The 'Rok' Mountaineer


3 Komentar

Dari Satonda Ke Kenawa

Setelah semalaman bergelap gelapan di tepi pantai Satonda (lanjutan Hotel Berjuta Bintang, Satonda), pagi itu kami ingin menikmati sunrise yang indah. Sayangnya penampakan sunrise berada di belahan Satonda yang lain.

Kesibukan pagi hari hampir sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja kami tidak kedinginan seperti di gunung. Sarapan dan mencari spot bagus untuk foto.

Di Satonda ini ada danau air asin yang konon katanya asinnya lebih asin dari air lautnya sendiri. Nah, danau itu akan terlihat indah klo dilihat dari atas bukit yang mengelilinginya.

IMG_3194

Danau Satonda dok. Ilham

Para tuan sudah lari duluan sebelum matahari naik, sedang kami gak akan menyianyiakan sarapan demi mengejar foto. Tetep ya, makan itu nomor 1..Setelah cukup sarapan kami berempat mencoba menaiki bukit itu. Tapi sepertinya keputusan sarapan dulu juga kurang tepat hari itu, kekenyangan jadi alasan untuk gak lanjut naik sampai puncak, alasan lain kapal sudah merapat siap menjemput.

CAM01630

Danau Satonda. dok. siriusbintang

Akhirnya foto-foto di tepi danau pun sudah memuaskan kami, setelah itu repacking dan kembali ke Calabai.

Depan Satonda

Foto wajib sebelum beranjak ke tempat lain.

Sampai Calabai menjelang siang, kami langsung memburu bis menuju Sumbawa. Perjalanan seperti semula dengan bis bermuatan segala. Sampai di persimpangan Dompu, Bima, dan arah menuju Sumbawa satu teman turun dan melanjutkan petualangannya di NTT. Sampai Sumbawa dua orang lainnya juga pulang lebih dulu karena tiket pesawat mereka berbeda dengan kami. Sedangkan kami ber7 turun di Poto Tano dan melanjutkan liburan ke pulau kosong tak bertuan, Kenawa.

Sunrise

Kondisinya hampir sama dengan Satonda, kosong. Bedanya di sini hanya ada saung-saung pinggir pantai bukan penginapan seperti Satonda. Rasanya tetap sama, berasa pulau hanya milik kami ber7..heheh..Karena ada saung yang cukup besar dan bisa dijadikan dua ruangan, tenda pun tetap tergulung rapih. Dua ruangan itu bagian dalam untuk perempuan dan bagian luar untuk laki-laki.

10386783_738213806200253_4179354044888089330_n

Kenawa, nun jauh di sana Rinjai. dok. Jati

Setelah pagi saya baru tahu penampakan Kenawa aslinya. Pulau kecil dengan bukit kecil di bagian ujung, selebihnya hampatan savana yang mulai mengering. Pantainya berpasir putih, airnya biru jernih,lumayan buat sekedar renang. Kalo yang mau snorkeling juga bisa, sekitar 5-10 meter dari tepi pantai  airnya lebih dalam dan karangnya lebih bagus, setidaknya masih hiduplah.

10304705_10202241889225047_8004943671719244445_n

Berenang-renang sebelum nyebrang ke Lombok. dok. Mak Geboy

Beberapa bulan lalu saya kembali ke Kenawa, keadaannya sudah jauh berbeda. Sekarang saung yang kami tinggali dijadikan warung,beberapa saung lain juga, dan sudah ada penerangan berupa genset. Sedang dibangun dermaga baru untuk perahu-perahu yang merapat ke sana. Saya sih berharap banget semoga toiletnya diperbaiki juga..heheh.. Udah sih gitu aja..gak ada drama gak ada sandiwara..lebih tenang dan datar kali ini.

IMG_0170_2

Dari kiri ke kanan, toilet, saung tempat kami menginap, semacam tempat makan. Foto ini diambil bulan September lalu.


4 Komentar

Mendaki Prau 2.565 mdpl (Part #2)

Sudah pukul 10 lebih dan rombongan Jakarta belum datang juga, dan tidak ada gerombolan tas besar lain di terminal ini selain kami. Dilanda bosan, ngantuk, dan lapar lagi..lagi..lagi. Setelah obrolan panjang kami memutuskan untuk pergi ke Dieng terlebih dahulu tanpa menunggu rombongan dari Jakarta. Oh ya ada satu orang lagi bergabung, dia dari Yogya menggunakan sepeda motor.

DSC_7543

Dari terminal Wonosobo menuju Dieng :
1. Pakai angkutan umum warna kuning, turun di terminal lama : ongkos Rp3.000/orang karena kami membawa carier
2. Bus kecil menuju Dieng, turun di Gardu Tieng karena ada perbaikan jembatan selama 2 bulan : ongkos Rp6.000/orang
3. Dari Gardu Tieng lanjut dengan bus serupa menuju Patak Banteng, posko pendakian Prau : ongkos Rp5.000/orang

Sampai di Patak Banten, rombongan Jakarta masih belum sampai Wonosobo. Kami menunggu sambil isirahat di posko pendakian Gn. Prau. Samping posko ada ibu-ibu yang sedang membuat manisan carica, buah khas Dieng, sejenis pepaya namun kecil, kami ditawari tempat untuk wudhu dan sholat, karena di posko airnya rusak. Sudah mendekati ashar rombongan Jakarta belum juga datang, karena bosan menunggu badha ashar akhirnya kami memutuskan mendaki duluan.

Pendakian melalui jalur Patak Banten diawali dengan tangga yang cukup panjang dan melelahkan, kemudian ladang petani, selanjutnya bebatuan. Naik terus tidak ada bonus dataran landai. Sekitar pukul 17.00 kabut mulai turun dan semakin tebal menjelang maghrib. Kesalahan besar yang saya lakukan adalah TIDAK BAWA SENTER. -__-“
Tadinya mau bawa senter, tapi karena dijadwal pendakian akan dilakukan siang hari jadi aku simpan lagi. “Lebih baik menyesal bawa senter gak dipakai, dari pada nyesel gak bawa senter.” Petuah Bang Sayf, aah bener banget bang, maaf yee jadi ngerepotin.

Sampai puncak sudah gelap, karena dinginnya kabut dan angin yang cukup kencang kami memutuskan mendirikan tenda dulu dan membuat air panas sambil menunggu rombongan Jakarta. Sambil nunggu kami isi dengan obrolan dan candaan ringan, hening sejenak sambil menikmati indahnya gugusan bintang, kemudian memotret malam. Tidak lama kemudian rombongan Jakarta datang, dan ternyata kami melewati tugu puncaknya, jadi lah harus kembali ke tempat yang tadi dilalui untuk bergabung dengan rombongan lain. Malam makin larut, tapi perkemahan makin ramai. Saya dan beberapa teman sempat berburu foto bintang hingga jam 12 malam, sampai kabut benar-benar menutup langit.

DSC_7623_2

Pagi menjelang dan saatnya berburu sunrise!
Di puncak sudah berjejer orang-orang yang siap berburu foto dengan kamera kerennya, tapi sayang..udah lama nunggu matahari masih malu-malu, jadi 4 puncak gunung tidak terlihat jelas, hanya 2 puncak yang bisa di capture dengan cukup baik.

Puncak Sindoro

Tapi lagi, setelah terang bunga-bunga dan bukit telletubies terpampang nyata di depan mata. Haaa..Subhanallah..Indah, beneran seperti negeri di atas awan.

DSC_7718_2

Selesai acara foto-foto, dilanjut makan-makan, lalu games dan tukar kado. Setelah itu pulang lewat jalur Dieng, tepatnya SMPN 2 Kejajar, Dieng, ternyata jalur disini lebih enak dari pada jalur pergi yang sangat terjal. Sebelum bubar kami berkumpul di penginapan Bu Jono yang terkenal itu, sekitar pukul 14.00 rombongan Jakarta langsung pulang, dan kami dari Bandung sempat berkunjung ke Candi Arjuna, tadinya mau lanjut ke Talaga Warna tapi waktunya mepet.

Sekitar pukul 16.00 kami kembali ke Wonosobo, beli tiket pulang, bersih-bersih, makan, beli oleh-oleh, sholat maghrib-isya, dan akhirnya pulang kembali ke Bandung. Bye Dieng, saya pasti kembali. 🙂

Thanks to temen-temen P24, terutama tim pertama 😀
Kang Jaka, Tiara, Bang Sayf, Kang Windi, Bang Chandra, Aa Doni, Icha, Dimas dan Dea.

Selamat Ulang Tahun ke 2 untuk P24, moga makin Jaya! ^o^/

====

“Walaupun seribu kali kamu naik gunung tertinggi, jika hanya raganya saja yang naik, percuma. Seharusnya ketika kalian naik gunung, bertambah pula keimanan pada Sang Pencipta.” – Quote dari Bapak di PO Sinar Jaya –

*jleb
Foto lain di sini