The 'Rok' Mountaineer

Travelling sometime, Backpacker often

Overland Tambora 2014 #4 End

9 Komentar

29 Mei

CAM01592

PeEr berikutnya setelah sampai puncak adalah turun gunung dengan sabar. Ya saya katakan sabar, karena banyak diantara pendaki yang turun tergesa-gesa dan tidak konsen akhirnya berujung duka. *duka kamana πŸ˜€

Saya sebenarnya termasuk orang yang klo turun bisa lebih cepat dari naik dan susah ngerem, soalnya klo jalan pelan lutut akan terasa sakit. Tapi bukan berarti saya orang yang ga sabaran yaaa..catet :p

Dibeberapa kesempatan sebenernya saya juga bisa sangat lambat saat turun. Nah saat di Tambora ini tanpa sadar saat naik dan turun saya selalu di depan, pas naik alasannya pengen cepet istirahat sih sebenernya. Klo turun? hihihi..ada cerita menarik saat turun dari Tambora.

Jadi gini, kelompok kami datang paling awal dan turun paling akhir karena gila foto semua. Pas jam 8 lebih teman saya tiba-tiba bilang “gas racunnya mulai naik tuh” siapa coba yang bisa kalem aja lihat asap membumbung keluar dari kawah Tambora dan denger kata “racun”? siapa lagi klo bukan teman-teman ajaib saya..ahahah..ya beberapa diantara kami sudah mulai teriak-teriak ayo turun-turun, termasuk saya sih. Tapi sebagian bilang “bentar-bentar gw belum foto disana” ish..

Karena sudah ada yang mulai jalan turun akhirnya saya ikuti. Treknya berpasir jadi jalannya pasti akan lebih cepat. Gak sadar tiba-tiba udah jauh dari rombongan lain, cuma ber 3 aja di depan. Kami tunggu yang lain sambil foto-foto..ahahah… Setelah semua tampak a.k.a udah jalan turun gak ada yang di puncak kami lanjutkan jalan agak pelan.

Sekitar jam 10 kami sampai di tempat mata air pos 5. Kemarin saya sempat menyesal gak ikut ambil air pas teman-teman pamer foto bagus di sini. Ahh..akhirnya saya ke sini juga dengan pencahayaan yang lebih baik karena masih pagi. Viewnya keren berada disana mengingatkan saya pada film twilight. Berharap ada Edward Cullen di atas pohon pinus lagi ngeliatin..ahah..lebaaayy..

Saya suka berada disana, suasananya adem dan jalan-jalan dibatu-batunya tanpa alas kaki berasa dipijit enak banget. Tapi kami harus bergegas, turun dari sini udah gak ada istirahat lama lagi. Lokasi air ini ada di bawah pos 5, jadi menuju pos 5 naik lagi dikit.

Di Pos 5 ini lahΒ  “tragedi” dimulai..hahah.. kami bersiap pulang, semua sibuk dengan packing, masak, dan ngoceh. Candaan itu emang menyenangkan bikin suasana ramai dan gak capek, tapi klo udah berlebih bisa bikin orang naik pitam. Camkan itu anak muda! :))

Saya dan seorang teman sebenarnya sedang tidak ada di lokasi saat prahara itu terjadi, sebut saja kami berada di lokasi yang aman. πŸ˜€ Tiba-tiba seorang teman memanggil dan mendekat ke arah kami, dikira punya urusan yang sama ternyata ada acara nangis dan sedikit marah. Singkat cerita kami kembali ke rombongan, suasana jadi berbeda, lebih tenang. hihihi..

Imbasnya adalah saat turun jalanan jadi serasa tak bersahabat. Tidak ada obrolan hangat, tidak ada candaan lucu, tidak ada makanan..ahahah..itu yang paling penting. Saya lapar nyonyah tuaan.. Awalnya komposisi jalan seperti ini (dari depan kebelakang) 2-4-6, saya berada di grup ke dua, lalu di pos 4 satu orang maju jadi hanya ber 3 di tengah. Jarak antara satu grup dan lainnya berjauhan. Sedih sebenernya, humm..mulutmu harimau mu itu beneran yaa..padahal gak ada harimau di sini.

Cuaca tampak mendukung suasana perjalanan kami, di pos 4 mulai hujan deras dan terpaksa harus memakai jas hujan. Sampai pos 3 kami istirahat sejenak sambil nunggu teman saya sholat, saya makan oatmeal yang sudah diseduh di pos 5 tadi lalu minum obat mag..heuheu..jaga-jaga.

Tak berapa lam kemudian yang lain sampai di pos 3, saya tidak berniat melanjutkan perjalanan tanpa mereka sebenernya, terlebih di belakang ada 2 orang yang sakit, tapi keadaan menuntut untuk tetap jalan di depan bersama teman lain. Orang yang sakit akan lebih banyak diperhatikan temen-teman lain, tapi orang sehat dan dalam kondisi marah jika tidak ditemani dia bisa berbuat ceroboh dan menyakiti dirinya sendiri.

CAM01595*langit cerah saat kami turun dari puncak

Dari pos 3 menuju pos 2 kami ber 4 jalan seperti mahasiswa dikejar deadline, ngebuuuut gak berhenti-berhenti. Sampai pos 2 baru lah istirahat sejenak dan satu teman memutuskan untuk tidak lanjut membersamai kami. Akhirnya ber 3 kami lanjutkan berjalan dengan kecepatan yang gak berubah.

Sampai pos 1 sudah senja, kami bertemu rombongan dari Sumbawa Besar, seperti asalnya rombongan ini pun jumlahnya besar, 10 orang ditemani porter 11 orang. Kami istirahat sebentar di sini, sambil ngobrol dengan mereka dan tanya-tanya jalan, iya tanya jalan karena kami hanya ber 3, 2 wanita dan 1 laki-laki tanpa porter. Katanya dari pos 1 ini sekitar 1 jam lagi menuju pos pendakian Rimba. Selain itu mereka juga bilang teman kami sekitar 500 meter di depan. Ah sepertinya maghrib sudah bisa sampai di luar, pikir kami.

Nyatanya…

Setelah tanya porter yang kami temui di jalan, dan dia bilang lurus saja, kamipun mengikuti pertunjuknya, sampai pada persimpangan..eaah..bingung daah, kami tetap lurus tapi ada pos terbuat dari bambu-bambu, kami sangat yakin pas pergi gak ada pos ini. Berdasarkan kesepakatan kami mundur lagi dan ambil jalan lain. Jalan yang tentu ada jejak kaki manusianya.

Setelah lama berjalan jalur yang kami lalui berasa sama semua, semak-semaknya makin kesini makin tinggi, perasaan waktu masuk gak seperti ini. Pohon beringin yang harusnya dilalui juga tak kunjung kami temui. Terus berjalan, makin lama makin cepat karena kaki yang sakit udah gak kerasa lagi, saking pengen cepet nyampe. Cahaya matahari mulai redup, semburatnya pun sudah mulai hilang. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing, sudah mulai sadar klo kami nyasar tapi gak ada yang mau bilang. Saya masih optimis karena masih lihat jejak kaki, walaupun ntah sepatu pendaki atau warga.

Klo dikasih judul ini namanya panik dalam diam. Sebagian besar permukaan langit waktu itu sudah mulai gelap, saya minta teman-teman keluarin senter tapi gak usah semua dinyalain, khawatirnya gak nemu jalan dan kehabisan batre, gak lucu gelap-gelapan di hutan. Saya tau diantara kami tidak ada yang bawa tenda, tapi saya juga gak berfikir kami akan ngecamp di tengah jalan sempit gini. Tanpa bicara pun saya bisa merasakan kekhawatiran yang lain, pokoknya cari jalan keluar secepatnya. Aura menjelang malam emang gak menyenangkan ya.

Sampai di km berapa ntahlah, kami menemukan pipa air, “Alhamdulillah..” kompakan kami ucap syukur, dari sini pasti udah gak jauh pikir saya, “Ada 2 pipa bocor pas kita naik, iya kan Nin?” tanya seorang teman. “Iya,” jawab saya sambil menghitung desis pipa bocor. Dan ternyata kami melewati lebih banyak pipa bocor dari sebelumnya. Sudah nyata adanya klo kami memang nyasar.

CAM01582*Langit mendung dan turun hujan saat kami turun dari pos 5

Suara-suara khas hutan mulai agak sering terdengar, langkah kami pun tidak mau melemah karenanya. Pokoknya jalan terus, jalan. Akhirnya bertepatan dengan hilang totalnya semburat cahaya di langit, kami sampai di perkebunan kopi. “Ini kebon kopi, dari sini gak jauh,” teman saya teriak semangat. “Tapi kok kebun kopinya banyak ya? waktu naik kan cuma beberapa,” kata saya. Kami lanjut lagi jalan dan memang tidak terlalu jauh dari sana gerbang hutan. Sambil agak berlari kami keluar dari kawasan itu. Dimanapun itu yang penting kami sudah keluar dari hutan. Jreeeng..kami keluar lewat pos portal.. hahah..ini pos pendakian yang sudah jarang dipakai, dan berada di kabupaten Bima.

Walaupun nyasar jauh, kami sudah tenang karena ada di luar hutan dan ada pos yang bisa dipake istrahat. Tapi disini masih ada kejutan lain.Ntah kenapa firasat saya agak kurang enak pas duduk di pos itu, “selonjoran aah,” kata saya sambil menaikan kaki ke atas pos diikuti teman saya yang lain. Satunya masih cari signal dan coba nelpon kasih kabar ke basecamp. Tiba-tiba gak lama setelah kaki saya naik ada suara babi yang cukup kencang, yakin banget itu babi deket tempat kami. Sontak kami semua kaget saya dan satu teman teriak ada babi, naik, ada babi, babi. Teman yang satunya sambil nelpon ikut teriak babi..babi.. Sumpah waktu itu terasa horor banget, klo sekarang malah jadi hal paling lucu saat perjalanan.

Niat awal nelpon basecamp sebenarnya mau tanya jalan, tapi gara-gara babi tadi kami putuskan untuk minta dijemput ojek saja. Sambil nunggu ojek kami gak banyak ngobrol, saya nelpon rumah nanyain kabar, yang lain nelpon teman, dan kerabatnya. Abis itu baru ngobrolin temen-temen lain yang sepertinya udah nyampe basecamp karena gak nyasar. Mungkin mereka udah mandi udah makan. Ah..kemana-mana deh.

10419486_791689970850343_1935536296017671661_n*Jalur rapat seperti ini jadi lebih menakutkan pas turun

Ojek baru dateng satu jam kemudian, dan taraaa..kami ber tiga dengan keril besar dijemput 2 ojek, satu motor trail dan tanpa lampu depan. Ahahah..bener-bener daah. Gak mungkin satu orang nunggu di sini, gak akan ada yang mau juga keles. Saya dan teman di ojek yang sama, dan yang cowok pake motor yang ga ada lampunya.

Ngobrol-ngobrol dengan mamang ojek ini lah kami jadi tau klo wilayah ini sudah masuk Bima, dan banyak babi hutannya. heuu.. Di tenagh perjalanan ada satu ojek lagi dateng, akhrinya saya pindah. Usut punya usut ternyata yang nyasar bukan hanya kami bertiga. Menurut penuturan tukang ojek ini ada orang Jakarta yang barusan minta dijemput di desa sana, lebih jauh dari pos. Saya bilang yang dari Jakarta cuma kami aja bang. “Ngga tadi ada 3 laki-laki minta dijemput di desa,”Β  Haaa??? jadi jejak kaki itu punya mereka..hahah..seketika itu juga saya tertawa terbahak-bahak. Mungkin si mamang ojek pikir saya kesurupan..hahah..Mungkin juga ini jahat tapi saya lega mendengar kelompok pertama yang nggcir itu tersesat juga..wkwkwk..

Sampai basecamp hal yang pertama kami lakukan adalah tertawa didepan 3 teman kami lainnya dan bilang “kalian nyasar juga yaaa?” ahahah..kedudulan luar biasa. Satu orang menjawab, “kami sengaja kok cari alternatif jalan lain,” satu lagi ketawa-ketawa, satunya lagi “Udah Nina, mandi sono, trus makan..” tidak mau terintimidasi. :v

Saya masih mikirin yang 6 orang lainnya walaupun sedikit lega karena mereka ditemani 2 orang porter dan sedikit kemungkinan bisa nyasar seperti kami. Kata Bang Ipul, penjaga basecamp ojek udah standby depan hutan untuk jemput mereka.

Sekitar jam 9 malam 6 orang lainnya sampai di basecamp, bapak TL tampak tergesa-gesa turun dari motor, “kalian kemana aja? kita ber 6 motor ada 12 dan katanya belum ada satupun yang keluar,” …”Nyasaaar..” dan tawa pun kembali menggema..

Ternyata persoalan nyasar ini menjadi sesuatu yang mencairkan suasana tidak mengenakan diantara kami tadi siang. Tapi bukan berarti harus nyasar dulu baru cair yaa. Oh ya cerita dari 6 orang lainnya gak kalah seru. Ada yang mencium bau kentang rebus, ada yang merasa kakinya ditarik, ada yang lihat kodok terus ikutan loncat, ada yang nyium bau melati juga..ah macem-macem deh pokoknya…

Dan akhirnya malam Jumat penuh bintang itu kami tutup penuh syukur bisa kembali dengan selamat dan tentu sambil menertawakan kebodohan yang kami perbuat. Kebodohan yang mungkin tidak akan kami alami jika tetap kompak, naik bareng-bareng turun pun bareng.

 

Overland Tambora Done!

πŸ˜‰

CAM01588

Iklan

Penulis: Nina

Orang biasa yang suka hal-hal luar biasa.

9 thoughts on “Overland Tambora 2014 #4 End

  1. si teteg etaaa gayaaaa….. gunung manapunkau daki… si akuu kapan atuh turut serta

  2. serem ih nyasar πŸ˜€ tapi asik juga ada ojeknya

  3. Untung nyasarnya ga sampe jauh banget yaa dan bisa sampai puncak kereen! saya sendiri belom pernah naik gunung hiks 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s