The 'Rok' Mountaineer

Travelling sometime, Backpacker often

Perjalanan ke Mahameru #2

4 Komentar

23 Agustus 2012
Udara pagi di Ranu Pane membuat beku lapisan teratas danau kecil itu, lapisan es terlihat menguap saat kami mulai keluar dari tempat kami menginap. Ini hari pertama pendakian, perjalanan kami dimulai dari sini. Hari yang dingin dan udara yang beku, kami awali dengan soto hangat yang cukup nikmat sebelum melakukan perjalanan panjang. Bekal air putih minimal 1,5 liter per orang menjadi hal yang wajib sebelum pendakian.

Memasuki gerbang yang bertuliskan “Selamat Datang Para Pendaki Mahameru” rasanya saya benar-benar seperti seorang pendaki. Dari gerbang ini perjalanan agak menanjak, disamping kanan kami terhampar ladang yang menjadi matapencaharian sebagian besar penduduk Ranu Pane, hijau seperti karpet, dan beberapa gubuk untuk penyimpanan hasil ladang mereka.

Ada 4 pos yang harus kami lalui sebelum sampai di Ranu Kumbolo, memakan waktu setengah hari menuju ke sana, tentu dengan istirahat cukup padat karena sebagian besar dari kami merupakan pemula. Sambil bersenda gurau dan bertegur sapa dengan orang yang kami temui, siapa pun itu, kami berusaha menyemangati satu sama lain untuk terus melangkah, melalui satu demi satu pos yang jaraknya cukup jauh dan melelahkan. Memasuki hutan tropis khas Indonesia ini kami menemukan banyak hal menarik, pohon tinggi menjulang, semak-semak bunga kecil berwarna putih di sepanjang jalan, akar pohon besar yang membentuk terowongan, burung-burung hutan yang sedang mengumpulkan ranting untuk sarangnya, hingga pemandangan lembah antara dua gunung yang sebagian diselimuti kabut. Tapi pemandangan paling indah adalah saat kami merasa berada di negeri di atas awan. Hamparan awan putih bergelombang memenuhi pandangan kami, dengan puncak Mahameru yang gagah disampingnya. Ini kasur bagi sebagian orang, menurut saya ini eskrim yang lebih nikmat jika disiram susu kental manis coklat.

Imajinasi kami memainkan perannya dengan baik di sini, sampai saat rasa lelah sudah mulai tidak bersahabat lagi, tapi alam kembali memberikan hiburan paling menakjubkan. Di balik bukit terakhir yang kami daki kami menemukan salah satu surga dunia, danau biru pekat dikelilingi bukit-bukit hijau dan hamparan bunga abadi, beratap langit biru. Ini kah Ranu Kumbolo? Ah..rasa lelah yang sudah sampai ubun-ubun itu menguap seketika, hanya ada ucapan syukur yang terlontar dari mulut kami. Hampir tidak percaya ada danau yang sangat indah diketinggian 2400 mdpl. Ini keajaiban dunia!

2400 M Dpl

Setelah menuruni bukit kami sampai Ranu Kumbolo sekitar pukul 14.00 wib, sesaat kami menikmati indahnya danau abadi itu dan merasakan sejuk airnya di wajah kami saat berwudhu, benar-benar tak tergantikan. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Kali Mati hari itu juga, Ranu Kumbolo dikelilingi bukit-bukit, jadi untuk menuju dan keluar dari sana harus melewati bukit terlebih dahulu, termasuk menuju Kali Mati. Mungkin ini yang dinamakan bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, lalu bersakit-sakit kembali.

Dari Ranu Kumbolo menuju Kali Mati harus mendaki 1 tanjakan kramat, ntah benar atau tidak. Mitosnya, jika melakukan trekking di tanjakan ini, tidak boleh melilhat ke bawah, pikirkan saja orang yang kita suka, mungkin sebenarnya supaya tidak terasa capek. Setelah melewati tanjakan cinta ini, lagi-lagi kami diberikan kejutan yang luar biasa, hamparan padang rumput setinggi pinggang orang dewasa ada di hadapan kami, disamping kirinya bukit telletubis berjejer anggun, ini dia Oro-oro Ombo, yang awalnya saya kira hanya ada dinegeri-negeri di eropa. Berjalan di tengah padang rumput, edelweis, dan lavender kering yang hampir menelan tubuh mungil saya, berasa ada dalam adegan film-film drama Korea, padahal ini Indonesia.

Para Pendaki Mahameru

Perjalanan menuju Kali Mati selain melewati Oro-oro Ombo, kami juga harus melewati hutan cemara, Cemoro Kandang. Trek di Cemoro Kandang ini tidak terlalu curam, tapi cukup panjang. Hampir maghrib saat kami mulai memasuki ¼ hutan ini, semakin ke dalam semakin sepi, dan akhirnya hanya tinggal rombongan kami. Senter mulai dinyalakan, jarak antara satu dan lainnya diatur tidak lebih dari 1 meter. Udara yang semakin dingin membuat kamu harus segera mengenakan jaket, sarung tangan, dan syal. Baru sekitar pukul 20.00 wib kami sampai di Kali Mati, sebagian mendirikan tenda, sebagian lagi mengambil air di Sumbermani, satu-satunya sumber mata air di Kali Mati, dan sebgain lainnya menyalakan api unggun. Selesai makan malam dengan nasi yang tidak matang karena kurang air, rendang dari hari raya, dan mie instan goreng kami pun beristirahat, untuk persiapan trekking dini hari.

..bersambung….

Iklan

Penulis: Nina

Orang biasa yang suka hal-hal luar biasa.

4 thoughts on “Perjalanan ke Mahameru #2

  1. Wah… semeru memang selalu menarik untuk diceritakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s