Bukan Traveler

Traveling sometime, Backpacker often.


1 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (4)

Day 3 Menikmati Afrika Van Java

Mobil jeep yang kami tumpangi jadi lebih luas karena Rahmi dan Hilman gak ada. Perjalanan ini jadi seperti kembali ke awal, cuma ber4 dan mulai gila lagi..hahah.. Salah satu dari kami mungkin dehidrasi. Saat bapak sopir menunjukan salah satu batu bersejarah di tengah jalan “itu batu dodol” katanya, di belakang malah nyahut “batu jodoh?” eaaah..dodooool :v

20150531_110516Perjalanan dari stasiun menuju pos pendaftaran Baluran sekitar 30 menit saja, dekat ternyata. Tapi itu baru nyampe pos pendaftaran ya. Untuk menuju Savana Bekolnya sekitar 45 menit dari situ, kalo pakai mobil. Kalo jalan? Hitung sendiri 😀

Kanan kiri jalan menuju Savana Bekol merupakan hutan semak yang cukup rimbun. Sesekali terdengar suara ayam hutan, sesekali ada juga penampakan. Penampakan ayam hutan maksudnya 😀

Sampai di Savana Bekol kami benar-benar terpukau.. Welcome to Afrika Van Java. Aaah..makin menjadi deh kami. No more speak lah, selamat menikmati foto-fotonya 😉

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oh ya tadi pagi kami bungkus nasi + ayam untuk makan siang, dan tak lupa 2 bungkus rujak cemplung buat dimakan pas panas-panas gini di bawah pohon rindang. Biar apa? Biar segeeeer.. Siang itu kami pun makan rujak ditemani musik Banyuwangian dari mp3 bapak sopir..”la..la..la..wong edan..la..la..la..” hahah..asli kata-kata yang terekam diingatan cuma itu doang..

Karena panas banget aktivitas memotret di savanpun kami hentikan sejenak, beranjak ke tower pengintai #halah dari tower ini kita bisa melihat savana yang terhampar luas, sampai pantai Bama di ujung sana. Abis itu kembali turun dan menuju masjid, sholat Dzuhur-Asar dan istirahat sejenak. Di kawasan ini udah mulai banyak monyet, jadi hati-hati ya bawaannya.

Selepas sholat lanjut ke pantai Bama dulu, monyet makin banyak boo.. Awalnya kami mau coba snorkeling, tapi karena lautnya lagi surut gak jadi deh. Emmh..agak curiga sih pas lihat harganya yang murmer cuma 45rb aja, eh nanya tempatnya dimana, kata mas-masnya di tepian pantai aja. Yah..pantaslah.. gak perlu sewa perahu.

Saya dan satu teman malas berbasah-basah gak jelas..heheh..jadi diam saja di tepian pantai sambil ngobrol. Lainnya jalan hingga ke tengah sambil mencoba peruntungan ketemu ikan badut. 😀

Tak terasa udah sore aja, kami baru ingat nasi bungkus tadi pagi belum di makan. Heuu..pantes lapar. Awalnya mau makan di tepi pantai tapi monyet-monyet gak sopan itu malah mendekat, kabur deh. Mending makan di mobil aja. Diantara makanan sebelumnya, ini jauh lebih baik menurut kami. Nasi dan ayam saja sangat cukup. Alhamdulillah..

Hari makin sore tapi matahari masih terik aja, selesai makan siang kesorean kami kembali ke Savana Bekol, foto-foto lagi sampai mau gelap. Oh ya bagi yang tripnya agak nyantei di sini juga ada penginapan dan menyediakan safari malam. Ya kali mau ketemu macan.. 😀

Jelang maghrib kami kembali ke Banyuwangi, menyusuri jalanan rimbun tadi dan..lagi-lagi tak sadaran diri. Sungguh ya kamu sudah menahan supaya gak merem mengingat waktu asar hingga maghrib itu gak baik untuk tidur, tetep aja blass. Sadar-sadar sudah depan batu dodol.

Kejadian Tak Terduga..Sungguh

Sekali lagi ini karena niatnya backpackeran dan demi hemat tingkat menyebalkan, kami pun memilih tidur di masjid saja, tidak sewa penginapan. Inilah salah satu alasan kenapa saya tidak mau ajak orang lebih banyak apalagi akhwat, khawatir gak biasa tidur dimana aja. Berbekal baca-baca blog orang yang katanya ada masjid depan pelabuhan yang bisa kami singgahi untuk tidur jadi kami pun menuju ke sana.

Sampai masjid kami bersih-bersih dan sholat, setelah itu meminta izin pada pengurus masjid bahwa kami akan beristirahat di sini malam ini. “Iya silahkan, di sana ya” kata bapak penjaga sambil menunjukan tempat parkir motor yang sudah dialasi karpet. “Kalau yang akhwatnya sebelah mana, pak,” pertanyaan standar sih menurut kami mengingat ini masjid dan pasti ada hijab antara akhwat dan ikhwan. “Ya di sana,” kata bapaknya sambil tetap menunjuk tempat parkir itu. “Gak ada hijab pak?” tanya saya. Bapaknya tampak tidak faham apa yang saya bilang, mungkin karena suara saya kurang keras. “Hijab pak, pemisah. Masa gabung sama ikhwannya,” lanjut saya. “Oh ya ndak, itu kan karpetnya beda.” Haiiiishh..-__-“

Ini benar-benar di luar dugaan kami, salah saya sih gak baca tulisan di blog dengan seksama. Tapi kami tetap usaha agar akhwatnya diizinkan istirahat di teras masjid. Beneran kami hanya berharap di teras saja gak lebih. Bukan mau manja-manja, toh saya juga pernah tidur di terminal Surabaya tapi ya gak barengan sama temen-temen yang ikhwan juga. Karena ini masjid, ekspektasi kami agak berlebihan mungkin karena kami terbiasa mabit di masjid jadi agak shock ketika diminta tidur di parkiran tanpa hijab.

Kami tetap usaha, melobi ketua DKMnya. Ya siapa tahu kami bertiga diizinkan diam di teras, gak tiduran kok duduk aja. Saat itu bapak ketua DKM sedang mengaji, kami tunggu sambil makan nasi bungkus tadi pagi yang masih tersisa..hahaha. Makan sambil kejarkejaran sama tilawah bapak ketua gak enak sodara. Pas bapak ketua berhenti kami juga berhenti ngunyah, yang sudah ngangkat sendok di freez gak masuk ke mulut. Bapak ketua lanjutin tilawah kami pun lanjut makan. Astagfirullah.. >,<  Selesai tilawah kami selesai juga makan, lalu mengejar si bapak yang keluar dari masjid. Lobi-lobi hanya boleh sampai jam 9 diem di teras. Lah.. heuuu..

DSC_1275Sesaat kami berfikir cari penginapan saja kalau begitu, tapi ini sudah jam 10 malem. Ya sudah lah ke Indomart saja dulu berbincang sambil ngecas hp. Pikiran paling liar adalah “Kita nyebrang aja ke Bali, nanti subuh balik lagi,” kata Ajeng.. “Kamu aja olangan (sendiri)..hahaha..” dijawab rame-rame.

Sekitar 11 malem kami kembali ke masjid dengan harapan sang penjaga tak ada. Hihihi..benar saja, saat itu penjaganya lagi ga ada. Aza langsung tiduran di lapak yang disediakan di parkiran, di sana ada bapak-bapak lain yang juga tiduran. Kami ber tiga ke teras masjid samping kiri, tempat sholat akhwat, kemudian mengaji. Aman hingga 10 menitan, setelah itu petugas datang dan bilang “Ke bawah mbak, sekarang.” Eh kami lagi ngaji loh bukan tidur, kan tempat yang disediakan di bawah buat tidur. Tapi malas berdebat akhirnya kami ke bawah, mojok bertiga di samping jejeran motor, lanjutkan mengaji.

Kami berempat faham, mungkin dulu pernah ada kejadian tidak mengenakan di masjid ini karena mengizinkan orang tidur. Atau ini salah satu cara menjaga masjid tetap bersih, hanya untuk sholat dan gak sembarang orang seenaknya tiduran di sini. Ya tiap DKM punya kebijakan sendiri lah ya. Tapi sejujurnya, kami tetap sedih banget terusir dari tempat yang kami rasa paling aman, kami cintai dan sangat kami harapkan. Terlebih hanya kami yang diminta ktp, lainnya ngga.. >,<  Alhamdulillah hari itu gak banyak bapak-bapak di sana, dan kami bisa bergeser ke tempat yang paling pojok banget.

Walau berusaha sekuat apapun, badan kami memang sudah harus diistirahatkan, lepas pukul 12 malam kami bertiga akhirnya tumbang. Tapi hanya 1-2 jam saja terlelap, semua bangun pas pukul 3. Bersihbersih, wudhu kemudian ke masjid, sholat 11 rakaat dan mengadu. Mengadu sejadijadinya sampai subuh. Pagipun menyapa..saatnya bergegas ke stasiun, lupakan soal mandi pagi, toh kemarin sudah mandi. 😀

Teman saya ambil ktp ke petugas, pas dia mau kasih infaq, tetiba sang petugas bilang “lima ribu per orang, mbak.” “Padahal aku mau ngasih lebih..tapi jadi males kalau udah dipatok gitu, buat yang lain aja lah..” kata teman saya. Ini pelajaran buat saya, kalau ada orang yang mau ngasih gak usah nyebutin nominal, ya kali aja dikasihnya lebih dari yang kita harapkan..hahah..

Oh ya kesimpulannya buat yang perempuan lebih nyaman mending cari penginapan aja ya..

OK lupakan soal kejadian semalam..saatnya kami beranjak menuju stasiun Banyuwangi Baru menuju JOGJAAAA..

Bye Banyuwangi..Bye Ijen..Bye Baluran..

Bye Bali..ada yang sedih gak bisa ke Bali padahal tinggal nyebrang 6rb aja :v

Ini itin berjalanan kami seharian di Banyuwangi.

21.00 – 21.30 Baru nyampe banyuwangi
21.40 – 22.10 Makan malam
22.10 – 23.30 Bersih-bersih dan istirahat
23.30 – 00.30 Perjalanan menuju paltuding
01.30 – 02.00 Persiapan pendakian
02.00 – 04.00 Pendakian gunung Ijen
04.00 – 04.30 Blue Fire Expedition + Sholat Subuh
04.30 – 05.15 Sunrise from the top
05.15 – 07.00 Turun Gunung
07.00 – 08.00 Perjalanan menuju Banyuwangi
08.00 – 09.00 Kuliner
09.00 – 11.00 Perjalanan menuju Baluran
11.00 – 11.30 Pos Batangan Baluran-Bekol
11.30 – 17.30 ISHOMA – Explore savanna bekol dan pantai Bama

Iklan


2 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (3)

Day 3 – Ijen Bersama Bonus-bonusnya

Tepat pukul 00 kami siap berangkat menuju Ijen. Baru saja masuk mobil hujan sudah turun cukup deras, “Semoga di atas gak hujan, yaah,” kata teman. Dan kami mengamini. Entah lah gimana perjalanannya yang saya tahu setelah obrolan itu semua gelap. :v

Dini hari kami baru sampai pos pendaftaran Ijen, sesuai prediksi, karena ini malam minggu jadi objek wisata satu ini penuh pengunjung. Tapi tidak sesuai harapan, hujan masih saja setia menemani sampai pos ini. Daaaan..(agak dudul sih), biasanya ke gunung mana pun saya selalu mempersiapkan jas hujan dan senter, kali ini blank blass hanya bawa jaket aja.

Ada yang jual jas hujan sih, tapi ogah aja gitu jas hujan 5rb dijual 15rb di sana..hahah..maaf ya hemat kami sudah tingkat menyebalkan memang. Syukurlah tak berapa lama dari itu hujan pun reda, kabut sesekali turun tapi masih bisa ditahan oleh jaket waterproof ini #tsaah Senter juga dikasih pinjem sama pak Imik..bwahah..

Sayangnya yang naik ke atas hanya ber 5, satunya memilih tidur di mobil karena udah pernah ke sini bareng saya dulu. Selepas hujan jalanan jadi tidak terlalu berdebu, cukup mengasikan untuk dipijak dan bersahabat dengan hidung..hahah..percayalah.

Saya sengaja jalan santei saja, toh tidak mengejar api biru lagi, udah puas turun ke sana dua tahun lalu. Sambil ngobrol sana sini, sesekali mendongakan kepala ke atas berharap langit terang malam ini. Dan..yatta..kabut yang tebal itu terbawa angin entah kemana, memperlihatkan langit yang penuh dengan bintang. Bahkan beberapa kali kami melihat bintang jatuh. Apa? Make a wish? Ngga laaah.. :p

Saya kan udah gak punya kamera gede ya, kamera kecil juga gak punya sih..hahah..untungnya ada pinjaman jadi cuba-cuba deh pake mode manualnya buat motret langit. Hasilnya lumayan juga, berasa motret ketombe :v Itu bonus pertama yang saya dapat dari perjalanan ini, ketombe? Hahah..bintang laah 20150531_032411_2 Karena jalan super nyantei, kami baru sampai di puncak sekitar pukul 4. Api biru biasanya udah agak redup jam-jam segini, tapi ternyata masih ada dan satu teman saya masih semangat ngejar si api biru itu sampe ke bawah. Kami hanya menunggu di atas saja. Selain udah pernah, saya sebenarnya ogah berbau-bau belerang yang baru hilang setelah satu minggu itu, apalagi cuma bekal 1 baju bersih 😀

Jam 4 lebih kami sholat subuh berjamaah bareng mas-mas dari kampung Inggris, Pare. Saya tahu dari mbak Ilah yang saya ajak kenalan sebelum sholat 😀 Awalnya saya fikir mereka dari tOekangfoto yang memang kesana juga hari itu. Ternyata bukan..hehe..pakaian tidak selalu jadi identitas ya..

Selesai sholat ya makan..hahah…udara dingin bikin lapar datang lebih awal, sodara. Mau motret juga masih gelap ya udah lah ngobrol aja sambil ngemil roti. Baru sekitar pukul 5.30 langit agak terang, berlanjut dengan foto-foto kawah yang cantik, Alhamdulillah meskipun ga lama tapi dapet lah pemandangan indahnya. Kemudian langit kembali mendung..heu

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak mau kena hujan kami pun segera turun, emm..Rahmi dan Hilman sih udah duluan kami aja bertiga yang baru beranjak setelah jam 6 pagi 😀 20150531_062837 Turunan pertama dari puncak Ijen memang landai, dan tidak terlalu membutuhkan lutut ekstra. Tapi setelahnya lumayan laah. Berharap gak ke hujanan di jalan kami turun dengan tergesa tapi masih mikir. Kalo baca postingan Day 1 pasti tahu film pertama yang kami tonton, dan tahu kah sodara? Itu berpengaruh pada cara kami turun. Hahah..ngebut sambil mengukur kemungkinan jika lewat kanan seperti apa, kiri gimana, dan jika lewat tengah apa yang akan terjadi. Percaya atau gak, tanpa komando kami melakukan itu. Hmm..pengaruh film terhadap kehidupan kami ternyata cukup cepat. 😀 20150531_064657 Sampai di belokan yang ada warung atau Pondok Bunder, hujan turun dengan derasnya, terpaksa kami berteduh tak bisa melanjutkan perjalanan. Sampai kira-kira pukul 7 barulah reda, guess what? Baru beberapa langkah meninggalkan warung, ada penampakan pelangi setengah lingkaran tepat depan kami. Masya Allah..setelah diguyur pengabulan doa sekarang dapat bonus pelangi. Sempurna! Terutama untuk foto :v 20150531_071656_2 Pelangi memudar langkah kami pun makin kencang, ya seperti awal tadi. Susah ngerem. Bahaya sebenarnya kalo gak biasa, tapi gak ada pilihan demi lutut yang jika dibawa perlahan sakit. Sampai pos pendaftaran sekitar jam 7.30, gak mau pake lama kami segera beranjak turun. Ntah perasaan saya saja atau emang jalan sekarang banyak perubahan dari sebelumnya, jalannya mulus banget dan beberapa motor metik sempat berpapasan dengan kami.

Sebenarnya kata pak sopir bahaya kalo motor metik lewat sini, apalagi malam. Selain jalanan licin dan berkelok ada goa macan juga. Euh..seram tapi ada yang lebih horor, pas kami lewat pos katanya sering ditemukan ada hantu di sana..hahah.. Tau deh, yang pasti setelah itu penglihatan saya kembali gelap tak sadarkan diri.Tetiba sudah ada depan warung nasi..hihihi..katanya di sini jual makanan khas Banyuwangi, semua menu ada kata rujaknya. Tapi kami gak tau penampakannya seperti apa, yang pasti saya pesan rujak cemplung, ada yang pesan rujak soto, dan juga nasi pecel.

Sebelum makanan sampai di meja, saya izin ke kamar mandi dulu, saat kembali makanan sudah tersedia di meja. Saya pun mencari pesanan saya, lalu satu teman yang pesanannya sama menyodorkan rujak, asli rujak. Kalau di Bandung namanya rujak cuka. Terbengong-bengong lah saya, “Za aku pesan rujak cemplung,” kata saya. “Iya, ini rujak cemplung, teh,” jawabnya sambil makan rujak dengan lahap. Bwahahah..omigod saya sarapan rujak cuka pedas.

Tak kalah shock dengan saya, teman yang sedari tadi tidur baru sadar setelah cuci muka kalo dia pesan rujak soto. “Ini apa? Aku gak pesan ini,” katanya. “Itu rujak soto, jeng” seru tema sebelah saya. Bwahahah..dia cuma terbengong-bengong dengan penampakannya, sesaat kemudian baru makan dengan hati-hati. Saya ikut coba rujak soto itu, rasanya seperti soto daging sih, tapi diatasnya seperti ada pecelnya, trus dibagian paling bawah ada lontongnya, saat di aduk ada daging jeroan. Rujak Soto Sudah lah pesanan kami ini gak ada yang beres menurut saya, ya karena kami gak tahu penampakannya hanya ada tulisan saja di daftar menu. Dan tidak ada yang inisiatif bertanya..haha. Paling std sih pesanan Maya dan pak sopir. Nasi pecel. Jreng..dateng lah tuh nasi pecel, tapi kok ada yang ganjil ya. Itu nasi pecel atau gudeg ya? Eh atau nasi campur? Asli pecelnya dikit banget, sebelahnya ada sayur nangka, dan ada ayam serundengnya. Beneran awalnya kami mengira itu ayam, “yah tertolong sama ayamnya lah,”kata Maya. Setelah dikoyakkoyak barulah terungkap bahwa itu hanyalah seonggok serundeng. Pagi-pagi udah dapet zonk :v

Tapi tetep aja abis, secara lapaaar. Ah tapi kami disodorin makanan apapun pasti abis sih..hahah..mau penampakannya seperti apapun selama itu halal dan gak basi, hajar aja. Selesai makan perjalanan kami lanjut ke stasiun, karena Rahmi dan Hilman tidak ikut kami ke Baluran jadi kami berpisah di sini. Selanjutnya ber4 lagi deh..

20150531_101042*Dari kiri ke kanan Aza, Maya, saya, Ajeng, Rahmi, Hilman

Seruseruan di Baluran di lanjut ntar ya..capek :v