The 'Rok' Mountaineer

Travelling sometime, Backpacker often


5 Komentar

Mendaki Gn. Lawu Tanpa Persiapan

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, seringnya saya ke Jogja salah satunya adalah ingin mendaki Merapi, tapi tak kunjung terlaksana. Hari itu juga demikian, “Merapi batuk lagi,” kata teman saya yang mau ditebengi. Alhasil rencana nebeng rombongan teman ke Merapi pun dibatalkan, untuk menggantinya saya coba hubungi rombongan yang akan ke Sumbing, tapi karena jadwalnya yang kurang pas saya pun tidak jadi ikut ke Sumbing.

Rencana mendaki gunung batal semua, tapi tiket kereta sudah dibeli mau gak mau saya berangkat juga ke Jogja bareng Ajeng. Karena gak ada niatan naik gunung, persiapan saya pun tidak semaksimal biasanya. Saat itu yang saya pikirkan hanya membawa SB kalaukalau kami harus menginap di luar rumah, meskipun kemungkinan besar tidak akan terjadi karena Ajeng punya kolega di Jogja. Hehe..

Kamis pagi ada acara di kantor jadi barang bawaan masih saya tinggal di rumah, tapi sudah packing seadanya sebelum berangkat. Karena waktu pulang mepet sama jadwal kereta akhirnya saya tidak sempat pulang lagi ke rumah, packing baju tetap seadanya ditambah beberapa barang yang saya titip ke kakak untuk dimasukan ke ransel, kemudian dikirim oleh tukang ojek langganan.

Agak tergesa seperti biasanya tapi berhasil! Kurang beberapa menit saja kami pasti terlambat.

Meskipun saya dan Ajeng sudah pasrah gak mendaki gunung, tapi tetep saja galau dan tetep usaha menyamakan waktu bareng teman-teman yang ke Sumbing, yang ujung-ujungnya tetep gak bisa. Hahaha..tetep

Dipikirpikir kalo tiga hari kami habiskan hanya berkeliling Jogja, sungguh membosankan. Malam itu saya coba hubungi teman blog, dulu sempat saling berkomen untuk naik gunung bareng. Saya kirim pesan lewat komen di blog dan twitter yang berlanjut ke sms, akhirnya kami sepakat untuk sama-sama mendaki Gn. Lawu melalui jalur Cemoro Sewu. Karena belum pernah bertemu jadi anggaplah ini sebagai kopdar pertama kami. Agak gegabah, tapi saya punya keyakinan kuat dia orang baik. Semoga. 😀

Hari pertama di Jogja kami habiskan dengan jalan-jalan kota, baru keesokan harinya sesuai jadwal free teman blog saya itu maka kami berangkan ke Solo untuk mendaki Lawu. Sabtu siang kami bertemu di stasiun Lempuyangan. Awalnya saya pikir dia asli Jogja, ternyata orang Garut. Ah -__-“

IMG_1889

@stasiun Solo Balapan

Perjalanan menuju Magetan diiringi hujan deras, sempat terpikir untuk membatalkan pendakian, tapi teman baru saya itu bilang “Biasanya di atas malah gak hujan”. Baiklah untuk saat itu saya mengiyakan, tapi jika sampai ke pos pendakian tetap hujan berarti mestikung (semesta menikung). Ternyata sampai pos pendakian hujan sudah reda. Kami istirahat sejenak di sana, makan (lebih tepatnya dikasih makan :D), repacking, dan sholat maghrib.

Pendakian kami mulai selepas maghrib, sebenarnya saya menghindari pendakian malam, tapi banyak sekali yang mendaki malam itu. Toh kalo gak malam ini kapan lagi? Jalurnya agak basah setelah diguyur hujan siang hingga sore tadi. Dari basecamp hingga Pos 1 jalannya masih bersahabat, cukup landai. Normalnya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Pos 1 ini. Dari Pos 1 ke Pos 2 jaraknya ternyata cukup panjang, memakan waktu hampir 3 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata keong perjam..heheh..

IMG_1892.JPG

Cuma bisa lihat bulan.

Jalur menuju Pos 2 ini mulai tak berbonus dan bebatuan, lumayan lah bikin pegel. Terlebih saya tidak pakai sepatu atau sanda yang seharusnya. Ya tak seharusnya karena packingan seadanya itu saya lupa memasukan sepatu maupun sandal gunung ke daftar bawaan, alhasil cuma pakai sandal yang saya bawa ke kantor. Heuu..

Di Pos 2 ini ada shelter yang bisa dijadikan tempat istrirahat, awalnya kami mau ngecamp di sini saja terlebih melihat kondisi Ajeng yang sudah capek berat. Tapi shelter penuh dan tidak memungkinkan mendirikan tenda di sana. Teman baru saya meyakinkan kami kalo Pos 3 sudah dekat dan kami buka tenda di sana saja. Perjalanan pun kami lanjutkan ke Pos 3, tapi yaa..ternyata lumayan juga, waktu normal saja butuh 60 menit untuk sampai ke sana, dengan kondisi kami yang banyak berhenti sepertinya sampai 2 jam baru buka tenda di Pos 3.

Sudah larut tidak ada foto-foto apapun, tidak ada kegiatan lain selain makan malam (lagi), kami pastikan alarm berbunyi jam 3 nanti, kemudian tidur lelap.

====

Dan kemudian kami terbangun..”Yaah..jam 4!” seru teman baru saya. “Yah…udah, sholat subuh aja,” kata saya nyantai. Karena sejak awal pendakian ini diniatkan santai, jadi kami tidak merasa gusar gak dapet sunrise di puncak. Toh nyampe puncak juga untung-untungan, di timeline saya pokoknya sebelum dzuhur kita harus udah turun. Bukan apa-apa, biar pas sama jadwal kereta pulang aja.

Abis sholat, ngopi-ngopi, sarapan, baru lah beranjak jalan sekitar jam 5 pagi. Santai banget, bener-bener jadi penikmat jalur. Oh ya dari Pos 3 menuju Pos 4 bisa ditempuh dengan waktu 60-90 menit, tapi bergantung kecepatan masing-masing juga.

IMG_1897

Pemandangan selama perjalanan ke Pos 4

Jam 6.30 kami sudah sampai di Pos 4, menimang-nimang mau lanjut atau tidak. Setelah sekian lama berfikir sambil selfie..*bisa ya..hahha..akhirnya kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan hingga puncak. Iya sih tinggal dikit lagi, iya sih cuma satu pos lagi, tapi terlalu beresiko ketinggalan kereta.

Mungkin sekitar jam 7.30, kami mulai menyusuri jalur batuan tadi menuju Pos 3 tempat kami ngecamp. Sampe Pos 3 repacking, kemudian turun. Karena kemarin naik dalam keadaan gelap saya hampir tak mengenali jalan yang kami lalui, Alhamdulillah jalurnya jelas dan gak banyak, bahkan hampir gak ada persimpangan. Karena terang benderang, jalur batuan yang dilalui berasa banget ke kaki, terlebih saya ga pakai sepatu atau sandal yang memadai. Heuu..salah sendiri sih.

Jam 11 sampai juga kami di basecamp, istirahat sejenak, bersih-bersih, trus nunggu angkot dan makan baso pinggir jalan sambil elus-elus kaki. Ah..bersyukur banget liburan kali itu bisa main ke gunung meskipun bener-bener tanpa persiapan yang matang, Alhamdulillah selama perjalanan kami baik-baik saja, sampai rumah dengan selamat. Semoga kelak bisa main ke sana lagi dan lihat sunrise dari puncak. Eh..ke Merapi aja deh..

Iklan


14 Komentar

Merbabu, then I love you

Judulnya provokatif :p

ngga, saya ga lagi jatuh cinta sama salah satu teman pendaki kok, saya jatuh cinta dengan sabana satu Merbabu.

Jadi begini ceritanya, Rabu (11/9) menjelang maghrib teman saya di P24 tetiba telpon, tanya apakah saya mau menggantikan kuota salah satu peserta yang batal ikut ke Merbabu. Tanpa basa-basi saya langsung say yes! Fix saya masuk kuota, Kamis pagi saya booking tiket ke Semarang pulang pergi. Jumat malam sampe rumah izin dari ibu sudah di tangan. Segera packing dan caw ke stasiun, nyampe stasiun 10 menit sebelum kereta berangkat. Karena belum makan dan malas pesan makanan kereta, saya menuju hokben dan disana sudah ada teman yang menunggu sambil makan. Sadar diri klo makan suka lama saya bungkus saja pesanan saya sambil ngobrol. Eh ternyata kereta dah mau berangkat, sampai-sampai dijemput penjaga stasiun. *kebiasaan

Stasiun Semarang

Sabtu pagi selesai melaksanakan kewajiban di stasiun Tawang, kami menuju Stasiun Poncol, meeting point bareng tim Jakarta. Ternyatah tim Jakarta belum sampai dan kami mulai kelaparan, akhirnya cari sarapan depan stasiun. Sebenarnya agak kurang sreg sama tempatnya, tapi lapar..heheh. Lagian klo masih pagi makanannya masih fres jadi aman laah..hihihi..oh ya ini sarapan murah, cuma 5.000 udah dapet nasi+sayur+tempe+teh manis panas. Selesai sarapan tim Jakarta dateng, tunggu mereka sarapan, lalu carter minibus ke Posko Pendakian Kopeng Chuntel. Kami berhenti di Pasar Sapi-Salatiga, di sana sudah ada satu orang teman dari Bandung yang menunggu. Ceritanya dia dateng sebagai kejutan untuk seseorang. Hesyaah..so sweet daah :p Jadi total peserta pendakian Merbabu ini ada 16 orang, 13 dari Jakarta dan 3 dari Bandung.

Sampai di Kopeng Chuntel sekitar pukul 10 wib, bersih-bersih, packing ulang, foto-foto, lalu mulai pendakian. Trek pertama berupa jalanan yang sudah disemen, melewati pemukiman penduduk, kemudian ladang sayuran petani setempat. Setelah itu masuk hutan, kami baru sampai pos bayangan 1  pas adzan dzuhur. Sholat dulu disana lalu lanjut perjalanan menyusuri hutan, sampai di pos 2 barulah buka bekal makan siang yang tadi sempat dibeli di Pasar Sapi. Oh ya dalam perjalanan dari pos 1 menuju pos 2, kami bertemu bule, bukan pasangan pakle yaa..Turis asing ini nyentrik banget dandanannya, pake kemeja, celana kain, sepatu pantofel, dan tas slempang kantoran, dah gitu jalannya sendirian dan cepat. Belakangan kami baru tau dia pengajar di Yogyakarta, bahasa Indonesianya fasih banget, padahal dari tadi kami sok nginggris gitu ;))

Foto bareng bule nyasar :D*dok. Rizal

Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 mulai memasuki kawasan terbuka, kanan kiri banyak ditumbuhi ilalang, kemudian mulai banyak edelweis, dan jalannya berpasir. Alhamdulillah waktu itu sedikit berkabut jadi tidak terlalu menyengat panasnya. Sampai pos 3 sudah masuk ashar, istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke pemancar, tempat kami menginap nanti. Katanya sih deket ke Pemancar, iya kali dibandinginnya sama pos 1 :p #PHP ke dengkul

Dari pos 3 ini jalurnya terbuka, berpasir dan batu, waktu itu tenaga saya sudah mulai menipis dan banyak berhenti, karena itu saya baru sampai pemancar pukul 18 wib. Setelah semua anggota tim sampai pos pemancar masak-memasak pun dimulai. Sayangnya saat masakan sudah siap santap, hanya sebagian yang makan termasuk saya, lainnya sibuk dengan games truth or dare plus “ngebuli” orang..hahaha..ngebuli orang bisa bikin kenyang yaa :p

Selesai makan saya dan beberapa teman tidak melewatkan kesempatan emas memotret pemandangan kota dari atas pos pemancar atau disebut juga gunung Watu Tulis di ketinggian 2.896 mdpl. Malam makin larut dan dingin saya pun memutuskan untuk segera beristirahat.

Magelang in the dark

Selesai sholat subuh saya dan beberapa teman langsung berhambutan keluar tenda untuk berburu sunrise. Aah.. berdiri di atas awan, menanti matahari muncul perlahan dari ufuk timur itu rasanya ajaib banget. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan Gn.Sumbing dan Gn.Sindoro, lalu Gn.Ungaran di belakang Gn. Telomoyo. Puas dengan pemandangan indah pagi hari, setelah sarapan kami pun bersiap melakukan perjalanan selanjutnya.

Morning Merbabu

Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar biasa. Disini kita bisa melihat kawah yang berwarna putih seperti muntahan belerang yang mengering. Jalur dari sini mulai menanjak dan agak curam, kanan-kiri jurang namun ditumbuhi banyak ilalang jadi tidak terihat menyeramkan. Ada satu spot yang sangat curam dan dinamai jembatan setan, gak ngerti juga kenapa namanya ektrim banget. Ada dua alternatif melalui jalur ini, satu melipir lereng yang sempit dan panjangnya sekitar 1 meter lebih, atau climbing. Saya memilih climbing karena terasa lebih mudah dan cepat ketimbang harus melipir tebing..heuheu..

Kawah Candradimuka Merbabu

Setelah melalui jalur setan itu #eh kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Prengodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo) yang memanjang. Teman-teman yang sudah pernah kesana memilih menunggu di bawah, karena ini kali pertama bagi saya, jadi saya ikut dengan sebagian lain yang naik ke puncak. Waktu itu carrier dititip dulu di bawah, rasanya ringan banget sampe lari-lari ke puncak..ckckck..

Puas menikmati pemandangan dari atas Puncak Syarif kami pun turun kemudian naik lagi ke Puncak Kenteng Songo. Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi, sayangnya saya kurang beruntung, pas sampai puncak merapi sedang tertutup kabut. Turun dari Kenteng Songo menuju puncak Triangulasi, perasaan puncak semua nih gunung 😀

Kami turun setelah melakukan sesi pemotretan yang cukup panjang. 😀

Foto bersama di Kenteng Songo*Dok. Rizal

Jalur turun melalui Selo, jalan ini berbeda dari sebelumnya. Dari puncak turun terus melalui jalur berpasir halus dan cukup tebal. Sampai akhirnya menemukan sabana yang luas dikelilingi bukit-bukit yang indah. Nah ini dia yang membuat saya jatuh cinta pada Merbabu, tentu setelah Semeru ya..hihihi..

Sabana Merbabu

Setelah itu turun lagi masih dengan jalur berbasir dan berkelok-kelok, saran saja jika tidak kuat dan khawatir jatuh klo berdiri sebaiknya perosotan saja..heheh..Jalur Selo ini sedikit sekali bonusnya, semua turunan bahkan sampai kawasan pohon pinus di pintu masuk jalur pendakian Selo..ckckck..PR banget nih muncak lewat Selo. Kami sampai Selo maghrib dan sudah dijemput oleh supir bus kemarin, kami menuju Stasiun Tawang,  karena kereta Semarang-Bandung sudah berangkat maka rombongan Bandung menuju pull bus Solo-Bandung. Saya sendiri memutuskan untuk menginap semalam di Semarang karena pegal luar biasa, naik kasta dari sleeping bag ke kasur empuk di salah satu penginapan, lumayan ada penginapan gratisan dari Mrs. Ncus :p

Thanks to temen-temen pendakian ceria ke Merbabu : Ani “TL galau”, Mbak Ade “Mak Geboy”, Mba Lisna, Febi, Tiara, Rizal “objek derita”, Deva, Hendra, Rifqi, Atek, Jaka, Aziz, Bang Jati, Bang Niko “Fotografer P24”, dan Om Dwi “artis kita”


23 Komentar

Mendaki Puncak Tertinggi Jawa Barat

Para Pendaki Gunung Ciremai*dok Qefy

Agustus lalu (parah baru nulis sekarang..ahah) saya bersama beberapa teman yang saya kenal melalui blog melakukan pendakian ke Ciremai. Teman saya sudah merencanakan dari jauh hari, bahkan mungkin sudah dari tahun lalu, saya sendiri baru memutuskan fix akan ikut seminggu sebelum berangkat. Total peserta yang ikut sebanyak 14 orang, 2 diantaranya sudah sangat berpengalaman dalam hal mendaki  *iya laah secara orang wanadri. Sedangkan lainnya termasuk saya adalah newbie, ya hanya sesekali saja jalan-jalan ke gunung, bahkan bagi beberapa orang, Ciremai merupakan pendakian pertama.

Seperti postingan sebelumnya, cuaca saat kami datang ke Kuningan tidak terlalu baik, langit malam tanpa bintang dan angin cukup kencang, bisa dibayangkan apakabar di atas sana? Heuheu.. Tapi Alhamdulillah keesokan harinya, cuaca tampak cerah walaupun dari kejauhan sesekali puncak tertutup kabut tebal.

Kami melakukan pendakian melalui Palutungan, jalur Palutungan ini, katanya..ini katanya loh termasuk jalur yang tidak terlalu terjal tapi memang lama. Total ada 6 pos yang dilalui yaitu, Cigowong (1.450 mdpl), Paguyangan Badak(1.790mdpl), Arban (2.030 mdpl), Tanjakan Asoy (2.108 mdpl) klo pulang kami sebut turunan geboy..ahaha, Pesanggrahan (2.450 mdpl), dan SangHyang Ropoh (2.590 mdpl). Satu-satunya sumber air hanya ada di pos 1 yaitu di Cigowong, setelah itu hanya ada hutan, vegetasi yang ditumbuhi cantigi serta edelweiss, dan mendekati puncak hanya ada batuan curam dengan tanah berwarna agak kuning mengandung belerang. So dari bawah harus sudah bekal air yang banyaaak.

Trek yang monoton dan nanjak terus membuat beberapa teman cukup kewalahan. Sebenarnya saya juga agak gempor waktu itu, sadar akan kemampuan diri membuat saya memutuskan berjalan di depan agar termotivasi untuk segera sampai dan lebih banyak istirahat. Sampai mendekati pos terakhir ada salah satu teman yang terkena hipothermia, kami yang di depan segera mencari tempat lapang dimanapun asalkan bisa mendirikan tenda, meskipun itu lereng tanpa tumbuhan atau batu penghalang badai. Isya dia baru sampai di tenda dengan kondisi sudah tidak sadar, digendong oleh senior kami, diberi jaket tebal dan digarang depan api unggun. *denger ceritanya sih demikian..maklum saya sudah tidur karena kelamaan nunggu..ahahah..#parah Ntah jam berapa saya baru bangun karena kelaparan dan kedinginan, teman saya yang terkena hipo sudah sadar dan bisa makan. Alhamdulillah tidak terjadi hal yang menyeramkan, hanya saja dompet senior ilang ntah kemana saat menggendong teman saya itu. Semoga diganti dengan yang lebih baik ya Pak.

Banyak yang patut dievaluasi dalam perjalan saya kali ini, dari kesiapan fisik, tujuan muncak, sampai kekompakan tim. Mendaki gunung itu bukan untuk eksistensi diri, dan juga bukan sekedar hunting foto bagus, tapi sayangnya tujuan-tujuan itu masih melekat disebagian orang bahkan mungkin saya, jadi perjalannya diburu waktu ingin mengejar sesuatu dan memaksakan diri, akhirnya soal kekompakan jadi PR bersama. Padahal bisa sampai puncak itu bonus, yang penting pergi dan pulang dengan selamat.

Tapi walaupun banyak yang harus dievaluasi, banyak juga yang harus disyukuri dari pendakian Ciremai ini. Untuk saya pribadi Ciremai membuat saya lebih serius menyiapkan P3K, lebih aware terhadap kondisi kesehatan sendiri dan orang lain, selain itu di Ciremai ini lah, saya benar-benar bisa melihat karakter setiap orang. Mungkin bukan hanya saya, tapi yang lain juga, dan mungkin nilai saya sangat minus menurut yang lain..heheh..

Setelah semua kembali normal *jiaah..sebelum subuh kami mulai muncak, dan sampai Goa Walet pukul 05.00 wib. Selesai sholat lanjut pendakian. Akhirnya semua bisa muncak sekitar pukul 6 lebih. Kami bisa menikmati sunrise yang indah setelah perjuangan yang cukup melelahkan dari bawah sana. Hallo Jawa Barat..saya ada di 3.078 mdpl. ^^/

Sunrise @Ciremai

Anw Thanks ya teman-teman peluk dari jauh untuk akhwatnya >:D<

Foto-foto di sini


4 Komentar

Mendaki Prau 2.565 mdpl (Part #2)

Sudah pukul 10 lebih dan rombongan Jakarta belum datang juga, dan tidak ada gerombolan tas besar lain di terminal ini selain kami. Dilanda bosan, ngantuk, dan lapar lagi..lagi..lagi. Setelah obrolan panjang kami memutuskan untuk pergi ke Dieng terlebih dahulu tanpa menunggu rombongan dari Jakarta. Oh ya ada satu orang lagi bergabung, dia dari Yogya menggunakan sepeda motor.

DSC_7543

Dari terminal Wonosobo menuju Dieng :
1. Pakai angkutan umum warna kuning, turun di terminal lama : ongkos Rp3.000/orang karena kami membawa carier
2. Bus kecil menuju Dieng, turun di Gardu Tieng karena ada perbaikan jembatan selama 2 bulan : ongkos Rp6.000/orang
3. Dari Gardu Tieng lanjut dengan bus serupa menuju Patak Banteng, posko pendakian Prau : ongkos Rp5.000/orang

Sampai di Patak Banten, rombongan Jakarta masih belum sampai Wonosobo. Kami menunggu sambil isirahat di posko pendakian Gn. Prau. Samping posko ada ibu-ibu yang sedang membuat manisan carica, buah khas Dieng, sejenis pepaya namun kecil, kami ditawari tempat untuk wudhu dan sholat, karena di posko airnya rusak. Sudah mendekati ashar rombongan Jakarta belum juga datang, karena bosan menunggu badha ashar akhirnya kami memutuskan mendaki duluan.

Pendakian melalui jalur Patak Banten diawali dengan tangga yang cukup panjang dan melelahkan, kemudian ladang petani, selanjutnya bebatuan. Naik terus tidak ada bonus dataran landai. Sekitar pukul 17.00 kabut mulai turun dan semakin tebal menjelang maghrib. Kesalahan besar yang saya lakukan adalah TIDAK BAWA SENTER. -__-“
Tadinya mau bawa senter, tapi karena dijadwal pendakian akan dilakukan siang hari jadi aku simpan lagi. “Lebih baik menyesal bawa senter gak dipakai, dari pada nyesel gak bawa senter.” Petuah Bang Sayf, aah bener banget bang, maaf yee jadi ngerepotin.

Sampai puncak sudah gelap, karena dinginnya kabut dan angin yang cukup kencang kami memutuskan mendirikan tenda dulu dan membuat air panas sambil menunggu rombongan Jakarta. Sambil nunggu kami isi dengan obrolan dan candaan ringan, hening sejenak sambil menikmati indahnya gugusan bintang, kemudian memotret malam. Tidak lama kemudian rombongan Jakarta datang, dan ternyata kami melewati tugu puncaknya, jadi lah harus kembali ke tempat yang tadi dilalui untuk bergabung dengan rombongan lain. Malam makin larut, tapi perkemahan makin ramai. Saya dan beberapa teman sempat berburu foto bintang hingga jam 12 malam, sampai kabut benar-benar menutup langit.

DSC_7623_2

Pagi menjelang dan saatnya berburu sunrise!
Di puncak sudah berjejer orang-orang yang siap berburu foto dengan kamera kerennya, tapi sayang..udah lama nunggu matahari masih malu-malu, jadi 4 puncak gunung tidak terlihat jelas, hanya 2 puncak yang bisa di capture dengan cukup baik.

Puncak Sindoro

Tapi lagi, setelah terang bunga-bunga dan bukit telletubies terpampang nyata di depan mata. Haaa..Subhanallah..Indah, beneran seperti negeri di atas awan.

DSC_7718_2

Selesai acara foto-foto, dilanjut makan-makan, lalu games dan tukar kado. Setelah itu pulang lewat jalur Dieng, tepatnya SMPN 2 Kejajar, Dieng, ternyata jalur disini lebih enak dari pada jalur pergi yang sangat terjal. Sebelum bubar kami berkumpul di penginapan Bu Jono yang terkenal itu, sekitar pukul 14.00 rombongan Jakarta langsung pulang, dan kami dari Bandung sempat berkunjung ke Candi Arjuna, tadinya mau lanjut ke Talaga Warna tapi waktunya mepet.

Sekitar pukul 16.00 kami kembali ke Wonosobo, beli tiket pulang, bersih-bersih, makan, beli oleh-oleh, sholat maghrib-isya, dan akhirnya pulang kembali ke Bandung. Bye Dieng, saya pasti kembali. 🙂

Thanks to temen-temen P24, terutama tim pertama 😀
Kang Jaka, Tiara, Bang Sayf, Kang Windi, Bang Chandra, Aa Doni, Icha, Dimas dan Dea.

Selamat Ulang Tahun ke 2 untuk P24, moga makin Jaya! ^o^/

====

“Walaupun seribu kali kamu naik gunung tertinggi, jika hanya raganya saja yang naik, percuma. Seharusnya ketika kalian naik gunung, bertambah pula keimanan pada Sang Pencipta.” – Quote dari Bapak di PO Sinar Jaya –

*jleb
Foto lain di sini


8 Komentar

Photowalk di Burangrang

Burangrang

Tanggal 2 Maret lalu bdgflckr dan beberapa teman dari teman melakukan pendakian ringan ke Gunung Burangrang, saya sebut ringan karena bisa ditempuh dalam waktu seharian. Agak riskan juga sebenarnya, mengingat minggu-minggu ini Bandung masih sering diguyur hujan, tapi Alhamdulillah hari itu langit cerah ceria.

Terbagi dari beberapa orang yang belum saling kenal kami putuskan untuk berangkat bersama menggunakan angkot, meeting point di Taman Ganesha, samping masjid Salman ITB pukul 6 pagi. Dari sana kami menuju komando, Komando merupakan lokasi latihan militer di wilayah Lembang dan pos perizinan melakukan pendakian atau apapun yang melalui lokasi tersebut, sebenarnya hari itu kami tidak diberikan izin untuk mendaki teruama melalui jalur utama pendakian, karena sedang ada latihan rutin, tapiiii karena sudah sampai sana dan sayang jika balik lagi, kami pun melakukan pendakian melalui jalur samping. hihihi.. *bandel 😀

Karena yang menginisiasi acara ini merupakan komunitas pecinta foto maka sebagian dari kami memang berniat memotret sambil hiking, jadi lebih banyak berhenti untuk mengambil gambar dari pada berjalan, nah karena itu juga kelompok ini tertinggal trus nyasar sodara-sodara..heuheuheu *salah fokus sih :p

Dalam kelompok hanya beberapa orang saja yang pernah dan masih ingat jalur pendakian ke puncak Burangrang, saya sendiri belum pernah dan tidak berusaha mencari tahu seperti apa medan disana, dan ternyataaaa cadaaaas sodara-sodara. Rute pendakian didominasi oleh tanjakan yang cukup tinggi, berbatu dan licin. Beberapa teman sempat hampir terpeleset, saya sendiri terpeleset saat turun. 😀 Ternyata lagi Burangrang memiliki 3 puncak, dan seperti kebanyakan gunung di Jawa Barat. wilayahnya agak basah dan lembab, apalagi kemarin sore Bandung diguyur hujan lebat. Sepanjang perjalanan kami juga menemukan beberapa pohon tumbang, baik yang sudah lama maupun yang baru saja tumbang, karena angin waktu itu sangat kencang.

Saat hampir sampai di puncak ke tiga, kami harus melalui tanjakan atau lebih mirip dibilang tebing, seperti bebatuan besar yang ditumpuk sedemikian rupa, teman ku bilang “foto di sini bagus untuk cover album”..hahaha..selain itu kami juga melewati pinggiran tabing yang salah satu pinggirannya adalah jurang dan hanya diberi pembatas dari tali rafia seadanya, yaa walau agak seram pemandangan dari sana cukup keren lah. 😀

Sampai di puncak istirahat sejenak dan makan bekal yang kami bawa, lalu turun kembali, mengingat cuaca yang tiba-tiba berubah dan kami khawatir terjebak hujan diperjalanan. Nah ini lah masa-masa sulit bagi saya setiap kali naik gunung, jika naik saya masih bisa menahan badan dengan tangan, beda dengan turun semua tertumpu di kaki, tambah lagi jalannya agak licin, ini lah yang membuat saya harus sedikit perosotan di salah satu tanjakan. 😀

Alhamdulillah ke khawatiran kehujanan di jalan tidak terjadi, dan menurut saya hal ini harus sangat di syukuri, hujan turun ketika kami sampai di masjid Al Karim (Aa Gym) Parongpong, dan berhenti setelah kami selesai shalat.

That’s it “Photowalk di Burangrang”
Next Manglayang (InsyaAllah)

Puncak Burangrang

Foto bersama dari Mas Husain
Foto lainnya ada di sini


12 Komentar

Perjalanan ke Mahameru #1

Akhir Ramadhan 1433 H jadi hari tersibuk bagi saya, bukan karena pekerjaan saya di lembaga zakat, bukan juga karena mudik ke luar kota, tapi karena persiapan menuju puncak tertinggi Jawa dan Bali. Mendaki puncak yang menjadi impian saya sejak 2009, ternyata membutuhkan perjuangan. Berburu tiket di 2 minggu sebelum Ramadhan sangat-sangat tidak mudah, terlebih Malang merupakan salah satu tujuan utama para pemudik di Kota Bandung dan Jakarta, jangankan tiket ekonomi, untuk bisnis saja sudah kehabisan, sedangkan eksekutif bukan tawaran mudah dan bus sangat unrecomended.

Setelah hampir satu pekan saya dan ke dua teman saya bolak-balik stasiun Kiaracondong dan Bandung, mencari calo tiket melalui teman bahkan yang ada di Surabaya, hingga hampir putus asa, akhirnya ada kabar baik dari Jakarta. Ada tambahan kereta lebaran Matarmaja untuk tujuan Malang. Alhamdulillah, satu masalah menemukan solusinya.

Catatan penting : sebelum mencari tiket, izin orang tua harus terlebih dahulu dikantongi.

21 Agustus 2012
Perjalanan dimulai dari Bandung ke Jakarta terlebih dahulu, meeting point di stasiun Senen jam 14.00 wib. Ini pertama kalinya saya melihat stasiun yang dibanjiri manusia, selain orang yang beneran mudik ke kampung halaman, Stasiun Senen juga dipadati manusia bercarrier seperti saya.

DSC_8309

22 Agustus 2012
Sekitar pukul 11.00 wib kami sampai di Stasiun Malang, perjalanan yang cukup melelahkan, hampir 20 jam dalam kotak besi penuh dengan manusia..heuheuheu..

Setelah istirahat sejenak di Stasiun Malang, perjalanan kami lanjutkan ke Pasar Tumpang, menggunakan angkot jurusan Tumpang. Pasar Tumpang ini biasa menjadi meeting point para pendaki karena letaknya yang strategis dan jalan satu satunya dari arah barat untuk menuju ke Bromo dan Semeru. Dari Tumpang kami bertemu dengan kelompok lain, para backpeker dari Tangerang, bersama-sama kami menuju Ranu Pane menggunakan jeep, satu-satunya kendaraan yang biasa mengangkut para pendaki menuju sana. Sebelum menuju Ranu Pane, kami berhenti di pos penjagaan untuk melakukan registrasi, fotocopy KTP dan surat sehat diserahkan di sini.

Dalam perjalanan menuju Ranu Pane, ada satu tempat, perbatasan antara arah menuju Bromo dan Semeru, di lihat dari atas tampak seperti lautan ilalang, sangat luas nan indah, tentu kami tidak menyia-nyiakan kesempatan, minta berhenti dan berfoto ria. Amazing dan ini belum seberapa.

DSC_8340

Perjalanan dari Tumpang ke Ranu Pane memakan waktu kurang lebih 3 jam dan kami baru sampai di Ranu Pane menjelang ashar, Ranu Pane ini seperti gerbang menuju Mahameru, desa kecil dengan penduduk yang juga tidak banyak. Ada beberapa rumah yang biasa digunakan para pendaki untuk menginap, masjid kecil, dan beberapa kamar mandi. Cukup bersih untuk ukuran kamar mandi umum para pendaki.

Karena perjalanan Ranu Pane ke Ranu Kumbolo tidak mungkin dilakukan saat malam hari, maka kami memutuskan untuk menginap 1 malam di sini. Udara di Ranu Pane bisa mencapai minus derajat, kami menginap di rumah yang disediakan Kepala Desa atau biasa kami panggil Pak Kuwu, jangan dibayangkan tidur di rumah Pak Kuwu itu seperti tidur di rumah biasa, di sini kami disediakan ruangan yang luas seperti ruang tamu tanpa kursi dan meja, kami tidur menggunakan sleeping bag.

Di Ranu Pane ini uang masih berlaku dan tekhnologi masih bisa digunakan, ada dua warung makan di sini, satu di samping rumah pak kuwu, satu lagi di depannya. Makanan yang bisa ditemukan di sini adalah nasi rawon dan soto, eh ada juga makanan khas yang tidak akan ditemui di manapun, baso malang porsi pendaki..hahaha..rasanya silakan dicoba jika nanti ke sana, sesuatu banget pokoknya.

DSC_8382

bersambung…