Budget Traveler


7 Komentar

Mantai di Gunung Kidul

Kawasan Gunung Kidul Jogja ternyata tidak hanya menawarkan keidahan wisata goa, tapi juga pantai. Pantai-pantai sepanjang pesisir gunung kidul menurut saya lebih indah dari pada parangtritis dan depok. Pasirnya yang putih dan batu karangnya yang bisa dijelajahi dengan jalan kaki membuat pantai ini lebih enak dilihat, sekali lagi ini menurut si saya yah 😀

DSC_0382_2

Setelah caving di Goa Pindul, kami bertiga melanjutkan ngebolang ria ke pantai, jaraknya  lumayan (jauh), memakan waktu sekitar 2 jam dari Pindul. Dua jam itu tanpa macet dan jalannya mulus ya. Pilihan pantai pertama yang dikunjungi adalah Indrayanti, suasanya cukup ramai padahal lagi panas-panasnya waktu saya sampai sana. Saking panasnya, saya gak mau lama-lama jalan, merasa cukup foto-foto, kami buru-buru cari masjid. Hahah..sholat dan ngadem dulu bentar.

DSC_0385_2

Kemudian perut lapar, tapi gak mau makan disana masih pengen nyari pantai lagi #emangdasar. Pantai kedua yang kami kunjungi adalah pantai Kukup, nah kami berhenti bukan ditempat wisatanya, karena jalan kesana agak jelek katanya, dan saya malas melalui jalan jelek. 😀 Meskipun gak nyampe Krakal yang biasa dikunjungi banyak orang, tapi kami tetap foto-foto 😀 Pemandangannya sih bagus, sayangnya kotor, banyak sampah plastik disini. Daripada banyak ngomel karena sampah, kami memutuskan mencari pantai lain untuk makan siang.

DSC_0440

Sampailah kami ke Pantai Kukup, dateng-dateng langsung cari tempat makan, haha..emang niatnya makan. Tadinya selesai makan mau langsung pulang cuma kok sayang ya klo ga nengok pantaiya dulu. Ternyatah pantai ini lebih ramai dari Indrayanti, pengunjungnya banyak banget, penjual suvenirnya juga, yang paling saya suka penjual ikan laut goreng. Ikan laut, udang, kepiting, dan rumput laut fresh langsung digoreng disana. Beuuh..asepnya wangiii..jadi pengen makan lagi..hahah..

DSC_0478_2

Puas gak puas main di pantai, kami harus segera pulang ke Kota Gede, pasalnya jam 7 malem harus kembali ke Bandung. Okeh sekian wisata ke Jogja tahun 2013. Semoga bisa jalan-jalan lagi tahun depan bersama… #nomention =))

Iklan


30 Komentar

Caving di Goa Pindul

Tujuan utama saya ikut ke Jogja akhirnya tercapai juga. ye ye ye la la la.

Pagi-pagi buta sesuai janji kakak sepupunya temen saya kami akan diantar ke goa pindul. Oh ya klo kemarin namanya Mas Dani, sekarang Mas Novi. Baguslah teman saya punya stok mas-mas yang cukup bisa diandalkan untuk guide =)) *semoga dia gak baca

Jam 5 teng pergi dari rumah budhenya temen dan berangkan menggunakan motor, tentu saya yang bawa motor dan boncengan dengan teman. Motoran di Jogja asik juga, jalannya halus, lubang-lubang kecil ada tapi dikit beda sama kota yang satunya. #nomention

Goa Pindul itu letaknya ada di daerah Gunung Kidul, jalan menuju sana berkelok menanjak dan turun, gak jauh beda sama jalan menuju atau keluar Bandung, jadi boleh dibilang gak terlalu sulit untuk saya. :p Oh ya pertama kali saya tau tentang Goa Pindul ini dari tayangan acara jalan-jalan di TV swasta pas denger biayanya murah makin tertarik deh..ahahha..maklumlah saya baru sanggup jalan-jalan tipe ransel.

Sampai di kawasan Goa Pindul pukul 7 lebih dikit, berarti 2 jam perjalanan dari Kota Gede. Kawasan wirawisata ini cukup rapih dan terorganisir dengan baik, padahal usianya baru dua tahun berjalan. Keren. Karena masih pagi dan pengunjung yang datang pun masih sedikit, kami memutuskan untuk langsung menelusuri goa. Sebelumnya kami diberikan pelampung, sepatu karet khusus, dan ban untuk menelususri sungai dalam Goa Pindul.

DSC_0230_2

Di dalam goa masih sepi jadi cukup leluasa untuk foto-foto, waktu itu hanya kami bertiga, di depan kami ada 3 orang terdiri dari ayah, ibu dan anak tapi jaraknya cukup jauh. Di gua ini terdapat beberapa ornamen cantik moonmilk batuan ini mengkilat seperti kristal jika terkena sinar, selain itu stalaktit dan stalagmitnya juga indah. Di beberapa bagian atap gua masih ada kelelwar yang disebut demit oleh penduduk sekitar, kotoran yang menempel di atap goa jadi seperti lukisan alami. Dibagian ujung goa ada spot yang menyerupai kolam, biasanya dijadikan tempat untuk terjun dari salah satu batuannya, seru sih tapi saya ogah terjun dari sana. *apakabar rok -__-  Nyemplung biasa aja gak pake terjun.

DSC_0320_21

Dibagian atasnya ada semacam goa vertikal, klo mau dapet cahaya yang bagus buat foto-foto sebaiknya kesana pas jam 9-10 an. Ada satu spot yang bikin saya terheran-heran, di tengah goa lampu dimatikan dan kita semua diminta untuk berdoa. Lah pan tadi pas masuk udah berdoa kenapa dikhususkan harus berdoa di sini juga 😀

DSC_0335_2

Dari tempat nyemplung tadi si pemandu tanya “semuanya bisa renangkan?”, mendengar jawaban serempak “bisa” dari kami si pemandunya jalan aja sendiri ke luar goa sambil bawa ban yang tadi kami pakai untuk menelusuri goa. Haah? Kami disuruh renang sampai daratan sodara-sodara, tapi seru sih. 😀

Penelusuran Goa Pindul berakhir dalam waktu 1 jam 15 menit, tapi berasa hanya 15 menit. Kami kembali ke tempat penyimpanan barang dan disuguhi minuman jahe hangat. Setelah bersih-bersih, ganti baju dan peking ulang kami pun melanjutkan petualangan selanjutnya ke pantai sekitar.


29 Komentar

Malam Minggu di Alun-alun Jogja

Setelah sedikit kecewa karena lokasi Taman Sari  yang paling kerennya sudah tutup saya dan dua teman saya berembuk menentukan tempat “mangkal” berikutnya. *halah

Menerawang langit yang tiba-tiba cerah membuat kami segera mencari tempat tinggi untuk melihat sunset.  Tempat tujuan terdekat adalah Plengkungan, saya pikir daerah tinggi seperti Caringin Tilu di Bandung, atau bukit bintang tapi deket kota, ternyatah atap sebuat terowongan menuju jalan MT Haryono, Jogja. =))

Alhasil sunset yang indah pun tampak bersaing dengan atap bangunan tinggi, kabel listrik, dan papan iklan. Eh tapi ternyata tempat ini biasa dipake nongkrong anak muda yang suka motret atau sekedar mojok.

Gambar*Senja di langit Jogja

Kami disana sampai menjelang maghrib, karena motret sunset bikin putus asa jadi saya gunakan kesempatan ini untuk motret jalanan saja, hobi yang sudah lama tidak dilakukan. 😀

Gambar*jualannya boleh kecil promonya tetep gede

Selesai sholat maghrib, pilihan tempat berikutnya jatuh pada alun-alun selatan Jogja, Malioboro di skip karena macet sangat. Lalu apa menu pilihan saya? Wedaaaang..penasaran pengen nyobain wedang ronde di Jogja, kasian banget 3 kali ke Jogja belum pernah minum bandrek khas Jogja ini. :p

Teman saya memesan baso bakar, katanya sih enak, tapi menurut saya lebih enak cilok midun depan kantor =))

Gambar*Penampakan penjual baso bakar

Saya selalu amazing sama kota yang punya alun-alun tradisional #eh pokoknya beda sama alun-alun Bandung, yang isinya mall. Dulu waktu saya kecil alun-alun di Bandung juga seperti itu, klo minggu biasa dipakai olah raga, tapi sekarang kayaknya ga deh. 😀

Kebanyakan mall dan factory outlet bikin saya malas klo malam minggu ke luar rumah, maceeeet banyak kendaraan plat tertentu *no mention*, apalagi di Dago heuu. Karena ini di Jogja dan saya adalah turis jadi nikmati saja :p

Gambar*Ini becak dua lantai, kasian yang ngegowes 😀

Oh ya disini ada wahana eh apa ya namanya, pokoknya becak, sepeda, dan otopet yang dimodif dan dikasih lampu-lampu, lucu deh. Kata kakak sepupu temen modal untuk membuat kek gituan sebesar 15 juta. WOW!  Pantas harga naik becak sekali putaran 25rb. Heuu..

Selain lesehan dan becak-becak itu, di sini juga ada dua pohon beringin besar yang mengandung mitos. Katanya klo bisa jalan lurus tanpa melihat diantara keduanya dipercaya semua keinginan akan tercapai. Heheh..jadi karena itu saya lihat banyak ABG sampe ibu-ibu jalan tutup mata di tengah pohon besar itu, bahkan salah satunya nabrak saya. Mau coba? Aah..klo saya lebih mau makan enak dari pada jalan tutup mata =))

Gambar*Pohon beringin dengan penerangan lampu jalan

Setelah kenyang dan merasa cukup berbincang-bincang, malam minggu saya pun ditutup dengan nyasar…bhahaha. Saya tertinggal oleh guide a.k.a kakak sepupu teman saya dan akhinya tawaf sampe 4 putaran di alun-alun. 😀


25 Komentar

Dari Merapi ke Taman Sari

Gunung Merapi

Sabtu kemarin ada acara rihlah kantor ke Jogja, satu gerbong kereta ekonomi hampir penuh oleh temen-temen kantor. Karena tujuannya hanya ke Borobudur dan Malioboro saja itu pun hanya satu hari, jadi saya numpang beli tiketnya saja. 😀

Setelah berhasil meracuni salah satu teman kantor dengan pesona goa pindul akhirnya saya bisa punya teman untuk ngebolang dan numpang tidur. Hahah..*timpuk

Sabtu pagi sampai Lempuyangan, rencana awal setelah sungkeman ke budhe dan pakdhe-nya teman saya itu kami langsung meluncur ke Goa Pindul di daerah Gunung Kidul, Jogja. Tapi ternyata rencana tinggalah rencana, pas mau pergi banget tetiba kakak sepupunya teman saya itu memberikan opsi lain “yang penting tidak ke Pindul”. Hoo baiklah..manut aja dari pada diusir..

Terlalu sayang jika hari pertama ini hanya dihabiskan di Malioboro, jadi kami putuskan mengunjungi Merapi, bekas rumah alm Mbah Maridjan sih lebih tepatnya. Hmm..lihat Merapi dari kejauhan bawaannya pengen muncak aja, klo aja ada teman dan merapi gak lagi batuk-batuk pasti udah melipir ke Selo.

Sampai di Desa Kaliadem, parkir motor, trus jalan ke tempat bekas rumah alm Mbah Maridjan. Bekas rumah itu dijadikan museum erupsi merapi, ada beberapa barang yang masih jelas penampakannya seperti kursi dan lemari, juga kendaraan yang digunakan untuk evakuasi. Beberapa meter dari sana ada makam alm Mbah Maridjan. *ntah kenapa saya malas memotret disini 😦

Sungai yang mengering

Setelah berkeliling dan mencoba menara yang penampakannya horor banget *reyot dan banyak kayu yang sudah lepas* kami menjelajah bekas sungai yang sekarang tinggal tumpukan pasir saja tanpa air. Ada batu besar disana, belakangan saya baru tahu klo batu tersebut disebut batu alien, katanya ada penampakan mirip wajah alien di batu itu. Hmm..tapi di cek di fotonya kagak ada tuh mirip-miripnya sama alien..ahahah..

Ajeng nyender di batu alien

Ba’da dzuhur kami putuskan untuk turun, selain khawatir hujan perut juga sudah mulai berontak. Sambil makan siang kami merencanakan destinasi selanjutnya. Melihat kondisi Kota Jogja yang saat itu sedang galau *hujan gak jelas* kami pun akhirnya memutuskan jelajah benteng Vredeburg dan Taman Sari, tapi karena saya sudah pernah ke Benteng Vrederburg itu jadi pilihan pertama adalah Taman Sari.

Salah satu pintu masuk Taman Sari

Pas masuk ke bangunan bersejarah ini ada aura cadas yang terpancar..hahah..lagi ada festival musik “agak keras” ternyata. Berjalan menyusuri benteng sambil menikmati setiap sudut bangunan bersejarah ini asik juga, terutama jika menemukan spot menarik untuk foto-foto..hahah..*tetep* Sayangnya kunjungan kali ini harus berakhir sebelum semua tempat terjelajahi, keburu tutup sodara-sodara.

Benteng di Pulau Cemeti - Taman Sari

Beginilah jika liburan berubah haluan, jadi harus nih berkunjung lagi ke Jogja? *monolog