The 'Rok' Mountaineer

Travelling sometime, Backpacker often

Hiking Ceria ke Manglayang #1

7 Komentar

Setelah sebulan puasa, dan liburan lebaran gak kemana-mana selain silaturahim ke sodara, rasanya pengen olah raga lagi *baca naik gunung*. Jadilah awal bulan Agustus saya merencanakan hiking ceria ke gunung depan rumah, Manglayang. Niatnya olah raga sambil berburu sunrise juga, sayang cuaca bagus klo gak dimanfaatkan.

Saya ajaklah teman-teman yang sekiranya mau ikut hiking, dapet 2 orang, 1 orang teman membawa temannya lagi, dan temannya ditemani bapaknya..halah.. total jadi 5 orang. Dibuatlah rencana, karena ingin berburu sunrise tanpa ngecamp maka kami harus pergi sebelum subuh, dan karena sebelum subuh gak ada ojek jadi temannya teman saya mau membawa mobil. Sekitar jam 3 janjian depan jalan, lalu kami berangkat menuju Kiarapayung (kirpay), gerbang menuju Manglayang, jika lewat jalur bBaru beureum. Semua berjalan lancar hingga sampai di depan gerbang Kirpay.

Waktu itu sudah menunjukkan pukul 3.30 wib, dan gerbang Kirpay masih ditutup, kami coba cari ada penjaga tidak, dan ternyata tidak ada. Lalu saya hubungi teman yang tau jalan lain selain melalui gerbang, katanya masuk ke jalan setelah gerbang Kirpay. Jika mobil yang kami kendarai adalah mobil sejuta umat mungkin masih bisa kami melalui jalur terjal itu, sayangnya ini adalah mobil manja khusus tengah kota. Jalan jeleknya sih dikit, kesananya jelek banget :))

Akhirnya kami kembali ke bawah, dari obrolan saat itu, kami akan sholat dulu di masjid terdekat, kemudian melanjutkan perjalanan dengan ojek, sedangkan mobil disimpan di Unpad. #okesip. Saya sepakat dengan hal itu. “Sudahlah sunrise kapan-kapan saja yang penting bisa hiking ceria lagi ke Manglayang,” pikir saya waktu itu.

Selesai sholat saya sudah siap-siap untuk naik, tapi pas masuk mobil, teman saya bilang “Nin, katanya gak jadi aja naiknya.” WHAT??  Karena yang lanjut hanya saya dan satu teman, so kami minta diturunkan dekat komplek masuk rumah, kemudian tetap melanjutkan hiking ke Manglayang melalui jalur Batu Kuda.

CAM02006

Hutan pinus Manglayang

Jujur, ini pertama kali saya lewat jalur Batu Kuda, gak kebayang gimana jalurnya. Mana kami hanya berdua lagi, berharap di sana lagi banyak yang jalan juga. Setelah melewati hutan pinus, ada tanda kiri menuju batu kuda, lurus menuju puncak. Karena niat kami memang ke puncak jadi kami ambil jalan lurus itu.

Lama kami berjalan cuma berdua aja, gak ada yang naik atau pun yang turun. Setelah dilihat-lihat jalurnya kok tertutup dedaunan banyak, tapi gak ada jalan lain lagi. Seperti biasa, klo udah kayak gini langsung nyari jejak sepatu, lama-lama kok ada jejak anjing juga. Mulai deh gak beres, “kayaknya ini jalur pemburu deh,” dan kami akhirnya memutuskan kembali ke papan petunjuk tadi. Dalam perjalan kembali ke petunjuk tadi kami bertemu 2 orang bapak dan seekor anjing. Ah benar saja dugaan saya, ini bukan jalur pendaki.

CAM02009

Sunrise yang gagal kami buru..heuheu

Sampai di batu kuda, kami putuskan untuk istirah sejenak, barangkali sarapan bisa menjernihkan pikiran. 😀 Selepas sarapan barulah kami lanjutkan perjalanan, berbekal petunjuk singkat dari bapak tadi, dan jalan setapak di kiri kawasan batu kuda. Beberapa meter dari sana kami melihat ada beberpa orang yang sedang berbincang-bincang, kayaknya sih perempuan. “Ah itu yang mau mendaki juga kali, neng?” seru saya pada teman saya. Kami bergegas mencari sumber suara yang ternyata adalah ibu-ibu pemetik kopi. Oh baiklaaah, setidaknya beneran suara orang 😀

Sekali lagi kami bertanya jalur pendakian dan ibu-ibu tersebut bilang “oh atuh kedah ka palih ditu” translet = oh harus kesana *sambil nunjuk ke jalan di bawah. Tapi ibu satunya bilang, “lewat sini juga bisa sih, tapi harus hati-hati, cari aja jalan yang gak terlalu banyak semak-semaknya, nanti ketemu jalur pendakian,” langsung ditranslet aja lah yaa..panjang..ahahha. OKSIP! kami ikuti saran ibu tadi, lanjut terus nanjak terabas kebon kopi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Gak sampai setengah jam kami sudah sampai di jalur yang benar, jalur pendakian. Jalannya cukup enak, gak seperti jalur Barubeureum yang nanjak terus 45 derajat tanpa bonus. Jalur pendakian di sini cukup lebar, tidak terlalu nanjak, banyak pohon dan semak kanan-kirinya, jadi teduh. Banyak view bagus juga, sambil rehat sejenak bisa lihat Bandung timur dari atas. Sebelum sampai puncak ada banyak batuan besar yang bisa dijadiin tempat foto-foto. Waktu tempuh dari terobos semak-semak sampai puncak juga gak terlalu jauh, sekitar 1 jam aja.

Sampai di puncak saya langsung menyelamati Neneng, “Selamat ya Neng, akhirnya kita sampai juga di puncak Manglayang, walaupun banyak drama sebelum jalan.” Kemudian foto-foto. 😀

Perjalanan pulang kami putuskan untuk lewat Barubeureum, biar cepet. Tanya jalan sama pendaki lain ditunjukanlah yang katanya jalur Barubeureum. “Jangan belok kanan ya, kekiri aja terus,” saran diterima kami ambil jalur kiri terus hingga turun, dan asli gak nemu jalur yang kami maksud, yaitu jalur puncak satu dan turunan terjal Barubeureum. Sepanjang jalan hanya kami berdua, tidak ada orang lain turun melalui jalan itu. Udah gitu jalurnya turunan licin, lebar sih, teduh sih, tapi itu turunan yang kalo lari serem, tapi jalan biasa juga pegel, jadi yang paling aman adalah perosotan.

“Jalur macam apa ini??” protes saya, sambil berharap ada orang lain atau setidaknya ada tanda puncak satu. Tapi tak ada siapa pun. Sampai di bawah barulah saya sadar, ini jalur Barubereum punggungan lain yang sepertinya udah jarang dilalui orang. Ah..untuk kedua kalinya, “Selamat ya, akhirnya bisa muncak dan turun lewat jalur yang baru dikenal dan penuh drama..haha..”

Tapi tetep minggu depan (09/08)  harus balik lagi berburu sunrise yang bener. 😀

 

 

 

 

 

 

Iklan

Penulis: Nina

Orang biasa yang suka hal-hal luar biasa.

7 thoughts on “Hiking Ceria ke Manglayang #1

  1. singgah kemari sambil menyimak saja ^_^ tnp komentar hehehe, salam perkenalan ya teteh. jangan lupa mampir ketempat saya ya ^_^

  2. kunjungan perdana, salam perkenalan ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s