Budget Traveler


17 Komentar

Weekly Photo Challenge: My 2012 in Pictures

This year a lot of interesting things that I’ve been through, and because I do not really like to write so I took a picture. I think the pictures can tell a story πŸ˜€ and this is my 2012 in picture

One Day In My Life

Januari 6, 2012 : This is the wishes at the beginning of the year πŸ˜€

Triple (Traditional shoes repair)

February 26, 2012 : I love doing street photography coz from the street I can get a story. This is traditional shoes repair in Bandung.

Gunung Bukit Tunggul

March 31, 2012 : Hiking to Bukit Tunggul Mountain

Strong women

April 21, 2012 : Making a journey into the pine forest on the Manglayang mountain and meet these strong woman

Sore

May 12, 2012 : Enjoy the evening at Caringin Tilu, the highest place in Bandung

Museum Fatahillah

Juni 9, 2012 : Visiting Fatahilah museums, The Old City, Jakarta

#3|Enjoy my blue morning

July 9, 2012 : I started my 365 project, starting with what I thinking about something πŸ˜€

Sunrise at Mahameru

August 23, 2012 : Climbing Semeru mountain, the highest mountain in Java, Indonesia.

Jakarta never sleep

September 8, 2012 : Finally I can pictured Jakarta from the top place in the night.

Welcome to Prambanan

October 14, 2012 : Vacation to Yogyakarta with my family

Bayah Beach

November 16, 2012 : Vacation to Bayah Beach, Banten

36| Im happy

December 5, 2012 : Im happy in 2012 πŸ˜€

Iklan


17 Komentar

Perjalanan Ke Mahameru #4 (end)

25 Agustus 2012
Subuh hari di Ranu Kumbolo sangat dingin hingga terasa menusuk sampai ke tulang, saya coba membetulkan sleeping bag, barang kali terbuka, bergeser lebih dekat dengan teman saya, tapi tetap tidak meredakan rasa dingin itu.
Rasanya enggan keluar tenda kalau saja tidak ada teriakan sunrise dari luar. Saya keluar tenda segera, sambil membawa kamera. Pemandangan yang semalam tidak saya hiraukan dan pagi ini saya terheran-heran karenanya, Ranu Kumbolo tampak seperti perkampungan, dikelilingi tenda dan orang-orang berjaket tebal. Saat saya keluar tenda, hari masih cukup gelap, matahari belum muncul, namun orang-orang sudah berjejer di tepi danau yang sedikit membeku. Lapisan es tipis itu juga menyelimuti tenda kami, dan kini saya tahu apa yang menyebabkan udara dalam tenda begitu dingin.

Ice on the tent

Satu lagi keajaiban yang ditawarkan danau terindah yang pernah saya datangi ini. Saya melihat pemandangan yang sama seperti lukisan atau gambar yang sering dibuat oleh kita sewaktu kecil. Sang surya terbit di tengah dua gunung, memancarkan sinarnya yang keemasan dan lapisan es tipis di permukan Ranu Kumbolo memberikan efek “wow” saat terkena sinar matahari yang baru saja muncul.Ajaib, dan ini nyata ada di Indonesia.

Sunrise at Ranu Kumbolo [On Explore]

Setelah puas menikmati mentari pagi, kami sarapan dan membersihkan wajah dengan air Ranu Kumbolo yang tadi sempat membeku, kemudian packing dan melanjutkan perjalanan kembali ke Ranu Pane. Satu hal yang tidak boleh ditinggalkan di Ranu Kumbolo, sampah. Kami harus memastikan semua sampah dari sisa makanan yang kami bawa harus kami kemas dan bawa kembali ke Ranu Pane untuk dibuang pada tempatnya.

Sampai di Ranu Pane sekitar pukul 15.00 wib, hari itu desa kecil ini sangat ramai pengunjung, belakanagn kami tahu, di sini sedang diselenggarakan acara tahunan para pendaki yang biasanya dilaksanakan pada 17 Agustus. Karena banyaknya pengunjung kami harus memastikan mendapatkan tempat untuk menginap malam ini, karena untuk mendirikan tenda di luar sangat tidak direkomendasikan, terlebih ada kegiatan semacam ini.

26 Agustus 2012
Hari ini kami harus meninggalkan tempat seindah Ranu Pane dan segala keajaiban alam menuju Mahameru. Kembali ke Jakarta dan Bandung seperti kembali ke dunia nyata, dunia yang harus kami jalani dengan penuh perjuangan tentunya, yang pasti hari-hari kami di sini tidak akan pernah terlupakan, keajaiban yang diciptakan oleh yang Maha Pencipta, bukan tanpa sengaja menumbuhkan persahabatan yang indah, seindah menemukan Ranu Kumbolo.

Rangerwe come from another space

27 Agustus 2012
Welcome to Bandung, welcome to the real world!

 

Foto-foto ada di sini

Jalur pendakian
Ranu Pane – Watu Rejeng – Ranu Kumbolo – Oro-oro Ombo – Cemoro Kandang – Jambangan – Sumbermani – Kali Mati – Arcopodo – Cemoro Tunggal – Mahameru

Transportasi menuju Mahameru versi saya
1. Day trans Bandung-Jakarta : Rp80.000,-
2. Matarmaja ekonomi Jakarta-Malang : Rp50.000,-
3. Angkot Stasiun Malang-Pasar Tumpang : Rp15.000,-
4. Jeep dari Tumpang-Ranu Pane : Rp30.000,-
5. Registrasi : Rp7.000,-
6. Truk dari Ranu Pane-Tumpang : Rp30.000,-
7. Angkot Tumpang-Stasiun Malang : Rp15.000,-
8. Kereta Matarmaja AC Malang-Jakarta : Rp210.000,-
9. Kopaja AC Senen-St. Gambir : Rp5.000,-
10. Argo Parahyangan eksekutif Jakarta-Bandung : Rp90.000,-

Harga makan di Ranu Pane
1. Nasi soto : Rp6.000,-
2. Nasi rawon :Rp6.000,-
3. Baso Malang Pendaki : Rp5.000,-
4. Nasi+tempe+telur : Rp4.000,-
5. Teh panas : Rp2.000,-


5 Komentar

Perjalanan Ke Mahameru #3

24 Agustus 2012
Terbangun pukul 24.00 wib, kami sudah bersiap dengan jaket tebal, senter, tak lupa mengikat sepatu dengan kencang. Semua barang kami tinggal di tenda, hanya air minum, makanan secukupnya, dan obat-obatan yang kami bawa, plus kamera bagi saya. Kami mulai melakukan trekking pukul 00.30 wib. Jalur pendakian tengah malam seperti jalur migrasi bintang, untaian senter di kegelapan berbaris rapih secara vertikal menuju langit, indah. Sedangkan di kanan-kiri kami hanya ada kegelapan, yang tampak tak berujung, ini merupakan zona 75, artinya kedalaman kurang lebih 75 meter. Jalur pendakian yang cukup terjal dan sempit membuat kami harus berhenti setiap beberapa menit karena menunggu pendaki lain naik.

Malam ini merupakan puncak dari pendakian kami, setelah melewati Arcopodo dan Cemoro Tunggal akhirnya gundukan pasir kering raksasa Mahameru tepat di hadapan. Seorang teman mengingatkan, Mahameru tidak mampu ditaklukan, hanya mampu kita daki.

Setapak demi setapak kami lalui gundukan pasir kering itu, naik 5 langkah turun 3 langkah, naik lagi 5 langkah turun lagi 3 langkah, seolah kami tetap berada di tempat walaupun sudah melangkah ribuan kali. Mendaki Mahameru selain membutuhkan persiapan fisik, memang menguji mental. Saya sering sekali berhenti sekedar menghela nafas panjang atau menegak air minum yang kami bawa sebagai bekal perjalanan. Entah di ketiggian berapa, ketika saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, di langit tampak gelap saat itu mulai terlihat ada segurat cahaya jingga, matahari di ufuk timur. Segera saya mencari batu besar sebagai tempat untuk melaksanakan sholat subuh. Ttayamun dengan pasir di daratan tertinggi pulau Jawa dan sholat di ketinggian lebih dari 3000 mdpl ini menimbulkan rasa yang berbeda di hati. Sesaat setelah itu saya menikmati indahnya sunrise yang sangat menakjubkan, sunrise yang sangat dini.

IMG00846-20120824-0538

Matahari semakin terang walau waktu normal masih menunjukkan ini masih pagi, tapi jalur pendakian masih sangat panjang. Beberapa kali saya berhenti dan terpaksa membuka sepatu untuk mengeluarkan kerikil yang memenuhi alas kaki saya itu. Melangkah di gundukan pasri kering ini harus sangat hati-hati, salah berpijak bisa melukai diri sendiri dan orang lain. Ada banyak batu besar yang tampak kokoh, tapi ternyata dapat meluncur kapan saja. Kami sering mendengar teriakan “rock” atau “batu” dan saat mendengarnya kami harus segera melihat ke atas, kemana arah batu itu meluncur, dan kalau ternyata kami yang menyebabkan batu itu terjatuh, kami pun harus berteriak mengingatkan orang yang ada di bawah.

Semakin terik, berdebu, dan persediaan air semakin menipis, tapi semangat tidak pernah menipis, terus terseok-seok ke atas. Jika kaki sudah merasa lelah maka tangan ini akan yang akan mencakar-cakar gundukan pasir hingga lelah juga. Saat rasa itu menghampiri saya berhenti, kemudian berbalik arah 180 derajat, dan saat itu lah Mahameru menyediakan pemandangan luar biasa, saya seperti berdiri di satu tempat yang sekelilingnya hanya ada gunung. Gundukan-gundukan lain berwarna hijau, beratap langit biru terang, tanpa awan, karena ia berarak di samping kami. Melihat pemandangan seperti ini cukup mengisi kembali tenaga yang sudah terkuras habis.

Mountain everywhere

Saya terus melangkah hingga akhirnya waktu dan energi tidak mencukupi untuk sampai di titik 3.676 mdpl. Sekitar 100 meter menuju puncak saya memutuskan untuk kembali menapaki Mahameru tahun depan, dari pada saya paksakan dan tidak akan pernah kembali ke tanah terindah di pulau Jawa ini. Sebagian teman-teman saya sudah sampai kepuncak dan mengibarkan bendera kebesaran komunitas di puncak Mahameru.

Pukul 10.00 ratusan orang yang sudah sampai puncak, ataupun yang belum harus kembali turun sebelum asap beracun mengarah ke jalur pendakian. Jangan dikira turun lebih mudah dari naik, sama saja, bahkan dua kali lipat harus berhati-hati. Kali Mati menunggu kami yang sudah setengah mati menuju Mahameru.

Sampai di Kali Mati, setelah kami semua beristirahat sejenak dan makan siang. Kami melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Sadar kami semua kelelahan maka tidak ada waktu berhenti terlalu lama di Cemoro Kandang, dua kali kami melalui tempat ini dan sudah lewat maghrib, khawatir kami tertidur di sana dan sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Segera setelah keluar dari Cemoro Kandang dan sampai di Oro-oro Ombo, kami memutuskan mengambil jalan ke atas, menyusuri bukit walau jalannya hanya cukup untuk satu orang, jalan melalui padang rumput malam hari terlalu beresiko karena kabut tebal mulai turun dan menutupi arah pandang kami.

Pemandangan langit malam itu benar-benar ajaib, tidak akan ada duanya. Terang benderang disinari bulan, seperti ada lampu sorot alami, awan berarak tampak dengan jelas, sangat indah. Sampai di Ranu Kumbolo setelah kelelahan yang teramat sangat, niat untuk berburu langit penuh bintang pun pupus sudah, kami sadar tidur merupakan obat paling manjur untuk menghilangkannya.

…bersambung..


4 Komentar

Perjalanan ke Mahameru #2

23 Agustus 2012
Udara pagi di Ranu Pane membuat beku lapisan teratas danau kecil itu, lapisan es terlihat menguap saat kami mulai keluar dari tempat kami menginap. Ini hari pertama pendakian, perjalanan kami dimulai dari sini. Hari yang dingin dan udara yang beku, kami awali dengan soto hangat yang cukup nikmat sebelum melakukan perjalanan panjang. Bekal air putih minimal 1,5 liter per orang menjadi hal yang wajib sebelum pendakian.

Memasuki gerbang yang bertuliskan β€œSelamat Datang Para Pendaki Mahameru” rasanya saya benar-benar seperti seorang pendaki. Dari gerbang ini perjalanan agak menanjak, disamping kanan kami terhampar ladang yang menjadi matapencaharian sebagian besar penduduk Ranu Pane, hijau seperti karpet, dan beberapa gubuk untuk penyimpanan hasil ladang mereka.

Ada 4 pos yang harus kami lalui sebelum sampai di Ranu Kumbolo, memakan waktu setengah hari menuju ke sana, tentu dengan istirahat cukup padat karena sebagian besar dari kami merupakan pemula. Sambil bersenda gurau dan bertegur sapa dengan orang yang kami temui, siapa pun itu, kami berusaha menyemangati satu sama lain untuk terus melangkah, melalui satu demi satu pos yang jaraknya cukup jauh dan melelahkan. Memasuki hutan tropis khas Indonesia ini kami menemukan banyak hal menarik, pohon tinggi menjulang, semak-semak bunga kecil berwarna putih di sepanjang jalan, akar pohon besar yang membentuk terowongan, burung-burung hutan yang sedang mengumpulkan ranting untuk sarangnya, hingga pemandangan lembah antara dua gunung yang sebagian diselimuti kabut. Tapi pemandangan paling indah adalah saat kami merasa berada di negeri di atas awan. Hamparan awan putih bergelombang memenuhi pandangan kami, dengan puncak Mahameru yang gagah disampingnya. Ini kasur bagi sebagian orang, menurut saya ini eskrim yang lebih nikmat jika disiram susu kental manis coklat.

Imajinasi kami memainkan perannya dengan baik di sini, sampai saat rasa lelah sudah mulai tidak bersahabat lagi, tapi alam kembali memberikan hiburan paling menakjubkan. Di balik bukit terakhir yang kami daki kami menemukan salah satu surga dunia, danau biru pekat dikelilingi bukit-bukit hijau dan hamparan bunga abadi, beratap langit biru. Ini kah Ranu Kumbolo? Ah..rasa lelah yang sudah sampai ubun-ubun itu menguap seketika, hanya ada ucapan syukur yang terlontar dari mulut kami. Hampir tidak percaya ada danau yang sangat indah diketinggian 2400 mdpl. Ini keajaiban dunia!

2400 M Dpl

Setelah menuruni bukit kami sampai Ranu Kumbolo sekitar pukul 14.00 wib, sesaat kami menikmati indahnya danau abadi itu dan merasakan sejuk airnya di wajah kami saat berwudhu, benar-benar tak tergantikan. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Kali Mati hari itu juga, Ranu Kumbolo dikelilingi bukit-bukit, jadi untuk menuju dan keluar dari sana harus melewati bukit terlebih dahulu, termasuk menuju Kali Mati. Mungkin ini yang dinamakan bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, lalu bersakit-sakit kembali.

Dari Ranu Kumbolo menuju Kali Mati harus mendaki 1 tanjakan kramat, ntah benar atau tidak. Mitosnya, jika melakukan trekking di tanjakan ini, tidak boleh melilhat ke bawah, pikirkan saja orang yang kita suka, mungkin sebenarnya supaya tidak terasa capek. Setelah melewati tanjakan cinta ini, lagi-lagi kami diberikan kejutan yang luar biasa, hamparan padang rumput setinggi pinggang orang dewasa ada di hadapan kami, disamping kirinya bukit telletubis berjejer anggun, ini dia Oro-oro Ombo, yang awalnya saya kira hanya ada dinegeri-negeri di eropa. Berjalan di tengah padang rumput, edelweis, dan lavender kering yang hampir menelan tubuh mungil saya, berasa ada dalam adegan film-film drama Korea, padahal ini Indonesia.

Para Pendaki Mahameru

Perjalanan menuju Kali Mati selain melewati Oro-oro Ombo, kami juga harus melewati hutan cemara, Cemoro Kandang. Trek di Cemoro Kandang ini tidak terlalu curam, tapi cukup panjang. Hampir maghrib saat kami mulai memasuki ΒΌ hutan ini, semakin ke dalam semakin sepi, dan akhirnya hanya tinggal rombongan kami. Senter mulai dinyalakan, jarak antara satu dan lainnya diatur tidak lebih dari 1 meter. Udara yang semakin dingin membuat kamu harus segera mengenakan jaket, sarung tangan, dan syal. Baru sekitar pukul 20.00 wib kami sampai di Kali Mati, sebagian mendirikan tenda, sebagian lagi mengambil air di Sumbermani, satu-satunya sumber mata air di Kali Mati, dan sebgain lainnya menyalakan api unggun. Selesai makan malam dengan nasi yang tidak matang karena kurang air, rendang dari hari raya, dan mie instan goreng kami pun beristirahat, untuk persiapan trekking dini hari.

..bersambung….


12 Komentar

Perjalanan ke Mahameru #1

Akhir Ramadhan 1433 H jadi hari tersibuk bagi saya, bukan karena pekerjaan saya di lembaga zakat, bukan juga karena mudik ke luar kota, tapi karena persiapan menuju puncak tertinggi Jawa dan Bali. Mendaki puncak yang menjadi impian saya sejak 2009, ternyata membutuhkan perjuangan. Berburu tiket di 2 minggu sebelum Ramadhan sangat-sangat tidak mudah, terlebih Malang merupakan salah satu tujuan utama para pemudik di Kota Bandung dan Jakarta, jangankan tiket ekonomi, untuk bisnis saja sudah kehabisan, sedangkan eksekutif bukan tawaran mudah dan bus sangat unrecomended.

Setelah hampir satu pekan saya dan ke dua teman saya bolak-balik stasiun Kiaracondong dan Bandung, mencari calo tiket melalui teman bahkan yang ada di Surabaya, hingga hampir putus asa, akhirnya ada kabar baik dari Jakarta. Ada tambahan kereta lebaran Matarmaja untuk tujuan Malang. Alhamdulillah, satu masalah menemukan solusinya.

Catatan penting : sebelum mencari tiket, izin orang tua harus terlebih dahulu dikantongi.

21 Agustus 2012
Perjalanan dimulai dari Bandung ke Jakarta terlebih dahulu, meeting point di stasiun Senen jam 14.00 wib. Ini pertama kalinya saya melihat stasiun yang dibanjiri manusia, selain orang yang beneran mudik ke kampung halaman, Stasiun Senen juga dipadati manusia bercarrier seperti saya.

DSC_8309

22 Agustus 2012
Sekitar pukul 11.00 wib kami sampai di Stasiun Malang, perjalanan yang cukup melelahkan, hampir 20 jam dalam kotak besi penuh dengan manusia..heuheuheu..

Setelah istirahat sejenak di Stasiun Malang, perjalanan kami lanjutkan ke Pasar Tumpang, menggunakan angkot jurusan Tumpang. Pasar Tumpang ini biasa menjadi meeting point para pendaki karena letaknya yang strategis dan jalan satu satunya dari arah barat untuk menuju ke Bromo dan Semeru. Dari Tumpang kami bertemu dengan kelompok lain, para backpeker dari Tangerang, bersama-sama kami menuju Ranu Pane menggunakan jeep, satu-satunya kendaraan yang biasa mengangkut para pendaki menuju sana. Sebelum menuju Ranu Pane, kami berhenti di pos penjagaan untuk melakukan registrasi, fotocopy KTP dan surat sehat diserahkan di sini.

Dalam perjalanan menuju Ranu Pane, ada satu tempat, perbatasan antara arah menuju Bromo dan Semeru, di lihat dari atas tampak seperti lautan ilalang, sangat luas nan indah, tentu kami tidak menyia-nyiakan kesempatan, minta berhenti dan berfoto ria. Amazing dan ini belum seberapa.

DSC_8340

Perjalanan dari Tumpang ke Ranu Pane memakan waktu kurang lebih 3 jam dan kami baru sampai di Ranu Pane menjelang ashar, Ranu Pane ini seperti gerbang menuju Mahameru, desa kecil dengan penduduk yang juga tidak banyak. Ada beberapa rumah yang biasa digunakan para pendaki untuk menginap, masjid kecil, dan beberapa kamar mandi. Cukup bersih untuk ukuran kamar mandi umum para pendaki.

Karena perjalanan Ranu Pane ke Ranu Kumbolo tidak mungkin dilakukan saat malam hari, maka kami memutuskan untuk menginap 1 malam di sini. Udara di Ranu Pane bisa mencapai minus derajat, kami menginap di rumah yang disediakan Kepala Desa atau biasa kami panggil Pak Kuwu, jangan dibayangkan tidur di rumah Pak Kuwu itu seperti tidur di rumah biasa, di sini kami disediakan ruangan yang luas seperti ruang tamu tanpa kursi dan meja, kami tidur menggunakan sleeping bag.

Di Ranu Pane ini uang masih berlaku dan tekhnologi masih bisa digunakan, ada dua warung makan di sini, satu di samping rumah pak kuwu, satu lagi di depannya. Makanan yang bisa ditemukan di sini adalah nasi rawon dan soto, eh ada juga makanan khas yang tidak akan ditemui di manapun, baso malang porsi pendaki..hahaha..rasanya silakan dicoba jika nanti ke sana, sesuatu banget pokoknya.

DSC_8382

bersambung…