siriusbintang


1 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (4)

Day 3 Menikmati Afrika Van Java

Mobil jeep yang kami tumpangi jadi lebih luas karena Rahmi dan Hilman gak ada. Perjalanan ini jadi seperti kembali ke awal, cuma ber4 dan mulai gila lagi..hahah.. Salah satu dari kami mungkin dehidrasi. Saat bapak sopir menunjukan salah satu batu bersejarah di tengah jalan “itu batu dodol” katanya, di belakang malah nyahut “batu jodoh?” eaaah..dodooool :v

20150531_110516Perjalanan dari stasiun menuju pos pendaftaran Baluran sekitar 30 menit saja, dekat ternyata. Tapi itu baru nyampe pos pendaftaran ya. Untuk menuju Savana Bekolnya sekitar 45 menit dari situ, kalo pakai mobil. Kalo jalan? Hitung sendiri :D

Kanan kiri jalan menuju Savana Bekol merupakan hutan semak yang cukup rimbun. Sesekali terdengar suara ayam hutan, sesekali ada juga penampakan. Penampakan ayam hutan maksudnya :D

Sampai di Savana Bekol kami benar-benar terpukau.. Welcome to Afrika Van Java. Aaah..makin menjadi deh kami. No more speak lah, selamat menikmati foto-fotonya ;)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oh ya tadi pagi kami bungkus nasi + ayam untuk makan siang, dan tak lupa 2 bungkus rujak cemplung buat dimakan pas panas-panas gini di bawah pohon rindang. Biar apa? Biar segeeeer.. Siang itu kami pun makan rujak ditemani musik Banyuwangian dari mp3 bapak sopir..”la..la..la..wong edan..la..la..la..” hahah..asli kata-kata yang terekam diingatan cuma itu doang..

Karena panas banget aktivitas memotret di savanpun kami hentikan sejenak, beranjak ke tower pengintai #halah dari tower ini kita bisa melihat savana yang terhampar luas, sampai pantai Bama di ujung sana. Abis itu kembali turun dan menuju masjid, sholat Dzuhur-Asar dan istirahat sejenak. Di kawasan ini udah mulai banyak monyet, jadi hati-hati ya bawaannya.

Selepas sholat lanjut ke pantai Bama dulu, monyet makin banyak boo.. Awalnya kami mau coba snorkeling, tapi karena lautnya lagi surut gak jadi deh. Emmh..agak curiga sih pas lihat harganya yang murmer cuma 45rb aja, eh nanya tempatnya dimana, kata mas-masnya di tepian pantai aja. Yah..pantaslah.. gak perlu sewa perahu.

Saya dan satu teman malas berbasah-basah gak jelas..heheh..jadi diam saja di tepian pantai sambil ngobrol. Lainnya jalan hingga ke tengah sambil mencoba peruntungan ketemu ikan badut. :D

Tak terasa udah sore aja, kami baru ingat nasi bungkus tadi pagi belum di makan. Heuu..pantes lapar. Awalnya mau makan di tepi pantai tapi monyet-monyet gak sopan itu malah mendekat, kabur deh. Mending makan di mobil aja. Diantara makanan sebelumnya, ini jauh lebih baik menurut kami. Nasi dan ayam saja sangat cukup. Alhamdulillah..

Hari makin sore tapi matahari masih terik aja, selesai makan siang kesorean kami kembali ke Savana Bekol, foto-foto lagi sampai mau gelap. Oh ya bagi yang tripnya agak nyantei di sini juga ada penginapan dan menyediakan safari malam. Ya kali mau ketemu macan.. :D

Jelang maghrib kami kembali ke Banyuwangi, menyusuri jalanan rimbun tadi dan..lagi-lagi tak sadaran diri. Sungguh ya kamu sudah menahan supaya gak merem mengingat waktu asar hingga maghrib itu gak baik untuk tidur, tetep aja blass. Sadar-sadar sudah depan batu dodol.

Kejadian Tak Terduga..Sungguh

Sekali lagi ini karena niatnya backpackeran dan demi hemat tingkat menyebalkan, kami pun memilih tidur di masjid saja, tidak sewa penginapan. Inilah salah satu alasan kenapa saya tidak mau ajak orang lebih banyak apalagi akhwat, khawatir gak biasa tidur dimana aja. Berbekal baca-baca blog orang yang katanya ada masjid depan pelabuhan yang bisa kami singgahi untuk tidur jadi kami pun menuju ke sana.

Sampai masjid kami bersih-bersih dan sholat, setelah itu meminta izin pada pengurus masjid bahwa kami akan beristirahat di sini malam ini. “Iya silahkan, di sana ya” kata bapak penjaga sambil menunjukan tempat parkir motor yang sudah dialasi karpet. “Kalau yang akhwatnya sebelah mana, pak,” pertanyaan standar sih menurut kami mengingat ini masjid dan pasti ada hijab antara akhwat dan ikhwan. “Ya di sana,” kata bapaknya sambil tetap menunjuk tempat parkir itu. “Gak ada hijab pak?” tanya saya. Bapaknya tampak tidak faham apa yang saya bilang, mungkin karena suara saya kurang keras. “Hijab pak, pemisah. Masa gabung sama ikhwannya,” lanjut saya. “Oh ya ndak, itu kan karpetnya beda.” Haiiiishh..-__-“

Ini benar-benar di luar dugaan kami, salah saya sih gak baca tulisan di blog dengan seksama. Tapi kami tetap usaha agar akhwatnya diizinkan istirahat di teras masjid. Beneran kami hanya berharap di teras saja gak lebih. Bukan mau manja-manja, toh saya juga pernah tidur di terminal Surabaya tapi ya gak barengan sama temen-temen yang ikhwan juga. Karena ini masjid, ekspektasi kami agak berlebihan mungkin karena kami terbiasa mabit di masjid jadi agak shock ketika diminta tidur di parkiran tanpa hijab.

Kami tetap usaha, melobi ketua DKMnya. Ya siapa tahu kami bertiga diizinkan diam di teras, gak tiduran kok duduk aja. Saat itu bapak ketua DKM sedang mengaji, kami tunggu sambil makan nasi bungkus tadi pagi yang masih tersisa..hahaha. Makan sambil kejarkejaran sama tilawah bapak ketua gak enak sodara. Pas bapak ketua berhenti kami juga berhenti ngunyah, yang sudah ngangkat sendok di freez gak masuk ke mulut. Bapak ketua lanjutin tilawah kami pun lanjut makan. Astagfirullah.. >,<  Selesai tilawah kami selesai juga makan, lalu mengejar si bapak yang keluar dari masjid. Lobi-lobi hanya boleh sampai jam 9 diem di teras. Lah.. heuuu..

DSC_1275Sesaat kami berfikir cari penginapan saja kalau begitu, tapi ini sudah jam 10 malem. Ya sudah lah ke Indomart saja dulu berbincang sambil ngecas hp. Pikiran paling liar adalah “Kita nyebrang aja ke Bali, nanti subuh balik lagi,” kata Ajeng.. “Kamu aja olangan (sendiri)..hahaha..” dijawab rame-rame.

Sekitar 11 malem kami kembali ke masjid dengan harapan sang penjaga tak ada. Hihihi..benar saja, saat itu penjaganya lagi ga ada. Aza langsung tiduran di lapak yang disediakan di parkiran, di sana ada bapak-bapak lain yang juga tiduran. Kami ber tiga ke teras masjid samping kiri, tempat sholat akhwat, kemudian mengaji. Aman hingga 10 menitan, setelah itu petugas datang dan bilang “Ke bawah mbak, sekarang.” Eh kami lagi ngaji loh bukan tidur, kan tempat yang disediakan di bawah buat tidur. Tapi malas berdebat akhirnya kami ke bawah, mojok bertiga di samping jejeran motor, lanjutkan mengaji.

Kami berempat faham, mungkin dulu pernah ada kejadian tidak mengenakan di masjid ini karena mengizinkan orang tidur. Atau ini salah satu cara menjaga masjid tetap bersih, hanya untuk sholat dan gak sembarang orang seenaknya tiduran di sini. Ya tiap DKM punya kebijakan sendiri lah ya. Tapi sejujurnya, kami tetap sedih banget terusir dari tempat yang kami rasa paling aman, kami cintai dan sangat kami harapkan. Terlebih hanya kami yang diminta ktp, lainnya ngga.. >,<  Alhamdulillah hari itu gak banyak bapak-bapak di sana, dan kami bisa bergeser ke tempat yang paling pojok banget.

Walau berusaha sekuat apapun, badan kami memang sudah harus diistirahatkan, lepas pukul 12 malam kami bertiga akhirnya tumbang. Tapi hanya 1-2 jam saja terlelap, semua bangun pas pukul 3. Bersihbersih, wudhu kemudian ke masjid, sholat 11 rakaat dan mengadu. Mengadu sejadijadinya sampai subuh. Pagipun menyapa..saatnya bergegas ke stasiun, lupakan soal mandi pagi, toh kemarin sudah mandi. :D

Teman saya ambil ktp ke petugas, pas dia mau kasih infaq, tetiba sang petugas bilang “lima ribu per orang, mbak.” “Padahal aku mau ngasih lebih..tapi jadi males kalau udah dipatok gitu, buat yang lain aja lah..” kata teman saya. Ini pelajaran buat saya, kalau ada orang yang mau ngasih gak usah nyebutin nominal, ya kali aja dikasihnya lebih dari yang kita harapkan..hahah..

Oh ya kesimpulannya buat yang perempuan lebih nyaman mending cari penginapan aja ya..

OK lupakan soal kejadian semalam..saatnya kami beranjak menuju stasiun Banyuwangi Baru menuju JOGJAAAA..

Bye Banyuwangi..Bye Ijen..Bye Baluran..

Bye Bali..ada yang sedih gak bisa ke Bali padahal tinggal nyebrang 6rb aja :v

Ini itin berjalanan kami seharian di Banyuwangi.

21.00 – 21.30 Baru nyampe banyuwangi
21.40 – 22.10 Makan malam
22.10 – 23.30 Bersih-bersih dan istirahat
23.30 – 00.30 Perjalanan menuju paltuding
01.30 – 02.00 Persiapan pendakian
02.00 – 04.00 Pendakian gunung Ijen
04.00 – 04.30 Blue Fire Expedition + Sholat Subuh
04.30 – 05.15 Sunrise from the top
05.15 – 07.00 Turun Gunung
07.00 – 08.00 Perjalanan menuju Banyuwangi
08.00 – 09.00 Kuliner
09.00 – 11.00 Perjalanan menuju Baluran
11.00 – 11.30 Pos Batangan Baluran-Bekol
11.30 – 17.30 ISHOMA – Explore savanna bekol dan pantai Bama


2 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (3)

Day 3 – Ijen Bersama Bonus-bonusnya

Tepat pukul 00 kami siap berangkat menuju Ijen. Baru saja masuk mobil hujan sudah turun cukup deras, “Semoga di atas gak hujan, yaah,” kata teman. Dan kami mengamini. Entah lah gimana perjalanannya yang saya tahu setelah obrolan itu semua gelap. :v

Dini hari kami baru sampai pos pendaftaran Ijen, sesuai prediksi, karena ini malam minggu jadi objek wisata satu ini penuh pengunjung. Tapi tidak sesuai harapan, hujan masih saja setia menemani sampai pos ini. Daaaan..(agak dudul sih), biasanya ke gunung mana pun saya selalu mempersiapkan jas hujan dan senter, kali ini blank blass hanya bawa jaket aja.

Ada yang jual jas hujan sih, tapi ogah aja gitu jas hujan 5rb dijual 15rb di sana..hahah..maaf ya hemat kami sudah tingkat menyebalkan memang. Syukurlah tak berapa lama dari itu hujan pun reda, kabut sesekali turun tapi masih bisa ditahan oleh jaket waterproof ini #tsaah Senter juga dikasih pinjem sama pak Imik..bwahah..

Sayangnya yang naik ke atas hanya ber 5, satunya memilih tidur di mobil karena udah pernah ke sini bareng saya dulu. Selepas hujan jalanan jadi tidak terlalu berdebu, cukup mengasikan untuk dipijak dan bersahabat dengan hidung..hahah..percayalah.

Saya sengaja jalan santei saja, toh tidak mengejar api biru lagi, udah puas turun ke sana dua tahun lalu. Sambil ngobrol sana sini, sesekali mendongakan kepala ke atas berharap langit terang malam ini. Dan..yatta..kabut yang tebal itu terbawa angin entah kemana, memperlihatkan langit yang penuh dengan bintang. Bahkan beberapa kali kami melihat bintang jatuh. Apa? Make a wish? Ngga laaah.. :p

Saya kan udah gak punya kamera gede ya, kamera kecil juga gak punya sih..hahah..untungnya ada pinjaman jadi cuba-cuba deh pake mode manualnya buat motret langit. Hasilnya lumayan juga, berasa motret ketombe :v Itu bonus pertama yang saya dapat dari perjalanan ini, ketombe? Hahah..bintang laah 20150531_032411_2 Karena jalan super nyantei, kami baru sampai di puncak sekitar pukul 4. Api biru biasanya udah agak redup jam-jam segini, tapi ternyata masih ada dan satu teman saya masih semangat ngejar si api biru itu sampe ke bawah. Kami hanya menunggu di atas saja. Selain udah pernah, saya sebenarnya ogah berbau-bau belerang yang baru hilang setelah satu minggu itu, apalagi cuma bekal 1 baju bersih :D

Jam 4 lebih kami sholat subuh berjamaah bareng mas-mas dari kampung Inggris, Pare. Saya tahu dari mbak Ilah yang saya ajak kenalan sebelum sholat :D Awalnya saya fikir mereka dari tOekangfoto yang memang kesana juga hari itu. Ternyata bukan..hehe..pakaian tidak selalu jadi identitas ya..

Selesai sholat ya makan..hahah…udara dingin bikin lapar datang lebih awal, sodara. Mau motret juga masih gelap ya udah lah ngobrol aja sambil ngemil roti. Baru sekitar pukul 5.30 langit agak terang, berlanjut dengan foto-foto kawah yang cantik, Alhamdulillah meskipun ga lama tapi dapet lah pemandangan indahnya. Kemudian langit kembali mendung..heu

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak mau kena hujan kami pun segera turun, emm..Rahmi dan Hilman sih udah duluan kami aja bertiga yang baru beranjak setelah jam 6 pagi :D 20150531_062837 Turunan pertama dari puncak Ijen memang landai, dan tidak terlalu membutuhkan lutut ekstra. Tapi setelahnya lumayan laah. Berharap gak ke hujanan di jalan kami turun dengan tergesa tapi masih mikir. Kalo baca postingan Day 1 pasti tahu film pertama yang kami tonton, dan tahu kah sodara? Itu berpengaruh pada cara kami turun. Hahah..ngebut sambil mengukur kemungkinan jika lewat kanan seperti apa, kiri gimana, dan jika lewat tengah apa yang akan terjadi. Percaya atau gak, tanpa komando kami melakukan itu. Hmm..pengaruh film terhadap kehidupan kami ternyata cukup cepat. :D 20150531_064657 Sampai di belokan yang ada warung atau Pondok Bunder, hujan turun dengan derasnya, terpaksa kami berteduh tak bisa melanjutkan perjalanan. Sampai kira-kira pukul 7 barulah reda, guess what? Baru beberapa langkah meninggalkan warung, ada penampakan pelangi setengah lingkaran tepat depan kami. Masya Allah..setelah diguyur pengabulan doa sekarang dapat bonus pelangi. Sempurna! Terutama untuk foto :v 20150531_071656_2 Pelangi memudar langkah kami pun makin kencang, ya seperti awal tadi. Susah ngerem. Bahaya sebenarnya kalo gak biasa, tapi gak ada pilihan demi lutut yang jika dibawa perlahan sakit. Sampai pos pendaftaran sekitar jam 7.30, gak mau pake lama kami segera beranjak turun. Ntah perasaan saya saja atau emang jalan sekarang banyak perubahan dari sebelumnya, jalannya mulus banget dan beberapa motor metik sempat berpapasan dengan kami.

Sebenarnya kata pak sopir bahaya kalo motor metik lewat sini, apalagi malam. Selain jalanan licin dan berkelok ada goa macan juga. Euh..seram tapi ada yang lebih horor, pas kami lewat pos katanya sering ditemukan ada hantu di sana..hahah.. Tau deh, yang pasti setelah itu penglihatan saya kembali gelap tak sadarkan diri.Tetiba sudah ada depan warung nasi..hihihi..katanya di sini jual makanan khas Banyuwangi, semua menu ada kata rujaknya. Tapi kami gak tau penampakannya seperti apa, yang pasti saya pesan rujak cemplung, ada yang pesan rujak soto, dan juga nasi pecel.

Sebelum makanan sampai di meja, saya izin ke kamar mandi dulu, saat kembali makanan sudah tersedia di meja. Saya pun mencari pesanan saya, lalu satu teman yang pesanannya sama menyodorkan rujak, asli rujak. Kalau di Bandung namanya rujak cuka. Terbengong-bengong lah saya, “Za aku pesan rujak cemplung,” kata saya. “Iya, ini rujak cemplung, teh,” jawabnya sambil makan rujak dengan lahap. Bwahahah..omigod saya sarapan rujak cuka pedas.

Tak kalah shock dengan saya, teman yang sedari tadi tidur baru sadar setelah cuci muka kalo dia pesan rujak soto. “Ini apa? Aku gak pesan ini,” katanya. “Itu rujak soto, jeng” seru tema sebelah saya. Bwahahah..dia cuma terbengong-bengong dengan penampakannya, sesaat kemudian baru makan dengan hati-hati. Saya ikut coba rujak soto itu, rasanya seperti soto daging sih, tapi diatasnya seperti ada pecelnya, trus dibagian paling bawah ada lontongnya, saat di aduk ada daging jeroan. Rujak Soto Sudah lah pesanan kami ini gak ada yang beres menurut saya, ya karena kami gak tahu penampakannya hanya ada tulisan saja di daftar menu. Dan tidak ada yang inisiatif bertanya..haha. Paling std sih pesanan Maya dan pak sopir. Nasi pecel. Jreng..dateng lah tuh nasi pecel, tapi kok ada yang ganjil ya. Itu nasi pecel atau gudeg ya? Eh atau nasi campur? Asli pecelnya dikit banget, sebelahnya ada sayur nangka, dan ada ayam serundengnya. Beneran awalnya kami mengira itu ayam, “yah tertolong sama ayamnya lah,”kata Maya. Setelah dikoyakkoyak barulah terungkap bahwa itu hanyalah seonggok serundeng. Pagi-pagi udah dapet zonk :v

Tapi tetep aja abis, secara lapaaar. Ah tapi kami disodorin makanan apapun pasti abis sih..hahah..mau penampakannya seperti apapun selama itu halal dan gak basi, hajar aja. Selesai makan perjalanan kami lanjut ke stasiun, karena Rahmi dan Hilman tidak ikut kami ke Baluran jadi kami berpisah di sini. Selanjutnya ber4 lagi deh..

20150531_101042*Dari kiri ke kanan Aza, Maya, saya, Ajeng, Rahmi, Hilman

Seruseruan di Baluran di lanjut ntar ya..capek :v


5 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (2)

Day 2 – 14 Jam 99 Stasiun

Detik berjalan..

Hari dimulai..

Pukul 07.15 Kereta ekonomi Sri Tanjung yang kami tumpangi melaju menuju Banyuwangi. Kami berempat ada di gerbong 2, dengan kursi yang saling berhadapan. Cukup nyaman karena jarak antar kursinya agak jauh, jadi lutut bisa leluasa lah. Terlebih ada ikhwan satu nih.

Lihat jadwal di tiket, perjalanan kami ini akan memakan waktu 14 jam melalui 99 stasiun, dan itu waktu yang terlalu lama jika dihabiskan dengan tidur, makan dan melamun. Syukurlah ada salah satu teman yang bawa keril isi leptop, setidaknya perjalanan tidak akan terlalu boring. Ya walaupun agenda tidur itu sebenarnya sudah ada dalam list kami. :D

Pura-pura serius nontonBioskop mulai dibuka sejak kami duduk tenang setelah cekikikan mengingat soto burung. Film pertama yang kami tonton adalah Premium Rush, buat yang udah pernah nonton tau lah ya aksi sepedahannya gimana. Karena yang nonton 4 orang gak mungkin dong pakai headset, dan kami semua ditakdirkan menjadi orang yang paling suka nonton film dengan suara lantang. Alhasil satu gerbong berasa bioskop, tertolong suara kereta jika sedang melaju, kalau berhenti ya volume kami kecilin dikit..dikiiiit banget :v

Yang bikin berisik bukan cuma suara filmnya sih, tapi jiwa komentator dan tawa kami. Terlebih otak dagang mulai merasuki. “Gimana kalau kita bikin iklan aja, di kursi ini dibuka bioskop. Satu orang bayar 5000, lumayan buat makan,” seru kami saling menimpali.

Dari satu film berlanjut ke film lain, kehebohan masih saja sama bahkan lebih parah karena film yang ditonton lebih lucu dari sebelumnya. Sungguh mohon maaf dari hati yang terdalam bagi penumpang yang terganggu. hihihih..

Keseruan kami  juga akhirnya terganggu oleh suara perut yang protes ditahan sama chocoroll kartikasari yang ga jadi buat oleholeh. Lafaaar sodara-sodara, berharap berhenti sejenak di stasiun Madiun dan ada penjual nasi pecel, tapi aah..cuma harapan. Derita kelafaran bertambah dengan ac kereta yang tetiba mati. Jadi lafaaar dan fanaaas.

Sebenarnya penjual nasi goreng beberapa kali lalulalang dekat kami, tapi kami tahan karena nasi seuprit yang rasanya std, dan ntah digoreng kapan itu harganya gak masuk akal dompet kami yang tipis. -__-

20150530_112645

Di daerah antah berantah kereta sempat berhenti cukup lama, menunggu kereta lain dari arah berlawanan. Salah satu cara mengalihkan perhatian adalah dengan foto-foto, kebenaran juga pemandangannya bagus dan yang pasti bisa menghirup udara segaar.

20150530_113031

Tapi setelah itu perut kami benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Kami putuskan kali ini harus beli makan, tapi penjual nasi itu tak kunjung datang. Haa..berasa jatuh cinta ala abg, didatengin cuek, dijauhin nyari. *gyak

Saya dan satu teman memutuskan untuk pergi ke restorasi, cari makanan dan ngasih tahu petugas kalau ac mati. Yang kedua sotoy sih, petugas juga udah tahu kelees :p

Sampai restorasi..hmmm..nasi habis, tinggal yang sudah digoreng saja. heuheuheu..gak tega sebenernya. Minuman dingin juga gak dingin lagi karena listrinya mati. Lengkap sudah. Ya dari pada kami kembali dengan tangan kosong akhirnya beli saja nasi goreng itu. Berapa banyak? 2 saja cukup. cukup sedih maksudnya. Dua bungkus dimakan oleh kami berempat..co cuiit lah pokoknya. Yang penting perut berhenti teriak dulu yes :v

Hingga pukul 14 lebih kereta berhenti di salah satu stasiun untuk perbaikan ac. Aaah..lega karena bisa keluar oven. Bayangin aja gak ada ac, semua jendela tertutup rapat, pintu gak boleh terbuka, gerbong penuh manusia yang saling berebut oksigen, dan sebagian diantaranya belum mandi dari hari Jumat.. #ehh

Senang deh rasanya bisa menapakan kaki di stasiun setelah kepanasan dalam gerbong. Terlebih kata salah satu petugas berhentinya akan lama, sekitar 30 menit. Semua turun dengan harapan yang sama, toilet bersih, air wudhu melimpah, dan sholat di mushola.

Dua teman ke toilet, satu cari makan yang agak bener, saya sendiri duduk manis di tempat tunggu memegangi hp mereka yang ke toilet. Baru juga mau chek ini di path petugas stasiun sudah teriak-teriak..”copeeeet!” ehh..salahsalah..itu adegan film lain. Petugas stasiun memanggil semua penumpang kereta Sri Tanjung untuk segera naik kembali karena AC sudah selesai diperbaiki.

Haaa..saya belum ke toilet pak.. ngenes harus berjalan menuju kereta dan meninggalkan tulisan toilet gratis dan mushola :( Sedangkan dua teman saya juga buru-buru keluar dari sana. Nasib..tetep harus wudhu di kereta. Satu teman lainnya tentu tidak berhasil menjalankan misi cari makan.

20150530_165242Usai melaksanakan kewajiban dan tanda syukur, untuk menghilangkan rasa kantuk dan mengalihkan perut yang kembali bergejolak, kami putar bioskop lagi. Yay..bioskop berlanjut sampai wangi popmie tak bisa diabaikan, ngemih dulu deh. :v Ntah kami sudah melalui berapa stasiun, yang pasti di luar semakin gelap dan film ke 4 sudah selesai kami tonton.

Pegal juga duduk terus akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan lagi ke restorasi. Mau nyari minuman hangat ceritanya, eh ternyata habis. Yah baiklah..malas kembali ke gerbong asal, kami pun putuskan duduk di sana barang sejenak saja. Sambil ngobrol dan kodekode ada kerupuk di meja sebelah..hahah. Lagi asik-asiknya ngobrol tetiba petugas keamanan kereta menghampiri. “Maaf mas, ini khusus untuk kru,” serunya pada teman kami. WHAT? Sejak kapan restorasi hanya dikhususkan untuk petugas? Emang gak boleh dikunjungi penumpang ya?

Akhirnya kami berjalan kembali menuju gerbong 2 sambil ngedumel “Ah jangan-jangan ini gara-gara kode kita sama kerupuk di meja si bapak petugas?” kata saya. “Hahah..yang jelas itu sedikit menyebalkan ya.””Ya udah nanti kalo ada penjual makanan lewat gerbong tapi gak bawa makanan bilang aja, ini khusus penumpang!” balas teman saya.

Tak lama dari itu kami melalui stasiun dengan nama unik, Glenmore. Sudah ketebak ya apa yang kami lakukan. Yes, ribut lagi ngebahas Glenmore. “Ini yakin kita gak salah kereta, kali aja ini mau ke luar negeri,” “Mungkin ini tempat kelahiran Glend Fredy yang sesungguhnya”, “Emang Glend Frendly siapanya Mandy More?” “Barangkali ini tempat pertemuan antara Glend Fredly dan Mandy More,” “Atau jangan-jangan…” obrolan makin ngaco dan bikin ribut Banyuwangibiru. :v

21.30 Lebih dikit Alhamdulillah kami sampai juga di Banyuwangi, sesuai itin yang sudah dibuat kami akan dijemput supir yang sudah kami hubungi sebelumnya. Oh ya sebelumnya kami bertemu dengan 2 teman lainnya di sini. Rahmi dan Hilman. Rahmi berangkat dari Bali, sedangkan Hilman dari Tasik, sudah pergi sehari sebelum kami, jadi mereka tidak tahu kegilaan yang kami lakukan untuk membunuh waktu hampir 24 jam di kereta dari Bandung hingga Banyuwangi.

20150530_223540

Bapak supir mengirimi sms warna mobil dan nomor polisinya, setelah say hi pada dua teman kami saya lanjutkan mencari mobil sesuai sms tadi. Pertama mobil warna kuning, dan yang pertama saya lihat adalah angkot warna kuning. Hahah..dalam hati “yang bener aja”, udah gitu si bapak angkotnya nyamperin lagi. Buru-buru saya cocokan dengan nomor polisi yang dikirim, tapi bapak angkot masih ngikutin, ya udah saya tanya aja, “Pak Imik?” eh yang nyahut malah bapak yang di depan jeep kuning. Hufft..syukurlah gak jadi naik angkot :v

Bukan apa-apa masalahnya jalur ke Ijen itu cukup wow, saya khawatir angkot gak bisa naik..hihihi..padahal udah bayar lumayan dan pengen bisa tidur di mobil sih.. :D

Kami berenam melanjutkan perjalanan menuju Ijen. Mampir di tempat makan dulu, sebenarnya kami berharap ada makanan khas Banyuwangi yang memang enak dimakan malem-malem gini, kemudian pak supir bilang. “Ada sate ayam” yaah..itu sih dimana-mana juga ada :v

Selesai makan, kami minta diantar ke masjid terdekat untuk bersih-bersih dan istirahat dulu, karena kami sudah sholat di kereta. Sampailah kami di Pasar Licin, ada masjid kecil di belakangnya. Cukup nyaman karena ada hijab antara ikhwan dan akhwat, tempat wudhu pun terpisah, hanya saja tidak ada toilet..yang bener-bener toilet di sana. :D Tapi bisa lah dipakai buat cuci muka dan wudhu, airnya juga banyak gak berhenti-berhenti.

Kami diberi waktu hingga tengah malam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ijen, istirahat dulu yaa..bobok yang bener a.k.a terlentang. :D

Lanjut ke Day 3…


12 Komentar

Cerita Backpackeran ke Ijen dan Baluran (1)

Day 1 – Sarapan Soto

Liburan panjang pekan lalu saya habiskan dengan bermain di gunung, savana, hingga pantai. Mengingat liburan panjang sebelumnya saya tidak kemana-mana, cuma main di kolam renang khusus akhwat dekat rumah. Haah..jadi berasa balas dendam gini..:D

KalenderRasanya gatal melihat tanggal hitam diantara tanggal merah jika tidak dilingkari dan dikasih tanda liburan kemana. Yang terfikir saat itu adalah Baluran, taman nasional di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Lengkap beut ya, sengaja soalnya saya suka khilaf menyebutnya taman nasional di Banyuwangi.

Dengan perencanaan yang mendadak, hanya 2 pekan saja, saya cari teman untuk melakukan short trip ini. Dari hasil TP TP tersaringlah 3 orang teman yang fix ikut, satu laki-laki dua perempuan. Sengaja saya batasi jangan terlalu banyak perempuannya, 3 orang saja cukup, termasuk saya. Kenapa? karena memang di itinerary yang saya buat tidak ada jadwal menginap di hotel atau penginapan yang sesungguhnya. Kalau yang tidak terbiasa khawatirnya malah sakit, kapok, dan ujung-ujungnya unfollow IG saya. #halah

Hingga sepekan sebelum berangkat jumlah peminat belum bertambah, yang diajak kebanyakn sedang “puasa” ngetrip dan baru akan berbuka setelah lebaran. hmm..baiklah, toh rencana ini memang dadakan. Ada yang minat tapi tidak dapat tiket. Cara satu-satunya adalah cari teman yang ada di dekat Banyuwangi. Surabaya atau Bali misalnya. Barulah H-3 salah satu teman dari Bali mau ikut, tapi hanya satu destinasi. Bahagianya karena dia juga bawa teman, YES patungan mobil gak terlalu bikin nangis dan dia juga gak akan nangis karena gak ikut tidur di bukan tempatnya :D

Foto Lama

Stasiun Lempuyangan *fotolama

Jumat malam, kami berempat berangkat dari Bandung dengan kereta ekonomi menuju Jogja. Sampai di Jogja subuh, setelah bersihbersih dan sholat pekerjaan berikutnya adalah cari makan. Yes kami lapar, sodara. Bisa dibilang saya cukup sering ke Jogja melalui stasiun ini, tapi biasanya hanya jadi tempat persinggahan saja. Tidak pernah membeli makanan di sekitarnya. Kali ini karena kami masih harus menunggu kereta ke Banyuwangi jadi mencari makan di sekitar stasiun menjadi sebuah keharusan, dari pada mewek ketinggalan kereta.

Kami menyambangi salah satu warung nasi depan stasiun, dan memesan makanan paling standar di daerah Jawa, Soto. Si ibunya bilang kolnya sudah habis, tidak masalah bagi kami asal jangan ayam dan kuahnya yang habis. Iya laah, masa mau makan nasi sama kol aja :p

Sudah lama menunggu soto kok tak kunjung sampai di meja kami, mulailah berspekulasi yang macam-macam. “Mungkin ayamnya belum ditangkap,” saya mengawali, “atau bulunya lagi dicabutin,” kata temen, “atau ayamnya habis, jadi diganti burung,” (nunjuk kandang burung yang banyak digantung di dalam warunng), berlanjut ke yang lain, dan berputar terus sampai akhirnya salah satu teman memastikan itu bukan soto burung. Mungkin ini yang namanya “Lo rese kalo lagi lapar” :v

Setengah jam kemudian salah satu teman saya melongok ke dalam, si ibunya baru lah keluar dengan membawa 4 mangkuk soto ayam dan tempe. “Eh tempe?” Sungguh bagi saya yang belum terbiasa soto ditaburi tempe goreng ini adalah hal unik. Dan kemudian berfikir “oh mungkin ini sebagai pengganti kol yang habis.” :v

Penampilan dan rasa sotonya sih biasa saja, yang agak gak biasa cuma harganya, 1/2 porsi dan 1 porsi sama. Nasinya sedikit (asli sedikit banget) saya dan dua teman lainnya memang pesan setengah porsi tapi ya gak gitu juga kelees. Ah nyesel pokoknya gak pesan satu porsi, gini lah kalau terlalu husnudzon dikasih nasi banyak.:v

Alhasil soto yang ditunggu selama ½ jam pun habis dalam beberapa menit saja. Kami sengaja tidak membeli minum di sana, sudah bekal air mineral dari kemarin..haha. Tapi aksi menghemat kami tersakiti melihat sebelah kami pesan minum teh manis dan hanya diminum seteguk kemudian pergi..ah sedih rasanya, pengen nyamber tapi malu :v

Selesai sarapan penuh drama kami beranjak menuju stasiun. Kereta sudah ada saat kami masuk, tak lama dari itu petualangan kami pun dimulai..

Jreng..jreng..

Lanjut ntar ya, kepanjangan :D

*Sengaja soto dan lokasi gak difoto, menjaga keamanan dan ketentraman bersama :p


6 Komentar

Revisit (4) Bromo

imageDulu saat teman saya bilang Bromo itu gak ngebosenin, saya memilih tidak meng-iya-kan. Saya lebih suka mengunjungi tempat yang belum dikunjungi dari pada harus berkunjung ke suatu tempat berkali-kali.Tapi setelah 4 kali bolak balik Bromo, saya harus akui pernyataan teman saya benar. Ya..baru sadar setelah 4 kali.. :D

Throwback ke pertama kali saya ke Bromo, tahun 2009. Itu kali pertama saya melakukan perjalanan jauh bersama seorang sahabat, Miranty Januaresty. Perjalan pertama yang membawa saya ke Semeru dan tempat lainnya.

Waktu itu saking senangnya kami ‘nongkrong’ di stasiun tiba-tiba saja tercetus ide untuk membeli tiket ke Surabaya. Tak ada tujuan khusus awalnya, tapi saya penasaran pada Bromo, padahal jujur saya belum pernah lihat foto mainstremnya bromo. Aneh.

Berbekal nekad dan bermodal punya teman di Surabaya, libur Idul Adha tahun itu kami pergi ke sana. Dari Surabaya kami menuju Probolinggo, jalur paling ramai menuju Bromo sepertinya. Karena ceritanya backpakeran kere pakai banget kami tidak sewa jeep menuju Penanjakan, kami juga tidak menuju jalur yang dilalui banyak turis. Kami berjalan menembus kabut bersama tukang ojek kuda part time, karena sehari-hari beliau adalah guru. :D

me n antyMenembus kabut, menyusuri gurun pasir Bromo, menuju puncak Bromo. Hanya puncak Bromo, plus dapat bonus foto naik kuda lah. :D Karena minim modal, pulang pergi kami tempuh dengan berjalan kaki menyusuri padang pasir menuju penginapan, ehmm..lebih tepatnya rumah penduduk yang bisa kami singgahi dengan murah sangaat.

Kali ke dua jauh lebih baik, dari yang pertama. Karena berbarengan dengan tugas kantor ke Probolinggo tahun 2013, saya dapat bonus jalan-jalan ke Bromo dengan cumacuma. Bisa ke Penanjakan, motret tempat mainstremnya Bromo, pasirberbisik, dan ke kawah lagi. Begitu pula dengan kali ke tiga di tahun yang sama, dan ke sana bersama teman-teman kantor. Rasanya pasti beda..tentu. Sensasi petualangannya gak ada karena semua pakai fasilitas tour. Dan hanya dua lokasi karena tidak cukup waktu.

DSC_0622

Nah untuk yang ke empat kalinya saya bertekad harus sampai savana, Alhamdulillah terwujud juga. Pekan lalu extend dari liburan kantor ke Jogja, saya dan beberapa kawan melakukan short trip Malang-Batu-Bromo. Seruseruan di Malang dan Batu skip dulu aja ya, mau cerita di Bromonya dulu.

Minggu malam kami ber6 berangkat menuju Bromo melalui jalur Pasuruan, menggunakan mobil sewaan. Meskipun hujan deras tapi jalanan cukup bersahabat. Sampai di daerah hutan pinus ada sedikit beda persepsi antara saya dan teman yang nyetir (karena yang lain tidur). Sekitar pukul 11 malam, dia lihat kakek-kakek di pinggir jalan pakai sarung saja dan bawa tongkat, padahal abis hujan dan udara dingin sangat. Sedangkan menurut saja kakek itu pakai kaos warna merah dan saya tidak lihat dia bawa tongkat. Karena perdebatan gak penting itu hampir saja kami mau berbalik arah untuk memastikan..tapi akhir nya sadar..gak lucu juga kalau pas balik arah ternyata bukan kakek tapi nenek berbaju putih. :D

Kejadian ‘lucu’ lainnya di jalan berkelok sebelum Bromo, saya berkomentar “Padahal tadi hujan tapi ga ada kabut ya, gak kebayang kalau berkabut dengan jalanan sempit kayak gini.” Sesaat kemudian kabut tebal turun, sodara. Wallahu’alam, yang pasti jangan suka sekatekate di tempat asing.

Pukul satu dini hari kami sampai di Bromo, karena tinggal 3 jam menuju waktu muncak, jadi kami putuskan tidur di mobil saja untuk menghemat. Tentu setelah sebelumnya cari jeep untuk mengantar.

image

Oh ya..kalau bukan long weekend tidak usah terlalu terburu-buru cari jeep, santai saja masih banyak yang bisa ditawar. Satu jeep muat 6-7 orang, disarankan sih cuma 6. Harga sewa berkisar antara Rp350-600rb, tergantung banyaknya lokasi yang dituju. Kalau 4 lokasi ya Rp600rb. Untuk tiket masuk beda lagi, Rp27.500 wni, jika wna berkalikali lipat.

Karena menuju Penanjakan sebelum subuh, kalau tidak mau ngantri sebaiknya wudhu di bawah saja. Mushola hanya ada di Penanjakan, karena mayoritas penduduk sana beragama Hindu.

Setelah dua kali ke sana, saya tidak terlalu berambisi untuk motret spotmaintream itu, hanya ingin menikmati pagi di ketinggian. “Semua orang berfokus pada sesuatu yang belum pasti, matahari bisa jadi tertutup kabut tebal. Padahal di belakang ada pemandangan kota yang sangat indah untuk dinikmati,” ujar saya sok pilosopis pale p pada teman yang juga sudah berkali-kali kesana.

image

Kami beranjak dari kerumunan dan berbalik menikmati pemandangan kota-ntah Probolinggo, Malang, atau Pasuruan yang jelas bukan Jakarta atau Bandung. :D

Benar adanya, matahari ijin edukasi..hahah..agak mendung. Karena gak ada tanda-tanda cerah, setelah motret tulisan bersponsor, kami lanjut ke tempat selanjutnya, Savana. Pas dateng masih berkabut tebal, indahnya savana gak kelihatan sama sekali. Setengah jam kemudian barulah terang dan terlihatlah hamparan luas..semaksemak..hahah

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Next pura-pura jadi Dian Sastro di Pasir Berbisik. :D

image

Terakhir baru lah menuju kawah, tadinya males naik tangga-tangga itu, tapi pengen mengenang masa lalu. :D

DSC_0637

Abis itu beres deh..pulang ke Malang. Semoga kalau pun ada yang ke lima kalinya itu bareng, kamu. *Duka saha 😝


2 Komentar

Hotel Berjuta Bintang, Satonda

milkywayPerjalanan ke Moyo bukan akhir dari destinasi overland Tambora kami, ada sekitar dua pulau lagi yang kami kunjungi, yang terdekat dari Moyo tentu saja Satonda.

Sebenarnya lebih dekat dari Calabai, lalu kenapa kami ke Moyo dulu? alasannya simple, karena gak mau nginep di Moyo.:D

Sampai dermaga Moyo sesaat selepas maghrib, pemandangan langitnya tidak kalah menakjubkan dari siang hari. Meskipun mataharinya sudah turun, sisa-sisa semburat jingganya masih menghias langit sore itu.Tapi ya, namanya senja sejatinya menghantarkan kita kepada kegelapan.

Sesaat kemudian kami sudah naik perahu menuju Satonda, kali ini hanya ada bintang gemintang, gemuruh ombak, dan sesekali cipratan air laut nan asin itu mengenai wajah kami. Kami ber 10 berselimut terpal untuk melindungi badan dari cipratan air dari samping kapal. Awalnya ngobrol kesana kemari, lama-lama senyap, terlelap tidur hingga sang kapten berseru bahwa kami sudah sampai di Satonda.

Kami bersorak sorai karena akhirnya sampai juga #lebay ..Saat itu saya merasa ada yang aneh, katanya sudah sampai tapi sejauh mata memandang cuma tampak kegelapan. Gak ada terang-terang lampu dari daratan dan eiiittss…sudah sampai kok bawahnya masih aer??

Usut punya usut ternyata malam itu air laut sedang surut, alhasil kami harus turun sekitar 10 meter sebelum dermaga karena kapal tidak bisa lebih dekat lagi. Klo maksa bisa rusak, ya kapalnya ya terumbu karangnya. huuff..baju yang sudah kering trus harus basah-basahan lagi itu rasanya…sebel banget karena gak ada baju lagi :((

Tampaknya ini akan jadi perjalanan penuh drama (lagi) buat kami.Sepuluh meter, deket sih klo jalan biasa. Tapi kan ini laut sodara-sodara..waktu itu yang ada dipikiran saya cuma pengen cepet nyampe dan tidur. Bedahalnya dengan teman saya, di malah berfikir “gimana klo ada ular laut, gimana klo tiba-tiba air pasang, gimana klo gini, klo gitu..” sampai akhirnya memutuskan untuk diam di kapal..hahah..lucu klo ingat kejadian itu. Tapi walau bagaimana pun kami harus tetap turun dan berjalan ke daratan, gak mungkin diem di kapal wong si bapak kaptennya mau balik ke Calabai.

Pertama-tama tuantuan dulu yang turun, ada yang bawain tas, ada yang nganterin sampai tepian, lalu balik lagi buat jemput yang lain. Ada yang sibuk angkutin tas dan barang dari kapal ke daratan, dan ada juga yang sibuk motret langit..Ah..rupa-rupa pokoknya..lalu kamu ngapain Nin? bantu kasih penerangan doong..masa motret :p

Di planning yang sudah dibuat sebelumnya, kami akan menginap di cottage, tidur di kasur empuk, bisa mandi, ngecas hp, dan makan enak.

Nyataaannyaaahh…kami sampai daratan yang gelap, tak ada penerangan sama sekali dan tak ada orang satupun, setidaknya itu yang ada dibenak saya pertama kali. Kemudian salah seorang teman bilang “tadi ada embak-embak sebelum kita turun kapal”..dalam hati “duuuh..cerita horor apalagi ini.” Kami pun hanya diam mendengarnya, sampai salah satu teman bilang “kayaknya penunggu disini, yuk cari..” setengah ngantuk saya berasa di acara realityshow dengan tag line “jika ga kuat, lambaikan tangan ke kemera” :v

Aniway tak berapa lama ternyata si embak-embak yang dimaksud beneran ada..hufft..dia penjaga cottage, cuma berdua aja sama bosnya katanya..edun daah..beranian. Kami tanya kamar buat nginep, ditunjukanlah kamar yang dalemnya ga representatif, selain itu mati lampu pula, kehabisan bahan bakar katanya. Yo wiiss..mending nenda aja di tepi pantai. Kemudian si embak pun menghilang dalam kegelapan..hahah..masuk ke ruangannya lagi..

Tengah malam, kami ber 10 di pulau tak berpenghuni, gelap, dan dalam keadaan basah. Apalagi yang jadi pelengkap derita selain suara teriakan horor dari dalam perut? aah..kami lapaaar sodara-sodara..

Gak nunggu lama langsung bagi tugas, dirikan tenda dan masak-masak. Karena banyak bale-bale di tepi pantai, kami putuskan hanya 1 tenda yang didirikan khusus buat nonanona saja. Selesai makan malam yang enak banget itu, kami ramai-ramai bermain di pantai, berasa pulau pribadi.

Setelah puas motret milkyway, saya dan dua teman lainnya tiduran di bangku sambil memandang langit dengan jutaan bintang diiringi suara debur ombak yang terdengar merdu, dan lagu sherina yang agak sumbang..hahah..oh ya..bukan hanya bintang yang membuat saya terpana, tapi juga plankton yang bersinar saat terbawa ombak ke tepi pantai. Malam itu Satonda keren banget pokoknya.

Malam semakin larut dan bintang semakin banyak, mata saya sudah mulai ngantuk tapi terlalu malas beranjak ke tenda. Akhirnya terlelap di bawah berjuta bintang. Tapi tak bertahan lama, karena yang lain juga sudah mulai ngantuk akhirnya saya ngungsi ke tenda. Walau cuma tidur di tenda kami berasa di hotel berjuta bintang. Puas bangeeeet..gak nyasel walaupun awalnya dateng ke sini kayak pengungsi kebanjiran..hahah..

Bersambung…

*karena malam jadi minim foto


22 Komentar

Matajitu Waterfall

Muncak ke Tambora selesai, tapi terlalu sayang rasanya jika setelah dari Tambora tidak berkunjung ke pulau-pulau eksotis lain di NTB. Pulau yang pertama kami kunjungi setelah turun gunung adalah Moyo. Ada apa di Moyo? Banyak sebenarnya yang bisa diekplore dari pulau kecil ini, pantainya, sunsetnya, pemandangan bawah lautnya yang cantik dan tentu yang paling terkenal adalah air terjun mata jitu, atau biasa disebut Lady Diana Waterfall. Ya tak lain dan tak bukan karena Lady Diana pernah berkunjung ke sini, kemudian banyak pengunjung luar yang datang kesini.  “Lady Diana aja tau tempat ini, saya baru tau pas dateng ke sini, ih apakabar..-__-”

10494782_752457248109242_6418807356990043065_n

Jumat pagi, sekitar jam 10 wita, kami beranjak dari basecamp Desa Pancasila menuju Calabai. Di desa ini tempat penyebrangan dari Sumbawa ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Diperjalanan kami sempatkan untuk belanja bahan makanan terlebih dahulu, karena akan nginap semalam lagi di pulau tanpa penghuni (bukan Moyo). Di Calabai ini ternyata listrik masih jadi barang langka, bukan gak ada sih, tapi dibatasi. Waktu itu seperti biasa, setiap nemu warung kami pasti numpang ngcash hp dan powerbank, tapi yang punya warung bilang “Listriknya mati, jensetnya juga gak hidup karena solarnya habis,” gagal deh nyalain hp buat pamer-pamer :v

belanja

Selesai belanja makanan dengan bumbu perdebatan kami lanjutkan perjalanan menuju pantai. Kami pikir di sana sudah menunggu kapal dan siap berangkat, tapi ternyata kami harus menunggu sampai selesai Jumatan. Dan itu berlaku juga untuk semua kendaraan umum.  Keren. Karena agak lama kami manfaatkan waktu sambil jemur-jemur pakaian basah yang kami cuci tadi pagi..hahaha..lumayan laah.

10402578_10202241875104694_3785437345151343474_n

Sekitar jam 13.30 wita kapalpun datang, kami beranjak dari Calabai menuju Moyo. Sekitar 2-3 jam kemudian kami sampai di Moyo, pulau kecil dengan penduduk yang mayoritas adalah peternak sapi dan nelayan. Sampai di sana ternyata kami sudah ditunggu oleh ojek..hah kasian tukang ojeknya nunggu dari jam 1 ternyata.

Dari turun kapal menuju air terjun Matajitu cukup jauh dan jalannya jelek, atau mungkin sengaja dibuat jelek agar tidak ada mobil yang bisa masuk sana? Ah lagian pulau ini kecil, bade kamana atuh nganggo mobil.. :D  Jalan menuju Matajitu nanjak terus, kanan kiri kandang pengembalaan sapi sumbawa milik warga Moyo. Beneran gedeee banget kandangnya.

Sampai lokasi air terjun sekitar jam 15.30 wita, sudah sangat sore sebenernya untuk menikmati air terjun nan indah itu. Air terjunnya indah bangeeet..subhanallah pokoknya, pas baru nyampe pengennya udah langsung nyebur aja. Perjalanannya emang lama dan cukup melelahkan tapi Matajitu bener-bener jitu bikin mata melek. :D

Sayang kami harus segera beranjak karena sudah mau maghrib, gak boleh malem-malem masih main air di sana, katanya banyak ular klo malem, dan si ular warnanya menyerupai warnai air jadi gak keliatan tau-tau ntar digigit ajee.. :p

Perjalanan turun menuju pantai ternyata menyisakan drama serupa dengan nyasar di Tambora, salah satu motor tak berlampu dan rem-nya ngandelin kaki..*paraaah, satu teman bahkan harus berhenti dulu karena ada babi berantem..hahah..

Sungguh Matajitu takan terlupakan.. Miss that place so much!

10392511_752457288109238_397682569939515406_n

.:. Foto sumbangan dari Bang Jati, Nadia, dan dokumentasi pribadi ^^

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 512 pengikut lainnya.