Budget Traveler


4 Komentar

Art of Failure

Kata orang bijak “Tidak pernah gagal, berarti dia tidak pernah belajar.”

Klo dipikir-pikir bener juga sih..*jiaah mikir dulu
Sudah ribuan kali *lebayy gagal dalam proses..maksudnya proses menghasilkan gambar digital yang baik dan benar. Terutama dalam kondisi dadakan, kurang cahaya, dan membutuhkan tripod. Dari ribuan kali itu yang hasilnya sesuai dengan keingingan bisa dihitung jari, itu pun biasanya karena saya menemukan alat bantu lain seperti bangku, tembok, batu, dll.

Biasanya hasil seperti itu mengendap di hardisk, mungkin sebagian besar orang juga begitu, menyimpan hasil gagal dan menampilkan foto yang amazing. Kemarin saya iseng membuka foto-foto lama, banyak yang belum di upload, bukan karena “gagal”  tapi gak ada waktu untuk upload *ciee gaya :p* selain itu klo diupload semua ntar ngabisin kuota umat :))

Hasil dari bongkar-bongkar itu saya menemukan beberapa foto cahaya kendaraan ataupun lampu jalan yang goyang dan tidak sukses. Dilihat-lihat, walaupun tidak sesuai harapan, tapi masih bisa dilihat laah klo itu cahaya..*ya iya laah..hahahaha..

Huumm..saya menyebutnya “Art of Failure” 😀

“Gagal itu seni dari sebuah kehidupan, dan seni dari sebuah kegagalan adalah ilmu baru.”

Iklan


5 Komentar

Perjalanan Ke Mahameru #3

24 Agustus 2012
Terbangun pukul 24.00 wib, kami sudah bersiap dengan jaket tebal, senter, tak lupa mengikat sepatu dengan kencang. Semua barang kami tinggal di tenda, hanya air minum, makanan secukupnya, dan obat-obatan yang kami bawa, plus kamera bagi saya. Kami mulai melakukan trekking pukul 00.30 wib. Jalur pendakian tengah malam seperti jalur migrasi bintang, untaian senter di kegelapan berbaris rapih secara vertikal menuju langit, indah. Sedangkan di kanan-kiri kami hanya ada kegelapan, yang tampak tak berujung, ini merupakan zona 75, artinya kedalaman kurang lebih 75 meter. Jalur pendakian yang cukup terjal dan sempit membuat kami harus berhenti setiap beberapa menit karena menunggu pendaki lain naik.

Malam ini merupakan puncak dari pendakian kami, setelah melewati Arcopodo dan Cemoro Tunggal akhirnya gundukan pasir kering raksasa Mahameru tepat di hadapan. Seorang teman mengingatkan, Mahameru tidak mampu ditaklukan, hanya mampu kita daki.

Setapak demi setapak kami lalui gundukan pasir kering itu, naik 5 langkah turun 3 langkah, naik lagi 5 langkah turun lagi 3 langkah, seolah kami tetap berada di tempat walaupun sudah melangkah ribuan kali. Mendaki Mahameru selain membutuhkan persiapan fisik, memang menguji mental. Saya sering sekali berhenti sekedar menghela nafas panjang atau menegak air minum yang kami bawa sebagai bekal perjalanan. Entah di ketiggian berapa, ketika saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, di langit tampak gelap saat itu mulai terlihat ada segurat cahaya jingga, matahari di ufuk timur. Segera saya mencari batu besar sebagai tempat untuk melaksanakan sholat subuh. Ttayamun dengan pasir di daratan tertinggi pulau Jawa dan sholat di ketinggian lebih dari 3000 mdpl ini menimbulkan rasa yang berbeda di hati. Sesaat setelah itu saya menikmati indahnya sunrise yang sangat menakjubkan, sunrise yang sangat dini.

IMG00846-20120824-0538

Matahari semakin terang walau waktu normal masih menunjukkan ini masih pagi, tapi jalur pendakian masih sangat panjang. Beberapa kali saya berhenti dan terpaksa membuka sepatu untuk mengeluarkan kerikil yang memenuhi alas kaki saya itu. Melangkah di gundukan pasri kering ini harus sangat hati-hati, salah berpijak bisa melukai diri sendiri dan orang lain. Ada banyak batu besar yang tampak kokoh, tapi ternyata dapat meluncur kapan saja. Kami sering mendengar teriakan “rock” atau “batu” dan saat mendengarnya kami harus segera melihat ke atas, kemana arah batu itu meluncur, dan kalau ternyata kami yang menyebabkan batu itu terjatuh, kami pun harus berteriak mengingatkan orang yang ada di bawah.

Semakin terik, berdebu, dan persediaan air semakin menipis, tapi semangat tidak pernah menipis, terus terseok-seok ke atas. Jika kaki sudah merasa lelah maka tangan ini akan yang akan mencakar-cakar gundukan pasir hingga lelah juga. Saat rasa itu menghampiri saya berhenti, kemudian berbalik arah 180 derajat, dan saat itu lah Mahameru menyediakan pemandangan luar biasa, saya seperti berdiri di satu tempat yang sekelilingnya hanya ada gunung. Gundukan-gundukan lain berwarna hijau, beratap langit biru terang, tanpa awan, karena ia berarak di samping kami. Melihat pemandangan seperti ini cukup mengisi kembali tenaga yang sudah terkuras habis.

Mountain everywhere

Saya terus melangkah hingga akhirnya waktu dan energi tidak mencukupi untuk sampai di titik 3.676 mdpl. Sekitar 100 meter menuju puncak saya memutuskan untuk kembali menapaki Mahameru tahun depan, dari pada saya paksakan dan tidak akan pernah kembali ke tanah terindah di pulau Jawa ini. Sebagian teman-teman saya sudah sampai kepuncak dan mengibarkan bendera kebesaran komunitas di puncak Mahameru.

Pukul 10.00 ratusan orang yang sudah sampai puncak, ataupun yang belum harus kembali turun sebelum asap beracun mengarah ke jalur pendakian. Jangan dikira turun lebih mudah dari naik, sama saja, bahkan dua kali lipat harus berhati-hati. Kali Mati menunggu kami yang sudah setengah mati menuju Mahameru.

Sampai di Kali Mati, setelah kami semua beristirahat sejenak dan makan siang. Kami melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Sadar kami semua kelelahan maka tidak ada waktu berhenti terlalu lama di Cemoro Kandang, dua kali kami melalui tempat ini dan sudah lewat maghrib, khawatir kami tertidur di sana dan sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Segera setelah keluar dari Cemoro Kandang dan sampai di Oro-oro Ombo, kami memutuskan mengambil jalan ke atas, menyusuri bukit walau jalannya hanya cukup untuk satu orang, jalan melalui padang rumput malam hari terlalu beresiko karena kabut tebal mulai turun dan menutupi arah pandang kami.

Pemandangan langit malam itu benar-benar ajaib, tidak akan ada duanya. Terang benderang disinari bulan, seperti ada lampu sorot alami, awan berarak tampak dengan jelas, sangat indah. Sampai di Ranu Kumbolo setelah kelelahan yang teramat sangat, niat untuk berburu langit penuh bintang pun pupus sudah, kami sadar tidur merupakan obat paling manjur untuk menghilangkannya.

…bersambung..


12 Komentar

Mulai lagi..

Yeaaah..kembali memotret setiap hari, memotret apapun asalkan ada aku-nya..ini kali ke tiga, dan harus berhasil. HARUS! tak ada kompromi.

Setelah proyek pertama berhenti sampai 280 hari, proyek ke dua berakhir di Ranu Kumbolo, kali ini benar-benar harus sampai hari ke 365 atau tanggal 31 Oktober 2013. Klo ngga..haa..masa iya 3 kali gagal..GAK MAUUUU!!

Ide 10 hari pertama adalah si moo, pin muka sapi yang lucu..tapi hari ke 4 kelewat karena lupa gak bawa si moo..alhasil motret diri di kaca pertokoan Jalan Braga..hahah..

Gambar

Ada yang mau nyumbang ide??


6 Komentar

Hari ini terlalu biru untuk dilewatkan..

Hari ini terlalu biru untuk dilewatkan..siapkan kamera..mari memotret! ^o^/

*jepreet*

Too blue to forget

Hari ini Bandung cukup panas, langitnya biru sangat tanpa awan, tapi anginnya cukup kencang juga.

Langit biru kek gitu bikin aku gak tahan untuk mengeluarkan kamera dan memotretnya. dan berlama-lama memandanginya, tentu gak di tengah lapang..panas duun..hahaha..Alhamdulillah depan rumah ada pohon rindang jadi bisa duduk-duduk malas dan memandanginya sambil membayangkan negri nun jauh di sana..

 


10 Komentar

Masuk explore

“Gubuk derita” ku masuk explore hari ini, Alhamdulillah ^^

Mungkin menurut orang ini biasa aja, tapi menurutku ini sebuah prestasi.

Menjadi 1 di antara 500 orang yang hasil jepretannya terpilih oleh flickr. 1 di antara 500 orang di dunia yang punya foto-foto bagus di seluruh dunia..

haaaaaaa…1 di antara 500..

Hanya 500 foto dari jutaan orang..

hahahaha..

Terserah orang-orang mau bilang apa, yang pasti aku..Senaaaang! :))

Gubuk derita [On explore]