The 'Rok' Mountaineer

Travelling sometime, Backpacker often

Cerita ku…

Tinggalkan komentar

Hari mulai senja saat aku beranjak dari sana, peternakan itik bersahaja, di mana aku menjadi pendamping di kelompok ternak yang mengelola peternakan itik tersebut. Huff….ternyata, melelahkan juga kegiatanku ini. setiap minggu harus mengurusi semuanya. Tak ada libur dalam hari-hari ku. Muncul sedikit penyesalan, kenapa harus ku ambil resiko ini.

Dari kejauhan, aku melihat alternatif transportasi satu-satunya di daerah ini, yang biasa mengantarkan ku kesana- sebuah delman – kosong tanpa penumpang, kududuk samping belakang kusir, tak kusebut ‘Pak kusir’ karena ia masih belia, sekitar belasan tahun, kulihat lagi dengan seksama, kusir kecil itu wajahnya begitu tirus dan tampak lelah. Aku iseng bertanya,

“ sekolah dek?”..

” sekolah teh, ini lagi gantiin Bapak..kan libur..hari minggu..”jawabnya.

“ o iya..hehe..ga main bareng temen-temenya?”..

“ ngga, teh kasian ke Bapak..klo ga gantiin ga ada uang..” jawabnya sambil tersenyum.

“ o0o…” (miris..)

Hemmm…Subhanallah..

Akhirnya sampailah delman tersebut di dipangkalan, aku turun, berjalan menyusuri pasar tradisional yang sudah sepi, hanya tampak beberapa orang saja yang masih menunggu kiosnya hingga sore, dan sampah-sampah khas pasar berserakan di sepanjang jalan, aroma pasar tradisional yang khas mungkin akan jadi kenangan tersendiri saat aku tak melewati jalan ini lagi.

Hari ini aku menyengajakan diri berhenti di stasiun Rancaekek, ingin merasakan kembali euphoria naik kereta api ekonomi, sambil menunggu kereta aku menyempatkan diri untuk mengisi lambungku yang sudah perih karena kelebihan cairan asam, dua potong ketan bakar cukup memberikan penawar atas rasa perih itu..hemmm..hangat dan lezat.

Loket untuk pembelian tiket sudah dibuka, bergegas aku menuju peron. Antriannya cukup panjang, ku manfaatkan untuk buka fb di hp, sambil baca status dan komen dari teman-teman. Tak lama kemudian aku mendapatkan tiket ku. Wow..ada yang berbeda, tampilan tiketnya baru, tak seperti dulu. Yah..sudah hampir 1 tahun aku tidak menggunakan transportasi murah meriah ini.

Kereta pun tiba, lumayan berdesakan saat menaikinya..hemmm..rindu rasanya berkumpul dengan orang-orang berbagai kalangan dalam satu gerbong. Saat masuk kuperhatikan sekelilingku, ternyata selain tiket tidak ada yang berubah, masih tetap, penjual tahu itu masih ada, penjual donat itu masih sama, penjual buah-buahan pun tak berubah, dan orang-orang egois pun masih banyak. Ya, seperti pria muda diujung sana, yang tetap diam, tak beranjak dari tempak duduknya, walaupun dia tau di depannya ada seorang Ibu setengah baya berdiri. Ck..ck..ck..

Kuberdiri dalam gerbong No. 2, kuhadapkan diriku kearah jendela, angin sepoi-sepoi dari luar menyapa wajahku yang sudah lelah, sawah terhampar luas bergelombang bagaikan ombak saat tertiup angin, matahari mulai menghilang, cahayanya berganti lampu dari rumah-rumah di kejauhan, pemandangan sawah berganti menjadi city of light, seperti kunang-kunang di rawa-rawa, indah.

Di stasiun Bandung seorang Bapak yang memikul ulekan menawarkan berbagi tempat duduk yang sudah ditinggalkan orang sebelumnya, baik sekali, padahal seharian dia menjajakan barang dagangannya yang tak ringan itu.

Bapak itu sedikit bercerita, setiap pagi ia menjajakan dagangannya dari Padalarang menuju Cicalengka, bertahun-tahun, kadang tidak laku sama sekali, tapi bersyukur selalu ada saja rezeki, hari ini Alhamdulillah dagangannya laku beberapa buah..

“..tos rada jongjon neng, asal tiasa kanggo nyangu weh..” ( udah tenang, asalkan bisa untuk nasi)..ucapnya

MasyaAllah, dari pagi hingga sore, setiap hari, bertahun-tahun, untuk keluarganya. Tak ada keluhan sama sekali. Subhanallah..

Sampai di stasiun tujuan aku berpamitan padanya, dan kusadari senyumnya sangat tulus.

Aku merasa malu pada akhirnya, telah menyesali apa yang aku putuskan, untuk mendampingi kelompok peternak, dan telah merasa mengorbankan segalanya untuk orang lain, padahal ada yang lebih dari itu.

Karena..Aku bukan siapa-siapa..Aku bukan apa-apa..

Hemmm..selalu ada kisah dari setiap perjalanan dan selalu ada cerita dalam kereta.

Seperti sore itu, dari kusir kecil dan seorang Bapak.

Terkadang Jalan-jalan yang biasa kita lalui

Tempat-tempat yang biasa kita kunjungi

Dan semua hal yang biasa kita lakukan

Akan terasa sangat bermakna ketika kita melihatnya dari sisi yang berbeda..^___^

Sirius 21/11/09

Iklan

Penulis: Nina

Orang biasa yang suka hal-hal luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s