Budget Traveler


8 Komentar

[Lintasan] Menenangkan

Ketika ada satu hal yang tidak diduga dan diharapkan dalam sebuah acara seharusnya memang ada orang-orang yang tetap bersikap tenang dan menenangkan. πŸ™‚

Iklan


5 Komentar

[Lintasan] Monolog traveling

Bagaimana ya rasanya bepergian seorang diri ketempat yang belum pernah dikunjungi?

Berani gak ya?
Kemana kira-kira?
Eh..kan pernah ke hutan pinus di Manglayang. Jalan sendiri kek orang bego..hahha..rasanya ga enak. Tapi itu kan ke hutan pinus gunung depan rumah :p

Hmm..kayaknya perlu dicoba yang agak jauhan. Tapi tolong jangan karena perdin yaa..bukan gratisan pula :p

Kemana??

Ah..ntah

Argo Parahyangan, 18/06/13.


12 Komentar

Jalan-jalan ke Candi Arjuna

T2S_8972

Turun dari Gunung Prau, 10 orang rombongan dari Bandung dan Yogya melanjutkan jalan-jalan ke kawasan wisata Candi Arjuna. Awalnya mau lanjut ke Talaga Warna, namun karena waktunya tidak akan mencukupi kami putuskan hanya berkeliling di Candi Arjuna saja.

Banyak candi di kawasan Candi Arjuna ini yang sudah hancur, bahkan tinggal tumpukan batu saja. Mungkin klo tidak bernilai sejarah batu-batu ini sangat tidak menarik untuk dikunjungi πŸ˜€

Memasuki kawasan Candi Arjuna dikenai biaya tiket Rp10.000,- dari sana bisa berkeliling ke Candi Gatot Kaca, Candi Bima dan langsung ke Talaga Warna. Di kawasan candi Arjuna sendiri ada beberapa candi lainnya, yaitu Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Dari sebuah artikel, candi-candi ini ditemukan pertama kali oleh seorang tentara Inggris bernama Van Kinsbergen pada tahun 1814. Berbeda dengan candi lainnya yang sebagian besar ditemukan terkubur di bawah tanah, candi-candi di dataran tinggi Dieng yang ditemukan di rawa air. Proses pengeringan dimulai lebih dari 40 tahun kemudian. Hmm..klo gitu Dieng ini dulu telaga? sama seperti Bandung kah yang awalnya sebuah danau? *mikir

Arjuna Tample

Oh ya, kawasan candi-candi ini juga berbeda dengan candi-candi di Yogyakarta, lebih sepi pengunjung, hanya ada beberapa pasangan muda mudi yang duduk-duduk di sekitar candi, padahal waktu itu weekend. Tapi tak apalah karena sepi itu juga kami jadi bebas berfoto-foto ria, menggila di Candi Arjuna. hihih

Foto : Muhammad Jaka, Edward Candra, dan sayah


9 Komentar

Melipir ke Kawah Putih

Kemarin ada acara rihlah kantor ke Ciwidey, tepatnya ke Ciwalini. Saya dan beberapa teman kantor awalnya kompakan tidak akan ikut rihlah, mengingat lokasi dan susunan acara yang tidak cocok dengan kami para petualang yang masih singel ini. *uhuk..eh si ncus dah nikah deng..:p

H-1 tiba-tiba rencana batal, akhirnya kami ikut dalam rihlah, tentu dengan rencana lain agar tetap fun walau ikut rombongan. Saya sendiri mengajak teman lain yang tidak satu kantor untuk ikut.

Begini rencana kami, ikut rombongan, turun di lokasi, saat acara dimulai barulah melipir ke Kawah Putih..haha..dan berhasil.

Dari lokasi Ciwalini kami menggunakan angkot kuning turun menuju kawasan Kawah Putih, karena dekat ongkosnya hanya Rp2.000. Mamang angkot sempat menawari kami untuk diantar sampai lokasi kawah, tapi penawarannya tidak menarik, terlalu mahal, walaupun sebenarnya kami tidak tau berapa harga tiket dan ongkos masuk.

Dugaan kami benar, tiket masuk hanya Rp15.000 dan angkutan khusus yang mengantar sampai lokasi serta kembali ke pintu keluar hanya Rp10.000. Hemat 2x lipat dari penawaran mamang angkot tadi. Oh ya ternyata untuk foto pre wedding ada harga khusus Rp300.000, weeeh..mehel, makanya dari pada prewed mending postwed aja, tiket normal..hahah

Ternyata Kawah Putih itu kecil ya..*dasar katro..ngakunya aja orang Bandung ke Kawah Putih baru sekarang..hahah..Karena kecil kami pun tidak butuh waktu lama untuk berfotoria dan jalan-jalan.

image

Karena itu juga kami bisa kembali sebelum acara kantor usai dan sesaat sebelum makan siang..hihihi..tetep ga mau rugi.

Beberapa teman sempat bertanya “kemana aja? Kok gak kelihatan”, kami pun selalu memasang tampang sama, senyum dan menjawab “ada kok”..bwahahah..sampai akhirnya sang obos besar mendekat ” tadi kemana, kok arahnya beda?” huwaa..ketauan..gakgakgak..tak apalah, kali-kali memisahkan diri, toh kami bukan mangkir dari kerjaan yaa..cuma cari view yang lebih asik dari pada orang-orang berendem dalam kolam air panas :p

image


4 Komentar

Mudah terkesan itu..

Suatu hari dalam sebuah perjalanan saya bertemu orang yang katakanlah cool *dingin boo..brr..hahaha..Diantara teman-temannya dialah yang paling cool, paling sopan, dan paling dewasa *baca tua..bwahahah
Apa yang membuat saya terkesan? sikap sopan santunnya pada orang yang lebih tua yang ditemuinya di jalan, sikap cinta lingkungannya, menjaga pandangannya, dan bicaranya yang tidak tinggi apalagi menggurui. Pengalamannya mungkin banyak, lebih banyak dari teman-temannya, tapi cara dia bercerita pada yang lain tidak seperti “gue lebih hebat”.

Pada pertemuan berikutnya kami sempat bertegur sapa dan sedikit bercerita, ternyata kami memiliki hobi yang sama, yaitu fotografi, cukup seru tapi obrolan terputus karena saya harus pergi. Saya sempat memberikan alamat flickr saya, begitupun dengan dia yang memberikan alamat web-nya. Setelah lama tidak bertemu, dan saya tetiba teringat alamat web yang pernah diberikannya. “Aha..dia kan suka jalan-jalan, mungkin akan ada foto-foto bagus di sana yang bisa menginspirasi.” pikir saya.

Satu, dua, tiga..saya buka foto-foto di web-nya, semua berisi foto tempat yang pernah dia kunjungi. Aga kepo saya juga buka semua koleksi fotonya, dan…tetiba ada perasaan ilfil dengan banyaknya model super zuper seksi di sana-sini. Ya ampun, foto-foto ini membuat kesan pertama saya terhadap orang tersebut luntur.

Betapa kesan pertama itu tidak selalu benar. Apa yang kita lihat baik belum tentu baik, mungkin juga apa yang terlihat buruk itu belum tentu buruk. Pantas saja dalam sebuah tes psikologi “mudah terkesan” itu dinyatakan sebagai salah satu kelemahan, ternyata ini toh. Dan mungkin hal seperti ini juga yang membuat para ababil banyak jadi korban fb atau jejaring sosial lainnya ya. Naudzubillah. *untungnya bukan ababil..hahah..


4 Komentar

Mendaki Prau 2.565 mdpl (Part #2)

Sudah pukul 10 lebih dan rombongan Jakarta belum datang juga, dan tidak ada gerombolan tas besar lain di terminal ini selain kami. Dilanda bosan, ngantuk, dan lapar lagi..lagi..lagi. Setelah obrolan panjang kami memutuskan untuk pergi ke Dieng terlebih dahulu tanpa menunggu rombongan dari Jakarta. Oh ya ada satu orang lagi bergabung, dia dari Yogya menggunakan sepeda motor.

DSC_7543

Dari terminal Wonosobo menuju Dieng :
1. Pakai angkutan umum warna kuning, turun di terminal lama : ongkos Rp3.000/orang karena kami membawa carier
2. Bus kecil menuju Dieng, turun di Gardu Tieng karena ada perbaikan jembatan selama 2 bulan : ongkos Rp6.000/orang
3. Dari Gardu Tieng lanjut dengan bus serupa menuju Patak Banteng, posko pendakian Prau : ongkos Rp5.000/orang

Sampai di Patak Banten, rombongan Jakarta masih belum sampai Wonosobo. Kami menunggu sambil isirahat di posko pendakian Gn. Prau. Samping posko ada ibu-ibu yang sedang membuat manisan carica, buah khas Dieng, sejenis pepaya namun kecil, kami ditawari tempat untuk wudhu dan sholat, karena di posko airnya rusak. Sudah mendekati ashar rombongan Jakarta belum juga datang, karena bosan menunggu badha ashar akhirnya kami memutuskan mendaki duluan.

Pendakian melalui jalur Patak Banten diawali dengan tangga yang cukup panjang dan melelahkan, kemudian ladang petani, selanjutnya bebatuan. Naik terus tidak ada bonus dataran landai. Sekitar pukul 17.00 kabut mulai turun dan semakin tebal menjelang maghrib. Kesalahan besar yang saya lakukan adalah TIDAK BAWA SENTER. -__-β€œ
Tadinya mau bawa senter, tapi karena dijadwal pendakian akan dilakukan siang hari jadi aku simpan lagi. β€œLebih baik menyesal bawa senter gak dipakai, dari pada nyesel gak bawa senter.” Petuah Bang Sayf, aah bener banget bang, maaf yee jadi ngerepotin.

Sampai puncak sudah gelap, karena dinginnya kabut dan angin yang cukup kencang kami memutuskan mendirikan tenda dulu dan membuat air panas sambil menunggu rombongan Jakarta. Sambil nunggu kami isi dengan obrolan dan candaan ringan, hening sejenak sambil menikmati indahnya gugusan bintang, kemudian memotret malam. Tidak lama kemudian rombongan Jakarta datang, dan ternyata kami melewati tugu puncaknya, jadi lah harus kembali ke tempat yang tadi dilalui untuk bergabung dengan rombongan lain. Malam makin larut, tapi perkemahan makin ramai. Saya dan beberapa teman sempat berburu foto bintang hingga jam 12 malam, sampai kabut benar-benar menutup langit.

DSC_7623_2

Pagi menjelang dan saatnya berburu sunrise!
Di puncak sudah berjejer orang-orang yang siap berburu foto dengan kamera kerennya, tapi sayang..udah lama nunggu matahari masih malu-malu, jadi 4 puncak gunung tidak terlihat jelas, hanya 2 puncak yang bisa di capture dengan cukup baik.

Puncak Sindoro

Tapi lagi, setelah terang bunga-bunga dan bukit telletubies terpampang nyata di depan mata. Haaa..Subhanallah..Indah, beneran seperti negeri di atas awan.

DSC_7718_2

Selesai acara foto-foto, dilanjut makan-makan, lalu games dan tukar kado. Setelah itu pulang lewat jalur Dieng, tepatnya SMPN 2 Kejajar, Dieng, ternyata jalur disini lebih enak dari pada jalur pergi yang sangat terjal. Sebelum bubar kami berkumpul di penginapan Bu Jono yang terkenal itu, sekitar pukul 14.00 rombongan Jakarta langsung pulang, dan kami dari Bandung sempat berkunjung ke Candi Arjuna, tadinya mau lanjut ke Talaga Warna tapi waktunya mepet.

Sekitar pukul 16.00 kami kembali ke Wonosobo, beli tiket pulang, bersih-bersih, makan, beli oleh-oleh, sholat maghrib-isya, dan akhirnya pulang kembali ke Bandung. Bye Dieng, saya pasti kembali. πŸ™‚

Thanks to temen-temen P24, terutama tim pertama πŸ˜€
Kang Jaka, Tiara, Bang Sayf, Kang Windi, Bang Chandra, Aa Doni, Icha, Dimas dan Dea.

Selamat Ulang Tahun ke 2 untuk P24, moga makin Jaya! ^o^/

====

β€œWalaupun seribu kali kamu naik gunung tertinggi, jika hanya raganya saja yang naik, percuma. Seharusnya ketika kalian naik gunung, bertambah pula keimanan pada Sang Pencipta.” – Quote dari Bapak di PO Sinar Jaya –

*jleb
Foto lain di sini


5 Komentar

Mendaki Prau 2.565 mdpl (Part #1)

Kamis, 30 Mei 2013 saya dapat kabar singkat dari teman “mau ikut ke Gn Prau?” awalnya berfikir itu Tangkuban Perahu. Tapi setelah dia mengatakan lokasinya di Wonosobo dan mengirimkan link, saya baru tahu ternyata berbeda. Prau itu salah satu gunung di kawasan Dieng dengan tinggi 2.565 mdpl, namanya memang tidak terlalu terkenal tapi puncaknya indah bangeet. *lihat di web orang πŸ˜€

Karena teman saya di Jakarta, maka saya dan satu teman lagi begabung dengan kelompok yang berangkat dari Bandung. Mereka ada 7 orang, bersama kami menjadi 9 orang. Belakangan saya baru tahu juga klo acara ini merupakan anniversary ke 2 P24 (Petualang 24) yaitu komunitas para petualang *ya iya laah :p, karena itu setiap orang yang ikut harus menyiapkan kado minimal seharga Rp10.000,-

Setelah mendapatan izin dari orang tua, Jumat pagi saya packing seadanya, kemudian packing ulang di kantor dengan daypack 28 lt pinjaman seorang teman. Karena meeting point di Terminal Cicaheum pukul 18.00 wib, saya berangkat dari kantor ontime tapi teman saya yang kerja di Padalarang baru sampai pasteur ketika saya sudah setengah perjalanan menuju Cicaheum, agak khawatir karena saya tidak minat jika harus pergi sendiri. Maghrib saya sampai di Cicaheum, bertemu dengan Kang Jaka, koordinator kelompok Bandung, saya ceritakan bahwa teman saya pasti datang terlambat dan minta pendapatnya tentang tiket, β€œsudah beli saja dulu tiketnya, nanti kehabisan, soalnya tinggal 8 kursi lagi” katanya. Akhirnya saya pesan 2 tiket Bandung-Wonosobo seharga Rp60.000,- dan meminta kepada kondektur bus utuk berhenti di Cileunyi karena teman saya menunggu di sana.

Selesai sholat maghrib dan semua sudah kumpul, kami 8 orang ini sudah dipanggil oleh kondektur untuk segera naik bus *seperti pesawat saja πŸ˜€ Oh ya kami menggunakan bus Sinar Jaya yang berangkat pukul 18.30 wib. Saya masih belum tenang karena belum ada kabar pasti tentang posisi teman saya, sibuk sendiri dengan hp dan pikiran-pikiran tidak jelas, takut teman saya terlambat dan tidak jadi pergi. Benar saja teman saya terlambat sekitar 15 menit, namun supir dan kondektur masih berbaik hati menungguinya di Cileunyi, bahkan penumpang pun berbaik hati tidak protes atau mengeluaran kata-kata yang tidak enak didengar. TOP deh Sinar Jaya dan penumpangnya.*khususon Bandung ya πŸ˜€

Sinar Jaya

Kami meminta maaf pada supir dan kondektur, pun para penumpang lain, kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Setelah sedikit tenang, kami baru sadar hanya kami yang berangkat dari kantor, masih menggunakan seragam batik, dan belum mandi..hahah.. Yah walau demikian kami tetap tertidur pulas πŸ˜€

Pukul 23.24 wib bus kami sampai di Banjar, istirahat sejenak di RM Panorama Elok perut saya sebenarnya lapar dari sejak tadi sore, tapi sampai di sini saya malas makan jadi hanya beli minum teh manis hangat saja Rp3.000,- Pukul 2.30 wib saya terbangun oleh suara musik yang kencang, ternyata sudah memasuki daerah Purwokerto, musik kencang ini cukup efektif membangunkan penumpang lainnya yang hendak turun sebelum Wonosobo, terbukti sang kondektur tidak berteriak-teriak sama sekali untuk mengingatkan penumpang. Lepas Purwokerto sudah tidak ada penumpang lain selain kami. Pukul 4.30 wib akhirnya kami sampai di tujuan dan ternyata jurusan Wonosobo ini cukup sepi, pemandangan terminal Cicaheum atau Leuwipanjang tidak akan anda temui di sini sodara-sodara. Jajaran bus yang ada hanya Sinar Jaya, agak siang saya lihat ada Budiman, namun itu juga hanya sebentar setelah itu pergi lagi.

Acara selanjutnya adalah mandi, sholat, packing ulang, dan sarapan sambil nunggu rombongan Jakarta. Di terminal ini kami disambut dengan baik oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sana, dari supir dan kondektur bus Sinar Jaya, sampai pemilik warung makan, jujur ini terminal teramah yang pernah saya kunjungi.

DSC_7540
note : ini sebenarnya gerbang keluar tapi semalam kami masuk terminal juga lewat sini, gak ngerti deh πŸ˜€

Bersambung..