The 'Rok' Mountaineer

Revisit (4) Bromo

7 Komentar

imageDulu saat teman saya bilang Bromo itu gak ngebosenin, saya memilih tidak meng-iya-kan. Saya lebih suka mengunjungi tempat yang belum dikunjungi dari pada harus berkunjung ke suatu tempat berkali-kali.Tapi setelah 4 kali bolak balik Bromo, saya harus akui pernyataan teman saya benar. Ya..baru sadar setelah 4 kali.. 😀

Throwback ke pertama kali saya ke Bromo, tahun 2009. Itu kali pertama saya melakukan perjalanan jauh bersama seorang sahabat, Miranty Januaresty. Perjalan pertama yang membawa saya ke Semeru dan tempat lainnya.

Waktu itu saking senangnya kami ‘nongkrong’ di stasiun tiba-tiba saja tercetus ide untuk membeli tiket ke Surabaya. Tak ada tujuan khusus awalnya, tapi saya penasaran pada Bromo, padahal jujur saya belum pernah lihat foto mainstremnya bromo. Aneh.

Berbekal nekad dan bermodal punya teman di Surabaya, libur Idul Adha tahun itu kami pergi ke sana. Dari Surabaya kami menuju Probolinggo, jalur paling ramai menuju Bromo sepertinya. Karena ceritanya backpakeran kere pakai banget kami tidak sewa jeep menuju Penanjakan, kami juga tidak menuju jalur yang dilalui banyak turis. Kami berjalan menembus kabut bersama tukang ojek kuda part time, karena sehari-hari beliau adalah guru. 😀

me n antyMenembus kabut, menyusuri gurun pasir Bromo, menuju puncak Bromo. Hanya puncak Bromo, plus dapat bonus foto naik kuda lah. 😀 Karena minim modal, pulang pergi kami tempuh dengan berjalan kaki menyusuri padang pasir menuju penginapan, ehmm..lebih tepatnya rumah penduduk yang bisa kami singgahi dengan murah sangaat.

Kali ke dua jauh lebih baik, dari yang pertama. Karena berbarengan dengan tugas kantor ke Probolinggo tahun 2013, saya dapat bonus jalan-jalan ke Bromo dengan cumacuma. Bisa ke Penanjakan, motret tempat mainstremnya Bromo, pasirberbisik, dan ke kawah lagi. Begitu pula dengan kali ke tiga di tahun yang sama, dan ke sana bersama teman-teman kantor. Rasanya pasti beda..tentu. Sensasi petualangannya gak ada karena semua pakai fasilitas tour. Dan hanya dua lokasi karena tidak cukup waktu.

DSC_0622

Nah untuk yang ke empat kalinya saya bertekad harus sampai savana, Alhamdulillah terwujud juga. Pekan lalu extend dari liburan kantor ke Jogja, saya dan beberapa kawan melakukan short trip Malang-Batu-Bromo. Seruseruan di Malang dan Batu skip dulu aja ya, mau cerita di Bromonya dulu.

Minggu malam kami ber6 berangkat menuju Bromo melalui jalur Pasuruan, menggunakan mobil sewaan. Meskipun hujan deras tapi jalanan cukup bersahabat. Sampai di daerah hutan pinus ada sedikit beda persepsi antara saya dan teman yang nyetir (karena yang lain tidur). Sekitar pukul 11 malam, dia lihat kakek-kakek di pinggir jalan pakai sarung saja dan bawa tongkat, padahal abis hujan dan udara dingin sangat. Sedangkan menurut saja kakek itu pakai kaos warna merah dan saya tidak lihat dia bawa tongkat. Karena perdebatan gak penting itu hampir saja kami mau berbalik arah untuk memastikan..tapi akhir nya sadar..gak lucu juga kalau pas balik arah ternyata bukan kakek tapi nenek berbaju putih. 😀

Kejadian ‘lucu’ lainnya di jalan berkelok sebelum Bromo, saya berkomentar “Padahal tadi hujan tapi ga ada kabut ya, gak kebayang kalau berkabut dengan jalanan sempit kayak gini.” Sesaat kemudian kabut tebal turun, sodara. Wallahu’alam, yang pasti jangan suka sekatekate di tempat asing.

Pukul satu dini hari kami sampai di Bromo, karena tinggal 3 jam menuju waktu muncak, jadi kami putuskan tidur di mobil saja untuk menghemat. Tentu setelah sebelumnya cari jeep untuk mengantar.

image

Oh ya..kalau bukan long weekend tidak usah terlalu terburu-buru cari jeep, santai saja masih banyak yang bisa ditawar. Satu jeep muat 6-7 orang, disarankan sih cuma 6. Harga sewa berkisar antara Rp350-600rb, tergantung banyaknya lokasi yang dituju. Kalau 4 lokasi ya Rp600rb. Untuk tiket masuk beda lagi, Rp27.500 wni, jika wna berkalikali lipat.

Karena menuju Penanjakan sebelum subuh, kalau tidak mau ngantri sebaiknya wudhu di bawah saja. Mushola hanya ada di Penanjakan, karena mayoritas penduduk sana beragama Hindu.

Setelah dua kali ke sana, saya tidak terlalu berambisi untuk motret spotmaintream itu, hanya ingin menikmati pagi di ketinggian. “Semua orang berfokus pada sesuatu yang belum pasti, matahari bisa jadi tertutup kabut tebal. Padahal di belakang ada pemandangan kota yang sangat indah untuk dinikmati,” ujar saya sok pilosopis pale p pada teman yang juga sudah berkali-kali kesana.

image

Kami beranjak dari kerumunan dan berbalik menikmati pemandangan kota-ntah Probolinggo, Malang, atau Pasuruan yang jelas bukan Jakarta atau Bandung. 😀

Benar adanya, matahari ijin edukasi..hahah..agak mendung. Karena gak ada tanda-tanda cerah, setelah motret tulisan bersponsor, kami lanjut ke tempat selanjutnya, Savana. Pas dateng masih berkabut tebal, indahnya savana gak kelihatan sama sekali. Setengah jam kemudian barulah terang dan terlihatlah hamparan luas..semaksemak..hahah

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Next pura-pura jadi Dian Sastro di Pasir Berbisik. 😀

image

Terakhir baru lah menuju kawah, tadinya males naik tangga-tangga itu, tapi pengen mengenang masa lalu. 😀

DSC_0637

Abis itu beres deh..pulang ke Malang. Semoga kalau pun ada yang ke lima kalinya itu bareng, kamu. *Duka saha 😝

Iklan

7 thoughts on “Revisit (4) Bromo

  1. Bromo memang keren sangat, bahkan empat kali kunjungan pun belum bisa berkata cukup puas. Keren. Mudah-mudahan saya bisa tandang ke sana dalam salah satu perjalanan :amin.

  2. yang kelima sama dy ya na 😀

  3. wuihh seru sekali dan sangat menyenangkan sekali..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s