The 'Rok' Mountaineer

Travelling sometime, Backpacker often


5 Komentar

Mendaki Gn. Lawu Tanpa Persiapan

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, seringnya saya ke Jogja salah satunya adalah ingin mendaki Merapi, tapi tak kunjung terlaksana. Hari itu juga demikian, “Merapi batuk lagi,” kata teman saya yang mau ditebengi. Alhasil rencana nebeng rombongan teman ke Merapi pun dibatalkan, untuk menggantinya saya coba hubungi rombongan yang akan ke Sumbing, tapi karena jadwalnya yang kurang pas saya pun tidak jadi ikut ke Sumbing.

Rencana mendaki gunung batal semua, tapi tiket kereta sudah dibeli mau gak mau saya berangkat juga ke Jogja bareng Ajeng. Karena gak ada niatan naik gunung, persiapan saya pun tidak semaksimal biasanya. Saat itu yang saya pikirkan hanya membawa SB kalaukalau kami harus menginap di luar rumah, meskipun kemungkinan besar tidak akan terjadi karena Ajeng punya kolega di Jogja. Hehe..

Kamis pagi ada acara di kantor jadi barang bawaan masih saya tinggal di rumah, tapi sudah packing seadanya sebelum berangkat. Karena waktu pulang mepet sama jadwal kereta akhirnya saya tidak sempat pulang lagi ke rumah, packing baju tetap seadanya ditambah beberapa barang yang saya titip ke kakak untuk dimasukan ke ransel, kemudian dikirim oleh tukang ojek langganan.

Agak tergesa seperti biasanya tapi berhasil! Kurang beberapa menit saja kami pasti terlambat.

Meskipun saya dan Ajeng sudah pasrah gak mendaki gunung, tapi tetep saja galau dan tetep usaha menyamakan waktu bareng teman-teman yang ke Sumbing, yang ujung-ujungnya tetep gak bisa. Hahaha..tetep

Dipikirpikir kalo tiga hari kami habiskan hanya berkeliling Jogja, sungguh membosankan. Malam itu saya coba hubungi teman blog, dulu sempat saling berkomen untuk naik gunung bareng. Saya kirim pesan lewat komen di blog dan twitter yang berlanjut ke sms, akhirnya kami sepakat untuk sama-sama mendaki Gn. Lawu melalui jalur Cemoro Sewu. Karena belum pernah bertemu jadi anggaplah ini sebagai kopdar pertama kami. Agak gegabah, tapi saya punya keyakinan kuat dia orang baik. Semoga. 😀

Hari pertama di Jogja kami habiskan dengan jalan-jalan kota, baru keesokan harinya sesuai jadwal free teman blog saya itu maka kami berangkan ke Solo untuk mendaki Lawu. Sabtu siang kami bertemu di stasiun Lempuyangan. Awalnya saya pikir dia asli Jogja, ternyata orang Garut. Ah -__-“

IMG_1889

@stasiun Solo Balapan

Perjalanan menuju Magetan diiringi hujan deras, sempat terpikir untuk membatalkan pendakian, tapi teman baru saya itu bilang “Biasanya di atas malah gak hujan”. Baiklah untuk saat itu saya mengiyakan, tapi jika sampai ke pos pendakian tetap hujan berarti mestikung (semesta menikung). Ternyata sampai pos pendakian hujan sudah reda. Kami istirahat sejenak di sana, makan (lebih tepatnya dikasih makan :D), repacking, dan sholat maghrib.

Pendakian kami mulai selepas maghrib, sebenarnya saya menghindari pendakian malam, tapi banyak sekali yang mendaki malam itu. Toh kalo gak malam ini kapan lagi? Jalurnya agak basah setelah diguyur hujan siang hingga sore tadi. Dari basecamp hingga Pos 1 jalannya masih bersahabat, cukup landai. Normalnya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Pos 1 ini. Dari Pos 1 ke Pos 2 jaraknya ternyata cukup panjang, memakan waktu hampir 3 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata keong perjam..heheh..

IMG_1892.JPG

Cuma bisa lihat bulan.

Jalur menuju Pos 2 ini mulai tak berbonus dan bebatuan, lumayan lah bikin pegel. Terlebih saya tidak pakai sepatu atau sanda yang seharusnya. Ya tak seharusnya karena packingan seadanya itu saya lupa memasukan sepatu maupun sandal gunung ke daftar bawaan, alhasil cuma pakai sandal yang saya bawa ke kantor. Heuu..

Di Pos 2 ini ada shelter yang bisa dijadikan tempat istrirahat, awalnya kami mau ngecamp di sini saja terlebih melihat kondisi Ajeng yang sudah capek berat. Tapi shelter penuh dan tidak memungkinkan mendirikan tenda di sana. Teman baru saya meyakinkan kami kalo Pos 3 sudah dekat dan kami buka tenda di sana saja. Perjalanan pun kami lanjutkan ke Pos 3, tapi yaa..ternyata lumayan juga, waktu normal saja butuh 60 menit untuk sampai ke sana, dengan kondisi kami yang banyak berhenti sepertinya sampai 2 jam baru buka tenda di Pos 3.

Sudah larut tidak ada foto-foto apapun, tidak ada kegiatan lain selain makan malam (lagi), kami pastikan alarm berbunyi jam 3 nanti, kemudian tidur lelap.

====

Dan kemudian kami terbangun..”Yaah..jam 4!” seru teman baru saya. “Yah…udah, sholat subuh aja,” kata saya nyantai. Karena sejak awal pendakian ini diniatkan santai, jadi kami tidak merasa gusar gak dapet sunrise di puncak. Toh nyampe puncak juga untung-untungan, di timeline saya pokoknya sebelum dzuhur kita harus udah turun. Bukan apa-apa, biar pas sama jadwal kereta pulang aja.

Abis sholat, ngopi-ngopi, sarapan, baru lah beranjak jalan sekitar jam 5 pagi. Santai banget, bener-bener jadi penikmat jalur. Oh ya dari Pos 3 menuju Pos 4 bisa ditempuh dengan waktu 60-90 menit, tapi bergantung kecepatan masing-masing juga.

IMG_1897

Pemandangan selama perjalanan ke Pos 4

Jam 6.30 kami sudah sampai di Pos 4, menimang-nimang mau lanjut atau tidak. Setelah sekian lama berfikir sambil selfie..*bisa ya..hahha..akhirnya kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan hingga puncak. Iya sih tinggal dikit lagi, iya sih cuma satu pos lagi, tapi terlalu beresiko ketinggalan kereta.

Mungkin sekitar jam 7.30, kami mulai menyusuri jalur batuan tadi menuju Pos 3 tempat kami ngecamp. Sampe Pos 3 repacking, kemudian turun. Karena kemarin naik dalam keadaan gelap saya hampir tak mengenali jalan yang kami lalui, Alhamdulillah jalurnya jelas dan gak banyak, bahkan hampir gak ada persimpangan. Karena terang benderang, jalur batuan yang dilalui berasa banget ke kaki, terlebih saya ga pakai sepatu atau sandal yang memadai. Heuu..salah sendiri sih.

Jam 11 sampai juga kami di basecamp, istirahat sejenak, bersih-bersih, trus nunggu angkot dan makan baso pinggir jalan sambil elus-elus kaki. Ah..bersyukur banget liburan kali itu bisa main ke gunung meskipun bener-bener tanpa persiapan yang matang, Alhamdulillah selama perjalanan kami baik-baik saja, sampai rumah dengan selamat. Semoga kelak bisa main ke sana lagi dan lihat sunrise dari puncak. Eh..ke Merapi aja deh..

Iklan


3 Komentar

Dari Satonda Ke Kenawa

Setelah semalaman bergelap gelapan di tepi pantai Satonda (lanjutan Hotel Berjuta Bintang, Satonda), pagi itu kami ingin menikmati sunrise yang indah. Sayangnya penampakan sunrise berada di belahan Satonda yang lain.

Kesibukan pagi hari hampir sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja kami tidak kedinginan seperti di gunung. Sarapan dan mencari spot bagus untuk foto.

Di Satonda ini ada danau air asin yang konon katanya asinnya lebih asin dari air lautnya sendiri. Nah, danau itu akan terlihat indah klo dilihat dari atas bukit yang mengelilinginya.

IMG_3194

Danau Satonda dok. Ilham

Para tuan sudah lari duluan sebelum matahari naik, sedang kami gak akan menyianyiakan sarapan demi mengejar foto. Tetep ya, makan itu nomor 1..Setelah cukup sarapan kami berempat mencoba menaiki bukit itu. Tapi sepertinya keputusan sarapan dulu juga kurang tepat hari itu, kekenyangan jadi alasan untuk gak lanjut naik sampai puncak, alasan lain kapal sudah merapat siap menjemput.

CAM01630

Danau Satonda. dok. siriusbintang

Akhirnya foto-foto di tepi danau pun sudah memuaskan kami, setelah itu repacking dan kembali ke Calabai.

Depan Satonda

Foto wajib sebelum beranjak ke tempat lain.

Sampai Calabai menjelang siang, kami langsung memburu bis menuju Sumbawa. Perjalanan seperti semula dengan bis bermuatan segala. Sampai di persimpangan Dompu, Bima, dan arah menuju Sumbawa satu teman turun dan melanjutkan petualangannya di NTT. Sampai Sumbawa dua orang lainnya juga pulang lebih dulu karena tiket pesawat mereka berbeda dengan kami. Sedangkan kami ber7 turun di Poto Tano dan melanjutkan liburan ke pulau kosong tak bertuan, Kenawa.

Sunrise

Kondisinya hampir sama dengan Satonda, kosong. Bedanya di sini hanya ada saung-saung pinggir pantai bukan penginapan seperti Satonda. Rasanya tetap sama, berasa pulau hanya milik kami ber7..heheh..Karena ada saung yang cukup besar dan bisa dijadikan dua ruangan, tenda pun tetap tergulung rapih. Dua ruangan itu bagian dalam untuk perempuan dan bagian luar untuk laki-laki.

10386783_738213806200253_4179354044888089330_n

Kenawa, nun jauh di sana Rinjai. dok. Jati

Setelah pagi saya baru tahu penampakan Kenawa aslinya. Pulau kecil dengan bukit kecil di bagian ujung, selebihnya hampatan savana yang mulai mengering. Pantainya berpasir putih, airnya biru jernih,lumayan buat sekedar renang. Kalo yang mau snorkeling juga bisa, sekitar 5-10 meter dari tepi pantai  airnya lebih dalam dan karangnya lebih bagus, setidaknya masih hiduplah.

10304705_10202241889225047_8004943671719244445_n

Berenang-renang sebelum nyebrang ke Lombok. dok. Mak Geboy

Beberapa bulan lalu saya kembali ke Kenawa, keadaannya sudah jauh berbeda. Sekarang saung yang kami tinggali dijadikan warung,beberapa saung lain juga, dan sudah ada penerangan berupa genset. Sedang dibangun dermaga baru untuk perahu-perahu yang merapat ke sana. Saya sih berharap banget semoga toiletnya diperbaiki juga..heheh.. Udah sih gitu aja..gak ada drama gak ada sandiwara..lebih tenang dan datar kali ini.

IMG_0170_2

Dari kiri ke kanan, toilet, saung tempat kami menginap, semacam tempat makan. Foto ini diambil bulan September lalu.


1 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (4)

Day 3 Menikmati Afrika Van Java

Mobil jeep yang kami tumpangi jadi lebih luas karena Rahmi dan Hilman gak ada. Perjalanan ini jadi seperti kembali ke awal, cuma ber4 dan mulai gila lagi..hahah.. Salah satu dari kami mungkin dehidrasi. Saat bapak sopir menunjukan salah satu batu bersejarah di tengah jalan “itu batu dodol” katanya, di belakang malah nyahut “batu jodoh?” eaaah..dodooool :v

20150531_110516Perjalanan dari stasiun menuju pos pendaftaran Baluran sekitar 30 menit saja, dekat ternyata. Tapi itu baru nyampe pos pendaftaran ya. Untuk menuju Savana Bekolnya sekitar 45 menit dari situ, kalo pakai mobil. Kalo jalan? Hitung sendiri 😀

Kanan kiri jalan menuju Savana Bekol merupakan hutan semak yang cukup rimbun. Sesekali terdengar suara ayam hutan, sesekali ada juga penampakan. Penampakan ayam hutan maksudnya 😀

Sampai di Savana Bekol kami benar-benar terpukau.. Welcome to Afrika Van Java. Aaah..makin menjadi deh kami. No more speak lah, selamat menikmati foto-fotonya 😉

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oh ya tadi pagi kami bungkus nasi + ayam untuk makan siang, dan tak lupa 2 bungkus rujak cemplung buat dimakan pas panas-panas gini di bawah pohon rindang. Biar apa? Biar segeeeer.. Siang itu kami pun makan rujak ditemani musik Banyuwangian dari mp3 bapak sopir..”la..la..la..wong edan..la..la..la..” hahah..asli kata-kata yang terekam diingatan cuma itu doang..

Karena panas banget aktivitas memotret di savanpun kami hentikan sejenak, beranjak ke tower pengintai #halah dari tower ini kita bisa melihat savana yang terhampar luas, sampai pantai Bama di ujung sana. Abis itu kembali turun dan menuju masjid, sholat Dzuhur-Asar dan istirahat sejenak. Di kawasan ini udah mulai banyak monyet, jadi hati-hati ya bawaannya.

Selepas sholat lanjut ke pantai Bama dulu, monyet makin banyak boo.. Awalnya kami mau coba snorkeling, tapi karena lautnya lagi surut gak jadi deh. Emmh..agak curiga sih pas lihat harganya yang murmer cuma 45rb aja, eh nanya tempatnya dimana, kata mas-masnya di tepian pantai aja. Yah..pantaslah.. gak perlu sewa perahu.

Saya dan satu teman malas berbasah-basah gak jelas..heheh..jadi diam saja di tepian pantai sambil ngobrol. Lainnya jalan hingga ke tengah sambil mencoba peruntungan ketemu ikan badut. 😀

Tak terasa udah sore aja, kami baru ingat nasi bungkus tadi pagi belum di makan. Heuu..pantes lapar. Awalnya mau makan di tepi pantai tapi monyet-monyet gak sopan itu malah mendekat, kabur deh. Mending makan di mobil aja. Diantara makanan sebelumnya, ini jauh lebih baik menurut kami. Nasi dan ayam saja sangat cukup. Alhamdulillah..

Hari makin sore tapi matahari masih terik aja, selesai makan siang kesorean kami kembali ke Savana Bekol, foto-foto lagi sampai mau gelap. Oh ya bagi yang tripnya agak nyantei di sini juga ada penginapan dan menyediakan safari malam. Ya kali mau ketemu macan.. 😀

Jelang maghrib kami kembali ke Banyuwangi, menyusuri jalanan rimbun tadi dan..lagi-lagi tak sadaran diri. Sungguh ya kamu sudah menahan supaya gak merem mengingat waktu asar hingga maghrib itu gak baik untuk tidur, tetep aja blass. Sadar-sadar sudah depan batu dodol.

Kejadian Tak Terduga..Sungguh

Sekali lagi ini karena niatnya backpackeran dan demi hemat tingkat menyebalkan, kami pun memilih tidur di masjid saja, tidak sewa penginapan. Inilah salah satu alasan kenapa saya tidak mau ajak orang lebih banyak apalagi akhwat, khawatir gak biasa tidur dimana aja. Berbekal baca-baca blog orang yang katanya ada masjid depan pelabuhan yang bisa kami singgahi untuk tidur jadi kami pun menuju ke sana.

Sampai masjid kami bersih-bersih dan sholat, setelah itu meminta izin pada pengurus masjid bahwa kami akan beristirahat di sini malam ini. “Iya silahkan, di sana ya” kata bapak penjaga sambil menunjukan tempat parkir motor yang sudah dialasi karpet. “Kalau yang akhwatnya sebelah mana, pak,” pertanyaan standar sih menurut kami mengingat ini masjid dan pasti ada hijab antara akhwat dan ikhwan. “Ya di sana,” kata bapaknya sambil tetap menunjuk tempat parkir itu. “Gak ada hijab pak?” tanya saya. Bapaknya tampak tidak faham apa yang saya bilang, mungkin karena suara saya kurang keras. “Hijab pak, pemisah. Masa gabung sama ikhwannya,” lanjut saya. “Oh ya ndak, itu kan karpetnya beda.” Haiiiishh..-__-“

Ini benar-benar di luar dugaan kami, salah saya sih gak baca tulisan di blog dengan seksama. Tapi kami tetap usaha agar akhwatnya diizinkan istirahat di teras masjid. Beneran kami hanya berharap di teras saja gak lebih. Bukan mau manja-manja, toh saya juga pernah tidur di terminal Surabaya tapi ya gak barengan sama temen-temen yang ikhwan juga. Karena ini masjid, ekspektasi kami agak berlebihan mungkin karena kami terbiasa mabit di masjid jadi agak shock ketika diminta tidur di parkiran tanpa hijab.

Kami tetap usaha, melobi ketua DKMnya. Ya siapa tahu kami bertiga diizinkan diam di teras, gak tiduran kok duduk aja. Saat itu bapak ketua DKM sedang mengaji, kami tunggu sambil makan nasi bungkus tadi pagi yang masih tersisa..hahaha. Makan sambil kejarkejaran sama tilawah bapak ketua gak enak sodara. Pas bapak ketua berhenti kami juga berhenti ngunyah, yang sudah ngangkat sendok di freez gak masuk ke mulut. Bapak ketua lanjutin tilawah kami pun lanjut makan. Astagfirullah.. >,<  Selesai tilawah kami selesai juga makan, lalu mengejar si bapak yang keluar dari masjid. Lobi-lobi hanya boleh sampai jam 9 diem di teras. Lah.. heuuu..

DSC_1275Sesaat kami berfikir cari penginapan saja kalau begitu, tapi ini sudah jam 10 malem. Ya sudah lah ke Indomart saja dulu berbincang sambil ngecas hp. Pikiran paling liar adalah “Kita nyebrang aja ke Bali, nanti subuh balik lagi,” kata Ajeng.. “Kamu aja olangan (sendiri)..hahaha..” dijawab rame-rame.

Sekitar 11 malem kami kembali ke masjid dengan harapan sang penjaga tak ada. Hihihi..benar saja, saat itu penjaganya lagi ga ada. Aza langsung tiduran di lapak yang disediakan di parkiran, di sana ada bapak-bapak lain yang juga tiduran. Kami ber tiga ke teras masjid samping kiri, tempat sholat akhwat, kemudian mengaji. Aman hingga 10 menitan, setelah itu petugas datang dan bilang “Ke bawah mbak, sekarang.” Eh kami lagi ngaji loh bukan tidur, kan tempat yang disediakan di bawah buat tidur. Tapi malas berdebat akhirnya kami ke bawah, mojok bertiga di samping jejeran motor, lanjutkan mengaji.

Kami berempat faham, mungkin dulu pernah ada kejadian tidak mengenakan di masjid ini karena mengizinkan orang tidur. Atau ini salah satu cara menjaga masjid tetap bersih, hanya untuk sholat dan gak sembarang orang seenaknya tiduran di sini. Ya tiap DKM punya kebijakan sendiri lah ya. Tapi sejujurnya, kami tetap sedih banget terusir dari tempat yang kami rasa paling aman, kami cintai dan sangat kami harapkan. Terlebih hanya kami yang diminta ktp, lainnya ngga.. >,<  Alhamdulillah hari itu gak banyak bapak-bapak di sana, dan kami bisa bergeser ke tempat yang paling pojok banget.

Walau berusaha sekuat apapun, badan kami memang sudah harus diistirahatkan, lepas pukul 12 malam kami bertiga akhirnya tumbang. Tapi hanya 1-2 jam saja terlelap, semua bangun pas pukul 3. Bersihbersih, wudhu kemudian ke masjid, sholat 11 rakaat dan mengadu. Mengadu sejadijadinya sampai subuh. Pagipun menyapa..saatnya bergegas ke stasiun, lupakan soal mandi pagi, toh kemarin sudah mandi. 😀

Teman saya ambil ktp ke petugas, pas dia mau kasih infaq, tetiba sang petugas bilang “lima ribu per orang, mbak.” “Padahal aku mau ngasih lebih..tapi jadi males kalau udah dipatok gitu, buat yang lain aja lah..” kata teman saya. Ini pelajaran buat saya, kalau ada orang yang mau ngasih gak usah nyebutin nominal, ya kali aja dikasihnya lebih dari yang kita harapkan..hahah..

Oh ya kesimpulannya buat yang perempuan lebih nyaman mending cari penginapan aja ya..

OK lupakan soal kejadian semalam..saatnya kami beranjak menuju stasiun Banyuwangi Baru menuju JOGJAAAA..

Bye Banyuwangi..Bye Ijen..Bye Baluran..

Bye Bali..ada yang sedih gak bisa ke Bali padahal tinggal nyebrang 6rb aja :v

Ini itin berjalanan kami seharian di Banyuwangi.

21.00 – 21.30 Baru nyampe banyuwangi
21.40 – 22.10 Makan malam
22.10 – 23.30 Bersih-bersih dan istirahat
23.30 – 00.30 Perjalanan menuju paltuding
01.30 – 02.00 Persiapan pendakian
02.00 – 04.00 Pendakian gunung Ijen
04.00 – 04.30 Blue Fire Expedition + Sholat Subuh
04.30 – 05.15 Sunrise from the top
05.15 – 07.00 Turun Gunung
07.00 – 08.00 Perjalanan menuju Banyuwangi
08.00 – 09.00 Kuliner
09.00 – 11.00 Perjalanan menuju Baluran
11.00 – 11.30 Pos Batangan Baluran-Bekol
11.30 – 17.30 ISHOMA – Explore savanna bekol dan pantai Bama


2 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (3)

Day 3 – Ijen Bersama Bonus-bonusnya

Tepat pukul 00 kami siap berangkat menuju Ijen. Baru saja masuk mobil hujan sudah turun cukup deras, “Semoga di atas gak hujan, yaah,” kata teman. Dan kami mengamini. Entah lah gimana perjalanannya yang saya tahu setelah obrolan itu semua gelap. :v

Dini hari kami baru sampai pos pendaftaran Ijen, sesuai prediksi, karena ini malam minggu jadi objek wisata satu ini penuh pengunjung. Tapi tidak sesuai harapan, hujan masih saja setia menemani sampai pos ini. Daaaan..(agak dudul sih), biasanya ke gunung mana pun saya selalu mempersiapkan jas hujan dan senter, kali ini blank blass hanya bawa jaket aja.

Ada yang jual jas hujan sih, tapi ogah aja gitu jas hujan 5rb dijual 15rb di sana..hahah..maaf ya hemat kami sudah tingkat menyebalkan memang. Syukurlah tak berapa lama dari itu hujan pun reda, kabut sesekali turun tapi masih bisa ditahan oleh jaket waterproof ini #tsaah Senter juga dikasih pinjem sama pak Imik..bwahah..

Sayangnya yang naik ke atas hanya ber 5, satunya memilih tidur di mobil karena udah pernah ke sini bareng saya dulu. Selepas hujan jalanan jadi tidak terlalu berdebu, cukup mengasikan untuk dipijak dan bersahabat dengan hidung..hahah..percayalah.

Saya sengaja jalan santei saja, toh tidak mengejar api biru lagi, udah puas turun ke sana dua tahun lalu. Sambil ngobrol sana sini, sesekali mendongakan kepala ke atas berharap langit terang malam ini. Dan..yatta..kabut yang tebal itu terbawa angin entah kemana, memperlihatkan langit yang penuh dengan bintang. Bahkan beberapa kali kami melihat bintang jatuh. Apa? Make a wish? Ngga laaah.. :p

Saya kan udah gak punya kamera gede ya, kamera kecil juga gak punya sih..hahah..untungnya ada pinjaman jadi cuba-cuba deh pake mode manualnya buat motret langit. Hasilnya lumayan juga, berasa motret ketombe :v Itu bonus pertama yang saya dapat dari perjalanan ini, ketombe? Hahah..bintang laah 20150531_032411_2 Karena jalan super nyantei, kami baru sampai di puncak sekitar pukul 4. Api biru biasanya udah agak redup jam-jam segini, tapi ternyata masih ada dan satu teman saya masih semangat ngejar si api biru itu sampe ke bawah. Kami hanya menunggu di atas saja. Selain udah pernah, saya sebenarnya ogah berbau-bau belerang yang baru hilang setelah satu minggu itu, apalagi cuma bekal 1 baju bersih 😀

Jam 4 lebih kami sholat subuh berjamaah bareng mas-mas dari kampung Inggris, Pare. Saya tahu dari mbak Ilah yang saya ajak kenalan sebelum sholat 😀 Awalnya saya fikir mereka dari tOekangfoto yang memang kesana juga hari itu. Ternyata bukan..hehe..pakaian tidak selalu jadi identitas ya..

Selesai sholat ya makan..hahah…udara dingin bikin lapar datang lebih awal, sodara. Mau motret juga masih gelap ya udah lah ngobrol aja sambil ngemil roti. Baru sekitar pukul 5.30 langit agak terang, berlanjut dengan foto-foto kawah yang cantik, Alhamdulillah meskipun ga lama tapi dapet lah pemandangan indahnya. Kemudian langit kembali mendung..heu

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak mau kena hujan kami pun segera turun, emm..Rahmi dan Hilman sih udah duluan kami aja bertiga yang baru beranjak setelah jam 6 pagi 😀 20150531_062837 Turunan pertama dari puncak Ijen memang landai, dan tidak terlalu membutuhkan lutut ekstra. Tapi setelahnya lumayan laah. Berharap gak ke hujanan di jalan kami turun dengan tergesa tapi masih mikir. Kalo baca postingan Day 1 pasti tahu film pertama yang kami tonton, dan tahu kah sodara? Itu berpengaruh pada cara kami turun. Hahah..ngebut sambil mengukur kemungkinan jika lewat kanan seperti apa, kiri gimana, dan jika lewat tengah apa yang akan terjadi. Percaya atau gak, tanpa komando kami melakukan itu. Hmm..pengaruh film terhadap kehidupan kami ternyata cukup cepat. 😀 20150531_064657 Sampai di belokan yang ada warung atau Pondok Bunder, hujan turun dengan derasnya, terpaksa kami berteduh tak bisa melanjutkan perjalanan. Sampai kira-kira pukul 7 barulah reda, guess what? Baru beberapa langkah meninggalkan warung, ada penampakan pelangi setengah lingkaran tepat depan kami. Masya Allah..setelah diguyur pengabulan doa sekarang dapat bonus pelangi. Sempurna! Terutama untuk foto :v 20150531_071656_2 Pelangi memudar langkah kami pun makin kencang, ya seperti awal tadi. Susah ngerem. Bahaya sebenarnya kalo gak biasa, tapi gak ada pilihan demi lutut yang jika dibawa perlahan sakit. Sampai pos pendaftaran sekitar jam 7.30, gak mau pake lama kami segera beranjak turun. Ntah perasaan saya saja atau emang jalan sekarang banyak perubahan dari sebelumnya, jalannya mulus banget dan beberapa motor metik sempat berpapasan dengan kami.

Sebenarnya kata pak sopir bahaya kalo motor metik lewat sini, apalagi malam. Selain jalanan licin dan berkelok ada goa macan juga. Euh..seram tapi ada yang lebih horor, pas kami lewat pos katanya sering ditemukan ada hantu di sana..hahah.. Tau deh, yang pasti setelah itu penglihatan saya kembali gelap tak sadarkan diri.Tetiba sudah ada depan warung nasi..hihihi..katanya di sini jual makanan khas Banyuwangi, semua menu ada kata rujaknya. Tapi kami gak tau penampakannya seperti apa, yang pasti saya pesan rujak cemplung, ada yang pesan rujak soto, dan juga nasi pecel.

Sebelum makanan sampai di meja, saya izin ke kamar mandi dulu, saat kembali makanan sudah tersedia di meja. Saya pun mencari pesanan saya, lalu satu teman yang pesanannya sama menyodorkan rujak, asli rujak. Kalau di Bandung namanya rujak cuka. Terbengong-bengong lah saya, “Za aku pesan rujak cemplung,” kata saya. “Iya, ini rujak cemplung, teh,” jawabnya sambil makan rujak dengan lahap. Bwahahah..omigod saya sarapan rujak cuka pedas.

Tak kalah shock dengan saya, teman yang sedari tadi tidur baru sadar setelah cuci muka kalo dia pesan rujak soto. “Ini apa? Aku gak pesan ini,” katanya. “Itu rujak soto, jeng” seru tema sebelah saya. Bwahahah..dia cuma terbengong-bengong dengan penampakannya, sesaat kemudian baru makan dengan hati-hati. Saya ikut coba rujak soto itu, rasanya seperti soto daging sih, tapi diatasnya seperti ada pecelnya, trus dibagian paling bawah ada lontongnya, saat di aduk ada daging jeroan. Rujak Soto Sudah lah pesanan kami ini gak ada yang beres menurut saya, ya karena kami gak tahu penampakannya hanya ada tulisan saja di daftar menu. Dan tidak ada yang inisiatif bertanya..haha. Paling std sih pesanan Maya dan pak sopir. Nasi pecel. Jreng..dateng lah tuh nasi pecel, tapi kok ada yang ganjil ya. Itu nasi pecel atau gudeg ya? Eh atau nasi campur? Asli pecelnya dikit banget, sebelahnya ada sayur nangka, dan ada ayam serundengnya. Beneran awalnya kami mengira itu ayam, “yah tertolong sama ayamnya lah,”kata Maya. Setelah dikoyakkoyak barulah terungkap bahwa itu hanyalah seonggok serundeng. Pagi-pagi udah dapet zonk :v

Tapi tetep aja abis, secara lapaaar. Ah tapi kami disodorin makanan apapun pasti abis sih..hahah..mau penampakannya seperti apapun selama itu halal dan gak basi, hajar aja. Selesai makan perjalanan kami lanjut ke stasiun, karena Rahmi dan Hilman tidak ikut kami ke Baluran jadi kami berpisah di sini. Selanjutnya ber4 lagi deh..

20150531_101042*Dari kiri ke kanan Aza, Maya, saya, Ajeng, Rahmi, Hilman

Seruseruan di Baluran di lanjut ntar ya..capek :v


22 Komentar

Matajitu Waterfall

Muncak ke Tambora selesai, tapi terlalu sayang rasanya jika setelah dari Tambora tidak berkunjung ke pulau-pulau eksotis lain di NTB. Pulau yang pertama kami kunjungi setelah turun gunung adalah Moyo. Ada apa di Moyo? Banyak sebenarnya yang bisa diekplore dari pulau kecil ini, pantainya, sunsetnya, pemandangan bawah lautnya yang cantik dan tentu yang paling terkenal adalah air terjun mata jitu, atau biasa disebut Lady Diana Waterfall. Ya tak lain dan tak bukan karena Lady Diana pernah berkunjung ke sini, kemudian banyak pengunjung luar yang datang kesini.  “Lady Diana aja tau tempat ini, saya baru tau pas dateng ke sini, ih apakabar..-__-”

10494782_752457248109242_6418807356990043065_n

Jumat pagi, sekitar jam 10 wita, kami beranjak dari basecamp Desa Pancasila menuju Calabai. Di desa ini tempat penyebrangan dari Sumbawa ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Diperjalanan kami sempatkan untuk belanja bahan makanan terlebih dahulu, karena akan nginap semalam lagi di pulau tanpa penghuni (bukan Moyo). Di Calabai ini ternyata listrik masih jadi barang langka, bukan gak ada sih, tapi dibatasi. Waktu itu seperti biasa, setiap nemu warung kami pasti numpang ngcash hp dan powerbank, tapi yang punya warung bilang “Listriknya mati, jensetnya juga gak hidup karena solarnya habis,” gagal deh nyalain hp buat pamer-pamer :v

belanja

Selesai belanja makanan dengan bumbu perdebatan kami lanjutkan perjalanan menuju pantai. Kami pikir di sana sudah menunggu kapal dan siap berangkat, tapi ternyata kami harus menunggu sampai selesai Jumatan. Dan itu berlaku juga untuk semua kendaraan umum.  Keren. Karena agak lama kami manfaatkan waktu sambil jemur-jemur pakaian basah yang kami cuci tadi pagi..hahaha..lumayan laah.

10402578_10202241875104694_3785437345151343474_n

Sekitar jam 13.30 wita kapalpun datang, kami beranjak dari Calabai menuju Moyo. Sekitar 2-3 jam kemudian kami sampai di Moyo, pulau kecil dengan penduduk yang mayoritas adalah peternak sapi dan nelayan. Sampai di sana ternyata kami sudah ditunggu oleh ojek..hah kasian tukang ojeknya nunggu dari jam 1 ternyata.

Dari turun kapal menuju air terjun Matajitu cukup jauh dan jalannya jelek, atau mungkin sengaja dibuat jelek agar tidak ada mobil yang bisa masuk sana? Ah lagian pulau ini kecil, bade kamana atuh nganggo mobil.. 😀  Jalan menuju Matajitu nanjak terus, kanan kiri kandang pengembalaan sapi sumbawa milik warga Moyo. Beneran gedeee banget kandangnya.

Sampai lokasi air terjun sekitar jam 15.30 wita, sudah sangat sore sebenernya untuk menikmati air terjun nan indah itu. Air terjunnya indah bangeeet..subhanallah pokoknya, pas baru nyampe pengennya udah langsung nyebur aja. Perjalanannya emang lama dan cukup melelahkan tapi Matajitu bener-bener jitu bikin mata melek. 😀

Sayang kami harus segera beranjak karena sudah mau maghrib, gak boleh malem-malem masih main air di sana, katanya banyak ular klo malem, dan si ular warnanya menyerupai warnai air jadi gak keliatan tau-tau ntar digigit ajee.. :p

Perjalanan turun menuju pantai ternyata menyisakan drama serupa dengan nyasar di Tambora, salah satu motor tak berlampu dan rem-nya ngandelin kaki..*paraaah, satu teman bahkan harus berhenti dulu karena ada babi berantem..hahah..

Sungguh Matajitu takan terlupakan.. Miss that place so much!

10392511_752457288109238_397682569939515406_n

.:. Foto sumbangan dari Bang Jati, Nadia, dan dokumentasi pribadi ^^


9 Komentar

Overland Tambora 2014 #4 End

29 Mei

CAM01592

PeEr berikutnya setelah sampai puncak adalah turun gunung dengan sabar. Ya saya katakan sabar, karena banyak diantara pendaki yang turun tergesa-gesa dan tidak konsen akhirnya berujung duka. *duka kamana 😀

Saya sebenarnya termasuk orang yang klo turun bisa lebih cepat dari naik dan susah ngerem, soalnya klo jalan pelan lutut akan terasa sakit. Tapi bukan berarti saya orang yang ga sabaran yaaa..catet :p

Dibeberapa kesempatan sebenernya saya juga bisa sangat lambat saat turun. Nah saat di Tambora ini tanpa sadar saat naik dan turun saya selalu di depan, pas naik alasannya pengen cepet istirahat sih sebenernya. Klo turun? hihihi..ada cerita menarik saat turun dari Tambora.

Jadi gini, kelompok kami datang paling awal dan turun paling akhir karena gila foto semua. Pas jam 8 lebih teman saya tiba-tiba bilang “gas racunnya mulai naik tuh” siapa coba yang bisa kalem aja lihat asap membumbung keluar dari kawah Tambora dan denger kata “racun”? siapa lagi klo bukan teman-teman ajaib saya..ahahah..ya beberapa diantara kami sudah mulai teriak-teriak ayo turun-turun, termasuk saya sih. Tapi sebagian bilang “bentar-bentar gw belum foto disana” ish..

Karena sudah ada yang mulai jalan turun akhirnya saya ikuti. Treknya berpasir jadi jalannya pasti akan lebih cepat. Gak sadar tiba-tiba udah jauh dari rombongan lain, cuma ber 3 aja di depan. Kami tunggu yang lain sambil foto-foto..ahahah… Setelah semua tampak a.k.a udah jalan turun gak ada yang di puncak kami lanjutkan jalan agak pelan.

Sekitar jam 10 kami sampai di tempat mata air pos 5. Kemarin saya sempat menyesal gak ikut ambil air pas teman-teman pamer foto bagus di sini. Ahh..akhirnya saya ke sini juga dengan pencahayaan yang lebih baik karena masih pagi. Viewnya keren berada disana mengingatkan saya pada film twilight. Berharap ada Edward Cullen di atas pohon pinus lagi ngeliatin..ahah..lebaaayy..

Saya suka berada disana, suasananya adem dan jalan-jalan dibatu-batunya tanpa alas kaki berasa dipijit enak banget. Tapi kami harus bergegas, turun dari sini udah gak ada istirahat lama lagi. Lokasi air ini ada di bawah pos 5, jadi menuju pos 5 naik lagi dikit.

Di Pos 5 ini lah  “tragedi” dimulai..hahah.. kami bersiap pulang, semua sibuk dengan packing, masak, dan ngoceh. Candaan itu emang menyenangkan bikin suasana ramai dan gak capek, tapi klo udah berlebih bisa bikin orang naik pitam. Camkan itu anak muda! :))

Saya dan seorang teman sebenarnya sedang tidak ada di lokasi saat prahara itu terjadi, sebut saja kami berada di lokasi yang aman. 😀 Tiba-tiba seorang teman memanggil dan mendekat ke arah kami, dikira punya urusan yang sama ternyata ada acara nangis dan sedikit marah. Singkat cerita kami kembali ke rombongan, suasana jadi berbeda, lebih tenang. hihihi..

Imbasnya adalah saat turun jalanan jadi serasa tak bersahabat. Tidak ada obrolan hangat, tidak ada candaan lucu, tidak ada makanan..ahahah..itu yang paling penting. Saya lapar nyonyah tuaan.. Awalnya komposisi jalan seperti ini (dari depan kebelakang) 2-4-6, saya berada di grup ke dua, lalu di pos 4 satu orang maju jadi hanya ber 3 di tengah. Jarak antara satu grup dan lainnya berjauhan. Sedih sebenernya, humm..mulutmu harimau mu itu beneran yaa..padahal gak ada harimau di sini.

Cuaca tampak mendukung suasana perjalanan kami, di pos 4 mulai hujan deras dan terpaksa harus memakai jas hujan. Sampai pos 3 kami istirahat sejenak sambil nunggu teman saya sholat, saya makan oatmeal yang sudah diseduh di pos 5 tadi lalu minum obat mag..heuheu..jaga-jaga.

Tak berapa lam kemudian yang lain sampai di pos 3, saya tidak berniat melanjutkan perjalanan tanpa mereka sebenernya, terlebih di belakang ada 2 orang yang sakit, tapi keadaan menuntut untuk tetap jalan di depan bersama teman lain. Orang yang sakit akan lebih banyak diperhatikan temen-teman lain, tapi orang sehat dan dalam kondisi marah jika tidak ditemani dia bisa berbuat ceroboh dan menyakiti dirinya sendiri.

CAM01595*langit cerah saat kami turun dari puncak

Dari pos 3 menuju pos 2 kami ber 4 jalan seperti mahasiswa dikejar deadline, ngebuuuut gak berhenti-berhenti. Sampai pos 2 baru lah istirahat sejenak dan satu teman memutuskan untuk tidak lanjut membersamai kami. Akhirnya ber 3 kami lanjutkan berjalan dengan kecepatan yang gak berubah.

Sampai pos 1 sudah senja, kami bertemu rombongan dari Sumbawa Besar, seperti asalnya rombongan ini pun jumlahnya besar, 10 orang ditemani porter 11 orang. Kami istirahat sebentar di sini, sambil ngobrol dengan mereka dan tanya-tanya jalan, iya tanya jalan karena kami hanya ber 3, 2 wanita dan 1 laki-laki tanpa porter. Katanya dari pos 1 ini sekitar 1 jam lagi menuju pos pendakian Rimba. Selain itu mereka juga bilang teman kami sekitar 500 meter di depan. Ah sepertinya maghrib sudah bisa sampai di luar, pikir kami.

Nyatanya…

Setelah tanya porter yang kami temui di jalan, dan dia bilang lurus saja, kamipun mengikuti pertunjuknya, sampai pada persimpangan..eaah..bingung daah, kami tetap lurus tapi ada pos terbuat dari bambu-bambu, kami sangat yakin pas pergi gak ada pos ini. Berdasarkan kesepakatan kami mundur lagi dan ambil jalan lain. Jalan yang tentu ada jejak kaki manusianya.

Setelah lama berjalan jalur yang kami lalui berasa sama semua, semak-semaknya makin kesini makin tinggi, perasaan waktu masuk gak seperti ini. Pohon beringin yang harusnya dilalui juga tak kunjung kami temui. Terus berjalan, makin lama makin cepat karena kaki yang sakit udah gak kerasa lagi, saking pengen cepet nyampe. Cahaya matahari mulai redup, semburatnya pun sudah mulai hilang. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, sudah mulai sadar klo kami nyasar tapi gak ada yang mau bilang. Saya masih optimis karena masih lihat jejak kaki, walaupun ntah sepatu pendaki atau warga.

Klo dikasih judul ini namanya panik dalam diam. Sebagian besar permukaan langit waktu itu sudah mulai gelap, saya minta teman-teman keluarin senter tapi gak usah semua dinyalain, khawatirnya gak nemu jalan dan kehabisan batre, gak lucu gelap-gelapan di hutan. Saya tau diantara kami tidak ada yang bawa tenda, tapi saya juga gak berfikir kami akan ngecamp di tengah jalan sempit gini. Tanpa bicara pun saya bisa merasakan kekhawatiran yang lain, pokoknya cari jalan keluar secepatnya. Aura menjelang malam emang gak menyenangkan ya.

Sampai di km berapa ntahlah, kami menemukan pipa air, “Alhamdulillah..” kompakan kami ucap syukur, dari sini pasti udah gak jauh pikir saya, “Ada 2 pipa bocor pas kita naik, iya kan Nin?” tanya seorang teman. “Iya,” jawab saya sambil menghitung desis pipa bocor. Dan ternyata kami melewati lebih banyak pipa bocor dari sebelumnya. Sudah nyata adanya klo kami memang nyasar.

CAM01582*Langit mendung dan turun hujan saat kami turun dari pos 5

Suara-suara khas hutan mulai agak sering terdengar, langkah kami pun tidak mau melemah karenanya. Pokoknya jalan terus, jalan. Akhirnya bertepatan dengan hilang totalnya semburat cahaya di langit, kami sampai di perkebunan kopi. “Ini kebon kopi, dari sini gak jauh,” teman saya teriak semangat. “Tapi kok kebun kopinya banyak ya? waktu naik kan cuma beberapa,” kata saya. Kami lanjut lagi jalan dan memang tidak terlalu jauh dari sana gerbang hutan. Sambil agak berlari kami keluar dari kawasan itu. Dimanapun itu yang penting kami sudah keluar dari hutan. Jreeeng..kami keluar lewat pos portal.. hahah..ini pos pendakian yang sudah jarang dipakai, dan berada di kabupaten Bima.

Walaupun nyasar jauh, kami sudah tenang karena ada di luar hutan dan ada pos yang bisa dipake istrahat. Tapi disini masih ada kejutan lain.Ntah kenapa firasat saya agak kurang enak pas duduk di pos itu, “selonjoran aah,” kata saya sambil menaikan kaki ke atas pos diikuti teman saya yang lain. Satunya masih cari signal dan coba nelpon kasih kabar ke basecamp. Tiba-tiba gak lama setelah kaki saya naik ada suara babi yang cukup kencang, yakin banget itu babi deket tempat kami. Sontak kami semua kaget saya dan satu teman teriak ada babi, naik, ada babi, babi. Teman yang satunya sambil nelpon ikut teriak babi..babi.. Sumpah waktu itu terasa horor banget, klo sekarang malah jadi hal paling lucu saat perjalanan.

Niat awal nelpon basecamp sebenarnya mau tanya jalan, tapi gara-gara babi tadi kami putuskan untuk minta dijemput ojek saja. Sambil nunggu ojek kami gak banyak ngobrol, saya nelpon rumah nanyain kabar, yang lain nelpon teman, dan kerabatnya. Abis itu baru ngobrolin temen-temen lain yang sepertinya udah nyampe basecamp karena gak nyasar. Mungkin mereka udah mandi udah makan. Ah..kemana-mana deh.

10419486_791689970850343_1935536296017671661_n*Jalur rapat seperti ini jadi lebih menakutkan pas turun

Ojek baru dateng satu jam kemudian, dan taraaa..kami ber tiga dengan keril besar dijemput 2 ojek, satu motor trail dan tanpa lampu depan. Ahahah..bener-bener daah. Gak mungkin satu orang nunggu di sini, gak akan ada yang mau juga keles. Saya dan teman di ojek yang sama, dan yang cowok pake motor yang ga ada lampunya.

Ngobrol-ngobrol dengan mamang ojek ini lah kami jadi tau klo wilayah ini sudah masuk Bima, dan banyak babi hutannya. heuu.. Di tenagh perjalanan ada satu ojek lagi dateng, akhrinya saya pindah. Usut punya usut ternyata yang nyasar bukan hanya kami bertiga. Menurut penuturan tukang ojek ini ada orang Jakarta yang barusan minta dijemput di desa sana, lebih jauh dari pos. Saya bilang yang dari Jakarta cuma kami aja bang. “Ngga tadi ada 3 laki-laki minta dijemput di desa,”  Haaa??? jadi jejak kaki itu punya mereka..hahah..seketika itu juga saya tertawa terbahak-bahak. Mungkin si mamang ojek pikir saya kesurupan..hahah..Mungkin juga ini jahat tapi saya lega mendengar kelompok pertama yang nggcir itu tersesat juga..wkwkwk..

Sampai basecamp hal yang pertama kami lakukan adalah tertawa didepan 3 teman kami lainnya dan bilang “kalian nyasar juga yaaa?” ahahah..kedudulan luar biasa. Satu orang menjawab, “kami sengaja kok cari alternatif jalan lain,” satu lagi ketawa-ketawa, satunya lagi “Udah Nina, mandi sono, trus makan..” tidak mau terintimidasi. :v

Saya masih mikirin yang 6 orang lainnya walaupun sedikit lega karena mereka ditemani 2 orang porter dan sedikit kemungkinan bisa nyasar seperti kami. Kata Bang Ipul, penjaga basecamp ojek udah standby depan hutan untuk jemput mereka.

Sekitar jam 9 malam 6 orang lainnya sampai di basecamp, bapak TL tampak tergesa-gesa turun dari motor, “kalian kemana aja? kita ber 6 motor ada 12 dan katanya belum ada satupun yang keluar,” …”Nyasaaar..” dan tawa pun kembali menggema..

Ternyata persoalan nyasar ini menjadi sesuatu yang mencairkan suasana tidak mengenakan diantara kami tadi siang. Tapi bukan berarti harus nyasar dulu baru cair yaa. Oh ya cerita dari 6 orang lainnya gak kalah seru. Ada yang mencium bau kentang rebus, ada yang merasa kakinya ditarik, ada yang lihat kodok terus ikutan loncat, ada yang nyium bau melati juga..ah macem-macem deh pokoknya…

Dan akhirnya malam Jumat penuh bintang itu kami tutup penuh syukur bisa kembali dengan selamat dan tentu sambil menertawakan kebodohan yang kami perbuat. Kebodohan yang mungkin tidak akan kami alami jika tetap kompak, naik bareng-bareng turun pun bareng.

 

Overland Tambora Done!

😉

CAM01588


16 Komentar

Overland Tambora 2014 #3 Summit

28 Mei

Pagi menjelang, saatnya jemur pakaian yang basah karena keringat kemarin #ehh.. Perjalanan masih panjang sodara-sodara, stok baju kami tidak banyak, so yang masih bisa dipakai ya pakai lah..hahah. Ritual pagi setelah sholat subuh pasti bikin minuman hangat, abis itu masak buat sarapan.

10457822_744903228864644_2135515778782509244_nSarapan pagi sambil nunggu jemuran kering :v

Jam 10an kami mulai melanjutkan perjalanan menuju pos 4, dari mulai pos 3 sampai pos selanjutnya tidak akan ada pacet, begitu kata Wendi sang Porter, yang ada cuma jelatang. Sejenis tanaman beracun, seluruh daun dan batangnya dipenuhi duriduri halus, klo kena kulit bisa gatal-gatal dan perih, daaan parahnya lagi klo seluruh badan kena jelatang bisa demam. Itu yang terjadi pada teman saya di Argopuro.

1959425_791689404183733_1155613153719866206_nsamping kiri itu tanaman jelatang

Saya pikir jelatang itu tanaman rambat yang tidak terlalu tinggi, eh pas jalan dari pos 3 menuju pos 4 kanan kiri jelatang semua dan tinggi-tinggi, treknya juga makin naik cukup bikin kembali ngos-ngosan. Sampai pos 4 sekitar jam 11, jarak dari pos 3 ke pos 4 memang tidak terlalu jauh. Setelah agak lama saya perhatikan kok gak ada yang ngecamp di sini, padahal tempatnya agak lapang dan enak buat ngecamp. Hemm..ternyata selain alasan air, pos 4 ini sekelilingnya tanaman jelatang semua. Susah cari lapak..ahahah

*ada dua jenis daun jelatang, satu bentuknya seperti daun biasa satunya lagi daunnya becabang seperti daun singkong

Lanjut jalan dari pos 4 ke pos 5 ada jalur yang boleh dibilang wow banget, pohon tumbang kanan kirinya jelatang. Emh..dan tangan saya sempat kena gores jelatang di sini. Rasanya perih lalu sedikit panas, dan itu bertahan hingga beberapa jam setelahnya.

jelatangini dia pohon tumbang yang dikelilingi jelatang

Sekitar setengah jam perjalanan turun hujan, agak besar awalnya tapi sampai di pos lima sudah berhenti. Oh ya jarak antara pos 4 dan pos 5 itu cuma 45 menitan, deket banget dibanding pos-pos lainnya. Kami sampai pos 5 jam 1 siang dan langsung bikin tenda. Agak garing juga sampai tempat ngecamp siang-siang..hahah.. Cara mengisi waktu yang paling enak sebenernya tidur tapi kami malah memasak makanan buat makan malam..hahah..terlalu dini memang tapi bae lah dari pada cicing :p Yang cowok ribut main kartu -___-“

Selesai masak sudah masuk waktu ashar dan kebiasaan gak boleh tidur di waktu itu, jadi dari pada boring saya sempat memotret suasana kabut sekitar pos 5, walaupun ga lama trus masuk tenda.

Waktu berjalan cepat, tiba-tiba udah maghrib lagi, abis sholat makan bersama sambil ngobrol, apa saja jadi bahan obrolan sambil tertawa terbahak-bahak. Ini yang selalu saya syukuri, setiap melakukan perjalanan pasti ada aja satu orang yang hobinya menghibur, jadi sepanjang jalan dan ngacamp kami tidak pernah kehabisan obrolan dan candaan. Siapa dia? nanti dibahas terakhir 😀

Malam makin larut dan kami pun sadar diri untuk istirahat, dini hari nanti kami harus mulai lagi perjalanan menuju puncak Tambora.

29 Mei

Waktu menunjukan jam 1 dini hari, kami semua mulai merayap menuju puncak Tambora. Sebelum meninggalkan tempat ngecamp semua barang digantung diatas, dan hanya satu tenda *nekad yang tidak dibongkar. Kenapa harus digantung di atas pohon? karena klo tidak ada manusia, babi hutan akan dengan santainya mengobrak abrik tenda dan tas yang ada disana, kejam. -__-

Dari pos 5 menuju puncak jalur yang kami lalui mulai berpasir dan naik terus.. ya iya laah Nina :p

Ada sedikit semak-semak sih, tapi gak banyak banget juga. Pas jalur berpasir itu Wendy sang porter seperti kebingungan memandu kami menuju puncak, katanya jalurnya baru dan kami harus berhati-hati banget karena masih rawan longsor. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan kami sampai juga di puncak. Langit masih gelap tapi sudah masuk waktu shubuh. Jadi sampai puncak langsung cari lapak untuk sholat shubuh. Ternyata puncak hanya milik kami, kelompok lain belum sampai ke sana hingga terbit matahari.

Done

Kami merayakan summit dengan makan semangka..hahah..selain itu tentu foto-foto..tak ada habisnya memang soal bergaya depan kamera ini, bahkan saking asiknya foto-foto kami yang lebih dulu datang jadi yang paling akhir pulang. Agak horor pas salah satu teman bilang, asap beracunnya mulai naik tuh..aah jadi teringat Semeru.

Puncak Tambora Done!

*foto gabungan pribadi dan teman-teman

Masih Bersambung.. 😀