hanya berkeliling Jogja, sungguh membosankan. Malam itu saya coba hubungi teman blog, dulu sempat saling berkomen untuk naik gunung bareng. Saya kirim pesan lewat komen di blog dan twitter yang berlanjut ke sms, akhirnya kami sepakat untuk sama-sama mendaki Gn. Lawu melalui jalur Cemoro Sewu. Karena belum pernah bertemu jadi anggaplah ini sebagai kopdar pertama kami. Agak gegabah, tapi saya punya keyakinan kuat dia orang baik. Semoga. 😀

Hari pertama di Jogja kami habiskan dengan jalan-jalan kota, baru keesokan harinya sesuai jadwal free teman blog saya itu maka kami berangkan ke Solo untuk mendaki Lawu. Sabtu siang kami bertemu di stasiun Lempuyangan. Awalnya saya pikir dia asli Jogja, ternyata orang Garut. Ah -__-“

IMG_1889

@stasiun Solo Balapan

Perjalanan menuju Magetan diiringi hujan deras, sempat terpikir untuk membatalkan pendakian, tapi teman baru saya itu bilang “Biasanya di atas malah gak hujan”. Baiklah untuk saat itu saya mengiyakan, tapi jika sampai ke pos pendakian tetap hujan berarti mestikung (semesta menikung). Ternyata sampai pos pendakian hujan sudah reda. Kami istirahat sejenak di sana, makan (lebih tepatnya dikasih makan :D), repacking, dan sholat maghrib.

Pendakian kami mulai selepas maghrib, sebenarnya saya menghindari pendakian malam, tapi banyak sekali yang mendaki malam itu. Toh kalo gak malam ini kapan lagi? Jalurnya agak basah setelah diguyur hujan siang hingga sore tadi. Dari basecamp hingga Pos 1 jalannya masih bersahabat, cukup landai. Normalnya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Pos 1 ini. Dari Pos 1 ke Pos 2 jaraknya ternyata cukup panjang, memakan waktu hampir 3 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata keong perjam..heheh..

IMG_1892.JPG

Cuma bisa lihat bulan.

Jalur menuju Pos 2 ini mulai tak berbonus dan bebatuan, lumayan lah bikin pegel. Terlebih saya tidak pakai sepatu atau sanda yang seharusnya. Ya tak seharusnya karena packingan seadanya itu saya lupa memasukan sepatu maupun sandal gunung ke daftar bawaan, alhasil cuma pakai sandal yang saya bawa ke kantor. Heuu..

Di Pos 2 ini ada shelter yang bisa dijadikan tempat istrirahat, awalnya kami mau ngecamp di sini saja terlebih melihat kondisi Ajeng yang sudah capek berat. Tapi shelter penuh dan tidak memungkinkan mendirikan tenda di sana. Teman baru saya meyakinkan kami kalo Pos 3 sudah dekat dan kami buka tenda di sana saja. Perjalanan pun kami lanjutkan ke Pos 3, tapi yaa..ternyata lumayan juga, waktu normal saja butuh 60 menit untuk sampai ke sana, dengan kondisi kami yang banyak berhenti sepertinya sampai 2 jam baru buka tenda di Pos 3.

Sudah larut tidak ada foto-foto apapun, tidak ada kegiatan lain selain makan malam (lagi), kami pastikan alarm berbunyi jam 3 nanti, kemudian tidur lelap.

====

Dan kemudian kami terbangun..”Yaah..jam 4!” seru teman baru saya. “Yah…udah, sholat subuh aja,” kata saya nyantai. Karena sejak awal pendakian ini diniatkan santai, jadi kami tidak merasa gusar gak dapet sunrise di puncak. Toh nyampe puncak juga untung-untungan, di timeline saya pokoknya sebelum dzuhur kita harus udah turun. Bukan apa-apa, biar pas sama jadwal kereta pulang aja.

Abis sholat, ngopi-ngopi, sarapan, baru lah beranjak jalan sekitar jam 5 pagi. Santai banget, bener-bener jadi penikmat jalur. Oh ya dari Pos 3 menuju Pos 4 bisa ditempuh dengan waktu 60-90 menit, tapi bergantung kecepatan masing-masing juga.

IMG_1897

Pemandangan selama perjalanan ke Pos 4

Jam 6.30 kami sudah sampai di Pos 4, menimang-nimang mau lanjut atau tidak. Setelah sekian lama berfikir sambil selfie..*bisa ya..hahha..akhirnya kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan hingga puncak. Iya sih tinggal dikit lagi, iya sih cuma satu pos lagi, tapi terlalu beresiko ketinggalan kereta.

Mungkin sekitar jam 7.30, kami mulai menyusuri jalur batuan tadi menuju Pos 3 tempat kami ngecamp. Sampe Pos 3 repacking, kemudian turun. Karena kemarin naik dalam keadaan gelap saya hampir tak mengenali jalan yang kami lalui, Alhamdulillah jalurnya jelas dan gak banyak, bahkan hampir gak ada persimpangan. Karena terang benderang, jalur batuan yang dilalui berasa banget ke kaki, terlebih saya ga pakai sepatu atau sandal yang memadai. Heuu..salah sendiri sih.

Jam 11 sampai juga kami di basecamp, istirahat sejenak, bersih-bersih, trus nunggu angkot dan makan baso pinggir jalan sambil elus-elus kaki. Ah..bersyukur banget liburan kali itu bisa main ke gunung meskipun bener-bener tanpa persiapan yang matang, Alhamdulillah selama perjalanan kami baik-baik saja, sampai rumah dengan selamat. Semoga kelak bisa main ke sana lagi dan lihat sunrise dari puncak. Eh..ke Merapi aja deh..


1 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (4)

Day 3 Menikmati Afrika Van Java

Mobil jeep yang kami tumpangi jadi lebih luas karena Rahmi dan Hilman gak ada. Perjalanan ini jadi seperti kembali ke awal, cuma ber4 dan mulai gila lagi..hahah.. Salah satu dari kami mungkin dehidrasi. Saat bapak sopir menunjukan salah satu batu bersejarah di tengah jalan “itu batu dodol” katanya, di belakang malah nyahut “batu jodoh?” eaaah..dodooool :v

20150531_110516Perjalanan dari stasiun menuju pos pendaftaran Baluran sekitar 30 menit saja, dekat ternyata. Tapi itu baru nyampe pos pendaftaran ya. Untuk menuju Savana Bekolnya sekitar 45 menit dari situ, kalo pakai mobil. Kalo jalan? Hitung sendiri 😀

Kanan kiri jalan menuju Savana Bekol merupakan hutan semak yang cukup rimbun. Sesekali terdengar suara ayam hutan, sesekali ada juga penampakan. Penampakan ayam hutan maksudnya 😀

Sampai di Savana Bekol kami benar-benar terpukau.. Welcome to Afrika Van Java. Aaah..makin menjadi deh kami. No more speak lah, selamat menikmati foto-fotonya 😉

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oh ya tadi pagi kami bungkus nasi + ayam untuk makan siang, dan tak lupa 2 bungkus rujak cemplung buat dimakan pas panas-panas gini di bawah pohon rindang. Biar apa? Biar segeeeer.. Siang itu kami pun makan rujak ditemani musik Banyuwangian dari mp3 bapak sopir..”la..la..la..wong edan..la..la..la..” hahah..asli kata-kata yang terekam diingatan cuma itu doang..

Karena panas banget aktivitas memotret di savanpun kami hentikan sejenak, beranjak ke tower pengintai #halah dari tower ini kita bisa melihat savana yang terhampar luas, sampai pantai Bama di ujung sana. Abis itu kembali turun dan menuju masjid, sholat Dzuhur-Asar dan istirahat sejenak. Di kawasan ini udah mulai banyak monyet, jadi hati-hati ya bawaannya.

Selepas sholat lanjut ke pantai Bama dulu, monyet makin banyak boo.. Awalnya kami mau coba snorkeling, tapi karena lautnya lagi surut gak jadi deh. Emmh..agak curiga sih pas lihat harganya yang murmer cuma 45rb aja, eh nanya tempatnya dimana, kata mas-masnya di tepian pantai aja. Yah..pantaslah.. gak perlu sewa perahu.

Saya dan satu teman malas berbasah-basah gak jelas..heheh..jadi diam saja di tepian pantai sambil ngobrol. Lainnya jalan hingga ke tengah sambil mencoba peruntungan ketemu ikan badut. 😀

Tak terasa udah sore aja, kami baru ingat nasi bungkus tadi pagi belum di makan. Heuu..pantes lapar. Awalnya mau makan di tepi pantai tapi monyet-monyet gak sopan itu malah mendekat, kabur deh. Mending makan di mobil aja. Diantara makanan sebelumnya, ini jauh lebih baik menurut kami. Nasi dan ayam saja sangat cukup. Alhamdulillah..

Hari makin sore tapi matahari masih terik aja, selesai makan siang kesorean kami kembali ke Savana Bekol, foto-foto lagi sampai mau gelap. Oh ya bagi yang tripnya agak nyantei di sini juga ada penginapan dan menyediakan safari malam. Ya kali mau ketemu macan.. 😀

Jelang maghrib kami kembali ke Banyuwangi, menyusuri jalanan rimbun tadi dan..lagi-lagi tak sadaran diri. Sungguh ya kamu sudah menahan supaya gak merem mengingat waktu asar hingga maghrib itu gak baik untuk tidur, tetep aja blass. Sadar-sadar sudah depan batu dodol.

Kejadian Tak Terduga..Sungguh

Sekali lagi ini karena niatnya backpackeran dan demi hemat tingkat menyebalkan, kami pun memilih tidur di masjid saja, tidak sewa penginapan. Inilah salah satu alasan kenapa saya tidak mau ajak orang lebih banyak apalagi akhwat, khawatir gak biasa tidur dimana aja. Berbekal baca-baca blog orang yang katanya ada masjid depan pelabuhan yang bisa kami singgahi untuk tidur jadi kami pun menuju ke sana.

Sampai masjid kami bersih-bersih dan sholat, setelah itu meminta izin pada pengurus masjid bahwa kami akan beristirahat di sini malam ini. “Iya silahkan, di sana ya” kata bapak penjaga sambil menunjukan tempat parkir motor yang sudah dialasi karpet. “Kalau yang akhwatnya sebelah mana, pak,” pertanyaan standar sih menurut kami mengingat ini masjid dan pasti ada hijab antara akhwat dan ikhwan. “Ya di sana,” kata bapaknya sambil tetap menunjuk tempat parkir itu. “Gak ada hijab pak?” tanya saya. Bapaknya tampak tidak faham apa yang saya bilang, mungkin karena suara saya kurang keras. “Hijab pak, pemisah. Masa gabung sama ikhwannya,” lanjut saya. “Oh ya ndak, itu kan karpetnya beda.” Haiiiishh..-__-“

Ini benar-benar di luar dugaan kami, salah saya sih gak baca tulisan di blog dengan seksama. Tapi kami tetap usaha agar akhwatnya diizinkan istirahat di teras masjid. Beneran kami hanya berharap di teras saja gak lebih. Bukan mau manja-manja, toh saya juga pernah tidur di terminal Surabaya tapi ya gak barengan sama temen-temen yang ikhwan juga. Karena ini masjid, ekspektasi kami agak berlebihan mungkin karena kami terbiasa mabit di masjid jadi agak shock ketika diminta tidur di parkiran tanpa hijab.

Kami tetap usaha, melobi ketua DKMnya. Ya siapa tahu kami bertiga diizinkan diam di teras, gak tiduran kok duduk aja. Saat itu bapak ketua DKM sedang mengaji, kami tunggu sambil makan nasi bungkus tadi pagi yang masih tersisa..hahaha. Makan sambil kejarkejaran sama tilawah bapak ketua gak enak sodara. Pas bapak ketua berhenti kami juga berhenti ngunyah, yang sudah ngangkat sendok di freez gak masuk ke mulut. Bapak ketua lanjutin tilawah kami pun lanjut makan. Astagfirullah.. >,<  Selesai tilawah kami selesai juga makan, lalu mengejar si bapak yang keluar dari masjid. Lobi-lobi hanya boleh sampai jam 9 diem di teras. Lah.. heuuu..

DSC_1275Sesaat kami berfikir cari penginapan saja kalau begitu, tapi ini sudah jam 10 malem. Ya sudah lah ke Indomart saja dulu berbincang sambil ngecas hp. Pikiran paling liar adalah “Kita nyebrang aja ke Bali, nanti subuh balik lagi,” kata Ajeng.. “Kamu aja olangan (sendiri)..hahaha..” dijawab rame-rame.

Sekitar 11 malem kami kembali ke masjid dengan harapan sang penjaga tak ada. Hihihi..benar saja, saat itu penjaganya lagi ga ada. Aza langsung tiduran di lapak yang disediakan di parkiran, di sana ada bapak-bapak lain yang juga tiduran. Kami ber tiga ke teras masjid samping kiri, tempat sholat akhwat, kemudian mengaji. Aman hingga 10 menitan, setelah itu petugas datang dan bilang “Ke bawah mbak, sekarang.” Eh kami lagi ngaji loh bukan tidur, kan tempat yang disediakan di bawah buat tidur. Tapi malas berdebat akhirnya kami ke bawah, mojok bertiga di samping jejeran motor, lanjutkan mengaji.

Kami berempat faham, mungkin dulu pernah ada kejadian tidak mengenakan di masjid ini karena mengizinkan orang tidur. Atau ini salah satu cara menjaga masjid tetap bersih, hanya untuk sholat dan gak sembarang orang seenaknya tiduran di sini. Ya tiap DKM punya kebijakan sendiri lah ya. Tapi sejujurnya, kami tetap sedih banget terusir dari tempat yang kami rasa paling aman, kami cintai dan sangat kami harapkan. Terlebih hanya kami yang diminta ktp, lainnya ngga.. >,<  Alhamdulillah hari itu gak banyak bapak-bapak di sana, dan kami bisa bergeser ke tempat yang paling pojok banget.

Walau berusaha sekuat apapun, badan kami memang sudah harus diistirahatkan, lepas pukul 12 malam kami bertiga akhirnya tumbang. Tapi hanya 1-2 jam saja terlelap, semua bangun pas pukul 3. Bersihbersih, wudhu kemudian ke masjid, sholat 11 rakaat dan mengadu. Mengadu sejadijadinya sampai subuh. Pagipun menyapa..saatnya bergegas ke stasiun, lupakan soal mandi pagi, toh kemarin sudah mandi. 😀

Teman saya ambil ktp ke petugas, pas dia mau kasih infaq, tetiba sang petugas bilang “lima ribu per orang, mbak.” “Padahal aku mau ngasih lebih..tapi jadi males kalau udah dipatok gitu, buat yang lain aja lah..” kata teman saya. Ini pelajaran buat saya, kalau ada orang yang mau ngasih gak usah nyebutin nominal, ya kali aja dikasihnya lebih dari yang kita harapkan..hahah..

Oh ya kesimpulannya buat yang perempuan lebih nyaman mending cari penginapan aja ya..

OK lupakan soal kejadian semalam..saatnya kami beranjak menuju stasiun Banyuwangi Baru menuju JOGJAAAA..

Bye Banyuwangi..Bye Ijen..Bye Baluran..

Bye Bali..ada yang sedih gak bisa ke Bali padahal tinggal nyebrang 6rb aja :v

Ini itin berjalanan kami seharian di Banyuwangi.

21.00 – 21.30 Baru nyampe banyuwangi
21.40 – 22.10 Makan malam
22.10 – 23.30 Bersih-bersih dan istirahat
23.30 – 00.30 Perjalanan menuju paltuding
01.30 – 02.00 Persiapan pendakian
02.00 – 04.00 Pendakian gunung Ijen
04.00 – 04.30 Blue Fire Expedition + Sholat Subuh
04.30 – 05.15 Sunrise from the top
05.15 – 07.00 Turun Gunung
07.00 – 08.00 Perjalanan menuju Banyuwangi
08.00 – 09.00 Kuliner
09.00 – 11.00 Perjalanan menuju Baluran
11.00 – 11.30 Pos Batangan Baluran-Bekol
11.30 – 17.30 ISHOMA – Explore savanna bekol dan pantai Bama


5 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (2)

Day 2 – 14 Jam 99 Stasiun

Detik berjalan..

Hari dimulai..

Pukul 07.15 Kereta ekonomi Sri Tanjung yang kami tumpangi melaju menuju Banyuwangi. Kami berempat ada di gerbong 2, dengan kursi yang saling berhadapan. Cukup nyaman karena jarak antar kursinya agak jauh, jadi lutut bisa leluasa lah. Terlebih ada ikhwan satu nih.

Lihat jadwal di tiket, perjalanan kami ini akan memakan waktu 14 jam melalui 99 stasiun, dan itu waktu yang terlalu lama jika dihabiskan dengan tidur, makan dan melamun. Syukurlah ada salah satu teman yang bawa keril isi leptop, setidaknya perjalanan tidak akan terlalu boring. Ya walaupun agenda tidur itu sebenarnya sudah ada dalam list kami. 😀

Pura-pura serius nontonBioskop mulai dibuka sejak kami duduk tenang setelah cekikikan mengingat soto burung. Film pertama yang kami tonton adalah Premium Rush, buat yang udah pernah nonton tau lah ya aksi sepedahannya gimana. Karena yang nonton 4 orang gak mungkin dong pakai headset, dan kami semua ditakdirkan menjadi orang yang paling suka nonton film dengan suara lantang. Alhasil satu gerbong berasa bioskop, tertolong suara kereta jika sedang melaju, kalau berhenti ya volume kami kecilin dikit..dikiiiit banget :v

Yang bikin berisik bukan cuma suara filmnya sih, tapi jiwa komentator dan tawa kami. Terlebih otak dagang mulai merasuki. “Gimana kalau kita bikin iklan aja, di kursi ini dibuka bioskop. Satu orang bayar 5000, lumayan buat makan,” seru kami saling menimpali.

Dari satu film berlanjut ke film lain, kehebohan masih saja sama bahkan lebih parah karena film yang ditonton lebih lucu dari sebelumnya. Sungguh mohon maaf dari hati yang terdalam bagi penumpang yang terganggu. hihihih..

Keseruan kami  juga akhirnya terganggu oleh suara perut yang protes ditahan sama chocoroll kartikasari yang ga jadi buat oleholeh. Lafaaar sodara-sodara, berharap berhenti sejenak di stasiun Madiun dan ada penjual nasi pecel, tapi aah..cuma harapan. Derita kelafaran bertambah dengan ac kereta yang tetiba mati. Jadi lafaaar dan fanaaas.

Sebenarnya penjual nasi goreng beberapa kali lalulalang dekat kami, tapi kami tahan karena nasi seuprit yang rasanya std, dan ntah digoreng kapan itu harganya gak masuk akal dompet kami yang tipis. -__-

20150530_112645

Di daerah antah berantah kereta sempat berhenti cukup lama, menunggu kereta lain dari arah berlawanan. Salah satu cara mengalihkan perhatian adalah dengan foto-foto, kebenaran juga pemandangannya bagus dan yang pasti bisa menghirup udara segaar.

20150530_113031

Tapi setelah itu perut kami benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Kami putuskan kali ini harus beli makan, tapi penjual nasi itu tak kunjung datang. Haa..berasa jatuh cinta ala abg, didatengin cuek, dijauhin nyari. *gyak

Saya dan satu teman memutuskan untuk pergi ke restorasi, cari makanan dan ngasih tahu petugas kalau ac mati. Yang kedua sotoy sih, petugas juga udah tahu kelees :p

Sampai restorasi..hmmm..nasi habis, tinggal yang sudah digoreng saja. heuheuheu..gak tega sebenernya. Minuman dingin juga gak dingin lagi karena listrinya mati. Lengkap sudah. Ya dari pada kami kembali dengan tangan kosong akhirnya beli saja nasi goreng itu. Berapa banyak? 2 saja cukup. cukup sedih maksudnya. Dua bungkus dimakan oleh kami berempat..co cuiit lah pokoknya. Yang penting perut berhenti teriak dulu yes :v

Hingga pukul 14 lebih kereta berhenti di salah satu stasiun untuk perbaikan ac. Aaah..lega karena bisa keluar oven. Bayangin aja gak ada ac, semua jendela tertutup rapat, pintu gak boleh terbuka, gerbong penuh manusia yang saling berebut oksigen, dan sebagian diantaranya belum mandi dari hari Jumat.. #ehh

Senang deh rasanya bisa menapakan kaki di stasiun setelah kepanasan dalam gerbong. Terlebih kata salah satu petugas berhentinya akan lama, sekitar 30 menit. Semua turun dengan harapan yang sama, toilet bersih, air wudhu melimpah, dan sholat di mushola.

Dua teman ke toilet, satu cari makan yang agak bener, saya sendiri duduk manis di tempat tunggu memegangi hp mereka yang ke toilet. Baru juga mau chek ini di path petugas stasiun sudah teriak-teriak..”copeeeet!” ehh..salahsalah..itu adegan film lain. Petugas stasiun memanggil semua penumpang kereta Sri Tanjung untuk segera naik kembali karena AC sudah selesai diperbaiki.

Haaa..saya belum ke toilet pak.. ngenes harus berjalan menuju kereta dan meninggalkan tulisan toilet gratis dan mushola 😦 Sedangkan dua teman saya juga buru-buru keluar dari sana. Nasib..tetep harus wudhu di kereta. Satu teman lainnya tentu tidak berhasil menjalankan misi cari makan.

20150530_165242Usai melaksanakan kewajiban dan tanda syukur, untuk menghilangkan rasa kantuk dan mengalihkan perut yang kembali bergejolak, kami putar bioskop lagi. Yay..bioskop berlanjut sampai wangi popmie tak bisa diabaikan, ngemih dulu deh. :v Ntah kami sudah melalui berapa stasiun, yang pasti di luar semakin gelap dan film ke 4 sudah selesai kami tonton.

Pegal juga duduk terus akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan lagi ke restorasi. Mau nyari minuman hangat ceritanya, eh ternyata habis. Yah baiklah..malas kembali ke gerbong asal, kami pun putuskan duduk di sana barang sejenak saja. Sambil ngobrol dan kodekode ada kerupuk di meja sebelah..hahah. Lagi asik-asiknya ngobrol tetiba petugas keamanan kereta menghampiri. “Maaf mas, ini khusus untuk kru,” serunya pada teman kami. WHAT? Sejak kapan restorasi hanya dikhususkan untuk petugas? Emang gak boleh dikunjungi penumpang ya?

Akhirnya kami berjalan kembali menuju gerbong 2 sambil ngedumel “Ah jangan-jangan ini gara-gara kode kita sama kerupuk di meja si bapak petugas?” kata saya. “Hahah..yang jelas itu sedikit menyebalkan ya.””Ya udah nanti kalo ada penjual makanan lewat gerbong tapi gak bawa makanan bilang aja, ini khusus penumpang!” balas teman saya.

Tak lama dari itu kami melalui stasiun dengan nama unik, Glenmore. Sudah ketebak ya apa yang kami lakukan. Yes, ribut lagi ngebahas Glenmore. “Ini yakin kita gak salah kereta, kali aja ini mau ke luar negeri,” “Mungkin ini tempat kelahiran Glend Fredy yang sesungguhnya”, “Emang Glend Frendly siapanya Mandy More?” “Barangkali ini tempat pertemuan antara Glend Fredly dan Mandy More,” “Atau jangan-jangan…” obrolan makin ngaco dan bikin ribut Banyuwangibiru. :v

21.30 Lebih dikit Alhamdulillah kami sampai juga di Banyuwangi, sesuai itin yang sudah dibuat kami akan dijemput supir yang sudah kami hubungi sebelumnya. Oh ya sebelumnya kami bertemu dengan 2 teman lainnya di sini. Rahmi dan Hilman. Rahmi berangkat dari Bali, sedangkan Hilman dari Tasik, sudah pergi sehari sebelum kami, jadi mereka tidak tahu kegilaan yang kami lakukan untuk membunuh waktu hampir 24 jam di kereta dari Bandung hingga Banyuwangi.

20150530_223540

Bapak supir mengirimi sms warna mobil dan nomor polisinya, setelah say hi pada dua teman kami saya lanjutkan mencari mobil sesuai sms tadi. Pertama mobil warna kuning, dan yang pertama saya lihat adalah angkot warna kuning. Hahah..dalam hati “yang bener aja”, udah gitu si bapak angkotnya nyamperin lagi. Buru-buru saya cocokan dengan nomor polisi yang dikirim, tapi bapak angkot masih ngikutin, ya udah saya tanya aja, “Pak Imik?” eh yang nyahut malah bapak yang di depan jeep kuning. Hufft..syukurlah gak jadi naik angkot :v

Bukan apa-apa masalahnya jalur ke Ijen itu cukup wow, saya khawatir angkot gak bisa naik..hihihi..padahal udah bayar lumayan dan pengen bisa tidur di mobil sih.. 😀

Kami berenam melanjutkan perjalanan menuju Ijen. Mampir di tempat makan dulu, sebenarnya kami berharap ada makanan khas Banyuwangi yang memang enak dimakan malem-malem gini, kemudian pak supir bilang. “Ada sate ayam” yaah..itu sih dimana-mana juga ada :v

Selesai makan, kami minta diantar ke masjid terdekat untuk bersih-bersih dan istirahat dulu, karena kami sudah sholat di kereta. Sampailah kami di Pasar Licin, ada masjid kecil di belakangnya. Cukup nyaman karena ada hijab antara ikhwan dan akhwat, tempat wudhu pun terpisah, hanya saja tidak ada toilet..yang bener-bener toilet di sana. 😀 Tapi bisa lah dipakai buat cuci muka dan wudhu, airnya juga banyak gak berhenti-berhenti.

Kami diberi waktu hingga tengah malam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ijen, istirahat dulu yaa..bobok yang bener a.k.a terlentang. 😀

Lanjut ke Day 3…


7 Komentar

Revisit (4) Bromo

imageDulu saat teman saya bilang Bromo itu gak ngebosenin, saya memilih tidak meng-iya-kan. Saya lebih suka mengunjungi tempat yang belum dikunjungi dari pada harus berkunjung ke suatu tempat berkali-kali.Tapi setelah 4 kali bolak balik Bromo, saya harus akui pernyataan teman saya benar. Ya..baru sadar setelah 4 kali.. 😀

Throwback ke pertama kali saya ke Bromo, tahun 2009. Itu kali pertama saya melakukan perjalanan jauh bersama seorang sahabat, Miranty Januaresty. Perjalan pertama yang membawa saya ke Semeru dan tempat lainnya.

Waktu itu saking senangnya kami ‘nongkrong’ di stasiun tiba-tiba saja tercetus ide untuk membeli tiket ke Surabaya. Tak ada tujuan khusus awalnya, tapi saya penasaran pada Bromo, padahal jujur saya belum pernah lihat foto mainstremnya bromo. Aneh.

Berbekal nekad dan bermodal punya teman di Surabaya, libur Idul Adha tahun itu kami pergi ke sana. Dari Surabaya kami menuju Probolinggo, jalur paling ramai menuju Bromo sepertinya. Karena ceritanya backpakeran kere pakai banget kami tidak sewa jeep menuju Penanjakan, kami juga tidak menuju jalur yang dilalui banyak turis. Kami berjalan menembus kabut bersama tukang ojek kuda part time, karena sehari-hari beliau adalah guru. 😀

me n antyMenembus kabut, menyusuri gurun pasir Bromo, menuju puncak Bromo. Hanya puncak Bromo, plus dapat bonus foto naik kuda lah. 😀 Karena minim modal, pulang pergi kami tempuh dengan berjalan kaki menyusuri padang pasir menuju penginapan, ehmm..lebih tepatnya rumah penduduk yang bisa kami singgahi dengan murah sangaat.

Kali ke dua jauh lebih baik, dari yang pertama. Karena berbarengan dengan tugas kantor ke Probolinggo tahun 2013, saya dapat bonus jalan-jalan ke Bromo dengan cumacuma. Bisa ke Penanjakan, motret tempat mainstremnya Bromo, pasirberbisik, dan ke kawah lagi. Begitu pula dengan kali ke tiga di tahun yang sama, dan ke sana bersama teman-teman kantor. Rasanya pasti beda..tentu. Sensasi petualangannya gak ada karena semua pakai fasilitas tour. Dan hanya dua lokasi karena tidak cukup waktu.

DSC_0622

Nah untuk yang ke empat kalinya saya bertekad harus sampai savana, Alhamdulillah terwujud juga. Pekan lalu extend dari liburan kantor ke Jogja, saya dan beberapa kawan melakukan short trip Malang-Batu-Bromo. Seruseruan di Malang dan Batu skip dulu aja ya, mau cerita di Bromonya dulu.

Minggu malam kami ber6 berangkat menuju Bromo melalui jalur Pasuruan, menggunakan mobil sewaan. Meskipun hujan deras tapi jalanan cukup bersahabat. Sampai di daerah hutan pinus ada sedikit beda persepsi antara saya dan teman yang nyetir (karena yang lain tidur). Sekitar pukul 11 malam, dia lihat kakek-kakek di pinggir jalan pakai sarung saja dan bawa tongkat, padahal abis hujan dan udara dingin sangat. Sedangkan menurut saja kakek itu pakai kaos warna merah dan saya tidak lihat dia bawa tongkat. Karena perdebatan gak penting itu hampir saja kami mau berbalik arah untuk memastikan..tapi akhir nya sadar..gak lucu juga kalau pas balik arah ternyata bukan kakek tapi nenek berbaju putih. 😀

Kejadian ‘lucu’ lainnya di jalan berkelok sebelum Bromo, saya berkomentar “Padahal tadi hujan tapi ga ada kabut ya, gak kebayang kalau berkabut dengan jalanan sempit kayak gini.” Sesaat kemudian kabut tebal turun, sodara. Wallahu’alam, yang pasti jangan suka sekatekate di tempat asing.

Pukul satu dini hari kami sampai di Bromo, karena tinggal 3 jam menuju waktu muncak, jadi kami putuskan tidur di mobil saja untuk menghemat. Tentu setelah sebelumnya cari jeep untuk mengantar.

image

Oh ya..kalau bukan long weekend tidak usah terlalu terburu-buru cari jeep, santai saja masih banyak yang bisa ditawar. Satu jeep muat 6-7 orang, disarankan sih cuma 6. Harga sewa berkisar antara Rp350-600rb, tergantung banyaknya lokasi yang dituju. Kalau 4 lokasi ya Rp600rb. Untuk tiket masuk beda lagi, Rp27.500 wni, jika wna berkalikali lipat.

Karena menuju Penanjakan sebelum subuh, kalau tidak mau ngantri sebaiknya wudhu di bawah saja. Mushola hanya ada di Penanjakan, karena mayoritas penduduk sana beragama Hindu.

Setelah dua kali ke sana, saya tidak terlalu berambisi untuk motret spotmaintream itu, hanya ingin menikmati pagi di ketinggian. “Semua orang berfokus pada sesuatu yang belum pasti, matahari bisa jadi tertutup kabut tebal. Padahal di belakang ada pemandangan kota yang sangat indah untuk dinikmati,” ujar saya sok pilosopis pale p pada teman yang juga sudah berkali-kali kesana.

image

Kami beranjak dari kerumunan dan berbalik menikmati pemandangan kota-ntah Probolinggo, Malang, atau Pasuruan yang jelas bukan Jakarta atau Bandung. 😀

Benar adanya, matahari ijin edukasi..hahah..agak mendung. Karena gak ada tanda-tanda cerah, setelah motret tulisan bersponsor, kami lanjut ke tempat selanjutnya, Savana. Pas dateng masih berkabut tebal, indahnya savana gak kelihatan sama sekali. Setengah jam kemudian barulah terang dan terlihatlah hamparan luas..semaksemak..hahah

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Next pura-pura jadi Dian Sastro di Pasir Berbisik. 😀

image

Terakhir baru lah menuju kawah, tadinya males naik tangga-tangga itu, tapi pengen mengenang masa lalu. 😀

DSC_0637

Abis itu beres deh..pulang ke Malang. Semoga kalau pun ada yang ke lima kalinya itu bareng, kamu. *Duka saha 😝