The 'Rok' Mountaineer

Ngebolang ke Gn. Sumbing

5 Komentar

DSC_0146

Beranjak dari Dieng sekitar pukul 2.30, agak sore karena masalah lambung saya yang protes gak dikasih makan. Saking sakitnya saya malah kepikiran untuk nginap di Dieng saja dan teman saya ke Purworejo sendiri, tapi gak enak juga karena janji akan hadir kenikahan dan motret. Singkat cerita (walaupun waktu naik busnya gak singkat) kami sampai di Wonosobo dan melanjutkan naik bus Purworejo, di tengah jalan si mamang kondektur bilang “woalah sudah tidak ada bus ke Purworejo jam segini.” Ngeeek..kami saling berpandangan “lah tadi pas ditanya, bapaknya bilang iya ke Purworejo” agak kesal karena tadi sebelum naik saya tanya dulu ke Purworejo tidak dan dia bilangnya iya. Ya tapi sekesal apapun tetap saja tidak merubah haluan itu bus.

Karena bus hanya sampai Kertek Wonosobo kami pun turun di sana, mungkin kondektur tadi merasa sedikit bersalah dengan memberikan harapan palsu pada kami, jadi dia menawari kami menginap di rumahnya, serius baru kali ini ada kondektur bus menawari menginap di rumahnya, agak seraam..ahahah..kami tolak karena masih berharap ada bus lain yang memang mau ke Purworejo mengingat waktu itu masih jam 5 kurang.

Suasana menunggu bus semakin dramatis dengan hujan yang juga semakin deras sayangnya gak ada lagu..hihihi..*emang film :p Melihat tampang kami yang sedikit linglung mamang ojek yang mangkal di perempatan Kertek pun menawarkan diri untuk mengantar ke tujuan, tapi bayarannya lebih mahal dari harga tiket Bandung-Wonosobo -__-” sorrysorry ya..hujan pula.

Kami terus berharap sambil sms sana-sini minta tolong adakah teman yang tinggal di Wonosobo, mention Filli yang ternyata tinggal di Purwokerto (beda tipis sama Purworejo), sampai mention mimin piyungan tanya “markas sodara” terdekat..ah si mimin malah sibuk sama urusan lain. Tapi memang harus seperti itu takdirnya, kami malah dipertemukan dengan dua orang kakak beradik yang juga sedang berteduh depan pertokoan di pasar Kertek. Awalnya hanya ngobrol basa-basi tanya dari mana, mau kemana, ujungnya kami ditawari menginap di rumahnya, tadinya nolak tapi setelah saya dan teman berdiskusi tentang kemungkinan a, b, dan c kami putuskan untuk mengambil tawaran mereka.

Akhirnya saya dan kawan saya ikut si kakak, pakai angkot carteran dan si adik pakai motor sendiri hujan-hujanan. Si kakak bernama Tia dan adiknya Idris. Sepanjang perjalanan kami saling berbagi cerita dari mulai kota asal kami, kenapa kami ke Dieng, kenapa juga sampai gak bisa pulang, dan lain-lain. Tia juga cerita tentang banyak hal, yang paling bikin aku kagum adalah Tia ini babysiter dia gak minderan dan tetap bangga sama kerjaannya. Dia kerja di Semarang dan kali ini pulang karena majikannya ngasih liburan setelah umrah. Tia pasti seneng banget diajak umrah gratis, wong aku aja yang denger seneng..heheh. Sepanjang jalan pokoknya dia cerita dengan mata berbinar-binar kami yang menyimak ikutan senyum-senyum, tapi ada satu hal yang agak bikin kami deg-degan, si angkot mogok-mogok terus adakali setiap lima meter berhenti, mana di luar gelap banget, jalannya jelek pula, aku denger Tia terus baca doa, temen aku ntah ngapain, dan aku merhatiin mereka..ahahah..baru ngeh ternyata ini jalan menuju Gunung Sumbing. ASLI tadi pas di Kertek gak tau klo Desa Bowongso yang mereka bilang itu ada di Gunung Sumbing, malah Tia bilang desa tempat tinggalnya adalah desa terakhir di Gunung Sumbing. WOW!

Setelah perjalanan panjang dengan rasa yang gak karuan..Alhamdulillah kami sampai juga di tujuan. Kami disambut dengan baik oleh keluarga mereka, disuguhi teh manis hangat dengan aroma khas, cemilan-cemilan trasional Wonosobo, dan bau kemenyan..huwaaaa..saya lirik kanan kiri siapa tau ada suguhan-suguhan tertentu, mungkin Idris tau apa yang saya pikirkan dia bilang “Klo rokok orang sini memang campuran antara tembakau dan kemenyan.” Howalaah..ternyata diruangan sebelah bapaknya lagi ngerokok kemenyan..sakti bener daah..:D

Ini pertama kali saya menginap di rumah orang yang baru kenal, di desa yang jauh dari mana-mana, dan merasa nyaman, aneh memang, tapi saya yakin siapapun yang bertamu ke rumah mereka pasti nyaman. TOP banget keluarga Tia dan Idris ini, asli Indonesia banget. Puas dengan suguhan makan malam dan obrolan seru kami izin bersih-bersih, sholat, dan tidur. 😀 *gak sopan

Semalam walaupun tau desa ini diatas gunung, tapi karena gelap jadi tidak terihat indahnya, selepas shubuh baru deh terlihat puncak Gunung Sumbing yang menjulang tinggi, hanya 3 jam jalan kaki dari desa ini..*sendainya gak ingat janji udah lari kesana* Berjalan sedikit keluar rumah terpampang nyata Sindoro yang gagah itu, serong kiri dikit pemandangan Kota Wonosobo yang berkabut tampak mempesona..aaahh..ini negeri antah berantah yang indah..

Waktu terus berlalu dan kami harus segera kembali ke Purworejo, klo tidak kepala taruhannya..ahahah..
Perjalanan dua hari ini membuat saya semakin takjub akan indahnya Dieng dan ramahnya warga Wonosobo, tapi merasa bersalah pada teman yang mau nikah di Purworejo dan adik kelasnya ini. Dia bilang “racunnya berhasil teh, beneran ngebolang kita, bocah ilang.” heheh..maap 😀

Iklan

5 thoughts on “Ngebolang ke Gn. Sumbing

  1. wow .. cantik foto fotonya, pengen terbang ke sana nih buat liburan 😛

  2. kalau saat itu kamu beneran naik, mungkin ketemu saya di atas sana 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s