The 'Rok' Mountaineer


5 Komentar

Mendaki Gn. Lawu Tanpa Persiapan

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, seringnya saya ke Jogja salah satunya adalah ingin mendaki Merapi, tapi tak kunjung terlaksana. Hari itu juga demikian, “Merapi batuk lagi,” kata teman saya yang mau ditebengi. Alhasil rencana nebeng rombongan teman ke Merapi pun dibatalkan, untuk menggantinya saya coba hubungi rombongan yang akan ke Sumbing, tapi karena jadwalnya yang kurang pas saya pun tidak jadi ikut ke Sumbing.

Rencana mendaki gunung batal semua, tapi tiket kereta sudah dibeli mau gak mau saya berangkat juga ke Jogja bareng Ajeng. Karena gak ada niatan naik gunung, persiapan saya pun tidak semaksimal biasanya. Saat itu yang saya pikirkan hanya membawa SB kalaukalau kami harus menginap di luar rumah, meskipun kemungkinan besar tidak akan terjadi karena Ajeng punya kolega di Jogja. Hehe..

Kamis pagi ada acara di kantor jadi barang bawaan masih saya tinggal di rumah, tapi sudah packing seadanya sebelum berangkat. Karena waktu pulang mepet sama jadwal kereta akhirnya saya tidak sempat pulang lagi ke rumah, packing baju tetap seadanya ditambah beberapa barang yang saya titip ke kakak untuk dimasukan ke ransel, kemudian dikirim oleh tukang ojek langganan.

Agak tergesa seperti biasanya tapi berhasil! Kurang beberapa menit saja kami pasti terlambat.

Meskipun saya dan Ajeng sudah pasrah gak mendaki gunung, tapi tetep saja galau dan tetep usaha menyamakan waktu bareng teman-teman yang ke Sumbing, yang ujung-ujungnya tetep gak bisa. Hahaha..tetep

Dipikirpikir kalo tiga hari kami habiskan hanya berkeliling Jogja, sungguh membosankan. Malam itu saya coba hubungi teman blog, dulu sempat saling berkomen untuk naik gunung bareng. Saya kirim pesan lewat komen di blog dan twitter yang berlanjut ke sms, akhirnya kami sepakat untuk sama-sama mendaki Gn. Lawu melalui jalur Cemoro Sewu. Karena belum pernah bertemu jadi anggaplah ini sebagai kopdar pertama kami. Agak gegabah, tapi saya punya keyakinan kuat dia orang baik. Semoga. 😀

Hari pertama di Jogja kami habiskan dengan jalan-jalan kota, baru keesokan harinya sesuai jadwal free teman blog saya itu maka kami berangkan ke Solo untuk mendaki Lawu. Sabtu siang kami bertemu di stasiun Lempuyangan. Awalnya saya pikir dia asli Jogja, ternyata orang Garut. Ah -__-“

IMG_1889

@stasiun Solo Balapan

Perjalanan menuju Magetan diiringi hujan deras, sempat terpikir untuk membatalkan pendakian, tapi teman baru saya itu bilang “Biasanya di atas malah gak hujan”. Baiklah untuk saat itu saya mengiyakan, tapi jika sampai ke pos pendakian tetap hujan berarti mestikung (semesta menikung). Ternyata sampai pos pendakian hujan sudah reda. Kami istirahat sejenak di sana, makan (lebih tepatnya dikasih makan :D), repacking, dan sholat maghrib.

Pendakian kami mulai selepas maghrib, sebenarnya saya menghindari pendakian malam, tapi banyak sekali yang mendaki malam itu. Toh kalo gak malam ini kapan lagi? Jalurnya agak basah setelah diguyur hujan siang hingga sore tadi. Dari basecamp hingga Pos 1 jalannya masih bersahabat, cukup landai. Normalnya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Pos 1 ini. Dari Pos 1 ke Pos 2 jaraknya ternyata cukup panjang, memakan waktu hampir 3 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata keong perjam..heheh..

IMG_1892.JPG

Cuma bisa lihat bulan.

Jalur menuju Pos 2 ini mulai tak berbonus dan bebatuan, lumayan lah bikin pegel. Terlebih saya tidak pakai sepatu atau sanda yang seharusnya. Ya tak seharusnya karena packingan seadanya itu saya lupa memasukan sepatu maupun sandal gunung ke daftar bawaan, alhasil cuma pakai sandal yang saya bawa ke kantor. Heuu..

Di Pos 2 ini ada shelter yang bisa dijadikan tempat istrirahat, awalnya kami mau ngecamp di sini saja terlebih melihat kondisi Ajeng yang sudah capek berat. Tapi shelter penuh dan tidak memungkinkan mendirikan tenda di sana. Teman baru saya meyakinkan kami kalo Pos 3 sudah dekat dan kami buka tenda di sana saja. Perjalanan pun kami lanjutkan ke Pos 3, tapi yaa..ternyata lumayan juga, waktu normal saja butuh 60 menit untuk sampai ke sana, dengan kondisi kami yang banyak berhenti sepertinya sampai 2 jam baru buka tenda di Pos 3.

Sudah larut tidak ada foto-foto apapun, tidak ada kegiatan lain selain makan malam (lagi), kami pastikan alarm berbunyi jam 3 nanti, kemudian tidur lelap.

====

Dan kemudian kami terbangun..”Yaah..jam 4!” seru teman baru saya. “Yah…udah, sholat subuh aja,” kata saya nyantai. Karena sejak awal pendakian ini diniatkan santai, jadi kami tidak merasa gusar gak dapet sunrise di puncak. Toh nyampe puncak juga untung-untungan, di timeline saya pokoknya sebelum dzuhur kita harus udah turun. Bukan apa-apa, biar pas sama jadwal kereta pulang aja.

Abis sholat, ngopi-ngopi, sarapan, baru lah beranjak jalan sekitar jam 5 pagi. Santai banget, bener-bener jadi penikmat jalur. Oh ya dari Pos 3 menuju Pos 4 bisa ditempuh dengan waktu 60-90 menit, tapi bergantung kecepatan masing-masing juga.

IMG_1897

Pemandangan selama perjalanan ke Pos 4

Jam 6.30 kami sudah sampai di Pos 4, menimang-nimang mau lanjut atau tidak. Setelah sekian lama berfikir sambil selfie..*bisa ya..hahha..akhirnya kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan hingga puncak. Iya sih tinggal dikit lagi, iya sih cuma satu pos lagi, tapi terlalu beresiko ketinggalan kereta.

Mungkin sekitar jam 7.30, kami mulai menyusuri jalur batuan tadi menuju Pos 3 tempat kami ngecamp. Sampe Pos 3 repacking, kemudian turun. Karena kemarin naik dalam keadaan gelap saya hampir tak mengenali jalan yang kami lalui, Alhamdulillah jalurnya jelas dan gak banyak, bahkan hampir gak ada persimpangan. Karena terang benderang, jalur batuan yang dilalui berasa banget ke kaki, terlebih saya ga pakai sepatu atau sandal yang memadai. Heuu..salah sendiri sih.

Jam 11 sampai juga kami di basecamp, istirahat sejenak, bersih-bersih, trus nunggu angkot dan makan baso pinggir jalan sambil elus-elus kaki. Ah..bersyukur banget liburan kali itu bisa main ke gunung meskipun bener-bener tanpa persiapan yang matang, Alhamdulillah selama perjalanan kami baik-baik saja, sampai rumah dengan selamat. Semoga kelak bisa main ke sana lagi dan lihat sunrise dari puncak. Eh..ke Merapi aja deh..


3 Komentar

Dari Satonda Ke Kenawa

Setelah semalaman bergelap gelapan di tepi pantai Satonda (lanjutan Hotel Berjuta Bintang, Satonda), pagi itu kami ingin menikmati sunrise yang indah. Sayangnya penampakan sunrise berada di belahan Satonda yang lain.

Kesibukan pagi hari hampir sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja kami tidak kedinginan seperti di gunung. Sarapan dan mencari spot bagus untuk foto.

Di Satonda ini ada danau air asin yang konon katanya asinnya lebih asin dari air lautnya sendiri. Nah, danau itu akan terlihat indah klo dilihat dari atas bukit yang mengelilinginya.

IMG_3194

Danau Satonda dok. Ilham

Para tuan sudah lari duluan sebelum matahari naik, sedang kami gak akan menyianyiakan sarapan demi mengejar foto. Tetep ya, makan itu nomor 1..Setelah cukup sarapan kami berempat mencoba menaiki bukit itu. Tapi sepertinya keputusan sarapan dulu juga kurang tepat hari itu, kekenyangan jadi alasan untuk gak lanjut naik sampai puncak, alasan lain kapal sudah merapat siap menjemput.

CAM01630

Danau Satonda. dok. siriusbintang

Akhirnya foto-foto di tepi danau pun sudah memuaskan kami, setelah itu repacking dan kembali ke Calabai.

Depan Satonda

Foto wajib sebelum beranjak ke tempat lain.

Sampai Calabai menjelang siang, kami langsung memburu bis menuju Sumbawa. Perjalanan seperti semula dengan bis bermuatan segala. Sampai di persimpangan Dompu, Bima, dan arah menuju Sumbawa satu teman turun dan melanjutkan petualangannya di NTT. Sampai Sumbawa dua orang lainnya juga pulang lebih dulu karena tiket pesawat mereka berbeda dengan kami. Sedangkan kami ber7 turun di Poto Tano dan melanjutkan liburan ke pulau kosong tak bertuan, Kenawa.

Sunrise

Kondisinya hampir sama dengan Satonda, kosong. Bedanya di sini hanya ada saung-saung pinggir pantai bukan penginapan seperti Satonda. Rasanya tetap sama, berasa pulau hanya milik kami ber7..heheh..Karena ada saung yang cukup besar dan bisa dijadikan dua ruangan, tenda pun tetap tergulung rapih. Dua ruangan itu bagian dalam untuk perempuan dan bagian luar untuk laki-laki.

10386783_738213806200253_4179354044888089330_n

Kenawa, nun jauh di sana Rinjai. dok. Jati

Setelah pagi saya baru tahu penampakan Kenawa aslinya. Pulau kecil dengan bukit kecil di bagian ujung, selebihnya hampatan savana yang mulai mengering. Pantainya berpasir putih, airnya biru jernih,lumayan buat sekedar renang. Kalo yang mau snorkeling juga bisa, sekitar 5-10 meter dari tepi pantai  airnya lebih dalam dan karangnya lebih bagus, setidaknya masih hiduplah.

10304705_10202241889225047_8004943671719244445_n

Berenang-renang sebelum nyebrang ke Lombok. dok. Mak Geboy

Beberapa bulan lalu saya kembali ke Kenawa, keadaannya sudah jauh berbeda. Sekarang saung yang kami tinggali dijadikan warung,beberapa saung lain juga, dan sudah ada penerangan berupa genset. Sedang dibangun dermaga baru untuk perahu-perahu yang merapat ke sana. Saya sih berharap banget semoga toiletnya diperbaiki juga..heheh.. Udah sih gitu aja..gak ada drama gak ada sandiwara..lebih tenang dan datar kali ini.

IMG_0170_2

Dari kiri ke kanan, toilet, saung tempat kami menginap, semacam tempat makan. Foto ini diambil bulan September lalu.


1 Komentar

Selalu Ada Alasan untuk Jogja

JogjaBagi sebagian besar orang mungkin Jogja adalah kota yang tenang, menenangkan, dan ngangenin. Jujur buat saya pribadi gak begitu, terlebih pengalaman kedua jalan-jalan di Jogja tidak terlalu menyenangkan. Tapi walau demikian ntah kenapa lima tahun terakhir ini ada saja alasan untuk saya berkunjung ke Jogja.

Pertama kali menginjakan kaki di Jogja tahun 2011, ini sebenarnya bukan hal yang direncanakan, hanya pelarian dari bosan jalan-jalan di Semarang. Dari sana berlanjut hingga tahun 2015 ini, bahkan dalam setahun ada beberapa kali ke Jogja. Lalu apa sih alasannya masih aja suka main ke Jogja?

SATU. Walaupun ga dikangenin Jogja itu bisa jadi alternatif main yang murah. Untuk urusan transport dan akomodasi bisa disiasati. Tiket kereta ekonomi masih terjangkau untuk dompet saya yang banyakan diisi kertas transferan..haha.. Untuk penginapan saya biasanya mengandalkan teman yang rumahnya di sana, Alhamdulillah ya. Makan nasi kucing pun jadi, kalo urusan oleh-oleh orang tua saya udah bosen keseringan makan bakpia jadi mending gak usah beli.

DUA. Ada satu tempat yang pengen banget dikunjungi dan sampai sekarang belum terlaksana. Merapi. Bukan tempat wisatanya, kalo kesana sih pernah. Dari tahun 2013 saya punya keinginan untuk mendaki Merapi tapi selalu aja ada alasan gak bisa kesana. “Tapi kan bisa diprediksi kalo gunungnya lagi baik-baik saja baru berangkan ke Jogja.” Kalo –kalo ada yang berkomentar gitu, jawabnya Gak Ngaruh! Beberapa kali rencana jauh-jauh hari, eh mendekati hari H Merapinya di tutup. Bahkan sedang dalam kondisi aman pun, pas kami udah sampai di Jogja ntu Merapi bisa batuk tiba-tiba. Heuuu..sempat terfikir jangan-jangan kami yang bikin batuk. Tapi sampai sekarang jadinya gak ngebet banget pengen ke Merapi, sedikasih izinnya aja sama yang punya Merapi, Allah swt.

IMG_9922Merapi dari Merbabu *sengaja yang fokus BG-nya 😀

TIGA. Banyak tempat wisata yang bisa diexplore di Jogja. Karena seringnya Sabtu-Minggu aja kesana, jadi gak semua tempat bisa diubek dalam 1-2 hari, akhirnya suka bikin rencana A. Merapi, dan rencana B. Tempat lain yang belum dikunjungi di Jogja. Tetep ya walaupun gak ngebet.

EMPAT. Tempat singggah sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lainnya. Iya, ini juga alasan seringnya ke Jogja. Mau liputan di Solo, ngeliput dulu di Jogja..hahah..kerjaan itu mah. Ngabisin bonus karyawan sekantor ajakin ke Jogja :v, mau ke Malang biar murah bisa berangkat dari Jogja (kalo ini pinter-inter nyari tiket promo), mau ke Banyuwangi singgah dulu untuk sekedar sholat dan makan di Jogja.

Yah gitu deh..sampai tahun ini aja gagal ke tempat yang jauh di ujung sana, plan B-nya explore Jogja. Hikmah saking seringnya ke Jogja, saya jadi punya stok foto yang lumayan banyak dan bisa dimanfaatkan. Setidaknya dari foto-foto itu cukuplah buat beli tiket untuk main-main di Jogja lagi..hehe..satu lagi yang lumayan bikin happy, bisa jadi kontributor foto untuk buku panduan wisata di Jogja.

OK Jogja, see you next time ya.. :p


2 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (3)

Day 3 – Ijen Bersama Bonus-bonusnya

Tepat pukul 00 kami siap berangkat menuju Ijen. Baru saja masuk mobil hujan sudah turun cukup deras, “Semoga di atas gak hujan, yaah,” kata teman. Dan kami mengamini. Entah lah gimana perjalanannya yang saya tahu setelah obrolan itu semua gelap. :v

Dini hari kami baru sampai pos pendaftaran Ijen, sesuai prediksi, karena ini malam minggu jadi objek wisata satu ini penuh pengunjung. Tapi tidak sesuai harapan, hujan masih saja setia menemani sampai pos ini. Daaaan..(agak dudul sih), biasanya ke gunung mana pun saya selalu mempersiapkan jas hujan dan senter, kali ini blank blass hanya bawa jaket aja.

Ada yang jual jas hujan sih, tapi ogah aja gitu jas hujan 5rb dijual 15rb di sana..hahah..maaf ya hemat kami sudah tingkat menyebalkan memang. Syukurlah tak berapa lama dari itu hujan pun reda, kabut sesekali turun tapi masih bisa ditahan oleh jaket waterproof ini #tsaah Senter juga dikasih pinjem sama pak Imik..bwahah..

Sayangnya yang naik ke atas hanya ber 5, satunya memilih tidur di mobil karena udah pernah ke sini bareng saya dulu. Selepas hujan jalanan jadi tidak terlalu berdebu, cukup mengasikan untuk dipijak dan bersahabat dengan hidung..hahah..percayalah.

Saya sengaja jalan santei saja, toh tidak mengejar api biru lagi, udah puas turun ke sana dua tahun lalu. Sambil ngobrol sana sini, sesekali mendongakan kepala ke atas berharap langit terang malam ini. Dan..yatta..kabut yang tebal itu terbawa angin entah kemana, memperlihatkan langit yang penuh dengan bintang. Bahkan beberapa kali kami melihat bintang jatuh. Apa? Make a wish? Ngga laaah.. :p

Saya kan udah gak punya kamera gede ya, kamera kecil juga gak punya sih..hahah..untungnya ada pinjaman jadi cuba-cuba deh pake mode manualnya buat motret langit. Hasilnya lumayan juga, berasa motret ketombe :v Itu bonus pertama yang saya dapat dari perjalanan ini, ketombe? Hahah..bintang laah 20150531_032411_2 Karena jalan super nyantei, kami baru sampai di puncak sekitar pukul 4. Api biru biasanya udah agak redup jam-jam segini, tapi ternyata masih ada dan satu teman saya masih semangat ngejar si api biru itu sampe ke bawah. Kami hanya menunggu di atas saja. Selain udah pernah, saya sebenarnya ogah berbau-bau belerang yang baru hilang setelah satu minggu itu, apalagi cuma bekal 1 baju bersih 😀

Jam 4 lebih kami sholat subuh berjamaah bareng mas-mas dari kampung Inggris, Pare. Saya tahu dari mbak Ilah yang saya ajak kenalan sebelum sholat 😀 Awalnya saya fikir mereka dari tOekangfoto yang memang kesana juga hari itu. Ternyata bukan..hehe..pakaian tidak selalu jadi identitas ya..

Selesai sholat ya makan..hahah…udara dingin bikin lapar datang lebih awal, sodara. Mau motret juga masih gelap ya udah lah ngobrol aja sambil ngemil roti. Baru sekitar pukul 5.30 langit agak terang, berlanjut dengan foto-foto kawah yang cantik, Alhamdulillah meskipun ga lama tapi dapet lah pemandangan indahnya. Kemudian langit kembali mendung..heu

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak mau kena hujan kami pun segera turun, emm..Rahmi dan Hilman sih udah duluan kami aja bertiga yang baru beranjak setelah jam 6 pagi 😀 20150531_062837 Turunan pertama dari puncak Ijen memang landai, dan tidak terlalu membutuhkan lutut ekstra. Tapi setelahnya lumayan laah. Berharap gak ke hujanan di jalan kami turun dengan tergesa tapi masih mikir. Kalo baca postingan Day 1 pasti tahu film pertama yang kami tonton, dan tahu kah sodara? Itu berpengaruh pada cara kami turun. Hahah..ngebut sambil mengukur kemungkinan jika lewat kanan seperti apa, kiri gimana, dan jika lewat tengah apa yang akan terjadi. Percaya atau gak, tanpa komando kami melakukan itu. Hmm..pengaruh film terhadap kehidupan kami ternyata cukup cepat. 😀 20150531_064657 Sampai di belokan yang ada warung atau Pondok Bunder, hujan turun dengan derasnya, terpaksa kami berteduh tak bisa melanjutkan perjalanan. Sampai kira-kira pukul 7 barulah reda, guess what? Baru beberapa langkah meninggalkan warung, ada penampakan pelangi setengah lingkaran tepat depan kami. Masya Allah..setelah diguyur pengabulan doa sekarang dapat bonus pelangi. Sempurna! Terutama untuk foto :v 20150531_071656_2 Pelangi memudar langkah kami pun makin kencang, ya seperti awal tadi. Susah ngerem. Bahaya sebenarnya kalo gak biasa, tapi gak ada pilihan demi lutut yang jika dibawa perlahan sakit. Sampai pos pendaftaran sekitar jam 7.30, gak mau pake lama kami segera beranjak turun. Ntah perasaan saya saja atau emang jalan sekarang banyak perubahan dari sebelumnya, jalannya mulus banget dan beberapa motor metik sempat berpapasan dengan kami.

Sebenarnya kata pak sopir bahaya kalo motor metik lewat sini, apalagi malam. Selain jalanan licin dan berkelok ada goa macan juga. Euh..seram tapi ada yang lebih horor, pas kami lewat pos katanya sering ditemukan ada hantu di sana..hahah.. Tau deh, yang pasti setelah itu penglihatan saya kembali gelap tak sadarkan diri.Tetiba sudah ada depan warung nasi..hihihi..katanya di sini jual makanan khas Banyuwangi, semua menu ada kata rujaknya. Tapi kami gak tau penampakannya seperti apa, yang pasti saya pesan rujak cemplung, ada yang pesan rujak soto, dan juga nasi pecel.

Sebelum makanan sampai di meja, saya izin ke kamar mandi dulu, saat kembali makanan sudah tersedia di meja. Saya pun mencari pesanan saya, lalu satu teman yang pesanannya sama menyodorkan rujak, asli rujak. Kalau di Bandung namanya rujak cuka. Terbengong-bengong lah saya, “Za aku pesan rujak cemplung,” kata saya. “Iya, ini rujak cemplung, teh,” jawabnya sambil makan rujak dengan lahap. Bwahahah..omigod saya sarapan rujak cuka pedas.

Tak kalah shock dengan saya, teman yang sedari tadi tidur baru sadar setelah cuci muka kalo dia pesan rujak soto. “Ini apa? Aku gak pesan ini,” katanya. “Itu rujak soto, jeng” seru tema sebelah saya. Bwahahah..dia cuma terbengong-bengong dengan penampakannya, sesaat kemudian baru makan dengan hati-hati. Saya ikut coba rujak soto itu, rasanya seperti soto daging sih, tapi diatasnya seperti ada pecelnya, trus dibagian paling bawah ada lontongnya, saat di aduk ada daging jeroan. Rujak Soto Sudah lah pesanan kami ini gak ada yang beres menurut saya, ya karena kami gak tahu penampakannya hanya ada tulisan saja di daftar menu. Dan tidak ada yang inisiatif bertanya..haha. Paling std sih pesanan Maya dan pak sopir. Nasi pecel. Jreng..dateng lah tuh nasi pecel, tapi kok ada yang ganjil ya. Itu nasi pecel atau gudeg ya? Eh atau nasi campur? Asli pecelnya dikit banget, sebelahnya ada sayur nangka, dan ada ayam serundengnya. Beneran awalnya kami mengira itu ayam, “yah tertolong sama ayamnya lah,”kata Maya. Setelah dikoyakkoyak barulah terungkap bahwa itu hanyalah seonggok serundeng. Pagi-pagi udah dapet zonk :v

Tapi tetep aja abis, secara lapaaar. Ah tapi kami disodorin makanan apapun pasti abis sih..hahah..mau penampakannya seperti apapun selama itu halal dan gak basi, hajar aja. Selesai makan perjalanan kami lanjut ke stasiun, karena Rahmi dan Hilman tidak ikut kami ke Baluran jadi kami berpisah di sini. Selanjutnya ber4 lagi deh..

20150531_101042*Dari kiri ke kanan Aza, Maya, saya, Ajeng, Rahmi, Hilman

Seruseruan di Baluran di lanjut ntar ya..capek :v


5 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (2)

Day 2 – 14 Jam 99 Stasiun

Detik berjalan..

Hari dimulai..

Pukul 07.15 Kereta ekonomi Sri Tanjung yang kami tumpangi melaju menuju Banyuwangi. Kami berempat ada di gerbong 2, dengan kursi yang saling berhadapan. Cukup nyaman karena jarak antar kursinya agak jauh, jadi lutut bisa leluasa lah. Terlebih ada ikhwan satu nih.

Lihat jadwal di tiket, perjalanan kami ini akan memakan waktu 14 jam melalui 99 stasiun, dan itu waktu yang terlalu lama jika dihabiskan dengan tidur, makan dan melamun. Syukurlah ada salah satu teman yang bawa keril isi leptop, setidaknya perjalanan tidak akan terlalu boring. Ya walaupun agenda tidur itu sebenarnya sudah ada dalam list kami. 😀

Pura-pura serius nontonBioskop mulai dibuka sejak kami duduk tenang setelah cekikikan mengingat soto burung. Film pertama yang kami tonton adalah Premium Rush, buat yang udah pernah nonton tau lah ya aksi sepedahannya gimana. Karena yang nonton 4 orang gak mungkin dong pakai headset, dan kami semua ditakdirkan menjadi orang yang paling suka nonton film dengan suara lantang. Alhasil satu gerbong berasa bioskop, tertolong suara kereta jika sedang melaju, kalau berhenti ya volume kami kecilin dikit..dikiiiit banget :v

Yang bikin berisik bukan cuma suara filmnya sih, tapi jiwa komentator dan tawa kami. Terlebih otak dagang mulai merasuki. “Gimana kalau kita bikin iklan aja, di kursi ini dibuka bioskop. Satu orang bayar 5000, lumayan buat makan,” seru kami saling menimpali.

Dari satu film berlanjut ke film lain, kehebohan masih saja sama bahkan lebih parah karena film yang ditonton lebih lucu dari sebelumnya. Sungguh mohon maaf dari hati yang terdalam bagi penumpang yang terganggu. hihihih..

Keseruan kami  juga akhirnya terganggu oleh suara perut yang protes ditahan sama chocoroll kartikasari yang ga jadi buat oleholeh. Lafaaar sodara-sodara, berharap berhenti sejenak di stasiun Madiun dan ada penjual nasi pecel, tapi aah..cuma harapan. Derita kelafaran bertambah dengan ac kereta yang tetiba mati. Jadi lafaaar dan fanaaas.

Sebenarnya penjual nasi goreng beberapa kali lalulalang dekat kami, tapi kami tahan karena nasi seuprit yang rasanya std, dan ntah digoreng kapan itu harganya gak masuk akal dompet kami yang tipis. -__-

20150530_112645

Di daerah antah berantah kereta sempat berhenti cukup lama, menunggu kereta lain dari arah berlawanan. Salah satu cara mengalihkan perhatian adalah dengan foto-foto, kebenaran juga pemandangannya bagus dan yang pasti bisa menghirup udara segaar.

20150530_113031

Tapi setelah itu perut kami benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Kami putuskan kali ini harus beli makan, tapi penjual nasi itu tak kunjung datang. Haa..berasa jatuh cinta ala abg, didatengin cuek, dijauhin nyari. *gyak

Saya dan satu teman memutuskan untuk pergi ke restorasi, cari makanan dan ngasih tahu petugas kalau ac mati. Yang kedua sotoy sih, petugas juga udah tahu kelees :p

Sampai restorasi..hmmm..nasi habis, tinggal yang sudah digoreng saja. heuheuheu..gak tega sebenernya. Minuman dingin juga gak dingin lagi karena listrinya mati. Lengkap sudah. Ya dari pada kami kembali dengan tangan kosong akhirnya beli saja nasi goreng itu. Berapa banyak? 2 saja cukup. cukup sedih maksudnya. Dua bungkus dimakan oleh kami berempat..co cuiit lah pokoknya. Yang penting perut berhenti teriak dulu yes :v

Hingga pukul 14 lebih kereta berhenti di salah satu stasiun untuk perbaikan ac. Aaah..lega karena bisa keluar oven. Bayangin aja gak ada ac, semua jendela tertutup rapat, pintu gak boleh terbuka, gerbong penuh manusia yang saling berebut oksigen, dan sebagian diantaranya belum mandi dari hari Jumat.. #ehh

Senang deh rasanya bisa menapakan kaki di stasiun setelah kepanasan dalam gerbong. Terlebih kata salah satu petugas berhentinya akan lama, sekitar 30 menit. Semua turun dengan harapan yang sama, toilet bersih, air wudhu melimpah, dan sholat di mushola.

Dua teman ke toilet, satu cari makan yang agak bener, saya sendiri duduk manis di tempat tunggu memegangi hp mereka yang ke toilet. Baru juga mau chek ini di path petugas stasiun sudah teriak-teriak..”copeeeet!” ehh..salahsalah..itu adegan film lain. Petugas stasiun memanggil semua penumpang kereta Sri Tanjung untuk segera naik kembali karena AC sudah selesai diperbaiki.

Haaa..saya belum ke toilet pak.. ngenes harus berjalan menuju kereta dan meninggalkan tulisan toilet gratis dan mushola 😦 Sedangkan dua teman saya juga buru-buru keluar dari sana. Nasib..tetep harus wudhu di kereta. Satu teman lainnya tentu tidak berhasil menjalankan misi cari makan.

20150530_165242Usai melaksanakan kewajiban dan tanda syukur, untuk menghilangkan rasa kantuk dan mengalihkan perut yang kembali bergejolak, kami putar bioskop lagi. Yay..bioskop berlanjut sampai wangi popmie tak bisa diabaikan, ngemih dulu deh. :v Ntah kami sudah melalui berapa stasiun, yang pasti di luar semakin gelap dan film ke 4 sudah selesai kami tonton.

Pegal juga duduk terus akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan lagi ke restorasi. Mau nyari minuman hangat ceritanya, eh ternyata habis. Yah baiklah..malas kembali ke gerbong asal, kami pun putuskan duduk di sana barang sejenak saja. Sambil ngobrol dan kodekode ada kerupuk di meja sebelah..hahah. Lagi asik-asiknya ngobrol tetiba petugas keamanan kereta menghampiri. “Maaf mas, ini khusus untuk kru,” serunya pada teman kami. WHAT? Sejak kapan restorasi hanya dikhususkan untuk petugas? Emang gak boleh dikunjungi penumpang ya?

Akhirnya kami berjalan kembali menuju gerbong 2 sambil ngedumel “Ah jangan-jangan ini gara-gara kode kita sama kerupuk di meja si bapak petugas?” kata saya. “Hahah..yang jelas itu sedikit menyebalkan ya.””Ya udah nanti kalo ada penjual makanan lewat gerbong tapi gak bawa makanan bilang aja, ini khusus penumpang!” balas teman saya.

Tak lama dari itu kami melalui stasiun dengan nama unik, Glenmore. Sudah ketebak ya apa yang kami lakukan. Yes, ribut lagi ngebahas Glenmore. “Ini yakin kita gak salah kereta, kali aja ini mau ke luar negeri,” “Mungkin ini tempat kelahiran Glend Fredy yang sesungguhnya”, “Emang Glend Frendly siapanya Mandy More?” “Barangkali ini tempat pertemuan antara Glend Fredly dan Mandy More,” “Atau jangan-jangan…” obrolan makin ngaco dan bikin ribut Banyuwangibiru. :v

21.30 Lebih dikit Alhamdulillah kami sampai juga di Banyuwangi, sesuai itin yang sudah dibuat kami akan dijemput supir yang sudah kami hubungi sebelumnya. Oh ya sebelumnya kami bertemu dengan 2 teman lainnya di sini. Rahmi dan Hilman. Rahmi berangkat dari Bali, sedangkan Hilman dari Tasik, sudah pergi sehari sebelum kami, jadi mereka tidak tahu kegilaan yang kami lakukan untuk membunuh waktu hampir 24 jam di kereta dari Bandung hingga Banyuwangi.

20150530_223540

Bapak supir mengirimi sms warna mobil dan nomor polisinya, setelah say hi pada dua teman kami saya lanjutkan mencari mobil sesuai sms tadi. Pertama mobil warna kuning, dan yang pertama saya lihat adalah angkot warna kuning. Hahah..dalam hati “yang bener aja”, udah gitu si bapak angkotnya nyamperin lagi. Buru-buru saya cocokan dengan nomor polisi yang dikirim, tapi bapak angkot masih ngikutin, ya udah saya tanya aja, “Pak Imik?” eh yang nyahut malah bapak yang di depan jeep kuning. Hufft..syukurlah gak jadi naik angkot :v

Bukan apa-apa masalahnya jalur ke Ijen itu cukup wow, saya khawatir angkot gak bisa naik..hihihi..padahal udah bayar lumayan dan pengen bisa tidur di mobil sih.. 😀

Kami berenam melanjutkan perjalanan menuju Ijen. Mampir di tempat makan dulu, sebenarnya kami berharap ada makanan khas Banyuwangi yang memang enak dimakan malem-malem gini, kemudian pak supir bilang. “Ada sate ayam” yaah..itu sih dimana-mana juga ada :v

Selesai makan, kami minta diantar ke masjid terdekat untuk bersih-bersih dan istirahat dulu, karena kami sudah sholat di kereta. Sampailah kami di Pasar Licin, ada masjid kecil di belakangnya. Cukup nyaman karena ada hijab antara ikhwan dan akhwat, tempat wudhu pun terpisah, hanya saja tidak ada toilet..yang bener-bener toilet di sana. 😀 Tapi bisa lah dipakai buat cuci muka dan wudhu, airnya juga banyak gak berhenti-berhenti.

Kami diberi waktu hingga tengah malam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ijen, istirahat dulu yaa..bobok yang bener a.k.a terlentang. 😀

Lanjut ke Day 3…


2 Komentar

Hotel Berjuta Bintang, Satonda

milkywayPerjalanan ke Moyo bukan akhir dari destinasi overland Tambora kami, ada sekitar dua pulau lagi yang kami kunjungi, yang terdekat dari Moyo tentu saja Satonda.

Sebenarnya lebih dekat dari Calabai, lalu kenapa kami ke Moyo dulu? alasannya simple, karena gak mau nginep di Moyo.:D

Sampai dermaga Moyo sesaat selepas maghrib, pemandangan langitnya tidak kalah menakjubkan dari siang hari. Meskipun mataharinya sudah turun, sisa-sisa semburat jingganya masih menghias langit sore itu.Tapi ya, namanya senja sejatinya menghantarkan kita kepada kegelapan.

Sesaat kemudian kami sudah naik perahu menuju Satonda, kali ini hanya ada bintang gemintang, gemuruh ombak, dan sesekali cipratan air laut nan asin itu mengenai wajah kami. Kami ber 10 berselimut terpal untuk melindungi badan dari cipratan air dari samping kapal. Awalnya ngobrol kesana kemari, lama-lama senyap, terlelap tidur hingga sang kapten berseru bahwa kami sudah sampai di Satonda.

Kami bersorak sorai karena akhirnya sampai juga #lebay ..Saat itu saya merasa ada yang aneh, katanya sudah sampai tapi sejauh mata memandang cuma tampak kegelapan. Gak ada terang-terang lampu dari daratan dan eiiittss…sudah sampai kok bawahnya masih aer??

Usut punya usut ternyata malam itu air laut sedang surut, alhasil kami harus turun sekitar 10 meter sebelum dermaga karena kapal tidak bisa lebih dekat lagi. Klo maksa bisa rusak, ya kapalnya ya terumbu karangnya. huuff..baju yang sudah kering trus harus basah-basahan lagi itu rasanya…sebel banget karena gak ada baju lagi :((

Tampaknya ini akan jadi perjalanan penuh drama (lagi) buat kami.Sepuluh meter, deket sih klo jalan biasa. Tapi kan ini laut sodara-sodara..waktu itu yang ada dipikiran saya cuma pengen cepet nyampe dan tidur. Bedahalnya dengan teman saya, di malah berfikir “gimana klo ada ular laut, gimana klo tiba-tiba air pasang, gimana klo gini, klo gitu..” sampai akhirnya memutuskan untuk diam di kapal..hahah..lucu klo ingat kejadian itu. Tapi walau bagaimana pun kami harus tetap turun dan berjalan ke daratan, gak mungkin diem di kapal wong si bapak kaptennya mau balik ke Calabai.

Pertama-tama tuantuan dulu yang turun, ada yang bawain tas, ada yang nganterin sampai tepian, lalu balik lagi buat jemput yang lain. Ada yang sibuk angkutin tas dan barang dari kapal ke daratan, dan ada juga yang sibuk motret langit..Ah..rupa-rupa pokoknya..lalu kamu ngapain Nin? bantu kasih penerangan doong..masa motret :p

Di planning yang sudah dibuat sebelumnya, kami akan menginap di cottage, tidur di kasur empuk, bisa mandi, ngecas hp, dan makan enak.

Nyataaannyaaahh…kami sampai daratan yang gelap, tak ada penerangan sama sekali dan tak ada orang satupun, setidaknya itu yang ada dibenak saya pertama kali. Kemudian salah seorang teman bilang “tadi ada embak-embak sebelum kita turun kapal”..dalam hati “duuuh..cerita horor apalagi ini.” Kami pun hanya diam mendengarnya, sampai salah satu teman bilang “kayaknya penunggu disini, yuk cari..” setengah ngantuk saya berasa di acara realityshow dengan tag line “jika ga kuat, lambaikan tangan ke kemera” :v

Aniway tak berapa lama ternyata si embak-embak yang dimaksud beneran ada..hufft..dia penjaga cottage, cuma berdua aja sama bosnya katanya..edun daah..beranian. Kami tanya kamar buat nginep, ditunjukanlah kamar yang dalemnya ga representatif, selain itu mati lampu pula, kehabisan bahan bakar katanya. Yo wiiss..mending nenda aja di tepi pantai. Kemudian si embak pun menghilang dalam kegelapan..hahah..masuk ke ruangannya lagi..

Tengah malam, kami ber 10 di pulau tak berpenghuni, gelap, dan dalam keadaan basah. Apalagi yang jadi pelengkap derita selain suara teriakan horor dari dalam perut? aah..kami lapaaar sodara-sodara..

Gak nunggu lama langsung bagi tugas, dirikan tenda dan masak-masak. Karena banyak bale-bale di tepi pantai, kami putuskan hanya 1 tenda yang didirikan khusus buat nonanona saja. Selesai makan malam yang enak banget itu, kami ramai-ramai bermain di pantai, berasa pulau pribadi.

Setelah puas motret milkyway, saya dan dua teman lainnya tiduran di bangku sambil memandang langit dengan jutaan bintang diiringi suara debur ombak yang terdengar merdu, dan lagu sherina yang agak sumbang..hahah..oh ya..bukan hanya bintang yang membuat saya terpana, tapi juga plankton yang bersinar saat terbawa ombak ke tepi pantai. Malam itu Satonda keren banget pokoknya.

Malam semakin larut dan bintang semakin banyak, mata saya sudah mulai ngantuk tapi terlalu malas beranjak ke tenda. Akhirnya terlelap di bawah berjuta bintang. Tapi tak bertahan lama, karena yang lain juga sudah mulai ngantuk akhirnya saya ngungsi ke tenda. Walau cuma tidur di tenda kami berasa di hotel berjuta bintang. Puas bangeeeet..gak nyasel walaupun awalnya dateng ke sini kayak pengungsi kebanjiran..hahah..

Bersambung…

*karena malam jadi minim foto


16 Komentar

Overland Tambora 2014 #3 Summit

28 Mei

Pagi menjelang, saatnya jemur pakaian yang basah karena keringat kemarin #ehh.. Perjalanan masih panjang sodara-sodara, stok baju kami tidak banyak, so yang masih bisa dipakai ya pakai lah..hahah. Ritual pagi setelah sholat subuh pasti bikin minuman hangat, abis itu masak buat sarapan.

10457822_744903228864644_2135515778782509244_nSarapan pagi sambil nunggu jemuran kering :v

Jam 10an kami mulai melanjutkan perjalanan menuju pos 4, dari mulai pos 3 sampai pos selanjutnya tidak akan ada pacet, begitu kata Wendi sang Porter, yang ada cuma jelatang. Sejenis tanaman beracun, seluruh daun dan batangnya dipenuhi duriduri halus, klo kena kulit bisa gatal-gatal dan perih, daaan parahnya lagi klo seluruh badan kena jelatang bisa demam. Itu yang terjadi pada teman saya di Argopuro.

1959425_791689404183733_1155613153719866206_nsamping kiri itu tanaman jelatang

Saya pikir jelatang itu tanaman rambat yang tidak terlalu tinggi, eh pas jalan dari pos 3 menuju pos 4 kanan kiri jelatang semua dan tinggi-tinggi, treknya juga makin naik cukup bikin kembali ngos-ngosan. Sampai pos 4 sekitar jam 11, jarak dari pos 3 ke pos 4 memang tidak terlalu jauh. Setelah agak lama saya perhatikan kok gak ada yang ngecamp di sini, padahal tempatnya agak lapang dan enak buat ngecamp. Hemm..ternyata selain alasan air, pos 4 ini sekelilingnya tanaman jelatang semua. Susah cari lapak..ahahah

*ada dua jenis daun jelatang, satu bentuknya seperti daun biasa satunya lagi daunnya becabang seperti daun singkong

Lanjut jalan dari pos 4 ke pos 5 ada jalur yang boleh dibilang wow banget, pohon tumbang kanan kirinya jelatang. Emh..dan tangan saya sempat kena gores jelatang di sini. Rasanya perih lalu sedikit panas, dan itu bertahan hingga beberapa jam setelahnya.

jelatangini dia pohon tumbang yang dikelilingi jelatang

Sekitar setengah jam perjalanan turun hujan, agak besar awalnya tapi sampai di pos lima sudah berhenti. Oh ya jarak antara pos 4 dan pos 5 itu cuma 45 menitan, deket banget dibanding pos-pos lainnya. Kami sampai pos 5 jam 1 siang dan langsung bikin tenda. Agak garing juga sampai tempat ngecamp siang-siang..hahah.. Cara mengisi waktu yang paling enak sebenernya tidur tapi kami malah memasak makanan buat makan malam..hahah..terlalu dini memang tapi bae lah dari pada cicing :p Yang cowok ribut main kartu -___-“

Selesai masak sudah masuk waktu ashar dan kebiasaan gak boleh tidur di waktu itu, jadi dari pada boring saya sempat memotret suasana kabut sekitar pos 5, walaupun ga lama trus masuk tenda.

Waktu berjalan cepat, tiba-tiba udah maghrib lagi, abis sholat makan bersama sambil ngobrol, apa saja jadi bahan obrolan sambil tertawa terbahak-bahak. Ini yang selalu saya syukuri, setiap melakukan perjalanan pasti ada aja satu orang yang hobinya menghibur, jadi sepanjang jalan dan ngacamp kami tidak pernah kehabisan obrolan dan candaan. Siapa dia? nanti dibahas terakhir 😀

Malam makin larut dan kami pun sadar diri untuk istirahat, dini hari nanti kami harus mulai lagi perjalanan menuju puncak Tambora.

29 Mei

Waktu menunjukan jam 1 dini hari, kami semua mulai merayap menuju puncak Tambora. Sebelum meninggalkan tempat ngecamp semua barang digantung diatas, dan hanya satu tenda *nekad yang tidak dibongkar. Kenapa harus digantung di atas pohon? karena klo tidak ada manusia, babi hutan akan dengan santainya mengobrak abrik tenda dan tas yang ada disana, kejam. -__-

Dari pos 5 menuju puncak jalur yang kami lalui mulai berpasir dan naik terus.. ya iya laah Nina :p

Ada sedikit semak-semak sih, tapi gak banyak banget juga. Pas jalur berpasir itu Wendy sang porter seperti kebingungan memandu kami menuju puncak, katanya jalurnya baru dan kami harus berhati-hati banget karena masih rawan longsor. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan kami sampai juga di puncak. Langit masih gelap tapi sudah masuk waktu shubuh. Jadi sampai puncak langsung cari lapak untuk sholat shubuh. Ternyata puncak hanya milik kami, kelompok lain belum sampai ke sana hingga terbit matahari.

Done

Kami merayakan summit dengan makan semangka..hahah..selain itu tentu foto-foto..tak ada habisnya memang soal bergaya depan kamera ini, bahkan saking asiknya foto-foto kami yang lebih dulu datang jadi yang paling akhir pulang. Agak horor pas salah satu teman bilang, asap beracunnya mulai naik tuh..aah jadi teringat Semeru.

Puncak Tambora Done!

*foto gabungan pribadi dan teman-teman

Masih Bersambung.. 😀