The 'Rok' Mountaineer

Dari Haruman ke Rakutak

4 Komentar

Libur lebaran kali ini hampir sama seperti libur lebaran tahun lalu. Gak kemana-mana. Kalau saja tidak ada teman-teman dari Jakarta yang ngajak naik gunung di Bandung Selatan. Hari ke 3 lebaran kami merencakan untuk naik puncak Haruman, Gn. Puntang. Tidak terlalu terkenal memang, tapi lumayan buat pemanasan kaki sebelum mulai mendaki gunung lagi.

DSCF0039Rencana sudah dibuat, mepo sudah disepakati, Jumat dini hari kami bertemu di depan Miko Mall, Kopo. Booking Grab Mobile menuju kawasan wisata Gn. Puntang dan bersiap mendaki selepas shubuh. Kami sampai di basecamp pendakian Gn. Puntang sekitar pukul 4 pagi, masih sangat sepi di sana, bahkan basecamp pun digembok. Agak aneh sebenarnya, mengingat ini libur panjang dan biasanya dimanfaatkan orang untuk wisata ke gunung.

Sambil nunggu barangkali ada pendaki lain yang datang, kami memutuskan untuk istirahat di depan basecamp, barulah saat adzan subuh berkumandang saya dan satu teman lainnya mencari mushola sekalian mencari tahu kondisi jalur terkini. Sampai mushola sepi gak ada orang kecuali kami berdua, ah mungkin nanti setelah sholat ada orang lain pikir saya, ternyata ga ada..hehe. Pos tiket masuk pun masih tutup. Saat itu kami belum ngeh ada pengumuman penting depan pintu masuk.

Baru pukul 5.30 setelah agak terang kami kembali ke pintu masuk dan baru baca ada tulisan “Jalur Pendakian di TUTUP”, aah.. Tanya kepenjaga yang baru dateng katanya jalur menuju puncak Mega, dan beberapa curug di sana ditutup karena longsor dan banjir bandang, sedangkan puncak Haruman sudah ditutup sejak Agustus tahun lalu. ZONK!  Maklumlah gunung ini tdak seterkenal Semeru yang infonya bisa dicari di mana-mana tidak perlu datang langsung.

“Lalu apa plan B-nya?” tanya salah satu teman. Plan B-nya adalah cari gunung lain yang masih di wilayah Bandung Selatan, mengingat Bandung kota pasti macet jadi pilihan hanya ada 2, Manglayang dan Rakutak. Dan pilihan 1 saya tolak karena keseringan..hahah.

Jam 7an kami mulai jalan turun, di pertengahan baru ketemu angkutan desa, naik sampai Pasar Banjaran.  Sarapan dulu di pasar sebelum melanjutkan perjalanan jauh, dari Banjaran carter angkot sampai Ciparay, dari sana naik angkot warna kuning menuju Desa Sukarame.

Sampai Desa Sukarame atau pos pendakian di Desa Sukarame sekitar 10.30 wib, tapi kami tidak diizinkan untuk langsung mendaki karena itu hari Jumat, dan semua muslim diminta sholat Jumat dulu. Saya suka saya suka..setidaknya yang gak pernah sholat di gunung, hari itu sholat dulu sebelum mendaki, walaupun kapaksa..hahah.

DSCF0041

Baru mendaki sekitar jam 1 siang, jalur awal masuk ke perkampungan, trus nanjak melipir ladang warga, setelah itu lewatin sawah, baru masuk hutan bambu, makan waktu sekitar 45 menit. Sebenarnya ada 2 jalur melalui Desa Sukarame ini, tapi jalur 2 ditutup karena nerobos ladang warga dan banyak yang rusak, gitu info dari Kang Agus sebagai penjaga pos pendakian.

Dari hutan bambu hingga pos 1 memakan waktu sekitar satu jam, melewati 5 jembatan kecil, jalannya banyak bonus dan rindang. Agak terbuka pas sudah dekat pos, tanjakan tajam 45 derajat juga ada pas mau dekat pos. Lainnya biasa aja.

DSCF0062

Istirahat sejenak di pos 1 untuk makan siang dengan pemandangan pegunungan Malabar. Baru lanjut jam 3 sore, nah dari Pos 1 menuju puncak jalurnya lumayan banget, nanjak terus dengan sedikit bonus. Kalo ada yang pernah ke Manglayang via Batukuda, jalurnya mirip-mirip gitu. Tanah, akar, batuan, cuma lebih panjang aja. Baru terbuka pas mau sampai puncak 1. Kami sampai di Puncak 1 atau Puncak Hiji jam 16.45, berarti dari Pos 1 ke sana kurang lebih 1 jam 45 menit. Karena perjanjiannya nenda di Puncak 2, jadi kami harus melanjutkan perjalanan lagi, yang artinya kami harus melalui jembatan Sirathol Mustaqim saat itu juga. Heuu..

Total rombongan ada 6 orang, dan kami terbagi jadi 2 kelompok. Nah 1 laki-laki yang bareng sama saya udah ngabur duluan buat cari lapak. Saya dan 1 teman perempuan di belakangnya, sedangkan 3 orang lainnya masih jauh dibelakang kami. Mau gak mau, kami berdua harus lewat jembatan Sirathol Mustaqim itu berdua saja. Tadinya mau nunggu, tapi gambling takut keburu maghrib dan gelap.

Awalnya sih berasa biasa aja, kayak jalur dari Pos Pemancar di Merbabu menuju ke puncak. Tapi lama-lama kok serem juga ya, jalan setapak cuma muat buat 1 orang kanan-kiri jurang. Pokoknya jalur kayak gitu bikin saya males ngeluarin kamera, bukan apa sih, kalo udah pegang kamera suka lupa diri. Sampai pertengahan jalan, ada 2 batu besar yang harus kami lalui. Lihat kanan kiri gak ada celah sedikit pun buat kaki berpijak, jadi bener-bener harus naik keatasnya. Jujur, baru kali ini saya gemeteran mau lewatin jalur, jembatan setan Merbabu aja gak segininya.

Tarraaa..akhirnya sampai puncak jam 17.30, kemudian kabut turun. Saya sih bersyukur banget udah nyampe puncak pas masih terang, kasian temen-temen di belakang yang masih pada naik, harus lewatin jalur serem itu gelap-gelapan. Selepas maghrib barulah kami kumpul semua.

DSCF0208

Saran: Puncak Rakutak itu sempit dan terbuka, jadi kalo musim ujan mending gak usah deh takut kena petir. Atau kalo angin lagi kenceng banget nendanya jangan di puncak.

Iklan

4 thoughts on “Dari Haruman ke Rakutak

  1. Saya suka saya suka. Kepengen juga ke Bandung lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s