Budget Traveler


1 Komentar

Menemukan Makna Syukur di Belitung Timur

Hallo wordpress..apakabarnya kamu?
Maaf lama ga nyapa. Bukan ga mau berbagi cerita lagi, hanya saja rasa malas yang tak terkendali.

Oke hari ini saya mau tulis sedikit kisah tentang perjalanan ke Belitung beberapa bulan lalu. Perjalanan kali ini agak tidak biasa, bukan untuk jalan-jalan di hari libur. Tapi Saya dan beberapa teman ditugaskan untuk liputan di lokasi bencana banjir bandang yang menimpa sodara-sodara kita di Belitung Timur kala itu. Ini pengalaman pertama ke Belitung Timur dan pertama juga tugas di lokasi bencana.

Beberapa hari sebelum sampai Belitung saya sempat baca berita bahwa ada jalan yang terputus dan akhirnya bantuan sulit masuk ke sana. Tapi pas saya datang jalanannya tampak baik-baik saja, ada rasa gak percaya bahwa jalanan yang turun naik dan berkelok ini beberapa hari sebelumnya dipenuhi air hingga tidak bisa dilewati oleh kendaraan. Satu hal yang terbersit ketika itu “Ini yang bikin jalannya bener, jadi ga gampang rusak.”

DSCF0586

Kondisi Desa Gantung, Belitung Timur Paska Banjir Bandang

Saat kami sampai lokasi banjir, sebagian besar air sudah surut, beberapa warga juga sudah kembali ke rumah masing-masing, tapi jejak-jejak banjir tidak hilang begitu saja.Banyak bangunan hancur terguras air, bahkan saking kencangnya arus air sebagian rumah hilang entah kemana.

Yang tersisa di lokasi pengungsian tinggal beberapa warga yang kondisi rumahnya rusak parah. Mereka adalah warga yang tinggal di Kampung Bugis. “Rumah saya ada di tengah Kampung, kondisinya rusak parah, dik” kata Halija, salah satu ibu yang saya temui di pengungsian. Sampai hari itu ia tidak bisa kembali ke rumahnya karena memang sulit dibersihkan. Lokasinya di tengah kampung, susah air karena listrik mati, kalaupun ada harus mengambil jauh ke sungai.

Kami coba datangi lokasi Kampung Bugis itu, terutama rumah Ibu Halija. Ya Allah..ga karuan, barang-barang rusak dan kotor, jalanan becek, berlumpur, dan bau menyengat dimana-mana. Beberapa warga berusaha membersihkan rumahnya sedikit demi sedikit. Tapi masih belum bisa ditinggali, karenanya mereka masih memilih bertahan di pengungsian.

“Klo di rumah kami tidak bisa makan, dik. Ada juga yang kirim bantuan makanan, tapi mobilnya berhenti di jalan besar, sebelum masuk ke sini sudah habislah oleh warga yang rumahnya dekat jalan. Sudah sama-sama susah kami, tidak maulah berantem demi makanan. Lebih baik di pengungsian saja, bisa makan, minum, tidur, dan mandi pun banyak air,” papar Mawa, warga Kampung Bugis yang juga tinggal di pengungsian.

Terharu saya dengan cerita bu Mawa ini, kadang beberapa orang akan lebih mementingkan dirinya apalagi sedang dalam kondisi kesusahan. Mau berebut makanan, tapi dia memilih ke pengungsian yang jauh dari tempat tinggalnya demi tidak berkonflik dengan sesama dan masih beryukur bisa tinggal di pengungsian. Ada juga cerita Bu Suryati yang berinisiatif membuka dapur umum untuk para korban banjir di hari pertama kejadian.

“Pas pertama buka baru ada 5 kg beras dan mie instan, ini untuk menu makan siang warga yang mengungsi. Untuk makan malam kami cari daun pepaya yang ada di rumah-rumah warga lain. Kami patungan juga hutang sana sini untuk membeli kebutuhan dapur umum. Baru di hari berikutnya ketika akses jalan sudah bisa dilalui mulai berdatangan bantuan,” tutur Suryati.

Dan masih banyak lagi kisah yang saya dapat dan sangat bermanfaat bagi diri yang kurang bersyukur ini. Awalnya saya sempat berpikiran gini “Duh dari dulu pengen ke Belitung, sekalinya kesini kerja pas bencana pula.” Sungguh rada malu rasanya ngeluh kayak gitu. Padahal dari perjalanan ini justru saya dapat banyak hikmah yang bisa berguna buat hidup di masa depan, terutama tentang sabar dan syukur. Gak cuma dapat pengalaman snorkeling, foto bagus, dan haha hihi aja.

Dari beberapa kisah warga yang saya jumpai, saya jadi belajar langsung gimana orang bisa sangat sabar saat semua yang dia miliki habis sekejap mata. Bagaimana orang tidak mengeluh dengan keadaannya yang berubah drastis dari punya rumah sejam kemudian rumahnya hilang, hartanya hilang, dan mereka masih sangat bersyukur selamat meski cuma bawa baju di badan dan ktp di saku.

Oh Allah makasih banget sudah dipertemukan dengan orang-orang ini.

Temen kerja kala itu

Foto bareng relawan dan korban bencana

 

*foto mozaik by Om Akeu

 


11 Komentar

Special Photo Challenge: Inspiration

What inspire me to blog?

Actualy I am a visual person, and more interested to image than writing, so I often take pictures then writing. but one day I read a note from a friend, whether he was quoted out of nowhere, his writings like this: Without words, without writing and without books, there would be no history, there could be no concept of humanity.

Finally I thought, why do not I write about what I take, I do a lot of activity, join in 365 self portrait group, traveling, and it must be very nice if stated in writing, at least for me. So, my inspiration is my activities. ^___^