Budget Traveler


14 Komentar

Merbabu, then I love you

Judulnya provokatif :p

ngga, saya ga lagi jatuh cinta sama salah satu teman pendaki kok, saya jatuh cinta dengan sabana satu Merbabu.

Jadi begini ceritanya, Rabu (11/9) menjelang maghrib teman saya di P24 tetiba telpon, tanya apakah saya mau menggantikan kuota salah satu peserta yang batal ikut ke Merbabu. Tanpa basa-basi saya langsung say yes! Fix saya masuk kuota, Kamis pagi saya booking tiket ke Semarang pulang pergi. Jumat malam sampe rumah izin dari ibu sudah di tangan. Segera packing dan caw ke stasiun, nyampe stasiun 10 menit sebelum kereta berangkat. Karena belum makan dan malas pesan makanan kereta, saya menuju hokben dan disana sudah ada teman yang menunggu sambil makan. Sadar diri klo makan suka lama saya bungkus saja pesanan saya sambil ngobrol. Eh ternyata kereta dah mau berangkat, sampai-sampai dijemput penjaga stasiun. *kebiasaan

Stasiun Semarang

Sabtu pagi selesai melaksanakan kewajiban di stasiun Tawang, kami menuju Stasiun Poncol, meeting point bareng tim Jakarta. Ternyatah tim Jakarta belum sampai dan kami mulai kelaparan, akhirnya cari sarapan depan stasiun. Sebenarnya agak kurang sreg sama tempatnya, tapi lapar..heheh. Lagian klo masih pagi makanannya masih fres jadi aman laah..hihihi..oh ya ini sarapan murah, cuma 5.000 udah dapet nasi+sayur+tempe+teh manis panas. Selesai sarapan tim Jakarta dateng, tunggu mereka sarapan, lalu carter minibus ke Posko Pendakian Kopeng Chuntel. Kami berhenti di Pasar Sapi-Salatiga, di sana sudah ada satu orang teman dari Bandung yang menunggu. Ceritanya dia dateng sebagai kejutan untuk seseorang. Hesyaah..so sweet daah :p Jadi total peserta pendakian Merbabu ini ada 16 orang, 13 dari Jakarta dan 3 dari Bandung.

Sampai di Kopeng Chuntel sekitar pukul 10 wib, bersih-bersih, packing ulang, foto-foto, lalu mulai pendakian. Trek pertama berupa jalanan yang sudah disemen, melewati pemukiman penduduk, kemudian ladang sayuran petani setempat. Setelah itu masuk hutan, kami baru sampai pos bayangan 1Β  pas adzan dzuhur. Sholat dulu disana lalu lanjut perjalanan menyusuri hutan, sampai di pos 2 barulah buka bekal makan siang yang tadi sempat dibeli di Pasar Sapi. Oh ya dalam perjalanan dari pos 1 menuju pos 2, kami bertemu bule, bukan pasangan pakle yaa..Turis asing ini nyentrik banget dandanannya, pake kemeja, celana kain, sepatu pantofel, dan tas slempang kantoran, dah gitu jalannya sendirian dan cepat. Belakangan kami baru tau dia pengajar di Yogyakarta, bahasa Indonesianya fasih banget, padahal dari tadi kami sok nginggris gitu ;))

Foto bareng bule nyasar :D*dok. Rizal

Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 mulai memasuki kawasan terbuka, kanan kiri banyak ditumbuhi ilalang, kemudian mulai banyak edelweis, dan jalannya berpasir. Alhamdulillah waktu itu sedikit berkabut jadi tidak terlalu menyengat panasnya. Sampai pos 3 sudah masuk ashar, istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke pemancar, tempat kami menginap nanti. Katanya sih deket ke Pemancar, iya kali dibandinginnya sama pos 1 :p #PHP ke dengkul

Dari pos 3 ini jalurnya terbuka, berpasir dan batu, waktu itu tenaga saya sudah mulai menipis dan banyak berhenti, karena itu saya baru sampai pemancar pukul 18 wib. Setelah semua anggota tim sampai pos pemancar masak-memasak pun dimulai. Sayangnya saat masakan sudah siap santap, hanya sebagian yang makan termasuk saya, lainnya sibuk dengan games truth or dare plus “ngebuli” orang..hahaha..ngebuli orang bisa bikin kenyang yaa :p

Selesai makan saya dan beberapa teman tidak melewatkan kesempatan emas memotret pemandangan kota dari atas pos pemancar atau disebut juga gunung Watu Tulis di ketinggian 2.896 mdpl. Malam makin larut dan dingin saya pun memutuskan untuk segera beristirahat.

Magelang in the dark

Selesai sholat subuh saya dan beberapa teman langsung berhambutan keluar tenda untuk berburu sunrise. Aah.. berdiri di atas awan, menanti matahari muncul perlahan dari ufuk timur itu rasanya ajaib banget. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan Gn.Sumbing dan Gn.Sindoro, lalu Gn.Ungaran di belakang Gn. Telomoyo. Puas dengan pemandangan indah pagi hari, setelah sarapan kami pun bersiap melakukan perjalanan selanjutnya.

Morning Merbabu

Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar biasa. Disini kita bisa melihat kawah yang berwarna putih seperti muntahan belerang yang mengering. Jalur dari sini mulai menanjak dan agak curam, kanan-kiri jurang namun ditumbuhi banyak ilalang jadi tidak terihat menyeramkan. Ada satu spot yang sangat curam dan dinamai jembatan setan, gak ngerti juga kenapa namanya ektrim banget. Ada dua alternatif melalui jalur ini, satu melipir lereng yang sempit dan panjangnya sekitar 1 meter lebih, atau climbing. Saya memilih climbing karena terasa lebih mudah dan cepat ketimbang harus melipir tebing..heuheu..

Kawah Candradimuka Merbabu

Setelah melalui jalur setan itu #eh kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Prengodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo) yang memanjang. Teman-teman yang sudah pernah kesana memilih menunggu di bawah, karena ini kali pertama bagi saya, jadi saya ikut dengan sebagian lain yang naik ke puncak. Waktu itu carrier dititip dulu di bawah, rasanya ringan banget sampe lari-lari ke puncak..ckckck..

Puas menikmati pemandangan dari atas Puncak Syarif kami pun turun kemudian naik lagi ke Puncak Kenteng Songo. Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi, sayangnya saya kurang beruntung, pas sampai puncak merapi sedang tertutup kabut. Turun dari Kenteng Songo menuju puncak Triangulasi, perasaan puncak semua nih gunung πŸ˜€

Kami turun setelah melakukan sesi pemotretan yang cukup panjang. πŸ˜€

Foto bersama di Kenteng Songo*Dok. Rizal

Jalur turun melalui Selo, jalan ini berbeda dari sebelumnya. Dari puncak turun terus melalui jalur berpasir halus dan cukup tebal. Sampai akhirnya menemukan sabana yang luas dikelilingi bukit-bukit yang indah. Nah ini dia yang membuat saya jatuh cinta pada Merbabu, tentu setelah Semeru ya..hihihi..

Sabana Merbabu

Setelah itu turun lagi masih dengan jalur berbasir dan berkelok-kelok, saran saja jika tidak kuat dan khawatir jatuh klo berdiri sebaiknya perosotan saja..heheh..Jalur Selo ini sedikit sekali bonusnya, semua turunan bahkan sampai kawasan pohon pinus di pintu masuk jalur pendakian Selo..ckckck..PR banget nih muncak lewat Selo. Kami sampai Selo maghrib dan sudah dijemput oleh supir bus kemarin, kami menuju Stasiun Tawang,Β  karena kereta Semarang-Bandung sudah berangkat maka rombongan Bandung menuju pull bus Solo-Bandung. Saya sendiri memutuskan untuk menginap semalam di Semarang karena pegal luar biasa, naik kasta dari sleeping bag ke kasur empuk di salah satu penginapan, lumayan ada penginapan gratisan dari Mrs. Ncus :p

Thanks to temen-temen pendakian ceria ke Merbabu : Ani “TL galau”, Mbak Ade “Mak Geboy”, Mba Lisna, Febi, Tiara, Rizal “objek derita”, Deva, Hendra, Rifqi, Atek, Jaka, Aziz, Bang Jati, Bang Niko “Fotografer P24”, dan Om Dwi “artis kita”

Iklan


23 Komentar

Mendaki Puncak Tertinggi Jawa Barat

Para Pendaki Gunung Ciremai*dok Qefy

Agustus lalu (parah baru nulis sekarang..ahah) saya bersama beberapa teman yang saya kenal melalui blog melakukan pendakian ke Ciremai. Teman saya sudah merencanakan dari jauh hari, bahkan mungkin sudah dari tahun lalu, saya sendiri baru memutuskan fix akan ikut seminggu sebelum berangkat. Total peserta yang ikut sebanyak 14 orang, 2 diantaranya sudah sangat berpengalaman dalam hal mendakiΒ  *iya laah secara orang wanadri. Sedangkan lainnya termasuk saya adalah newbie, ya hanya sesekali saja jalan-jalan ke gunung, bahkan bagi beberapa orang, Ciremai merupakan pendakian pertama.

Seperti postingan sebelumnya, cuaca saat kami datang ke Kuningan tidak terlalu baik, langit malam tanpa bintang dan angin cukup kencang, bisa dibayangkan apakabar di atas sana? Heuheu.. Tapi Alhamdulillah keesokan harinya, cuaca tampak cerah walaupun dari kejauhan sesekali puncak tertutup kabut tebal.

Kami melakukan pendakian melalui Palutungan, jalur Palutungan ini, katanya..ini katanya loh termasuk jalur yang tidak terlalu terjal tapi memang lama. Total ada 6 pos yang dilalui yaitu, Cigowong (1.450 mdpl), Paguyangan Badak(1.790mdpl), Arban (2.030 mdpl), Tanjakan Asoy (2.108 mdpl) klo pulang kami sebut turunan geboy..ahaha, Pesanggrahan (2.450 mdpl), dan SangHyang Ropoh (2.590 mdpl). Satu-satunya sumber air hanya ada di pos 1 yaitu di Cigowong, setelah itu hanya ada hutan, vegetasi yang ditumbuhi cantigi serta edelweiss, dan mendekati puncak hanya ada batuan curam dengan tanah berwarna agak kuning mengandung belerang. So dari bawah harus sudah bekal air yang banyaaak.

Trek yang monoton dan nanjak terus membuat beberapa teman cukup kewalahan. Sebenarnya saya juga agak gempor waktu itu, sadar akan kemampuan diri membuat saya memutuskan berjalan di depan agar termotivasi untuk segera sampai dan lebih banyak istirahat. Sampai mendekati pos terakhir ada salah satu teman yang terkena hipothermia, kami yang di depan segera mencari tempat lapang dimanapun asalkan bisa mendirikan tenda, meskipun itu lereng tanpa tumbuhan atau batu penghalang badai. Isya dia baru sampai di tenda dengan kondisi sudah tidak sadar, digendong oleh senior kami, diberi jaket tebal dan digarang depan api unggun. *denger ceritanya sih demikian..maklum saya sudah tidur karena kelamaan nunggu..ahahah..#parah Ntah jam berapa saya baru bangun karena kelaparan dan kedinginan, teman saya yang terkena hipo sudah sadar dan bisa makan. Alhamdulillah tidak terjadi hal yang menyeramkan, hanya saja dompet senior ilang ntah kemana saat menggendong teman saya itu. Semoga diganti dengan yang lebih baik ya Pak.

Banyak yang patut dievaluasi dalam perjalan saya kali ini, dari kesiapan fisik, tujuan muncak, sampai kekompakan tim. Mendaki gunung itu bukan untuk eksistensi diri, dan juga bukan sekedar hunting foto bagus, tapi sayangnya tujuan-tujuan itu masih melekat disebagian orang bahkan mungkin saya, jadi perjalannya diburu waktu ingin mengejar sesuatu dan memaksakan diri, akhirnya soal kekompakan jadi PR bersama. Padahal bisa sampai puncak itu bonus, yang penting pergi dan pulang dengan selamat.

Tapi walaupun banyak yang harus dievaluasi, banyak juga yang harus disyukuri dari pendakian Ciremai ini. Untuk saya pribadi Ciremai membuat saya lebih serius menyiapkan P3K, lebih aware terhadap kondisi kesehatan sendiri dan orang lain, selain itu di Ciremai ini lah, saya benar-benar bisa melihat karakter setiap orang. Mungkin bukan hanya saya, tapi yang lain juga, dan mungkin nilai saya sangat minus menurut yang lain..heheh..

Setelah semua kembali normal *jiaah..sebelum subuh kami mulai muncak, dan sampai Goa Walet pukul 05.00 wib. Selesai sholat lanjut pendakian. Akhirnya semua bisa muncak sekitar pukul 6 lebih. Kami bisa menikmati sunrise yang indah setelah perjuangan yang cukup melelahkan dari bawah sana. Hallo Jawa Barat..saya ada di 3.078 mdpl. ^^/

Sunrise @Ciremai

Anw Thanks ya teman-teman peluk dari jauh untuk akhwatnya >:D<

Foto-foto di sini