Budget Traveler


11 Komentar

Ngetrip to Bali-Ijen-Bromo (lagi) #2

Pulang dari Nusa Dua kami ditawari untuk jalan-jalan ke GWK, salah satu tempat wisata cukup terkenal di Bali. Tapi, galau melanda pas tau adiknya teman mau ke Kawah Ijen dan Baluran. Setelah rembukan semalam suntuk *lebih deh* akhirnya kami memutuskan *jreng jreng..musik horor*

  1. pagi-pagi ke loundry #loh hahah..GWK tidak lebih menarik dari pada nyuci =)) Tidak tidak..kami memutuskan ikut ke Ijen dan Baluran dari pada berlama-lama di Bali tapi gak mau bawa baju kotor
  2. ke plaza buat order sesuatu yang ga ada di cabang Bandung *kerjaan lain
  3. ke tempat oleh-oleh *lagi -__-β€œ

Jarak satu tempat dengan tempat lainnya ternyata jauh sodara-sodara, jadi berasa muterin Denpasar dweh *lebih* :p

Selesai ambil cucian, kami langsung packing dan pamit untuk kembali ke Jawa #halah. Keluarga ini baik banget, udah kami boleh numpang, dikasih makan, dipinjemin motor, dan pas pulang dikasih oleh-oleh pula. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Aamiin.

Sekitar pukul 13.00 wita kami berangkat dari Denpasar menuju pelabuhan Gilimanuk. Walaupun 5 jam perjalanan dalam bus kecil ekonomi tapi tetap bisa tidur pulas. πŸ˜€

Sampai Gilimanuk sekitar pukul 18.00 wita, nyebrang ke Ketapang hanya membutuhkan waktu 1 jam saja dan pas sampai masih di jam yang sama..hahah..berasa masuk mesin waktu :p

DSCN0387_2

Ba’da Isya baru ketemu teman-teman yang mau ke Ijen, karena kebanyakan belum makan malam jadi kami cari makan dulu di Banyuwangi. Pilihan jatuh pada ayam goreng, rawon dan soto, tampilan rawonnya cukup horor menurut kami. Biasanya nemu rawon dengan potongan daging kecil di dalam kuahnya, kali ini hanya ada kuah dan bongkahan lidah sapi, paru, hati, dan ntah apa lagi yang warnanya sama-sama menghitam..hahah..cari aman saya pesan ayam goreng saja.

Selesai makan dengan menu unik masing-masing, kami lanjut perjalanan menuju Ijen. Tiduuur sepanjang jalan dan baru terbangun pas mobil susah naik karena jalanan nanjak dan berpasir πŸ˜€ Maklum supirnya baru kesini, belum berpengalaman jadilah kami turun semua, ya untungnya gak diminta ngedorong..hehhe..dengan bantuan mas-mas di mobil lain akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan.

Tengah malam kami sampai pos pendakian, terkagum-kagum melihat pemandangan langit yang maha dahyat dan bulan yang terang benderang walaupun dingin sangat karena gak bawa jaket tebal. *ya iya laah wong tadinya mau mantai kok malah menyasarkan diri ke gunung -___-β€œ

Kami mulai pendakian sekitar pukul 12 malam, melalui jalur berpasir. Walaupun berpasir jalannya cukup enak dilalui, yang bikin gempor paling pas turunnya. #IMO

Sampai puncak sekitar pukul 3 pagi, pendakiannya tidak terlalu lama kok hanya 2-3 jam saja. Sebenarnya untuk menuju Kawah Ijen tidak harus malam-malam, kami mendaki tengah malam karena ingin melihar blue fire yang hanya ada dua di dunia, salah satunya di Ijen. Blue fire ini hanya bisa terlihat dari pukul 1 hingga 5 pagi saja. Dari bibir kawah sudah terihat jelas api birunya itu, tapi jika ingin lebih dekat bisa turun ke kawahnya, memang harus sangat hati-hati dan konsentrasi penuh, jalurnya batuan berpasir juga terjal. Sekali terpeleset bisa jadi nyawa melayang..heuheuheu..

Waktu itu saya tidak tahu seperti apa jalurnya, selain gelap ini juga kali pertama kami ke kawah ijen, jadi daripada penasaran ya nyemplung aja *tidak patut dicontoh  Dari 12 orang dalam rombongan kami hanya ber 3 yang nekad turun, Alhamdulillah ada bapak penambang belerang namanya Agus yang mau turun juga, jadi bisa barengan. Jalan sambil denger cerita Pak Agus bikin jalur menyeramkan ini jadi tidak terasa sulit. Klo dulu cuma baca dan nonton kisah tentang penambang belerang Kawah Ijen sekarang bisa ngobrol langsung, rasanya bikin hati cenat cenut. 😦

Tapiiiii usaha Pak Agus dkk yang dihargai murah padahal jarak antara tempat pengambilan belerang dan panampungannya yang setengah perjalanan kami, belum lagi jalur yang dilaluinya horor, tambah lagi asap belerang yang mereka hirup lebih mulia dari pada peminta-minta yang kayaraya di desannya. #eh *jadi rada emosi.. lol

Sampai di dasar kawah seperti biasa foto-foto, setelah beberapa lama baru sadar klo dari tadi yang ada disana hanya kami bertiga -__-β€œ

Sekitar 20 menitan kami berada di sana, baru datang rombongan lain. Beberapa saat kemudian kami semua langsung ngacir karena hembusan angin yang membawa asap belerang pekat berpindah arah menuju tempat kami. Haa..naiknya lumayan gempor, antara buru-buru dan harus hati-hati.

Sampai atas ngos-ngosan dah. Lalu dimana teman-teman saya???

OMG mereka tiduuuurr… -__-β€œ *gak tega mau posting fotonya =))

Setelah terang baru terlihat Kawah Ijen yang cantik itu tentu jalur semalam pun terlihat terjalnya. *gak kebayang semalem bisa lewat sono πŸ˜€

As always klo dah nemu tempat bagus pastinya foto-foto dung, sayangnya saya tidak membawa kamera yang benar. -__-β€œ Kamera pocket yang saya bawa ternyata rusak jadi saya tidak punya foto bagus di Ijen ini, aah harus balik lagi suatu hari nanti. πŸ˜€

1377316_649587615091459_1147695063_ndok. Fikri

DSCN0430_2

To be continue…

Iklan


18 Komentar

Ngetrip to Bali-Ijen-Bromo (lagi)

Berawal dari dapat tiket murah ke Bali dan kebetulan ada teman yang keluarganya tinggal disana, saya bersama dua teman berencana liburan di Bali, ya sekedar memanfaatkan tiket murah dan pengen tau kek mana sih Bali tu. :p

Eh jelang hari H sang tuan rumah harus ke Sumbawa, untuk liputan Superqurban. Mulailah saya dan satu teman lainnya galau, gimana disana nanti. Klo gak jadi pergi sayang juga nih tiket, akhirnya sedikit nekad kami berangkat saja tanpa tuan rumah. Ternyata walaupun dia gak jadi pergi bersama kami, keluarganya bersedia menjemput dan menampung kami di sana. Alhamdulillah.

Sampai di Bali tengah malam waktu setempat, jet lag dikit karena ada kejadian kurang menyenangkan di pesawat sebelum mendarat, jadi berasa naik rolle coaster. Keesokan harinya kami disuguhi sarapan khas sunda, bala-bala dan lepeut ditemani teh manis hangat, aah..ini berasa bukan di Bali ditambah lagi warga sekitar yang kami temui berbicara dalam bahasa Sunda. Belakangan kami baru tahu ternyata mayoritas penduduk disini memang orang sunda, itulah kenapa sampai disebut Bandungan, meskipun gak semua warganya berasal dari Bandung. Beneran deh berada di sana seperti di rumah. πŸ˜€

Hari pertama berada di Bali kami minta ditunjukan pasar *jadi berasa cerita Abdurrahman Bin Auf..haha.. tapi bukan untuk berdagang malah belanja.. :p *dasaaar.. Mungkin masih canggung karena tidak ada tuan rumah jadinya rencana awal mau berkunjung ke berbagai tempat yang sudah diincar pun tidak jadi dilakukan. Ujung-ujungnya keliling pasar Badung dan tempat oleh-oleh, kemudian berkunjung kesalah satu teman yang tinggal di Kampung Jawa. Tentu dengan bantuan google map dan bertanya pada orang sekitar agar tidak nyasar.

pasar-badung4gambar dari sini

Oh ya karena mayoritas penduduk Bali adalah umat Hindu, jadi banyak pure dan janur disepanjang jalan, selain itu menurut saya Bali memiliki bau yang khas, bau dupa dan bunga. Sesaji untuk para dewa pun bisa dijumpai dimana-mana, di jalan, jembatan, tumpukan barang yang mau dijual, sudut toko, pasar, sampai di kendaraan.Β  πŸ˜€

Kuta

Hari kedua barulah kami jelajah pantai. Pantai yang kami kunjungi pertama kali adalah Kuta, adeuuh..beneran deh kawasan ini udah gak kayak Indonesia, kebanyakan bule dari pada lokal. Sampai di pantainya pun demikian, pantainya sih bagus, pasir putih, air lautnya biru dan degradasinya terlihat jelas, langit juga cerah waktu itu, tapi manusia-manusianya.. masyaAllah >,< biarlah orang bilang kami udik or something. Pokoknya gak mau berlama-lama disana. Siangnya, selepas dzuhur kami diajak main ke Nusa Dua, melalui tol Benoa yang baru diresmikan menjelang acara APEC. Suasana di Nusa Dua sedikit lebih baik, mungkin karena siang ya.

IMG-20131012-WA0003

To be continue..