Budget Traveler


12 Komentar

Menapakan Kaki di Gunung Manglayang

Gambar

Gunung Manglayang itu gunung yang tingginya hanya sekitar 1800 mdpl, terletak di Bandung Barat, dekat Jatinangor a.k.a tempat saya kuliah selama 4 tahun, dan terlihat jelas di depan rumah..tapii..baru saya daki 25 Desember 2013. #terlaluh 😀

Sudah lama sih ingin menjejakanya kaki ke sana, cuma belum kesampaian aja. Baru pas libur natal itulah saya berhasil meracuni beberapa kawan di kantor, tapi yang jadi pergi hanya dua orang, bertiga bareng saya. Satu diantara kami pernah muncak ke Manglayang itu pun beberapa tahun yang lalu, saat dia masih kuliah, setidaknya itu membuat saya agak tenang, klo pun nyasar gak akan nyasar banget #iyakeless

Meeting point kami di pangkalan Damri Jatinangor jam 6 pagi. Tapi apa daya nasib pengguna bus, mau janjian jam berapa pun tetap tergantung kapan si Damri mau pergi dari Bandung. Akhirnya waktu ketemuan pun diundur jadi jam 7.30 pagi, dan jam 8 saya baru sampai di pangdam (pangkalan Damri)..ahahahah..gak boleh ada yang protes #seniorgakpernahsalah

Sekitar jam 8 kami mulai beranjak dari Pangdam, menggunakan ojek seharga 8K sampai Bumi Perkemahan Kiara Payung. Karena dua teman saya ini baru pulang mabit dan belum balik ke rumah masing-masing, jadi kami melipir dulu masjid di Kirpay untuk bersih-bersih dan ganti baju buat yang masih pake “gaun”.

Kami baru benar-benar berjalan kaki menuju Barubereum (pos pendakian) jam 8.30, dari masjid itu jalan melalui tempat penelitian tanaman-tanaman gitu *lupa namanya. Kemudian melalui ladang, sungai kecil, dan jalanan berbatu. Belok kanan turun ke bawah, belok kiri atau nanjak ke Barubereum. Jalur ini sedikit berbeda dengan yang saya baca dibeberapa blog orang yang pernah ke Manglayang, kebanyakan mereka naik ojek atau motor sampai Barubereum atau jalan kaki dari tempat yang banyak warungnya, karena kami potong kompas jadi tidak melalui tempat yang banyak warung itu, oh ya katanya itu tempat kumpul para biker.

CAM01006

Oke lanjut perjalanan menuju pos Barubereum, istirahat sejenak kemudian mulai jalan lagi. Nah disini kami sempat tersesat, dari awal saya yakin ini pasti nyasar karena jalurnya landai padahal yang saya baca di blog trek manglayang itu tanpa bonus, tapi teman saya yang sudah pernah kesini yakin ini jalur benar dan terus berjalan melipir jurang. Sampai saya teriak “Kiki, balik..ini pasti salah!” dan dia baru bilang “iya teh, kayaknya salah” #jitak

CAM01009*detik-detik sebelum nyasar

Akhirnya kami kembali ketempat semula, tempatnya agak lapang, kami memutuskan untuk kembali berdoa dengan lebih khusu, karena tadi pas pergi berdoanya cuma bismillah sambil jalan. Setelah itu Alhamdulillah dapat pencerahan, teman saya baru bilang “Oh iya, dulu saya ngecamp di sini, klo jalan ke atas mah bukan disini. Maaf ya soalnya tiap kali ke Manglayang pas malem, jadi gelap.” #tonjok =))

Ada 3 orang bapak2 yang lagi berburu burung, kami tanyakan jalur sesungguhnya kepada mereka, tapi masih absurb, saya putuskan kembali ke posko dan tanya ke bapak penjaga warung saja. Ternyata jalurnya dekat dari warung itu, cuma tinggal melipir ke belakang warung dan nyebrang sungai kecil, abis itu najak terus, gak ada bonus.

CAM01013*trek gang sengol yang licin

Benar-benar tanpa bonus, trek batuan dan tanah licin karena musim hujan, samping kanan-kirinya semak belukar, dan sempit. Jadi klo ada orang mau turun atau mau nyalip dari bawah kita larus merapat ke semak-semak dulu. #gangsenggol   Walaupun gak ada bonus, setelah beberapa meter nanjak *klo cuaca cerah* kita bisa melihat Ciremai dari kejauhan.

DSCN9953_2*Ciremai dari kejauhan

Sekitar 2 jam perjalanan ada tempat yang agak lapang dikit, dikiiiit..tapi lumayan buat leyehleyeh bentaran, disana ada kata-kata motivasi yang bikin kembali bersemangat. Nah dari sana sekitar 30 menit lagi menuju puncak 1. Tujuan kami memang hanya puncak 1, walaupun ke puncak dua hanya tinggal 30 menit lagi tapi kami putuskan tidak melanjutkan perjalanan, terlebih melihat kondisi langit mendung durja. #halah

CAM01015_2

*Allah akan selalu mengiringi kita ke puncak…

Sampai puncak jam 11, disambut oleh dua pendaki yang mau ngecamp disana, ngobrol-ngobrol, foto-foto, numpang sholat, dan minta air panas untuk pop mie, mayaan 😀 Mie habis kami pun beranjak pamit…ahahha..SMP banget. Dari obrolan tadi katanya trek Manglayang ini setengahnya Cikuray, hoo..#ngebayangincikuray

CAM01028*Ritual foto bareng

Waktu menunjukkan pukul 1 siang dan kamu harus beranjak pulang, nah yang bikin males adalah jalur yang tadi nanjak banget jadi turun banget. Klo meleng dikit kepelesetnya banyak. Harus konsentrasi dan hati-hati 😀

DSCN9965_2*Pemandangan dari puncak 1

Kami sampe posko jam 2, melipir dulu ke warung dan minum teh manis hangat, aah nikmat. Lanjut lagi jalan sampe masjid Kirpay sambil ujan-ujanan. Numpang bersih-bersih dan sholat. Hujan reda lanjut ngojek ke pangdam, eh nyampe pangdam hujan lagi. #php Kebayang klo tadi maksa mau ke puncak 2, turun perosotan pasti. Akhirnya saya sampai rumah jam 4 sore, ajaibnya jalanan disini kering gak ada hujan sedikitpun sodara-sodara, padahal Manglayang depan mata. #bedalangit -__-

Iklan


16 Komentar

Tegal Panjang – Papandayan #2

GambarFoto perdana di Tegal Panjang

Ini pertama kalinya saya muncak di musim ujan, tapi sih asik aja klo temen-temennya asik yaa.. Banyak hal unik dalam perjalanan kali ini terutama di Tegal Panjang. Sensasi sedikit horor sebenernya 😀

Sampai di Tegal Panjang sekitar pukul 16.00, ritual pertama pasti selalu foto-foto, dilanjut dengan makan-makan, kemudian buka tenda karena hujan makin deras. Saat ritual foto-foto itu lah salah seorang teman mendengar ada suara lain dari arah hutan, namun teman lainnya mengalihkan pembicaraan dengan bilang itu suara saya lagi nyanyi-nyanyi. Lah..padahal saya gak bersuara sedikitpun, ajaib. 😀

IMG_5532*makan dulu baru buka tenda 😀

Terlepas dari itu kami tetap sangat menikmati Tegal Panjang dengan segala keindahannya, savana, sungai kecil, bukit-bukit, dan tentu suara alam yang merdu. Karena hujan terus mengguyur, selepas maghrib kami langsung diem di tenda masing-masing, ngobrol sebentar sebelum tidur awalnya sih ngebahas tentang wudhu, ada teman yang tanya boleh tayamum ga? Lalu obrolan berlanjut dengan bahasan lain yang masih nyambung dengan persoalan ibadah dan akidah #tsaah, maka kami pun menyebutnya “Taklim sebelum bobok” =))

IMG_1501

*Koki handal kami sedang beraksi, nasi+mie goreng rendang+sosis+tuna =))

Jujur baru kali ini saya susah tidur, mungkin karena SB saya basah jadi tidur tanpa SB padahal hujan terus mengguyur hampir semalaman, karena susah tidur itulah jadi bisa denger suara burung yang gak berhenti bernyanyi bahkan hingga pagi. Tapi bagus juga sih, jadi alarm bangun subuh..secara hape saya nyasar di tenda sebelah. 😀

36 (1 of 1)*acara makan pagi sambil ngobrol

Sesungguhnya ya wudhu pas musim hujan diatas gunung itu sesuatu banget..dingiiiiiin dan itu bikin males. Abis wudhu masuk lagi tenda dengan kekuatan super, abis itu leyeh-leyeh lagi nunggu sunrise yang tentunya tak terlihat 😀 Menjelang pagi ritualnya adalah foto-foto, sarapan, dan berkemas.Entah karena betah, dingin, atau malas hingga jam 10 kami belum juga beranjak dari tempat itu. Ngobrol kesana-kemari, becanda, sampai ngebully orang..ahahha..

14 (1 of 1)*Ini dia salah satu pose ditengah savana

Tapi tetep harus beranjak, tujuan akhir adalah Papandayan. Nah kejadian aneh terulang lagi saat jalan menuju Papandayan, pas jalan di tengah savana, hutan sebelah kiri ada dua sampai tiga orang yang terus memperhatikan kami tapi tidak saling menyapa, saat kami masuk hutan yang berlawanan mereka masuk lagi. Seolah hanya memastikan klo kita gak masuk ke daerah kekuasaan mereka, kata temen saya mereka itu para pembalak liar.

8 (1 of 1)*Turun-naik lembah lembah sebelum masuk hutan

Kami mulai masuk hutan sekitar jam 10.45, 45 menit aja gitu jalan dari tempat ngcamp sampe depan hutan, bukan..bukan jalannya yang jauh tapi foto-fotonya yang lama..hahah..

IMG_1571   *Saking rapatnya Iyenk harus agak menunduk pas masuk hutan

Terusterang saya agak kaget pas masuk hutan, saya pikir jalurnya agak terbuka, ternyata rapaaat sangaat, bahkan beberapa kali harus melayangkan golok menebas barisan semak belukar. Saking jarangnya orang yang lewat sini jalurnya sampai tertutup..ckckck..

IMG_5676*Acara ngebully Nzah sebagai pendaki paling “senior” mengucapkan salam pada semua pendaki

Perjalanan menyusuri hutan sampai ke Pondok Saladah sekitar 2-3 jam. Nyampe sana disapa sama akang voulunteer, kami baru tau klo ini trip ilegal. Kenapa saya sebut trip ilegal? Si akangnya bilang jalur ini mau ditutup, apalagi sejak ada kejadian terbaru itu (baca tulisan sebelumnya). *melongo bareng-bareng* dan katanya jalur ini agak berbahaya, klo pun mau melintas harus mengurus simaksi, minimal seminggu sebelum pendakian. Hahah..campur aduk rasanya. Ntah bahaya binatang buas, penjarah hutan, atau makhluk lain =))

Di Pondok Saladah kami istirahat sejenak, tadinya saya dan Nzah mau melanjutkan naik ke hutan mati, tapi karena hujan, becek, dan gak ada ojek gak jadi deh 😀

IMG_5693*Jalur licin dari Pondok Saladah menuju Camp David

Sekitar jam 3 kami turun ke Camp Dapid *tulisannya emang gitu #nyunda 😀 melaui jalur yang licinnya bingit, tanah liat campur air dan gak datar. Terus menyusuri kawah, ah sayangnya saya tidak punya foto-foto disini, batre kamera mati dan teman-tean lainpun tidak, wassalam deh.

Jam 5 sampai di Camp David atau parkiran, jalan dari pondok saladah ke parkiran sebenernya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam aja, tapi karena dijalur licin itu banyak yang ngantri jadi kami berhenti lama, belum lagi acara foto-foto di kawah 😀 Abis solat, langsung carter colt bak, turun sampai gerbang dilanjut dengan angkot menuju terminal. Nah dari terminal kami yang dari Bandung langsung menuju bus, gak sempat ganti baju yang basah soalnya kata supirnya ini bus terakhir, ya sudahlaah. Sedangkan teman-teman yang dari Jakarta baru berangkat jam 12 malem. Saya sampai rumah jam 11 malem dan langsung tepar.

Sekali lagi perjalanan yang menyenangkan, terima kasih, kalian. ^^

IMG_5656*Foto bersama di Guberhud (gak tau deh nulisnya gimana 😀 ) tempat tinggi sebelum Pondok Saladah

: dok

Saya, Suci, dan Mang Dadang


16 Komentar

Tegal Panjang – Papandayan

Setelah jelajah kota dan pantai di Jogja, minggu ke 2 dihabiskan dengan leye-leye di rumah, minggu ke tiga Desember mulai full. Selasa-Jumat urusan kantor di luar kota, tapii..tetep tidak menolak pas temen ngajak muncak ke Papandayan.

Jumat malam, jam 12 teng kami berdelapan start di Leuwipanjang menuju Pangalengan pakai angkot sewaan, agak sebel sih sama sopir angkotnya, bau alkohol dan nipu beuut, diawal bilangnya 400rebu, nyampe lokasi minta 600rebu. Huh! *curcol

Jam 3 pagi kami sampai di Desa Sedep, disana ketemu penjaga atau satpam kebun teh Sedep, ditanya-tanya mau kemana, dll. Intinya sih laporan, saya pikir prosedur biasa aja seperti ke gunung lainnya. Tapi kenapa kok ngobrolnya agak lama, ternyata bapak-bapak ini khawatir karena sebelumnya ada kejadian mahasiswa yang meninggal di sini. Parahnya cuma saya yang baru tau kejadian itu, yang lainnya sudah tau berita tentang meninggalnya Tobit. -__-

Setelah dapat izin, kami melipir dulu ke masjid terdekat. Lumayan ada waktu bentar buat tidur atau sekedar rebahan sebelum adzan subuh. Masjidnya lumayan enak, kamar mandinya bersih, airnya banyak, yang paling enak abis subuh bisa tiduran lagi bentar. 😀

Sekitar jam 6 pagi, kami mulai bergerak, it’s mean cari kendaraan ke desa terakhir, Cibutarua. Sampai di Cibutarua gak langsung jalan, tapi belusukan dulu cari sarapan dan bungkus nasi buat makan siang. Ternyatah ada warung nasi di desa ini, makanannya lumayan enak dan murah, dah gitu emak-nya baik pula. #sedaaap

Gambar*dari kiri ke kanan : Uni Wiwik. Jaka, Iyeng, Suci, Nzah, Bang Uwi, dan Mang Dadang

Beres sarapan dan bungkus nasi buat siang, kami mulai melangkahkan kaki menuju Tegal Panjang. Jalur pertama yang dilalui adalah kebun teh, cukup menyenangkan karena baru jalan sudah disuguhi pemandangan yang ijo royoroyo dan udara sejuk khas perkebunan teh. Tapi kok lama-lama kayak labirin, salah belok dikit nyasar, kami berputar-putar cukup lama di sini. Setiap bingung pasti nyari orang yang lagi metik teh, trus jawabannya selalu “terus wae, ke upami aya jalmi taros deui wae” = jalan aja, nanti klo ada orang tanya lagi aja =)) #sesat

Gambar

Terus berjalan dan akhirnya menemukan jalan masuk hutan, Alhamdulillah. Mulai masuk hutan sekitar pukul 11, seperti kebanyakan hutan di Jawa Barat, hutannya cukup rapat dan lembab, terlebih ini musim ujan jadi buakn lembab lagi tapi becek. Oh ya jadi inget sebelum pergi tadi, di pos kelurahan ada yang baru turun dari Tegal Panjang, lagi ngobrol hal lain tetiba bilang gini *kira2, “ini hutannya hutan hujan tropis, rapat dan jalannya licin karena abis ujan, sebaiknya jangan pake rok, pakai celana panjang aja” kami pikir ngomong ke kelompok, ternyata ke saya toh..ahahha..saya sih senyum aja, ya emang bener kok jalannya pasti licin, dan saya hargai ke khawatirannya, gak salah juga pake celana panjang, toh saya juga pake celana panjang, tapi pake rok lagi :p Tapi temen saya iseng jawab. “aurat, mas”..hahah..ngakak bersama tapi si mas-nya tetep serius dengan menunjuk training teman saya. Ah ya sudah laah..

Perjalanan menyusuri hutan sekitar 4 jam, jalannya cukup asik, naik turun yang gak terlalu curam banget, cuma banyak lintah..heuuu..beberapa kali teman saya kena tuh. Selama 4 jam itu pemandangan yang kami lalui monoton saja, sungai kecil, tanaman paku, dan pohon-pohon khas hutan hujan tropis lainnya.

Gambar

Setelah berjalan cukup lama dan mulai letih karena diguyur hujan juga, akhirnya kami disuguhi pemandangan yang luar biasa, hamparan savana yang seolah terjebak oleh hutan lebat dan gunung disekitarnya.

Gambar

Aah..savana.. selalu..selalu membuat rasa lelah hilang..

Aaah..Tegal Panjang..

Aahh..bersambung

=))