Budget Traveler


7 Komentar

Hiking Ceria ke Manglayang #1

Setelah sebulan puasa, dan liburan lebaran gak kemana-mana selain silaturahim ke sodara, rasanya pengen olah raga lagi *baca naik gunung*. Jadilah awal bulan Agustus saya merencanakan hiking ceria ke gunung depan rumah, Manglayang. Niatnya olah raga sambil berburu sunrise juga, sayang cuaca bagus klo gak dimanfaatkan.

Saya ajaklah teman-teman yang sekiranya mau ikut hiking, dapet 2 orang, 1 orang teman membawa temannya lagi, dan temannya ditemani bapaknya..halah.. total jadi 5 orang. Dibuatlah rencana, karena ingin berburu sunrise tanpa ngecamp maka kami harus pergi sebelum subuh, dan karena sebelum subuh gak ada ojek jadi temannya teman saya mau membawa mobil. Sekitar jam 3 janjian depan jalan, lalu kami berangkat menuju Kiarapayung (kirpay), gerbang menuju Manglayang, jika lewat jalur bBaru beureum. Semua berjalan lancar hingga sampai di depan gerbang Kirpay.

Waktu itu sudah menunjukkan pukul 3.30 wib, dan gerbang Kirpay masih ditutup, kami coba cari ada penjaga tidak, dan ternyata tidak ada. Lalu saya hubungi teman yang tau jalan lain selain melalui gerbang, katanya masuk ke jalan setelah gerbang Kirpay. Jika mobil yang kami kendarai adalah mobil sejuta umat mungkin masih bisa kami melalui jalur terjal itu, sayangnya ini adalah mobil manja khusus tengah kota. Jalan jeleknya sih dikit, kesananya jelek banget :))

Akhirnya kami kembali ke bawah, dari obrolan saat itu, kami akan sholat dulu di masjid terdekat, kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek, sedangkan mobil disimpan di Unpad. #okesip. Saya sepakat dengan hal itu. “Sudahlah sunrise kapan-kapan saja yang penting bisa hiking ceria lagi ke Manglayang,” pikir saya waktu itu.

Selesai sholat saya sudah siap-siap untuk naik, tapi pas masuk mobil, teman saya bilang “Nin, katanya gak jadi aja naiknya.” WHAT??  Karena yang lanjut hanya saya dan satu teman, so kami minta diturunkan dekat komplek masuk rumah, kemudian tetap melanjutkan hiking ke Manglayang melalui jalur Batu Kuda.

CAM02006

Hutan pinus Manglayang

Jujur, ini pertama kali saya lewat jalur Batu Kuda, gak kebayang gimana jalurnya. Mana kami hanya berdua lagi, berharap di sana lagi banyak yang jalan juga. Setelah melewati hutan pinus, ada tanda kiri menuju batu kuda, lurus menuju puncak. Karena niat kami memang ke puncak jadi kami ambil jalan lurus itu.

Lama kami berjalan cuma berdua aja, gak ada yang naik atau pun yang turun. Setelah dilihat-lihat jalurnya kok tertutup dedaunan banyak, tapi gak ada jalan lain lagi. Seperti biasa, klo udah kayak gini langsung nyari jejak sepatu, lama-lama kok ada jejak anjing juga. Mulai deh gak beres, “kayaknya ini jalur pemburu deh,” dan kami akhirnya memutuskan kembali ke papan petunjuk tadi. Dalam perjalan kembali ke petunjuk tadi kami bertemu 2 orang bapak dan seekor anjing. Ah benar saja dugaan saya, ini bukan jalur pendaki.

CAM02009

Sunrise yang gagal kami buru..heuheu

Sampai di batu kuda, kami putuskan untuk istirah sejenak, barangkali sarapan bisa menjernihkan pikiran. 😀 Selepas sarapan barulah kami lanjutkan perjalanan, berbekal petunjuk singkat dari bapak tadi, dan jalan setapak di kiri kawasan batu kuda. Beberapa meter dari sana kami melihat ada beberpa orang yang sedang berbincang-bincang, kayaknya sih perempuan. “Ah itu yang mau mendaki juga kali, neng?” seru saya pada teman saya. Kami bergegas mencari sumber suara yang ternyata adalah ibu-ibu pemetik kopi. Oh baiklaaah, setidaknya beneran suara orang 😀

Sekali lagi kami bertanya jalur pendakian dan ibu-ibu tersebut bilang “oh atuh kedah ka palih ditu” translet = oh harus kesana *sambil nunjuk ke jalan di bawah. Tapi ibu satunya bilang, “lewat sini juga bisa sih, tapi harus hati-hati, cari aja jalan yang gak terlalu banyak semak-semaknya, nanti ketemu jalur pendakian,” langsung ditranslet aja lah yaa..panjang..ahahha. OKSIP! kami ikuti saran ibu tadi, lanjut terus nanjak terabas kebon kopi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Gak sampai setengah jam kami sudah sampai di jalur yang benar, jalur pendakian. Jalannya cukup enak, gak seperti jalur Barubeureum yang nanjak terus 45 derajat tanpa bonus. Jalur pendakian di sini cukup lebar, tidak terlalu nanjak, banyak pohon dan semak kanan-kirinya, jadi teduh. Banyak view bagus juga, sambil rehat sejenak bisa lihat Bandung timur dari atas. Sebelum sampai puncak ada banyak batuan besar yang bisa dijadiin tempat foto-foto. Waktu tempuh dari terobos semak-semak sampai puncak juga gak terlalu jauh, sekitar 1 jam aja.

Sampai di puncak saya langsung menyelamati Neneng, “Selamat ya Neng, akhirnya kita sampai juga di puncak Manglayang, walaupun banyak drama sebelum jalan.” Kemudian foto-foto. 😀

Perjalanan pulang kami putuskan untuk lewat Barubeureum, biar cepet. Tanya jalan sama pendaki lain ditunjukanlah yang katanya jalur Barubeureum. “Jangan belok kanan ya, kekiri aja terus,” saran diterima kami ambil jalur kiri terus hingga turun, dan asli gak nemu jalur yang kami maksud, yaitu jalur puncak satu dan turunan terjal Barubeureum. Sepanjang jalan hanya kami berdua, tidak ada orang lain turun melalui jalan itu. Udah gitu jalurnya turunan licin, lebar sih, teduh sih, tapi itu turunan yang kalo lari serem, tapi jalan biasa juga pegel, jadi yang paling aman adalah perosotan.

“Jalur macam apa ini??” protes saya, sambil berharap ada orang lain atau setidaknya ada tanda puncak satu. Tapi tak ada siapa pun. Sampai di bawah barulah saya sadar, ini jalur Barubereum punggungan lain yang sepertinya udah jarang dilalui orang. Ah..untuk kedua kalinya, “Selamat ya, akhirnya bisa muncak dan turun lewat jalur yang baru dikenal dan penuh drama..haha..”

Tapi tetep minggu depan (09/08)  harus balik lagi berburu sunrise yang bener. 😀

 

 

 

 

 

 

Iklan


12 Komentar

Jayagiri – Tangkuban Parahu

Beberapa bulan lalu, karena pengen hemat tapi mau tetep jalan-jalan ke gunung saya dan beberapa kawan hiking ke Jayagiri – Tangkuban Parahu. Lokasinya yang cukup dekat dengan trek yang lumayan enak ternyata bikin ketagihan. Dua akhir pekan berturut-turut saya jalan ke sana, bahkan sampai sekarang juga masih pengen jalan ke sana. Buat yang mau hiking tapi hemat dan gak jauh, pilihan ini bisa dicoba.

Perjalanan pertama bareng temen sekelompok pakai motor sampai parkiran Jayagiri, lokasinya itu sebelum pasar lembang jalan masuk ke Taman Junghuhn. Dari sana jalan menanjak sekitar 2 kilo, jalurnya beraspal udah enak klo pakai kendaraan bermotor atau sepedah, klo buat jalan ya lumayan laah.. 😀

Sebelum masuk hutan Jayagiri kita bisa mampir dulu ke Taman Junghunh, taman ini sengaja dibuat untuk mengenang seorang ilmuwan, doktor, botanikus, geolog, dan ahli bumi berkebangsaan Belanda,Franz Wilhelm Junghuhn. Gak teralulu besar, seperti taman rumahan malah, tempatnya agak masuk kedalam, bahkan klo saya gak lihat plang gak akan tahu dimana letak Taman Junghunh itu.

Setelah puas foto-foto di Taman Junghunh kita bisa lanjut jalan masuk hutan Jayagiri, biaya masuknya 5rb aja. Trek pertama yang dilalui agak landai kemudian sedikit menanjak, tapi gak ektrem banget. Sepanjang jalan dikelilingi hutan pinus, jadi adem. Sesekali turun kabut, karena musimnya belum kemarau. Dari Jayagiri ini banyak jalan tembus, bahkan ada yang langsung menuju ke puncak atau kawah ratu, hanya saja tidak disarankan, jalurnya agak ekstrem katanya,belum pernah coba juga sih..hahah.

Setelah melewati hutan pinus yang rapat, kita akan bertemu persimpangan di sana ada warung, jalannya agak becek dan jelek karena biasa digunakan oleh motor. Olah raga yang aneh menurut saya, masuk hutan pakai motor, ngerusak jalur, dan mencemari udara yang bersih itu. Maaf ya bagi yang suka motoran ektrem ke gunung, saya sih gak suka. -__-

Di warung ini kita bisa istirahat dulu, makan gorengan dan minum teh manis hangat cukup membuat energi yang sempat terkuras di perjalanan awal tadi kembali. Jajan disini gak perlu ngeluarin banyak uang, hemat banget deh pokoknya, yang gak bawa bekal makan siang pun bisa dibungkus.

Lanjut perjalanan menembus jalur yang becek cukup tebal, oh ya klo mau agak hening tanpa gangguan motor-motor itu kita bisa pergi lebih pagi, soalnya makin siang makin rame. Selepas jalur becek itu kita akan ketemu satu warung lagi, di sini ada tanah yang cukup lapang, biasa digunakan kemcer, view-nya juga cukup indah. Klo ada yang mau ngajak kemcer disini hayuu..lokasinya lumayan deket air dan deket warung, cuma bukan alfamart..hahah..

Sampai warung tadi kita udah 3/4 perjalanan. Selanjutnya ada jalur yang tidak kalah beceknya bahkan berlumpur sangat, karena jalur motor tadi, parah banget pokoknya. Lewat sungai kecil juga, biasanya klo lagi beruntung kita bakal ketemu sekawanan kuda yang sengaja dibiarkan oleh pemiliknya. Klo dilihat-lihat jadi berasa sekawanan kuda liar gitu. 😀

Jalur lumpur gak terlalu panjang, setelah itu ketemu jalur batu yang landai menuju parkiran bawah Tangkuban Parahu. Nah dari sini tinggal pilih, mau lanjut ke Tangkuban Parahu dengan tiket masuk 17rb sampai atas bisa pakai angkot gratisan atau cukup sampai parkiran lanjut pulang lewat jalur tadi atau jalur masuk resmi Tangkuban Parahu.

Ok sekian cerita hiking ceria ke Tanguban Parahu, semoga bisa jadi referensi liburan murmer buat yang ada di Bandung dan sekitarnya. Selamat liburan! ^o^/

 

*foto menyusul 😀

 


21 Komentar

Geotrek ke Pasir Pawon dan Goa Pawon

IMG_7858_2*View dari Pasir Pawon, Gede – Pangrango dari kejauhan

29 Desember lalu saya diminta teman untuk memotret kegiatan holliday camp anak-anak SD dan SMP dari Komunitas Pelangi Bunda. Awalnya saya tidak tahu lokasi motretnya dimana, teman saya cuma bilang “Kamu bagian motret acara anak-anak, ke Goa Pawon.” OK berangkat!

Minggu pagi sudah siap-siap janjian dengan rombongan di dekat rumah, kebetulan mereka ngecamp di daerah Manglayang, jadi walaupun saya gak ikut ngecamp bareng, gak harus subuh-subuh keluar rumah 😀 Bus jemputan datang setelah 30 menit saya menunggu, pas masuk ke dalam bus langsung disambut dengan celoteh khas anak-anak abg yang rame banget. Saya suka, mereka tuh aktif dan gak jaim-jaim, mereka juga gak malu-malu tanya tentang materi foto yang hari sebelumnya disampaikan teman saya. Seru pokoknya. 😀

IMG_7727_2*Pak Budi sedang memberikan pengarahan

Sampai di Citatah mereka mendapatkan pengarahan dari ibu pendampingnya, kemudian acara selanjutnya dipandu oleh Pak Budi Brahmantyo, penulis buku Wisata Bumi Cekungan Bandung. Wisata kali ini bukan sekedar wisata ternyatah, tapi acara geotrek. Geotrek adalah bentuk kegiatan jalan-jalan sambil memperkenalkan sudut pandang geologi. Lokasi geotrek ini adalah Pasir Pawon dan Goa Pawon.

IMG_7745_2*Menuju Stone Garden

Trek pertama yang dilalui cukup mudah, jalannya gak terlalu nanjak, masuk semak-semak dikit, dan jalurnya terbuka. Jalan 15 menit aja udah nyampe ke lokasi pertama yang dituju, yaitu Stone Garden, kenapa namanya gitu? Karena sejauh mata memandang banyak sekali batuan yang tersebar acak tapi apik di sana. Eits..tapi bukan sembarang batuan, batu-batu yang tersebar disini merupakan batuan koral, ini salah satu bukti bahwa wilayah Citatah dulunya adalah lautan, klo Pak Budi bilang ini dulu seperti Great Barrier Reef-nya finding nemo, anehnya walaupun jenis batuannya merupakan batuan laut tapi belum satupun fosil ikan ditemukan disini. hmm..

IMG_7842_2*Jenis batuannya sama persis seperti batuan koral

Dari Pasir Pawon ini juga kita bisa melihat gunung Masigit, gunung yang sekarang penampakannya sudah menyedihkan, keropeng karena pengerukan pasir dan batuan gamping besar-besaran untuk kebutuhan pembuatan cat dan marmer. Dampak dari pengerukan tersebut adalah hilangnya sumber mata air di walayah ini, padahal dulunya ada banyak sumber mata air kars, air yang lebih segar dari air kemasan. Hal menyedihkan lainnya adalah penambang atau pekerja disana dibayar rendah tanpa jaminan keselamatan. 😦 Selain Gunung Masigit yang sudah hampir habis, jauh di ujung sana tampak gagah Gunung Gede – Pangrango – Putri..ah tampak kontras dengan pemandangan didekat kami.

IMG_7776_2*Gunung Masigit sebelah kanan, setengahnya habis dikeruk. Asap hitam itu berasal dari pembakaran batuan gamping 😦

Beberapa meter dari sana ada batuan yang membentuk gerbang, ada yang bilang itu gerbang menuju dunia lain..heuheuheu.. Ada juga batu mesra, bentuknya seperti dua orang yang saling bersandar sambil menikmati pemandangan di depannya. *gak difoto -__-

IMG_7840*Menuju gerbang

Puas berkeliling dan dengar cerita Pak Budi tentang sejarah batuan itu, kami semua diajak menuruni Bukit atau Pasir Pawon menuju Goa Pawon. Turunannya lumayan curam dan bikin heboh anak-anak, mungkin karena tidak terbiasa. Tapi walaupun mereka heboh dengan celotehannya, tidak ada yang mengeluh. Mereka tetap menikmati liburannya. Salah satu celotehan yang bikin saya ketawa adalah “Ih kakak fotografer ini ya, udah pake rok tapi kok dia jalannya bisa cepet, gak capek apa ya?” ahahah..menurutloh? :p

IMG_7905_2*Trek menuju Goa Pawon yang agak curam

Sampai bawah disambut makan siang, hmm..nasi liwet, ikan asin, tahu, tempe, ayam, lalaban, dan sambal, tidak lupa kerupuk..sedaaap. Saking nikmatnya makan saat lapar dan capek, anak-anak pada nambah. Saya? Ngga aah malu =))

Beres makan kami mulai lagi perjalanan menuju Goa Pawon, letaknya cuma sekitar 200 meter dari tempat kami makan tadi. Nah disini baru anak-anak agak rewel, soalnya goanya bau. Di Goa Pawon ini masih banyak kelelawar jadi memang bau kotoran kelelawarnya sangat menyengat, itulah sebab kami diberi masker sebelum masuk. *tentu oleh panitia

IMG_7934_2*Menuju pintu goa

Pak Budi menjelaskan dengan detail tentang goa ini, seperti biasa anak-anak pun menyimak dengan seksama. Jadi Goa Pawon ini tempat yang dijadikan rumah oleh manusia purba yang sudah agak modern. Disini ditemukan artefak dan alat-alat tulang lainnya, yang diduga merupakan peralatan berburu dan memasak. Selain itu pada tahun 2005 ditemukan juga rangka utuh homo sampiens. Diduga usianya sudah mencapai 500-1500 tahun, ras mongoloid dan berjenis kelamin wanita. Pak Budi bilang usianya sekitar 15 tahun saat tertimbun, ntah karena gempa bumi atau yang lainnya.

IMG_7951_2*Replika kerangka manusia purba, yang aslinya disimpan di Museum Geologi Bandung

Selesai mengelilingi goa ritual wajib berikutnya adalah berfoto bersama, sayangnya karena kali ini sedang bertugas jadi tidak ada satu pun foto saya di sini. Ah..gak bisa narsis walau dikit. 😦

Selepas dzuhur kami beranjak pulang, sebagian besar kembali ke Jakarta dan sekitarnya di jemput oleh keluarga masing-masing. Saya sendiri ikut bus tadi sampai Bandung. Liburan kali ini cukup menyenangkan, walaupun sebenarnya ini bukan liburan saya 😀


9 Komentar

Bandung Hari Ini

Buat temen-temen yang tinggal di Bandung, ngerasa gak sih klo tadi pagi dingin banget?

Aku sih ngerasa banget, secara jam 5 subuh sudah ada tugas antaran, pas keluar rumah wuiiih, gelaap. Bukan kerena mati lampu, tapi kabut tebal. Awalnya aku pikir cuman di daerah rumahku aja, karena masih deket gunung dan banyak sawah, eh ternyata nyampe kantor pun masih ada tuh kabut, meskipun gak setebal tadi.

Mungkin ini effek hujan yang selalu turun hampir setiap siang dan sore di Kota Bandung. Saking dinginnya temen aku sampai bilang “Bandung beberapa hari ini seperti Bandung tahun 70an.”

Hayaah..sotoy..secara dia baru lahir tahun 80an..hahhah..yang bener Bandung sangat-sangat nyaman klo udaranya seperti ini, meskipun buatku seperti apapun Bandung tetep nyaman sih 😀

Oh ya, karena penasaran sama suhu kota tercinta ini, aku ngintip web bmkg deh, katanya suhu Bandung hari ini :

Hujan Sedang
Suhu : 21 – 29 °C
Kelembaban : 60 – 97 %

Huummm..hujan lagi katanya..
Believe or not, at least kita jadi ingat “sedia payung sebelum hujan.” 😀
#107| Bandung Tempo Doeloe


11 Komentar

Photowalk with Mafioso and Friends

Tahun 2010 akhir, waktu aku lagi giat-giatnya belajar dan cari teman fotografer, bertemulah dengan beberapa orang yang aktif di Fotografer.Net atau biasa disingkat FN. Awalnya komen-komen aja di foto masing-masing, trus ada yang berinisiatif untuk membuat komunitas, terutama yang domisilinya di Bandung. Diundanglah aku lewat inbox untuk *istilah mereka* hunting foto bareng.

Hunting foto atau aku lebih suka menyebutnya photowalk, pertama kami di CFD. Waktu itu hanya beberapa orang saja yang hadir, berbeda dengan bdgflckr, mereka memang lebih “serius”. 😀

Gambar*dokumentasi Salman, ke tiga dari kanan.

Seiring berjalannya waktu, semakin exis komunitas ini semakin banyak juga anggotanya, dan bukan hanya fotografer, tapi juga model. Beberapa kali aku ikut pertemuan, tapi karena bentrok dengan kegiatan lain, jadi banyaknya tidak ikut. Setelah lama tidak bertemu dan juga tidak bertegur sapa di FB, hari Minggu lalu aku bertemu dengan mereka, para mafioso (sebutan untuk anggota komunitas), tapi yang dikenal hanya beberapa.

Minggu lalu ada acara motret bareng komunitas fotografi di Bandung dan sekitarnya, salah satunya MAFIA. Nama kegiatannya BBM Street 2, Barudak Bandung Motret Street 2, ya semacam photowalk yang biasa dilakukan bdgflckr, bedanya ini lebih banyak dan “serius”. Aku pertama kali tahu acara ini dari salah satu anggota bdgflckr yang aktif di FN juga, awalnya masih mikir-mikir karena biasanya suka pada bawa model. Beberapa hari kemudian ada undangan lengkap dari mafioso, dan di sana tidak ada tulisan model, selamaat. 😀

Hari Minggu itu auranya bener-bener beda, aura serius..hahah..dateng-dateng pada keluarin senjata, dan lensa paralon tentunya. pemandangan yang belum aku liat kecuali satu kali di KMB. 😀

Satu, dua, tiga..byaaar lebih dari 100 orang dateng di sana, jalan dari Gedung POS Indonesia, Asia Afrika, muter ke Pasar Baru, Banceuy,  terakhir kumpul di PLN. Bertemu beberapa mafioso yang dikenal dan belum aku kenal, hanya tahu dari kaos yang mereka pakai, aku sendiri tidak mengenakan kaos itu, aku malah pakai kaos bdgflckr (dasar)..hahaha..

Aku janjian bareng Liony, teman yang baru gabung dengan bdgflckr dan kami baru bertemu hari itu, lalu di sana berkenalan dengan Billan, siswa SMP Pasundan 1. Hanya mereka saja teman ngobrol sepanjang jalan. Selebihnya hanya sapaan sambil lalu saja.

Gambar*dokumentasi Taryadi (Mafioso), aku dan Liony

Singkat cerita kami muter-muter, motret-motret, aku dan Liony menyasarkan diri ke Stasiun dan Braga, Billan ntah kemana..xixixi..Akhir kegiatan kami berkumpul di samping gedung PLN dan memotret pertunjukan pantomim.

Dari kegiatan setengah hari itu, banyak hal yang aku pelajari dari orang-orang yang aku temui ini, walaupun secara tidak langsung, dari mulai sikap kebersamaannya, attitude, bahasa, gaya motret, sampai tatapan mata mereka yang seperti lensa kamera..aiih lebay..hahaha..Selain jalan-jalan juga ada penjelasan tentang street photography, lensa, angel, dan lain-lain, yang jadi materi di akhir acara..*tapi kenapa ya, kok sampai sekarang aku gak ingat apa aja yang diomongin bapak-bapak itu :)) #tidak konsentrasi

Cukup menyenangkan bisa berada di antara orang-orang yang sehobi dan baru ketemu. Tapi satu hal yang dari dulu bikin males gabung dengan acara semacam ini, selain “hunting model”nya, asap rokok sangat-sangat menggangu. Dari pagi sebelum pergi, di jalan sambil motret, dan mendenarkan materi di akhir, ngepul gak berhenti-berhenti. Untunglah ada Liony, yang sama-sama tidak suka asap rokok, jadi ada teman menyingkir dari gerombolan dan melarikan diri dari kepulan racun. Gak apa-apa deh gak dapet hadiah doorprice dan foto bareng di akhir juga, yang penting paru-paru terselamatkan. 😀

Setelah foto-foto, bubar jalaaaan deeh…

Gambar*dokumentasi Billan foto bersama sebelum photowalk

.:. Hasil jepretanku ada di sini


9 Komentar

Gowes Part 2 (to Warban)

Hari Minggu lalu aku dan duo teman petualang kembali menjajaki jalanan Braga-Merdeka-Dago menggunakan sepeda.Tapi kali ini tidak hanya sampai CFD saja, kami melanjutkan gowes menuju terminal Dago (awalnya), sampai terminal saling lirik-lirikan nih, kode-kode lanjut ke warung bandrek (Warban).

Apa itu Warban?? Warban adalah lokasi favorite para biker di Bandung, atau pecinta sepeda terutama para pengguna MTB, letaknya sekitar 7 km di utara Simpang Dago Bandung. So bisa dibayangkan dong jalannya kayak gimana 😀 nanjaaaak teruuus, ada turunan dan datar sih, tapi dikit bangets. Karena itu kami tidak selalu menggowes sepeda tapi lebih sering TTB a.k.a TunTun Bike :))

Gambar

Gak tau kebetulan atau memang biasanya seperti itu, sepanjang jalan hanya beberapa saja perempuan yang kami temui bersepeda di jalur itu, malah semakin ke atas semakin tidak ada. Hampir semuanya laki-laki..heuheuheu..tiap bertemu biker bapak-bapak mereka selalu meneriaki..”Semangat neng!”..”Semangat, mbak, tinggal 2 tanjakan lagi!”..dan teriakan-teriakan senada…hayaaah..capek pak!

Gambar

Setelah perjuangan yang cukup melelahkan akhirnya kami sampai juga di warban, tapi kami tidak pesan bandrek yang terkenal enak itu, boro-boro mau minum yang panas-panas gitu, kami butuh penyegaaaar..hahah..sepotong semangka merah dan pisang, serta sebotol pocari sweat *eh merk* cukup mengembalikan energi yang terkuras habis..

Gambar

Nah sekarang tinggal pulang..*mikir lagi* 😀
Jalannya itu loh..turun teruuuuuuss..kaki emang gak gowes tapi tangan terus-terusan tarik rem, jangan pernah dilepas, sekalinya lepas dah kayak terjun bebas..walau begitu Alhamdulillah kami selamat sampai bawah..huff..sekarang masih menikmati pegal-pegal hasil penasaran gowes ke warban. 😀

Gambar