The 'Rok' Mountaineer

Travelling sometime, Backpacker often

Tak Perlu Bicara

4 Komentar

Cerita dari seorang teman
Semoga bisa diambil hikmahnya


Tadi pagi aku menyaksikan kejadian penuh hikmah. Mungkin ini sepele untuk kejadian sehari-hari, tapi buatku menarik.

Jadi pas sarapan di warung soto madura, ada ibu-ibu bersama cucunya datang, menawarkan beras untuk pulang ke Cililin. Karena di Dago Atas aku sudah beberapa kali bertemu orang yang tujuan akhirnya meminta uang dan selalu Cililin yang disebut mereka, aku langsung menduga sebenarnya ini peminta-minta.

Si penjual soto bertanya: “beras apa yang akan dijual, bu?”

Hmm, aku berpikir si penjual soto ini berbasa-basi atau bagaimana? masak sih nggak tahu keadaan seperti ini?karena dia sedang sibuk dan aku “ingin membereskan” urusan si ibu, aku kasih uang dengan diam-diam.

Dia berterima kasih, tapi ternyata masih bersikukuh melanjutkan penawaran berasnya ke penjual soto. Setelah ditanya oleh penjual soto: mana sih berasnya? (soalnya dijual dengan harga di atas pasar), dia tunjukkan berasnya, dan entah apa yang dilihat penjual soto, akhirnya dia bilang ke ibu itu: oh, ibu mau ke Cililin, sudah deh, ini bawa saja… Diberikan uang buat si ibu dan kelihatan sekilas jumlahnya lebih banyak daripada yang aku berikan
Si ibu sampai kayak terharu dan si penjual soto dengan kalem bilang: sudah, ibu segera berangkat saja.

Nah, hikmah yang aku dapatkan:
(1) Walaupun diawali dengan gaya kayak mempertanyakan, ternyata si penjual soto itu dengan gampangnya memberi duit begitu saja dalam jumlah yang lumayan (mengingat masih pagi)
(2) Setelah si ibu berlalu, dia sama sekali tidak membicarakan kejadian itu baik dengan ku atau dengan temannya, itu luar biasa bagi ku

Berarti dia sudah kayak biasa saja, tidak ada perasaan perlu membicarakan kejadian tadi dengan orang di sekitarnya. Padahal dia cukup akrab dengan ku dan ada teman ngobrol di sampingnya.

Setelah itu si penjual soto keluar, ada perlu, tinggal temannya. Aku masih di situ. Datanglah ibu yang lain: dia membeli dengan duit pas-pasan kayaknya, terus dilayani saja dan setelah selesai, si ibu menepuk pundak si penjual soto, berterima kasih sekali, dan mendoakan.

Subhanallah, jadi dari awal makan sampai soto belum habis, aku melihat pemandangan ibu-ibu berdoa di dalam warung, di depan ku.

Jangan-jangan mereka malaikat yang menyamar?

Dan si tukang soto satu itu (yang kedua), dia juga tidak bercerita apa-apa setelah temannya datang. Kayak tidak ada apa-apa. Itu yang aku salut. Kebaikan yang dikerjakan tanpa perlu dibesar-besarkan. Tapi aku melihat sendiri di depan mata, hanya berjarak kurang dari 5 meter.

Ya, mengesankan melihat dia tanpa banyak cingcong mengeluarkan duit untuk ibu yang mau ke Cililin itu. Terlepas itu benar atau tidak, berikan saja tak perlu bicara.


Iklan

Penulis: Nina

Orang biasa yang suka hal-hal luar biasa.

4 thoughts on “Tak Perlu Bicara

  1. huaaa….terharu..banyak hikmah yg bisa diambil yah…..sedekah sembunyi pahalanya besar :Dthanks for sharing

  2. mfanies said: thanks for sharing

    you welcome bang Fanie 🙂

  3. anotherorion said: n_n nice story

    thank you orion 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s