Budget Traveler


2 Komentar

Traveling Tipis Tipis ke Kolbano

Ini cerita kali pertama saya ke Kupang. Tepatnya tahun 2018 lalu ketika ditugaskan untuk meliput program kurban dari salah satu klien. Bertiga kami datang ke Kupang, yang diprioritaskan pasti lah kerjaan. Tapi kan sayang aja klo ke Kupang trus gak kemana-mana.

Setelah 9 hari merencanakan extent sampai menggalau antara Bajo atau Sumba. Akhirnya kami pun berdamai dengan hanya explore sekitar lokasi kerjaan. Jauh bangeeet emang antara rencana dan realisasi. Ini sematamata demi solidaritas sama temen yang kangen banget Bandung dan pengen cepet pulang.

Ternyata explore Kupang juga gak mengecewakan. Bahkan tempat yang sering kami lalui saat berangkat kerja pun bisa dijadikan foto alaala Sumba gitu. Klo dilihatlihat instagramable banget. Karena tiap hari ngejar storan foto buat kerjaan jadi baru sempat setelah semua kerjaan beres. Lokasinya dekat tempat kerja, dan aslinya jalan setapak depan kontrakan orang sih..hahaha..

Kupang

Foto depan kosan orang

DSCF2196

Foto di Bukit Cinta

 

Setelah puas fotofoto di sana kami beranjak ke lokasi lain yang juga selalu dilewati. Namanya bukit cinta. Gak faham kenapa dinamai demikian. Yang pasti sih saya ga nemu cinta di sini #eaah. Katanya ini salah satu tempat wisata warga sekitar. Semacam bukit kecil yang gersang, mungkin karena kami datang pas musim kemarau.

Awalnya bingung abis dari sana kemana lagi, secara udah siang juga klo mau jalan-jalan jauh. Tapi pengalaman mengajarkan kami untuk tidak banyak diskusi soal tempat liburan. Banyak diskusi ujung-ujungnya suka gak jadi pergi. Tujuan kami waktu itu Pantai Kolbano yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Bingung gak tuh..timur, tengah, atau selatan?

Gak peduli itu jaraknya ratusan kilometer dan makan waktu 8 jam bolakbalik, kami bertiga tetap berangkat. Alhasil waktu di jalan lebih lama dari pada diem di pantai. Tapi gak apa, kami ini memang penikmat jalan. Sepanjang peralanan diisi ngobrol sana sini, ngemil, klo bosen turun bentar sambil foto-foto di tengah jalan yang lengang, abis itu jalan lagi.

DSCF2421DSCF2439DSCF2445Jalannya jauh tapi bagus. Pantainya juga bagus bangeet. Air lautnya biru toska bikin mata seger. #MasyaAllah pokoknya.

Klo biasanya tepi pantai itu dipenuhi pasir yang warnanya hitam, coklat, atau putih. Kolbano berbeda. Bukan pasir yang menutupi pantai tapi batuan kecil yang kebanyakan warnanya pink, putih, dan abuabu. Dan katanya setiap corak yang ada dibatuan itu berbeda-beda. Hmmm..gak ngecek juga sih bedanya gimana.

Tapi sayangnya di Kolbano belum ada fasilitas MCK, so untuk urusan MCK saat itu kami diarahkan ke toilet punya warga setempat. Semoga dalam waktu dekat sudah ada orang lokal yang memperhatikan fasilitas di sana jadi berwisata ke Kolbano lebih mengasikan yaa..

Aslinya betah diem lama-lama di sini. Tapi tetep kudu tau waktu. Besok pagi kami harus pulang ke Bandung dan belum packing. Haha..kebiasaan emang packing sejam sebelum pergi.

Tahun ini saya ke Kupang lagi, tapi ke tempat yang berbeda. Next deh cerita..

*setahun kemudian..ahaha


Tinggalkan komentar

Berenang bersama Ubur ubur hingga Manta di Kepulauan Derawan

Melihat keindahan bawah laut secara langsung sudah menjadi keinginan saya sejak lama. Dan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur menjadi pilihan untuk mewujudkannya. Ada beberapa alternatif menuju ke sana, bisa melalui Tarakan atau Berau. Saat itu kami memutuskan untuk berangkat dari Jakarta menuju Tarakan yang membutuhkan waktu 2 jam 50 menit perjalanan udara kemudian dilanjut dengan perjalanan darat dan laut selama kurang lebih tiga jam. Meski cukup lama tapi tidak terasa melelahkan terutama saat mendapati bahwa sunset di Derawan sangatlah cantik.

DSCN0149_2

Beruntung saat kami ke sana cuaca sedang bagus, langit cerah, dan kondisi lautpun tidak terlalu berarus. Waktu yang sangat tepat untuk diving, freedive, atau snorkeling di sini memang antara April, Mei dan Juni, lalu September sampai Desember. Oh ya Kepulauan Derawan ini terdiri dari beberapa pulau kecil, yang paling terkenal diantaranya Pulau Maratua, Derawan, Sangalaki, dan Kakaban.

Pulau yang pertama kami kunjungi saat itu adalah Kakaban. Sekitar 30 menit perjalanan dari Pualu Derawan. Di Pulau Kakaban terdapat danau air tawar. Sejarahnya danau ini terbentuk karena air laut yang terjebak di tengah pulau selama 2 juta tahun hingga menjadi danau air tawar. Karena berevolusi cukup lama oleh air hujan dan air tanah maka bukan hanya airnya yang berubah, faunanya pun ikut berubah.

Di Danau Kakaban ini kita bisa berenang-renang dengan ubur ubur. Tenang saja ubur ubur di sini tidak menyengat karena sudah berevolusi tadi. Untuk berenang di sini disarankan tidak menggunakan fin atau kaki katak karena dapat melukai ubur ubur yang ada di dalamnya.

DSCN0145

Setelah puas berenang di Danau Kakaban, kami melanjutkan snorkeling di kawasan sekitar pulau. Ada palung yang cukup dalam di sana yang dihiasai beberapa terumbu karang yang masih sangat indah. Tapi juga ada perasaan ngeri sekaligus takjub saat melihat ke dalamnya. Terlebih ini pertama kali saya berenang-renang di laut.

DSCN0223

Dari Pulau Kakaban kami lanjutkan perjalanan menuju pulau cantik lainnya. Maratua dan Sangalaki, ini adalah salah satu spot snorkeling dan diving terbaik di Indonesia. Pulau Maratua merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia yang berbatasan dengan Malaysia. Maratua sendiri bagaisurga bagi para penyelam yang mengagumi dunia lain di bawah laut.

Selain terumbu karang warna warni yang ditinggali banyak ikan cantik,pulau ini juga biasa disebut sebagai Maldivesnya Indonesia. Pemandangan permukaan lautnya juga cantik karenanya Pulau Maratua bisa dijadikan tempat untuk menginap, dijamin pasti betah. Untuk menuju ke sini kita bisa langsung menggunakan speedboat atau pesawat kecil.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah puas bermain di Pulau Maratua kami beranjak ke Pulau Sangalaki. Di Pulau Sangalaki kita bisa menjumpai penyu yang beragam jenisnya, diantaranya adalah penyu sisik dan penyu hijau yang biasa hidup dan bertelur di Pulau Sangalaki. Saking banyaknya di pulau tak berpenduduk ini kemudian dibuat tempat konservasi penyu untuk melindungi populasi penyu dari perburuan manusia yang tidak bertanggung jawab.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di Pulau Sangalaki juga kita bisa menikmati indahnya panorama bawah laut ditemani ikan pari manta yang mengagungkan. Rasanya senang tapi juga degdegan ketika kami berenang dekat dengan pari manta jadi tetap harus jaga jarak aman. Di sini ikan pari manta biasanya hidup berkelompok jadi sangat mudah menjumpai mereka.

Sebenarnya indahnya Kepulauan Derawan tidak cukup hanya dilukiskan dalam kata-kata. Harus kita coba jelajahi dan juga jaga. Kalau kesana jangan tergoda untuk membuang sampah semabarangan ya terutama plastik, jangan juga iseng ingin menu makan dari bahan telur penyu. Please kalau bukan kita siapa lagi yang akan jaga indahnya Indonesia.

DSCN0276

 

Foto: dok. perjalanan dari guide dan pribadi pakai kamera underwater pinjaman 😀


5 Komentar

Hallo Papua

DSCF3286

“Hitam kulit.. keriting rambut, aku Papua..”

Terngiang nyanyian itu ketika kami mendarat di Bandara Sentani, Jayapura. Hari itu menjadi perjalanan pertama saya – dan masih yang pertama – ke pulau paling Timur di Indonesia. Rasanya seperti mimpi bisa menginjakan kaki ke Papua cuma-cuma. Saat itu saya dan teman-teman memang sedang dalam perjalanan tugas tapi rasanya setengah liburan.

Agenda perjalanan dua hari tersebut padat akan kunjungan ke wilayah kerja, dan saya tidak akan membahas pekerjaannya apa. Hari pertama kami berkunjung ke sebuah bangunan ruko yang disulap jadi sekolah. Biasa saja sih seperti jalanan dan wilayah lain di Indonesia. Yang luar biasa ada di belakang bangunan tersebut. Pantai cantik yang luput dari pandangan saya dan mungkin orang yang hanya melintas di jalan besar depan ruko. Orang setempat menyebutnya pantai Enggros.

DSCF3303

Banyak penduduk lokal yang memancing ikan di sana, yang jalan-jalan sore pun ada. Tempat ini semacam lokasi JJS warga sekitar. Tempat memantau matahari terbenam yang cantik, sayangnya saat itu langit agak kelabu, jadi hanya semburat (kecil) jingga saja yang tampak. Sesekali diantara kesibukan kerja sore itu saya menyempatkan diri memotret dan berbincang singkat dengan mamak yang juga sedang asik memancing. Ada faedah yang bisa saya ambil dari jalan-jalan sore itu, tapi biar saya saja lah yang tahu ya..haha..

Lepas maghrib saya dan rekan-rekan seperjuangan baru bisa beranjak menuju penginapan. Istirahat sejenak kemudian cari makan. Lucunya kelakukan kami ini, jauh-jauh ke Jayapura makannya di Pizza Hut. Ya kali aja rasanya beda..heheh. Bukan sih, karena lelah saja, dan lokasi tempat makan terdekat dengan penginapan kami adalah itu. Terima nasib saja kami tidak sedang traveling kuliner.

Di sini waktu memang berjalan lebih cepat dibandingkan daerah manapun di Indonesia, tapi melambat bagi saya yang kehilangan signal hape karena jaringan operator terbaik di Indonesia juga hal fana yang dapat mengalami gangguan. Dari hari pertama menginjakan kaki di Bandara Sentani Alhamdulillah kami manusia sosmed yang suka pamer ini tidak bisa update status. Tulisan “Check in at Sentani airport” di path tak ado. Jadi ketika sampai penginapan pun ga sibuk lihat hp, percuma, mending tidur ngumpulin energi buat besok.

Kreativa - 170126 ICD Jayapura - 446

Hari baru tantangan baru, sejak pagi Jayapura diguyur hujan deras. Padahal ini adalah hari yang sangat diandalkan untuk melakukan liputan di pulau-pulau kecil terdekat. “Berdoa saja, semoga disana cerah,” kata salah satu diantara kami. Ada dua pulau kecil terdekat yang akan kami kunjungi kala itu, satu dihuni oleh penduduk asli Papua, pulau lainnya dihuni penduduk pendatang bersuku Buton. Tapi meski nenek moyang mereka aslinya dari Sulawesi, bahasa dan logat penduduk sini sama seperti orang Papua pada umumnya.

Alhamdulillah doa terkabul, ntah doa siapa yang pasti buat kami happy. Kerena cuaca membaik jadi kami bisa mengujungi kedua pulau tersebut. Liputan pun sukses, main-main di pantai berpasir putih sukses besar..hahah..iya ada pantai kecil di pulau itu yang membuat kami akhirnya sambil menyelam minum cappucino, dari pengarah gaya jadi bergaya.

DSCF3433

Judulnya kerja tapi di sini kami berasa sedang liburan di private beach. Hanya ada kami yang bermain di pantai bersama anak-anak lokal. Mungkin mamak-mamak dan bapak-bapak yang tinggal disana sudah bosan setiap hari ketemu pasir putih dan laut biru. Tidak seperti kami yang tinggal di cekungan berpagar pegunungan. Meski saya tahu ini tidak ada apa-apanya dibanding Raja Ampat, but is still like heaven guys..hahah..norak! Biarin ya, yang pasti tidak semua orang bisa ke tempat ini, bahkan mungkin terfikir saja tidak karena ini bukan tempat liburan.

Jelang maghrib (lagi) kami baru selesai beraktivitas. Kali ini ditutup dengan makanan laut asli bukan berupa pizza. Saya lupa nama tempatnya apa, disini semua masakannya enak. Mungkin karena di Jayapura dekat dengan pantai, jadi ikannya masih fresh atau karena kami memang sangat lapar.

Pagi terakhir di Jayapura masih diguyur hujan deras, itu berarti keinginan melihat Danau Sentani dari dekat tidak bisa terwujud. Suasana dalam mobil pagi itu tidak seperti ketika baru sampai di Jayapura, lebih banyak diam, tidak ada obrolan menarik. Ah mungkin diri kami masih belum rela untuk beranjak dari pulau nan indah ini tapi takdir pulang ke Bandung harus tetap dijalani.

Kreativa - 170126 ICD Jayapura - 815

Sesungguhnya perjalanan tersebut sudah berlalu satu tahun. Semoga lain kali bisa berkunjung lagi ke Papua, ke destinasi yang mainstream di Papua seperti Danau Sentani, Raja Ampat, Misol, dll. Aamiin.

 

…Sama siapa, Nin?


1 Komentar

Menemukan Makna Syukur di Belitung Timur

Hallo wordpress..apakabarnya kamu?
Maaf lama ga nyapa. Bukan ga mau berbagi cerita lagi, hanya saja rasa malas yang tak terkendali.

Oke hari ini saya mau tulis sedikit kisah tentang perjalanan ke Belitung beberapa bulan lalu. Perjalanan kali ini agak tidak biasa, bukan untuk jalan-jalan di hari libur. Tapi Saya dan beberapa teman ditugaskan untuk liputan di lokasi bencana banjir bandang yang menimpa sodara-sodara kita di Belitung Timur kala itu. Ini pengalaman pertama ke Belitung Timur dan pertama juga tugas di lokasi bencana.

Beberapa hari sebelum sampai Belitung saya sempat baca berita bahwa ada jalan yang terputus dan akhirnya bantuan sulit masuk ke sana. Tapi pas saya datang jalanannya tampak baik-baik saja, ada rasa gak percaya bahwa jalanan yang turun naik dan berkelok ini beberapa hari sebelumnya dipenuhi air hingga tidak bisa dilewati oleh kendaraan. Satu hal yang terbersit ketika itu “Ini yang bikin jalannya bener, jadi ga gampang rusak.”

DSCF0586

Kondisi Desa Gantung, Belitung Timur Paska Banjir Bandang

Saat kami sampai lokasi banjir, sebagian besar air sudah surut, beberapa warga juga sudah kembali ke rumah masing-masing, tapi jejak-jejak banjir tidak hilang begitu saja.Banyak bangunan hancur terguras air, bahkan saking kencangnya arus air sebagian rumah hilang entah kemana.

Yang tersisa di lokasi pengungsian tinggal beberapa warga yang kondisi rumahnya rusak parah. Mereka adalah warga yang tinggal di Kampung Bugis. “Rumah saya ada di tengah Kampung, kondisinya rusak parah, dik” kata Halija, salah satu ibu yang saya temui di pengungsian. Sampai hari itu ia tidak bisa kembali ke rumahnya karena memang sulit dibersihkan. Lokasinya di tengah kampung, susah air karena listrik mati, kalaupun ada harus mengambil jauh ke sungai.

Kami coba datangi lokasi Kampung Bugis itu, terutama rumah Ibu Halija. Ya Allah..ga karuan, barang-barang rusak dan kotor, jalanan becek, berlumpur, dan bau menyengat dimana-mana. Beberapa warga berusaha membersihkan rumahnya sedikit demi sedikit. Tapi masih belum bisa ditinggali, karenanya mereka masih memilih bertahan di pengungsian.

“Klo di rumah kami tidak bisa makan, dik. Ada juga yang kirim bantuan makanan, tapi mobilnya berhenti di jalan besar, sebelum masuk ke sini sudah habislah oleh warga yang rumahnya dekat jalan. Sudah sama-sama susah kami, tidak maulah berantem demi makanan. Lebih baik di pengungsian saja, bisa makan, minum, tidur, dan mandi pun banyak air,” papar Mawa, warga Kampung Bugis yang juga tinggal di pengungsian.

Terharu saya dengan cerita bu Mawa ini, kadang beberapa orang akan lebih mementingkan dirinya apalagi sedang dalam kondisi kesusahan. Mau berebut makanan, tapi dia memilih ke pengungsian yang jauh dari tempat tinggalnya demi tidak berkonflik dengan sesama dan masih beryukur bisa tinggal di pengungsian. Ada juga cerita Bu Suryati yang berinisiatif membuka dapur umum untuk para korban banjir di hari pertama kejadian.

“Pas pertama buka baru ada 5 kg beras dan mie instan, ini untuk menu makan siang warga yang mengungsi. Untuk makan malam kami cari daun pepaya yang ada di rumah-rumah warga lain. Kami patungan juga hutang sana sini untuk membeli kebutuhan dapur umum. Baru di hari berikutnya ketika akses jalan sudah bisa dilalui mulai berdatangan bantuan,” tutur Suryati.

Dan masih banyak lagi kisah yang saya dapat dan sangat bermanfaat bagi diri yang kurang bersyukur ini. Awalnya saya sempat berpikiran gini “Duh dari dulu pengen ke Belitung, sekalinya kesini kerja pas bencana pula.” Sungguh rada malu rasanya ngeluh kayak gitu. Padahal dari perjalanan ini justru saya dapat banyak hikmah yang bisa berguna buat hidup di masa depan, terutama tentang sabar dan syukur. Gak cuma dapat pengalaman snorkeling, foto bagus, dan haha hihi aja.

Dari beberapa kisah warga yang saya jumpai, saya jadi belajar langsung gimana orang bisa sangat sabar saat semua yang dia miliki habis sekejap mata. Bagaimana orang tidak mengeluh dengan keadaannya yang berubah drastis dari punya rumah sejam kemudian rumahnya hilang, hartanya hilang, dan mereka masih sangat bersyukur selamat meski cuma bawa baju di badan dan ktp di saku.

Oh Allah makasih banget sudah dipertemukan dengan orang-orang ini.

Temen kerja kala itu

Foto bareng relawan dan korban bencana

 

*foto mozaik by Om Akeu

 


Tinggalkan komentar

Mohon diMaafkan

Assalamualaikum.

Mumpung masih bulan syawal dan masih berasa suasana lebarannya, saya mengucapkan Taqabalallahu minna waminkum, Syiamana wa syiamakum. Semoga amal ibadah kita selama Ramadan diterima Allah. aamiin..

Mohon dimaafkan juga ya jika selama ini tulisan (padahal udah setahun ga ngblog) yang saya share bikin spam. 😀

Mohon maaf lahir batin pokoknya.Nina2


4 Komentar

Dari Haruman ke Rakutak

Libur lebaran kali ini hampir sama seperti libur lebaran tahun lalu. Gak kemana-mana. Kalau saja tidak ada teman-teman dari Jakarta yang ngajak naik gunung di Bandung Selatan. Hari ke 3 lebaran kami merencakan untuk naik puncak Haruman, Gn. Puntang. Tidak terlalu terkenal memang, tapi lumayan buat pemanasan kaki sebelum mulai mendaki gunung lagi.

DSCF0039Rencana sudah dibuat, mepo sudah disepakati, Jumat dini hari kami bertemu di depan Miko Mall, Kopo. Booking Grab Mobile menuju kawasan wisata Gn. Puntang dan bersiap mendaki selepas shubuh. Kami sampai di basecamp pendakian Gn. Puntang sekitar pukul 4 pagi, masih sangat sepi di sana, bahkan basecamp pun digembok. Agak aneh sebenarnya, mengingat ini libur panjang dan biasanya dimanfaatkan orang untuk wisata ke gunung.

Sambil nunggu barangkali ada pendaki lain yang datang, kami memutuskan untuk istirahat di depan basecamp, barulah saat adzan subuh berkumandang saya dan satu teman lainnya mencari mushola sekalian mencari tahu kondisi jalur terkini. Sampai mushola sepi gak ada orang kecuali kami berdua, ah mungkin nanti setelah sholat ada orang lain pikir saya, ternyata ga ada..hehe. Pos tiket masuk pun masih tutup. Saat itu kami belum ngeh ada pengumuman penting depan pintu masuk.

Baru pukul 5.30 setelah agak terang kami kembali ke pintu masuk dan baru baca ada tulisan “Jalur Pendakian di TUTUP”, aah.. Tanya kepenjaga yang baru dateng katanya jalur menuju puncak Mega, dan beberapa curug di sana ditutup karena longsor dan banjir bandang, sedangkan puncak Haruman sudah ditutup sejak Agustus tahun lalu. ZONK!  Maklumlah gunung ini tdak seterkenal Semeru yang infonya bisa dicari di mana-mana tidak perlu datang langsung.

“Lalu apa plan B-nya?” tanya salah satu teman. Plan B-nya adalah cari gunung lain yang masih di wilayah Bandung Selatan, mengingat Bandung kota pasti macet jadi pilihan hanya ada 2, Manglayang dan Rakutak. Dan pilihan 1 saya tolak karena keseringan..hahah.

Jam 7an kami mulai jalan turun, di pertengahan baru ketemu angkutan desa, naik sampai Pasar Banjaran.  Sarapan dulu di pasar sebelum melanjutkan perjalanan jauh, dari Banjaran carter angkot sampai Ciparay, dari sana naik angkot warna kuning menuju Desa Sukarame.

Sampai Desa Sukarame atau pos pendakian di Desa Sukarame sekitar 10.30 wib, tapi kami tidak diizinkan untuk langsung mendaki karena itu hari Jumat, dan semua muslim diminta sholat Jumat dulu. Saya suka saya suka..setidaknya yang gak pernah sholat di gunung, hari itu sholat dulu sebelum mendaki, walaupun kapaksa..hahah.

DSCF0041

Baru mendaki sekitar jam 1 siang, jalur awal masuk ke perkampungan, trus nanjak melipir ladang warga, setelah itu lewatin sawah, baru masuk hutan bambu, makan waktu sekitar 45 menit. Sebenarnya ada 2 jalur melalui Desa Sukarame ini, tapi jalur 2 ditutup karena nerobos ladang warga dan banyak yang rusak, gitu info dari Kang Agus sebagai penjaga pos pendakian.

Dari hutan bambu hingga pos 1 memakan waktu sekitar satu jam, melewati 5 jembatan kecil, jalannya banyak bonus dan rindang. Agak terbuka pas sudah dekat pos, tanjakan tajam 45 derajat juga ada pas mau dekat pos. Lainnya biasa aja.

DSCF0062

Istirahat sejenak di pos 1 untuk makan siang dengan pemandangan pegunungan Malabar. Baru lanjut jam 3 sore, nah dari Pos 1 menuju puncak jalurnya lumayan banget, nanjak terus dengan sedikit bonus. Kalo ada yang pernah ke Manglayang via Batukuda, jalurnya mirip-mirip gitu. Tanah, akar, batuan, cuma lebih panjang aja. Baru terbuka pas mau sampai puncak 1. Kami sampai di Puncak 1 atau Puncak Hiji jam 16.45, berarti dari Pos 1 ke sana kurang lebih 1 jam 45 menit. Karena perjanjiannya nenda di Puncak 2, jadi kami harus melanjutkan perjalanan lagi, yang artinya kami harus melalui jembatan Sirathol Mustaqim saat itu juga. Heuu..

Total rombongan ada 6 orang, dan kami terbagi jadi 2 kelompok. Nah 1 laki-laki yang bareng sama saya udah ngabur duluan buat cari lapak. Saya dan 1 teman perempuan di belakangnya, sedangkan 3 orang lainnya masih jauh dibelakang kami. Mau gak mau, kami berdua harus lewat jembatan Sirathol Mustaqim itu berdua saja. Tadinya mau nunggu, tapi gambling takut keburu maghrib dan gelap.

Awalnya sih berasa biasa aja, kayak jalur dari Pos Pemancar di Merbabu menuju ke puncak. Tapi lama-lama kok serem juga ya, jalan setapak cuma muat buat 1 orang kanan-kiri jurang. Pokoknya jalur kayak gitu bikin saya males ngeluarin kamera, bukan apa sih, kalo udah pegang kamera suka lupa diri. Sampai pertengahan jalan, ada 2 batu besar yang harus kami lalui. Lihat kanan kiri gak ada celah sedikit pun buat kaki berpijak, jadi bener-bener harus naik keatasnya. Jujur, baru kali ini saya gemeteran mau lewatin jalur, jembatan setan Merbabu aja gak segininya.

Tarraaa..akhirnya sampai puncak jam 17.30, kemudian kabut turun. Saya sih bersyukur banget udah nyampe puncak pas masih terang, kasian temen-temen di belakang yang masih pada naik, harus lewatin jalur serem itu gelap-gelapan. Selepas maghrib barulah kami kumpul semua.

DSCF0208

Saran: Puncak Rakutak itu sempit dan terbuka, jadi kalo musim ujan mending gak usah deh takut kena petir. Atau kalo angin lagi kenceng banget nendanya jangan di puncak.


5 Komentar

Mendaki Gn. Lawu Tanpa Persiapan

Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya, seringnya saya ke Jogja salah satunya adalah ingin mendaki Merapi, tapi tak kunjung terlaksana. Hari itu juga demikian, “Merapi batuk lagi,” kata teman saya yang mau ditebengi. Alhasil rencana nebeng rombongan teman ke Merapi pun dibatalkan, untuk menggantinya saya coba hubungi rombongan yang akan ke Sumbing, tapi karena jadwalnya yang kurang pas saya pun tidak jadi ikut ke Sumbing.

Rencana mendaki gunung batal semua, tapi tiket kereta sudah dibeli mau gak mau saya berangkat juga ke Jogja bareng Ajeng. Karena gak ada niatan naik gunung, persiapan saya pun tidak semaksimal biasanya. Saat itu yang saya pikirkan hanya membawa SB kalaukalau kami harus menginap di luar rumah, meskipun kemungkinan besar tidak akan terjadi karena Ajeng punya kolega di Jogja. Hehe..

Kamis pagi ada acara di kantor jadi barang bawaan masih saya tinggal di rumah, tapi sudah packing seadanya sebelum berangkat. Karena waktu pulang mepet sama jadwal kereta akhirnya saya tidak sempat pulang lagi ke rumah, packing baju tetap seadanya ditambah beberapa barang yang saya titip ke kakak untuk dimasukan ke ransel, kemudian dikirim oleh tukang ojek langganan.

Agak tergesa seperti biasanya tapi berhasil! Kurang beberapa menit saja kami pasti terlambat.

Meskipun saya dan Ajeng sudah pasrah gak mendaki gunung, tapi tetep saja galau dan tetep usaha menyamakan waktu bareng teman-teman yang ke Sumbing, yang ujung-ujungnya tetep gak bisa. Hahaha..tetep

Dipikirpikir kalo tiga hari kami habiskan hanya berkeliling Jogja, sungguh membosankan. Malam itu saya coba hubungi teman blog, dulu sempat saling berkomen untuk naik gunung bareng. Saya kirim pesan lewat komen di blog dan twitter yang berlanjut ke sms, akhirnya kami sepakat untuk sama-sama mendaki Gn. Lawu melalui jalur Cemoro Sewu. Karena belum pernah bertemu jadi anggaplah ini sebagai kopdar pertama kami. Agak gegabah, tapi saya punya keyakinan kuat dia orang baik. Semoga. 😀

Hari pertama di Jogja kami habiskan dengan jalan-jalan kota, baru keesokan harinya sesuai jadwal free teman blog saya itu maka kami berangkan ke Solo untuk mendaki Lawu. Sabtu siang kami bertemu di stasiun Lempuyangan. Awalnya saya pikir dia asli Jogja, ternyata orang Garut. Ah -__-“

IMG_1889

@stasiun Solo Balapan

Perjalanan menuju Magetan diiringi hujan deras, sempat terpikir untuk membatalkan pendakian, tapi teman baru saya itu bilang “Biasanya di atas malah gak hujan”. Baiklah untuk saat itu saya mengiyakan, tapi jika sampai ke pos pendakian tetap hujan berarti mestikung (semesta menikung). Ternyata sampai pos pendakian hujan sudah reda. Kami istirahat sejenak di sana, makan (lebih tepatnya dikasih makan :D), repacking, dan sholat maghrib.

Pendakian kami mulai selepas maghrib, sebenarnya saya menghindari pendakian malam, tapi banyak sekali yang mendaki malam itu. Toh kalo gak malam ini kapan lagi? Jalurnya agak basah setelah diguyur hujan siang hingga sore tadi. Dari basecamp hingga Pos 1 jalannya masih bersahabat, cukup landai. Normalnya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Pos 1 ini. Dari Pos 1 ke Pos 2 jaraknya ternyata cukup panjang, memakan waktu hampir 3 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata keong perjam..heheh..

IMG_1892.JPG

Cuma bisa lihat bulan.

Jalur menuju Pos 2 ini mulai tak berbonus dan bebatuan, lumayan lah bikin pegel. Terlebih saya tidak pakai sepatu atau sanda yang seharusnya. Ya tak seharusnya karena packingan seadanya itu saya lupa memasukan sepatu maupun sandal gunung ke daftar bawaan, alhasil cuma pakai sandal yang saya bawa ke kantor. Heuu..

Di Pos 2 ini ada shelter yang bisa dijadikan tempat istrirahat, awalnya kami mau ngecamp di sini saja terlebih melihat kondisi Ajeng yang sudah capek berat. Tapi shelter penuh dan tidak memungkinkan mendirikan tenda di sana. Teman baru saya meyakinkan kami kalo Pos 3 sudah dekat dan kami buka tenda di sana saja. Perjalanan pun kami lanjutkan ke Pos 3, tapi yaa..ternyata lumayan juga, waktu normal saja butuh 60 menit untuk sampai ke sana, dengan kondisi kami yang banyak berhenti sepertinya sampai 2 jam baru buka tenda di Pos 3.

Sudah larut tidak ada foto-foto apapun, tidak ada kegiatan lain selain makan malam (lagi), kami pastikan alarm berbunyi jam 3 nanti, kemudian tidur lelap.

====

Dan kemudian kami terbangun..”Yaah..jam 4!” seru teman baru saya. “Yah…udah, sholat subuh aja,” kata saya nyantai. Karena sejak awal pendakian ini diniatkan santai, jadi kami tidak merasa gusar gak dapet sunrise di puncak. Toh nyampe puncak juga untung-untungan, di timeline saya pokoknya sebelum dzuhur kita harus udah turun. Bukan apa-apa, biar pas sama jadwal kereta pulang aja.

Abis sholat, ngopi-ngopi, sarapan, baru lah beranjak jalan sekitar jam 5 pagi. Santai banget, bener-bener jadi penikmat jalur. Oh ya dari Pos 3 menuju Pos 4 bisa ditempuh dengan waktu 60-90 menit, tapi bergantung kecepatan masing-masing juga.

IMG_1897

Pemandangan selama perjalanan ke Pos 4

Jam 6.30 kami sudah sampai di Pos 4, menimang-nimang mau lanjut atau tidak. Setelah sekian lama berfikir sambil selfie..*bisa ya..hahha..akhirnya kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan hingga puncak. Iya sih tinggal dikit lagi, iya sih cuma satu pos lagi, tapi terlalu beresiko ketinggalan kereta.

Mungkin sekitar jam 7.30, kami mulai menyusuri jalur batuan tadi menuju Pos 3 tempat kami ngecamp. Sampe Pos 3 repacking, kemudian turun. Karena kemarin naik dalam keadaan gelap saya hampir tak mengenali jalan yang kami lalui, Alhamdulillah jalurnya jelas dan gak banyak, bahkan hampir gak ada persimpangan. Karena terang benderang, jalur batuan yang dilalui berasa banget ke kaki, terlebih saya ga pakai sepatu atau sandal yang memadai. Heuu..salah sendiri sih.

Jam 11 sampai juga kami di basecamp, istirahat sejenak, bersih-bersih, trus nunggu angkot dan makan baso pinggir jalan sambil elus-elus kaki. Ah..bersyukur banget liburan kali itu bisa main ke gunung meskipun bener-bener tanpa persiapan yang matang, Alhamdulillah selama perjalanan kami baik-baik saja, sampai rumah dengan selamat. Semoga kelak bisa main ke sana lagi dan lihat sunrise dari puncak. Eh..ke Merapi aja deh..