The 'Rok' Mountaineer

Travelling sometime, Backpacker often


1 Komentar

Selalu Ada Alasan untuk Jogja

JogjaBagi sebagian besar orang mungkin Jogja adalah kota yang tenang, menenangkan, dan ngangenin. Jujur buat saya pribadi gak begitu, terlebih pengalaman kedua jalan-jalan di Jogja tidak terlalu menyenangkan. Tapi walau demikian ntah kenapa lima tahun terakhir ini ada saja alasan untuk saya berkunjung ke Jogja.

Pertama kali menginjakan kaki di Jogja tahun 2011, ini sebenarnya bukan hal yang direncanakan, hanya pelarian dari bosan jalan-jalan di Semarang. Dari sana berlanjut hingga tahun 2015 ini, bahkan dalam setahun ada beberapa kali ke Jogja. Lalu apa sih alasannya masih aja suka main ke Jogja?

SATU. Walaupun ga dikangenin Jogja itu bisa jadi alternatif main yang murah. Untuk urusan transport dan akomodasi bisa disiasati. Tiket kereta ekonomi masih terjangkau untuk dompet saya yang banyakan diisi kertas transferan..haha.. Untuk penginapan saya biasanya mengandalkan teman yang rumahnya di sana, Alhamdulillah ya. Makan nasi kucing pun jadi, kalo urusan oleh-oleh orang tua saya udah bosen keseringan makan bakpia jadi mending gak usah beli.

DUA. Ada satu tempat yang pengen banget dikunjungi dan sampai sekarang belum terlaksana. Merapi. Bukan tempat wisatanya, kalo kesana sih pernah. Dari tahun 2013 saya punya keinginan untuk mendaki Merapi tapi selalu aja ada alasan gak bisa kesana. β€œTapi kan bisa diprediksi kalo gunungnya lagi baik-baik saja baru berangkan ke Jogja.” Kalo –kalo ada yang berkomentar gitu, jawabnya Gak Ngaruh! Beberapa kali rencana jauh-jauh hari, eh mendekati hari H Merapinya di tutup. Bahkan sedang dalam kondisi aman pun, pas kami udah sampai di Jogja ntu Merapi bisa batuk tiba-tiba. Heuuu..sempat terfikir jangan-jangan kami yang bikin batuk. Tapi sampai sekarang jadinya gak ngebet banget pengen ke Merapi, sedikasih izinnya aja sama yang punya Merapi, Allah swt.

IMG_9922Merapi dari Merbabu *sengaja yang fokus BG-nya πŸ˜€

TIGA. Banyak tempat wisata yang bisa diexplore di Jogja. Karena seringnya Sabtu-Minggu aja kesana, jadi gak semua tempat bisa diubek dalam 1-2 hari, akhirnya suka bikin rencana A. Merapi, dan rencana B. Tempat lain yang belum dikunjungi di Jogja. Tetep ya walaupun gak ngebet.

EMPAT. Tempat singggah sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lainnya. Iya, ini juga alasan seringnya ke Jogja. Mau liputan di Solo, ngeliput dulu di Jogja..hahah..kerjaan itu mah. Ngabisin bonus karyawan sekantor ajakin ke Jogja :v, mau ke Malang biar murah bisa berangkat dari Jogja (kalo ini pinter-inter nyari tiket promo), mau ke Banyuwangi singgah dulu untuk sekedar sholat dan makan di Jogja.

Yah gitu deh..sampai tahun ini aja gagal ke tempat yang jauh di ujung sana, plan B-nya explore Jogja. Hikmah saking seringnya ke Jogja, saya jadi punya stok foto yang lumayan banyak dan bisa dimanfaatkan. Setidaknya dari foto-foto itu cukuplah buat beli tiket untuk main-main di Jogja lagi..hehe..satu lagi yang lumayan bikin happy, bisa jadi kontributor foto untuk buku panduan wisata di Jogja.

OK Jogja, see you next time ya.. :p


2 Komentar

Hotel Berjuta Bintang, Satonda

milkywayPerjalanan ke Moyo bukan akhir dari destinasi overland Tambora kami, ada sekitar dua pulau lagi yang kami kunjungi, yang terdekat dari Moyo tentu saja Satonda.

Sebenarnya lebih dekat dari Calabai, lalu kenapa kami ke Moyo dulu? alasannya simple, karena gak mau nginep di Moyo.:D

Sampai dermaga Moyo sesaat selepas maghrib, pemandangan langitnya tidak kalah menakjubkan dari siang hari. Meskipun mataharinya sudah turun, sisa-sisa semburat jingganya masih menghias langit sore itu.Tapi ya, namanya senja sejatinya menghantarkan kita kepada kegelapan.

Sesaat kemudian kami sudah naik perahu menuju Satonda, kali ini hanya ada bintang gemintang, gemuruh ombak, dan sesekali cipratan air laut nan asin itu mengenai wajah kami. Kami ber 10 berselimut terpal untuk melindungi badan dari cipratan air dari samping kapal. Awalnya ngobrol kesana kemari, lama-lama senyap, terlelap tidur hingga sang kapten berseru bahwa kami sudah sampai di Satonda.

Kami bersorak sorai karena akhirnya sampai juga #lebay ..Saat itu saya merasa ada yang aneh, katanya sudah sampai tapi sejauh mata memandang cuma tampak kegelapan. Gak ada terang-terang lampu dari daratan dan eiiittss…sudah sampai kok bawahnya masih aer??

Usut punya usut ternyata malam itu air laut sedang surut, alhasil kami harus turun sekitar 10 meter sebelum dermaga karena kapal tidak bisa lebih dekat lagi. Klo maksa bisa rusak, ya kapalnya ya terumbu karangnya. huuff..baju yang sudah kering trus harus basah-basahan lagi itu rasanya…sebel banget karena gak ada baju lagi :((

Tampaknya ini akan jadi perjalanan penuh drama (lagi) buat kami.Sepuluh meter, deket sih klo jalan biasa. Tapi kan ini laut sodara-sodara..waktu itu yang ada dipikiran saya cuma pengen cepet nyampe dan tidur. Bedahalnya dengan teman saya, di malah berfikir “gimana klo ada ular laut, gimana klo tiba-tiba air pasang, gimana klo gini, klo gitu..” sampai akhirnya memutuskan untuk diam di kapal..hahah..lucu klo ingat kejadian itu. Tapi walau bagaimana pun kami harus tetap turun dan berjalan ke daratan, gak mungkin diem di kapal wong si bapak kaptennya mau balik ke Calabai.

Pertama-tama tuantuan dulu yang turun, ada yang bawain tas, ada yang nganterin sampai tepian, lalu balik lagi buat jemput yang lain. Ada yang sibuk angkutin tas dan barang dari kapal ke daratan, dan ada juga yang sibuk motret langit..Ah..rupa-rupa pokoknya..lalu kamu ngapain Nin? bantu kasih penerangan doong..masa motret :p

Di planning yang sudah dibuat sebelumnya, kami akan menginap di cottage, tidur di kasur empuk, bisa mandi, ngecas hp, dan makan enak.

Nyataaannyaaahh…kami sampai daratan yang gelap, tak ada penerangan sama sekali dan tak ada orang satupun, setidaknya itu yang ada dibenak saya pertama kali. Kemudian salah seorang teman bilang “tadi ada embak-embak sebelum kita turun kapal”..dalam hati “duuuh..cerita horor apalagi ini.” Kami pun hanya diam mendengarnya, sampai salah satu teman bilang “kayaknya penunggu disini, yuk cari..” setengah ngantuk saya berasa di acara realityshow dengan tag line “jika ga kuat, lambaikan tangan ke kemera” :v

Aniway tak berapa lama ternyata si embak-embak yang dimaksud beneran ada..hufft..dia penjaga cottage, cuma berdua aja sama bosnya katanya..edun daah..beranian. Kami tanya kamar buat nginep, ditunjukanlah kamar yang dalemnya ga representatif, selain itu mati lampu pula, kehabisan bahan bakar katanya. Yo wiiss..mending nenda aja di tepi pantai. Kemudian si embak pun menghilang dalam kegelapan..hahah..masuk ke ruangannya lagi..

Tengah malam, kami ber 10 di pulau tak berpenghuni, gelap, dan dalam keadaan basah. Apalagi yang jadi pelengkap derita selain suara teriakan horor dari dalam perut? aah..kami lapaaar sodara-sodara..

Gak nunggu lama langsung bagi tugas, dirikan tenda dan masak-masak. Karena banyak bale-bale di tepi pantai, kami putuskan hanya 1 tenda yang didirikan khusus buat nonanona saja. Selesai makan malam yang enak banget itu, kami ramai-ramai bermain di pantai, berasa pulau pribadi.

Setelah puas motret milkyway, saya dan dua teman lainnya tiduran di bangku sambil memandang langit dengan jutaan bintang diiringi suara debur ombak yang terdengar merdu, dan lagu sherina yang agak sumbang..hahah..oh ya..bukan hanya bintang yang membuat saya terpana, tapi juga plankton yang bersinar saat terbawa ombak ke tepi pantai. Malam itu Satonda keren banget pokoknya.

Malam semakin larut dan bintang semakin banyak, mata saya sudah mulai ngantuk tapi terlalu malas beranjak ke tenda. Akhirnya terlelap di bawah berjuta bintang. Tapi tak bertahan lama, karena yang lain juga sudah mulai ngantuk akhirnya saya ngungsi ke tenda. Walau cuma tidur di tenda kami berasa di hotel berjuta bintang. Puas bangeeeet..gak nyasel walaupun awalnya dateng ke sini kayak pengungsi kebanjiran..hahah..

Bersambung…

*karena malam jadi minim foto


9 Komentar

Overland Tambora 2014 #4 End

29 Mei

CAM01592

PeEr berikutnya setelah sampai puncak adalah turun gunung dengan sabar. Ya saya katakan sabar, karena banyak diantara pendaki yang turun tergesa-gesa dan tidak konsen akhirnya berujung duka. *duka kamana πŸ˜€

Saya sebenarnya termasuk orang yang klo turun bisa lebih cepat dari naik dan susah ngerem, soalnya klo jalan pelan lutut akan terasa sakit. Tapi bukan berarti saya orang yang ga sabaran yaaa..catet :p

Dibeberapa kesempatan sebenernya saya juga bisa sangat lambat saat turun. Nah saat di Tambora ini tanpa sadar saat naik dan turun saya selalu di depan, pas naik alasannya pengen cepet istirahat sih sebenernya. Klo turun? hihihi..ada cerita menarik saat turun dari Tambora.

Jadi gini, kelompok kami datang paling awal dan turun paling akhir karena gila foto semua. Pas jam 8 lebih teman saya tiba-tiba bilang “gas racunnya mulai naik tuh” siapa coba yang bisa kalem aja lihat asap membumbung keluar dari kawah Tambora dan denger kata “racun”? siapa lagi klo bukan teman-teman ajaib saya..ahahah..ya beberapa diantara kami sudah mulai teriak-teriak ayo turun-turun, termasuk saya sih. Tapi sebagian bilang “bentar-bentar gw belum foto disana” ish..

Karena sudah ada yang mulai jalan turun akhirnya saya ikuti. Treknya berpasir jadi jalannya pasti akan lebih cepat. Gak sadar tiba-tiba udah jauh dari rombongan lain, cuma ber 3 aja di depan. Kami tunggu yang lain sambil foto-foto..ahahah… Setelah semua tampak a.k.a udah jalan turun gak ada yang di puncak kami lanjutkan jalan agak pelan.

Sekitar jam 10 kami sampai di tempat mata air pos 5. Kemarin saya sempat menyesal gak ikut ambil air pas teman-teman pamer foto bagus di sini. Ahh..akhirnya saya ke sini juga dengan pencahayaan yang lebih baik karena masih pagi. Viewnya keren berada disana mengingatkan saya pada film twilight. Berharap ada Edward Cullen di atas pohon pinus lagi ngeliatin..ahah..lebaaayy..

Saya suka berada disana, suasananya adem dan jalan-jalan dibatu-batunya tanpa alas kaki berasa dipijit enak banget. Tapi kami harus bergegas, turun dari sini udah gak ada istirahat lama lagi. Lokasi air ini ada di bawah pos 5, jadi menuju pos 5 naik lagi dikit.

Di Pos 5 ini lahΒ  “tragedi” dimulai..hahah.. kami bersiap pulang, semua sibuk dengan packing, masak, dan ngoceh. Candaan itu emang menyenangkan bikin suasana ramai dan gak capek, tapi klo udah berlebih bisa bikin orang naik pitam. Camkan itu anak muda! :))

Saya dan seorang teman sebenarnya sedang tidak ada di lokasi saat prahara itu terjadi, sebut saja kami berada di lokasi yang aman. πŸ˜€ Tiba-tiba seorang teman memanggil dan mendekat ke arah kami, dikira punya urusan yang sama ternyata ada acara nangis dan sedikit marah. Singkat cerita kami kembali ke rombongan, suasana jadi berbeda, lebih tenang. hihihi..

Imbasnya adalah saat turun jalanan jadi serasa tak bersahabat. Tidak ada obrolan hangat, tidak ada candaan lucu, tidak ada makanan..ahahah..itu yang paling penting. Saya lapar nyonyah tuaan.. Awalnya komposisi jalan seperti ini (dari depan kebelakang) 2-4-6, saya berada di grup ke dua, lalu di pos 4 satu orang maju jadi hanya ber 3 di tengah. Jarak antara satu grup dan lainnya berjauhan. Sedih sebenernya, humm..mulutmu harimau mu itu beneran yaa..padahal gak ada harimau di sini.

Cuaca tampak mendukung suasana perjalanan kami, di pos 4 mulai hujan deras dan terpaksa harus memakai jas hujan. Sampai pos 3 kami istirahat sejenak sambil nunggu teman saya sholat, saya makan oatmeal yang sudah diseduh di pos 5 tadi lalu minum obat mag..heuheu..jaga-jaga.

Tak berapa lam kemudian yang lain sampai di pos 3, saya tidak berniat melanjutkan perjalanan tanpa mereka sebenernya, terlebih di belakang ada 2 orang yang sakit, tapi keadaan menuntut untuk tetap jalan di depan bersama teman lain. Orang yang sakit akan lebih banyak diperhatikan temen-teman lain, tapi orang sehat dan dalam kondisi marah jika tidak ditemani dia bisa berbuat ceroboh dan menyakiti dirinya sendiri.

CAM01595*langit cerah saat kami turun dari puncak

Dari pos 3 menuju pos 2 kami ber 4 jalan seperti mahasiswa dikejar deadline, ngebuuuut gak berhenti-berhenti. Sampai pos 2 baru lah istirahat sejenak dan satu teman memutuskan untuk tidak lanjut membersamai kami. Akhirnya ber 3 kami lanjutkan berjalan dengan kecepatan yang gak berubah.

Sampai pos 1 sudah senja, kami bertemu rombongan dari Sumbawa Besar, seperti asalnya rombongan ini pun jumlahnya besar, 10 orang ditemani porter 11 orang. Kami istirahat sebentar di sini, sambil ngobrol dengan mereka dan tanya-tanya jalan, iya tanya jalan karena kami hanya ber 3, 2 wanita dan 1 laki-laki tanpa porter. Katanya dari pos 1 ini sekitar 1 jam lagi menuju pos pendakian Rimba. Selain itu mereka juga bilang teman kami sekitar 500 meter di depan. Ah sepertinya maghrib sudah bisa sampai di luar, pikir kami.

Nyatanya…

Setelah tanya porter yang kami temui di jalan, dan dia bilang lurus saja, kamipun mengikuti pertunjuknya, sampai pada persimpangan..eaah..bingung daah, kami tetap lurus tapi ada pos terbuat dari bambu-bambu, kami sangat yakin pas pergi gak ada pos ini. Berdasarkan kesepakatan kami mundur lagi dan ambil jalan lain. Jalan yang tentu ada jejak kaki manusianya.

Setelah lama berjalan jalur yang kami lalui berasa sama semua, semak-semaknya makin kesini makin tinggi, perasaan waktu masuk gak seperti ini. Pohon beringin yang harusnya dilalui juga tak kunjung kami temui. Terus berjalan, makin lama makin cepat karena kaki yang sakit udah gak kerasa lagi, saking pengen cepet nyampe. Cahaya matahari mulai redup, semburatnya pun sudah mulai hilang. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, sudah mulai sadar klo kami nyasar tapi gak ada yang mau bilang. Saya masih optimis karena masih lihat jejak kaki, walaupun ntah sepatu pendaki atau warga.

Klo dikasih judul ini namanya panik dalam diam. Sebagian besar permukaan langit waktu itu sudah mulai gelap, saya minta teman-teman keluarin senter tapi gak usah semua dinyalain, khawatirnya gak nemu jalan dan kehabisan batre, gak lucu gelap-gelapan di hutan. Saya tau diantara kami tidak ada yang bawa tenda, tapi saya juga gak berfikir kami akan ngecamp di tengah jalan sempit gini. Tanpa bicara pun saya bisa merasakan kekhawatiran yang lain, pokoknya cari jalan keluar secepatnya. Aura menjelang malam emang gak menyenangkan ya.

Sampai di km berapa ntahlah, kami menemukan pipa air, “Alhamdulillah..” kompakan kami ucap syukur, dari sini pasti udah gak jauh pikir saya, “Ada 2 pipa bocor pas kita naik, iya kan Nin?” tanya seorang teman. “Iya,” jawab saya sambil menghitung desis pipa bocor. Dan ternyata kami melewati lebih banyak pipa bocor dari sebelumnya. Sudah nyata adanya klo kami memang nyasar.

CAM01582*Langit mendung dan turun hujan saat kami turun dari pos 5

Suara-suara khas hutan mulai agak sering terdengar, langkah kami pun tidak mau melemah karenanya. Pokoknya jalan terus, jalan. Akhirnya bertepatan dengan hilang totalnya semburat cahaya di langit, kami sampai di perkebunan kopi. “Ini kebon kopi, dari sini gak jauh,” teman saya teriak semangat. “Tapi kok kebun kopinya banyak ya? waktu naik kan cuma beberapa,” kata saya. Kami lanjut lagi jalan dan memang tidak terlalu jauh dari sana gerbang hutan. Sambil agak berlari kami keluar dari kawasan itu. Dimanapun itu yang penting kami sudah keluar dari hutan. Jreeeng..kami keluar lewat pos portal.. hahah..ini pos pendakian yang sudah jarang dipakai, dan berada di kabupaten Bima.

Walaupun nyasar jauh, kami sudah tenang karena ada di luar hutan dan ada pos yang bisa dipake istrahat. Tapi disini masih ada kejutan lain.Ntah kenapa firasat saya agak kurang enak pas duduk di pos itu, “selonjoran aah,” kata saya sambil menaikan kaki ke atas pos diikuti teman saya yang lain. Satunya masih cari signal dan coba nelpon kasih kabar ke basecamp. Tiba-tiba gak lama setelah kaki saya naik ada suara babi yang cukup kencang, yakin banget itu babi deket tempat kami. Sontak kami semua kaget saya dan satu teman teriak ada babi, naik, ada babi, babi. Teman yang satunya sambil nelpon ikut teriak babi..babi.. Sumpah waktu itu terasa horor banget, klo sekarang malah jadi hal paling lucu saat perjalanan.

Niat awal nelpon basecamp sebenarnya mau tanya jalan, tapi gara-gara babi tadi kami putuskan untuk minta dijemput ojek saja. Sambil nunggu ojek kami gak banyak ngobrol, saya nelpon rumah nanyain kabar, yang lain nelpon teman, dan kerabatnya. Abis itu baru ngobrolin temen-temen lain yang sepertinya udah nyampe basecamp karena gak nyasar. Mungkin mereka udah mandi udah makan. Ah..kemana-mana deh.

10419486_791689970850343_1935536296017671661_n*Jalur rapat seperti ini jadi lebih menakutkan pas turun

Ojek baru dateng satu jam kemudian, dan taraaa..kami ber tiga dengan keril besar dijemput 2 ojek, satu motor trail dan tanpa lampu depan. Ahahah..bener-bener daah. Gak mungkin satu orang nunggu di sini, gak akan ada yang mau juga keles. Saya dan teman di ojek yang sama, dan yang cowok pake motor yang ga ada lampunya.

Ngobrol-ngobrol dengan mamang ojek ini lah kami jadi tau klo wilayah ini sudah masuk Bima, dan banyak babi hutannya. heuu.. Di tenagh perjalanan ada satu ojek lagi dateng, akhrinya saya pindah. Usut punya usut ternyata yang nyasar bukan hanya kami bertiga. Menurut penuturan tukang ojek ini ada orang Jakarta yang barusan minta dijemput di desa sana, lebih jauh dari pos. Saya bilang yang dari Jakarta cuma kami aja bang. “Ngga tadi ada 3 laki-laki minta dijemput di desa,”Β  Haaa??? jadi jejak kaki itu punya mereka..hahah..seketika itu juga saya tertawa terbahak-bahak. Mungkin si mamang ojek pikir saya kesurupan..hahah..Mungkin juga ini jahat tapi saya lega mendengar kelompok pertama yang nggcir itu tersesat juga..wkwkwk..

Sampai basecamp hal yang pertama kami lakukan adalah tertawa didepan 3 teman kami lainnya dan bilang “kalian nyasar juga yaaa?” ahahah..kedudulan luar biasa. Satu orang menjawab, “kami sengaja kok cari alternatif jalan lain,” satu lagi ketawa-ketawa, satunya lagi “Udah Nina, mandi sono, trus makan..” tidak mau terintimidasi. :v

Saya masih mikirin yang 6 orang lainnya walaupun sedikit lega karena mereka ditemani 2 orang porter dan sedikit kemungkinan bisa nyasar seperti kami. Kata Bang Ipul, penjaga basecamp ojek udah standby depan hutan untuk jemput mereka.

Sekitar jam 9 malam 6 orang lainnya sampai di basecamp, bapak TL tampak tergesa-gesa turun dari motor, “kalian kemana aja? kita ber 6 motor ada 12 dan katanya belum ada satupun yang keluar,” …”Nyasaaar..” dan tawa pun kembali menggema..

Ternyata persoalan nyasar ini menjadi sesuatu yang mencairkan suasana tidak mengenakan diantara kami tadi siang. Tapi bukan berarti harus nyasar dulu baru cair yaa. Oh ya cerita dari 6 orang lainnya gak kalah seru. Ada yang mencium bau kentang rebus, ada yang merasa kakinya ditarik, ada yang lihat kodok terus ikutan loncat, ada yang nyium bau melati juga..ah macem-macem deh pokoknya…

Dan akhirnya malam Jumat penuh bintang itu kami tutup penuh syukur bisa kembali dengan selamat dan tentu sambil menertawakan kebodohan yang kami perbuat. Kebodohan yang mungkin tidak akan kami alami jika tetap kompak, naik bareng-bareng turun pun bareng.

 

Overland Tambora Done!

πŸ˜‰

CAM01588


16 Komentar

Overland Tambora 2014 #3 Summit

28 Mei

Pagi menjelang, saatnya jemur pakaian yang basah karena keringat kemarin #ehh.. Perjalanan masih panjang sodara-sodara, stok baju kami tidak banyak, so yang masih bisa dipakai ya pakai lah..hahah. Ritual pagi setelah sholat subuh pasti bikin minuman hangat, abis itu masak buat sarapan.

10457822_744903228864644_2135515778782509244_nSarapan pagi sambil nunggu jemuran kering :v

Jam 10an kami mulai melanjutkan perjalanan menuju pos 4, dari mulai pos 3 sampai pos selanjutnya tidak akan ada pacet, begitu kata Wendi sang Porter, yang ada cuma jelatang. Sejenis tanaman beracun, seluruh daun dan batangnya dipenuhi duriduri halus, klo kena kulit bisa gatal-gatal dan perih, daaan parahnya lagi klo seluruh badan kena jelatang bisa demam. Itu yang terjadi pada teman saya di Argopuro.

1959425_791689404183733_1155613153719866206_nsamping kiri itu tanaman jelatang

Saya pikir jelatang itu tanaman rambat yang tidak terlalu tinggi, eh pas jalan dari pos 3 menuju pos 4 kanan kiri jelatang semua dan tinggi-tinggi, treknya juga makin naik cukup bikin kembali ngos-ngosan. Sampai pos 4 sekitar jam 11, jarak dari pos 3 ke pos 4 memang tidak terlalu jauh. Setelah agak lama saya perhatikan kok gak ada yang ngecamp di sini, padahal tempatnya agak lapang dan enak buat ngecamp. Hemm..ternyata selain alasan air, pos 4 ini sekelilingnya tanaman jelatang semua. Susah cari lapak..ahahah

*ada dua jenis daun jelatang, satu bentuknya seperti daun biasa satunya lagi daunnya becabang seperti daun singkong

Lanjut jalan dari pos 4 ke pos 5 ada jalur yang boleh dibilang wow banget, pohon tumbang kanan kirinya jelatang. Emh..dan tangan saya sempat kena gores jelatang di sini. Rasanya perih lalu sedikit panas, dan itu bertahan hingga beberapa jam setelahnya.

jelatangini dia pohon tumbang yang dikelilingi jelatang

Sekitar setengah jam perjalanan turun hujan, agak besar awalnya tapi sampai di pos lima sudah berhenti. Oh ya jarak antara pos 4 dan pos 5 itu cuma 45 menitan, deket banget dibanding pos-pos lainnya. Kami sampai pos 5 jam 1 siang dan langsung bikin tenda. Agak garing juga sampai tempat ngecamp siang-siang..hahah.. Cara mengisi waktu yang paling enak sebenernya tidur tapi kami malah memasak makanan buat makan malam..hahah..terlalu dini memang tapi bae lah dari pada cicing :p Yang cowok ribut main kartu -___-“

Selesai masak sudah masuk waktu ashar dan kebiasaan gak boleh tidur di waktu itu, jadi dari pada boring saya sempat memotret suasana kabut sekitar pos 5, walaupun ga lama trus masuk tenda.

Waktu berjalan cepat, tiba-tiba udah maghrib lagi, abis sholat makan bersama sambil ngobrol, apa saja jadi bahan obrolan sambil tertawa terbahak-bahak. Ini yang selalu saya syukuri, setiap melakukan perjalanan pasti ada aja satu orang yang hobinya menghibur, jadi sepanjang jalan dan ngacamp kami tidak pernah kehabisan obrolan dan candaan. Siapa dia? nanti dibahas terakhir πŸ˜€

Malam makin larut dan kami pun sadar diri untuk istirahat, dini hari nanti kami harus mulai lagi perjalanan menuju puncak Tambora.

29 Mei

Waktu menunjukan jam 1 dini hari, kami semua mulai merayap menuju puncak Tambora. Sebelum meninggalkan tempat ngecamp semua barang digantung diatas, dan hanya satu tenda *nekad yang tidak dibongkar. Kenapa harus digantung di atas pohon? karena klo tidak ada manusia, babi hutan akan dengan santainya mengobrak abrik tenda dan tas yang ada disana, kejam. -__-

Dari pos 5 menuju puncak jalur yang kami lalui mulai berpasir dan naik terus.. ya iya laah Nina :p

Ada sedikit semak-semak sih, tapi gak banyak banget juga. Pas jalur berpasir itu Wendy sang porter seperti kebingungan memandu kami menuju puncak, katanya jalurnya baru dan kami harus berhati-hati banget karena masih rawan longsor. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan kami sampai juga di puncak. Langit masih gelap tapi sudah masuk waktu shubuh. Jadi sampai puncak langsung cari lapak untuk sholat shubuh. Ternyata puncak hanya milik kami, kelompok lain belum sampai ke sana hingga terbit matahari.

Done

Kami merayakan summit dengan makan semangka..hahah..selain itu tentu foto-foto..tak ada habisnya memang soal bergaya depan kamera ini, bahkan saking asiknya foto-foto kami yang lebih dulu datang jadi yang paling akhir pulang. Agak horor pas salah satu teman bilang, asap beracunnya mulai naik tuh..aah jadi teringat Semeru.

Puncak Tambora Done!

*foto gabungan pribadi dan teman-teman

Masih Bersambung.. πŸ˜€


15 Komentar

Overland Tambora 2014 #2 Pendakian Hari Pertama

27 Mei

Pagi yang cukup cerah untuk memulai pendakian, langit biru tanpa awan dan matahari sudah cukup terik saat itu, karenanya menggunakan ojek sampai Pintu Rimba yang jaraknya sekitar 5 km dari basecamp adalah pilihan yang tepat. Dari desa Pancasila yang ada di ketinggian 434 mdpl dan Pintu Rimba di 722 mdpl, sangat lumayan untuk menghemat tenaga dan waktu. πŸ˜€

*kumpulan jalur yang kami lalui selama perjalanan dari pos 1 ke pos 3

Kami memulai perjalanan masuk hutan sekitar jam 10.30, trek pertama yang kami lalui adalah jalan setapak yang hanya cukup untuk satu orang saja, samping kanan kirinya semak-semak dengan tinggi yang beragam. Sampai pos 1 sekitar jam 1 siang, kami berhenti sejenak untuk makan siang dan sholat. Di pos 1 ada sumber air berupa pipa besar yang ditumpahkan ke drum kemudian dialirkan kembali menuju pipa kecil.

10340177_791209724231701_4373084908227212312_nRehat sejenak di pos 1

Waktu itu cuaca sangat bersahabat tidak terlalu panas tapi tidak hujan juga, makanya kami pikir tidak akan ada pacet, eh nyatanya di pos 1 itu sarangnya pacet. Oh ya pacet itu sejenis lintah, tapi ukurannya lebih kecil dan tempat hidupnya berbeda, klo lintah lebih suka di air, pacet hidup melekat pada daun atau batang pohon. Klo hujan dikit aja itu pacet keluar semua.

pacetfoto pacet dari sini

Perjalanan kami lanjutkan menuju pos 2 ba’da sholat dan makan serta urusan dengan pacet-pacet yang masuk ke kaki. Jalur dari pos 1 menuju pos 2 lumayan landai, tidak terlalu nanjak tapi banyak pohon tumbang. Pohon-pohon yang tumbang itu melintang menghalangi jalur, satu-satunya cara melaluinya adalah dengan menaikinya atau melangkah jika kakimu cukup panjang, sayangnya saya tidak. πŸ˜€ Bahkan dibeberapa spot ada pohon tumbang dengan diameter lebih dari 1 meter, mau gak mau harus naik yaa..

10247226_791212717564735_8749611575311297231_nTumpukan pohon tumbang yang harus kami lalui

Kami sampai di pos 2 sekitar pukul 16.30, istirahat sejenak, ngopi dan ngemil dulu untuk mengganti energi yang keluar selama perjalanan. Di pos 2 ini kami bertemu sekelompok pecinta alam dari Lombok Timur, sedang ada acara pengambilan nomor dan syal anggota baru ternyata. Sekitar jam 5 sore kami lanjutkan perjalanan menuju pos 3, rencananya kami akan menginap semalam di sana. Sedangkan kelompok dari Lombok Timur tadi memutuskan ngecamp di pos 2 karena dekat dengan sumber air, sungai.

10336673_791212790898061_3920155196913364030_nStor muka capek dulu di pos 2

Dari pos 2 menuju pos 3 treknya sudah mulai naik, dan panjang. Klo lihat dari plang di pos 2 waktu yang dibutuhkan untuk sampe ke pos 3 hanya 1,5 jam..haa..nyatanyaa..lebih dari itu. Sekitar jam 7 malam kami sampai pos 3. Disana sudah ada 3 tenda, dari obrolannya sepertinya ini orang lokal, bukan berarti kami orang interlokal..hahah..mereka anak-anak smp dari Desa Pancasila. Hebat ya mainnya ke Tambora, gak ada mall sih.

Baru sampe pos 3Mendirikan tenda di pos 3

Setelah mendirikan tenda, ganti baju, lanjut masak-masak dan makaaan.. Klo teman saya bilang, acara makan-makan itu selalu menjadi pemersatu. Kondisi seperti apapun klo pas waktunya makan, ya makan, berkumpul, bercanda, dan tertawa. πŸ˜€

Habis itu kenyang dan ngantuk..

makan malamMakan malam apa adanya

*foto sumbangan dari temen-temen

Besambung…


7 Komentar

Overland Tambora 2014 #1 OTW

Ini perjalanan pertama saya menuju NTB, perjalanan yang cukup jauh dibandingkan biasanya. Dan saya gak ngebayangin sama sakali gimana perjalanan kali ini, searching tempat yang akan dikunjungi pun tidak begitu detail. Just let it flow..

Total yang akhirnya ikut overland Tambora ini ada 10 orang, awalnya 12 kemudian berkurang, bertambah lagi, begitu terus sampai hari H yang fix pergi ada 10 orang. Kebanyakan mereka berangkat dari Jakarta yaitu 6 orang, 4 orang diantaranya pakai kereta, 2 orang lagi pakai pesawat. Sisanya 4 orang,Β  1 orang dari Ternate, 1 orang dari Jogja, dan 2 orang dari Bandung, yaitu saya dan Nadya.

 

24 Mei

Saya berangkat dari Bandung bersama Nad menggunakan kereta Mutiara Selatan menuju Surabaya, jam 5 sore tanggal 23 Mei. Sampai Surabaya sekitar jam 6 pagi lalu dijemput sepupu Nad. Numpang mandi dan makan di tempat sepupunya sebelum kembali ke stasiun menuju Banyuwangi kemudian bertemu rombongan lain dari Jakarta.

Jam 1 siang kereta Sri Tanjung menuju Banyuwangi sudah sampai di Surabaya, kami masuk melalui gerbong 2 menuju gerbong 1. Pemandangan yang sama seperti 2 tahun lalu di Statisun Senen, gerbong penuh dengan orang-orang berkeril. Ah sudah dapat ditebak, semua satu tujuan menuju Rinjani. Pastinya sudah dapat dibayangkan juga seperti apa puncak Rinjani minggu ini..hmmm..pasar kaget.

Tak perlu lama saya dan Nad bertemu rombongan Jakarta, yaitu Eman (Emon), Rizal, Bang Jati, dan Mbak Ade (Emak). Kami juga bertemu rombongan dari Semarang yang sangat heboh. Ntah lah mereka berbicara apa, yang jelas kebanyakan kami tidak mengerti, hanya Bang Jati saja yang memang asal Semarang yang ikut tertawa mendengar ocehan mereka.

BanyuwangiFoto bareng di stasiun Banyuwangi

Waktu cukup panjang menuju Banyuwangi, kami baru sampai di stasiun sekitar pukul 11 malam, di sana sudah ada Adward yang menunggu dari kemarin..hahah..iya dari kemarin, tiket kereta yang tersedia hanya tanggal 22 Mei, ya nasib Edward nunggu lebih lama di Banyuwangi.

Malam itu juga kami melanjutkan perjalanan menuju Bali. Sekitar 1 jam perjalanan kami tempuh dengan kapal ferry menuju pelabuhan Gilimanuk.

25 Mei

Sampai Bali sekitar jam 12 malam dan sudah tidak ada kendaraan umum, tapi ada bus yang bisa dicarter. Akhirnya kami bergabung bersama rombongan lain yang satu arah menuju Padang Bai. Alhamdulillah, perjalanan lancar *baca tidur sepanjang jalan :)) Sampai Padang Bai jam 5 subuh, ada masjid cukup besar dan akhwat frendly disana. Setelah shalat subuh kami tidak langsung pergi karena masih menunggu 2 orang teman kami yang menggunakan pesawat, Mas Arif dan Bang Ilham. Pesawat mereka baru sampai Bali jam 8 pagi, alhasil kami harus menunggu sampai jam 10an sampai mereka tiba di Padang Bai.

Karena masjidnya cukup nyaman jadi kami putuskan menunggu disana saja, tempat makan pun tidak jauh dari masjid, penjualnya muslim dan masakannya halal. Sedangkan rombongan lain satu per satu sudah mulai beranjak dari masjid menuju Lombok. Fyi untuk pilih makanan di Bali memang harus sangat berhati-hati karena mayoritas warganya terbiasa memasak babi.

Sekitar jam 11 dua orang teman kami sampai juga, setelah menunggu mereka bersih-bersih dan packing ulang kami langsung berangkat menuju Lombok. Waktu yang diperlukan untuk sampai Lombok atau pelabuhan Lembar sekitar 4-5 jam. Sampai sana sudah maghrib.

Kapal2Selfie di kapal menuju Lembar

Di Pelabuhan Lembar kami di jemput menggunakan mobil pick up, menuju basecamp Lombok Backpeker. Kami menginap semalam di sini. Awalnya saya menduga hanya basecamp biasa dan yang ada disana ya para pendaki. Ternyata berbeda. Akan saya ceritakan terpisah nanti πŸ˜‰

IndomartBelanja dulu sebelum ke basecamp

26 Mei

Setelah semalam menginap di basecamp backpeker Lombok, kami lanjutkan perjalanan menuju Calabai. Oh ya di Lombok jumlah kami sudah lengkap ber-10, meetingpoint sama Mbak Elvi di basecamp. Saya pikir perjalanan dari Lombok menuju Calabai sekitar 6-8 jam lah ya, ternyatah 20 jam sodara-sodara. Jangan bayangkan kendaraan yang kami tumpangi seperti bus eksekutif di pulau Jawa. Bus nya itu 3/4 dan sarat muatan, seperti kantung ajaib doaremon, semua masuk, bagian belakang bus pun masih digantung sepedah motor.. hahah..ajaib..

RizalBus tetangga yang udah digantungin motor

Tapiii..walaupun sarat muatan, kami tidak mengeluh sakit badan selama perjalanan, soalnya jalan yang dilalui mulusΒ  pemandangannya juga indah, cuma musiknya aja agak ganggu..berasa bukan di luar Jawa, lagu-lagunya panturaan doong. -__-

Ngomong-ngomong soal jalan mulus saya jadi berandai-andai Jawa Barat punya jalan semulus ini, sejauh apapun jarak yang ditempuh gak bikin males untuk pergi.

Dari Lombok sekitar pukul 10 pagi, lokasi pertama yang dituju adalah Pelabuhan Kayangan. Namanya bagus ya, klo ditanya “Kamu mau kemana?” “Mau nyebrang ke Kayangan” :)) berasa bidadari. Dari Kayangan Rinjani tampang jelas banget, cantik memang tapi mainstream banget untuk liburan kali ini, bikin males..hahah..males mulu dari tadi, bukan apa-apa sih klo penuh gitu susah cari lapak. πŸ˜€

KayanganDi Pelabuhan Kayangan

Nyebrang dari Kayangan ke Pototano sekitar satu jam lalu naik bus lagi, sepanjang perjalanan makan-minum-tidur-ngobrol-update status-beresin odoj, terus terulang seperti itu sampai bus berhenti istirahat di tempat makan, dan ritual berganti jadi rebutan tempat ngecas. Semua colokan listrik milik kami..hahah..pembajakan.

Lanjut perjalanan udah gak sadar diri semua, tidur pulas sampai Desa Pancasila jam 3 pagi. Hanya kami ber 10 yang turun terakhir, lainnya turun sebelum Desa Pancasila. Turun dari bus kami disuguhi pemandangan langit yang spektakuler, milkyway jelas terliat padahal itu masih di bawah, belum di atas gunung. MasyaAllah..

Tertegun sepersekian detik memandangi langit sampai akhirnya disambut Bang Ipul, pemilik basecamp. Di basecamp semua kamar sudah panuh, kami lesehan di pekarangannya pakai matras. Tapi karena para cewek ini pengen rebahan banget mengingat pagi ini mau langsung jalan, jadi kami dipersilahkan masuk menempati satu kamar kosong di dalam rumah Bang Ipul.

Begitulah total perjalanan dari Bandung hingga Calabai, 23 – 27 Mei 2014

*foto sumbangan dari yang lain diambil dari fb πŸ˜€

Bersambung…

 

 


31 Komentar

Ngetrip to Bali-Ijen-Bromo (lagi) #3 end

Batok, Bromo, Semeru

Turun dari Ijen kelompok terbagi dua kubu, kubu satu pulang ke Jember dan Surabaya, kubu dua lanjut ke Baluran. Saya dan teman saya termasuk yang lanjut ke Baluran, namun di tengah perjalanan teman saya memutuskan pulang ke Bandung hari itu juga, artinya saya pun batal ke Baluran sodara-sodara. Kenapa batal? karena yang kebaluran semua cowok -__-β€œ

Minggu sore harus rela langsung ke Probolinggo sekalian ada kerjaan disana. Dan itu artinya waktu tinggal di Probolinggo jadi lebih lama dari yang direncanakan. Heuheu..harus lebaran sendiri, gak ada yang bikinin lontong dan opor. 😦

Senin-Selasa-Rabu persiapan untuk kegiatan hari Kamis yang saya pikir akan β€œwow” banget karena ada dirut dari salah satu mitra, eh ternyata biasa saja gak sampai berjam-jam. -__-β€œ

Usai acara obos besar dan beberapa teman ngajak ke Bromo, sebenarnya saya agak malas kesana lagi lebih pengen ikut tim yang pergi ke semeru tapi gak ada perempuannya.*lagilagi

Mau langsung pulang ke Bandung juga tidak memungkinkan, karena sudah tidak ada kereta. Yah akhirnya ke Bromo lagi, walaupun berharap bisa ke savana-nya tapi saya prediksi bahwa perjalanan ke Bromo kali ini pasti akan sama dengan perjalanan ke Bromo sebelumnya, mepet waktu.

Rute pertama ke Pananjakan, as always lah ya padat sangat dengan wisatawan lokal dan asing, lalu selanjutnya ke Bromo. Sudah dua kali muncak Bromo saya ogah naik lagi, capek. Saya pikir teman-teman lain mau muncak karena kan mereka belum pernah eh ternyata sama aja..hahah..alasannya selain tampak melelahkan sang obos besar dah beli tiket pesawat jam 12 *tuh kan bener

Ya sudah akhirnya kami pun berkemas pulang, untungnya bisa dapet foto-foto cukup menarik walaupun gak banyak. Begitulah jika berkunjung ke tempat wisata tapi mepet, keluar banyak uang tapi gak puas. #IMO